
Duta dan Laras menuju bioskop. Bukan di Magelang, tapi ke Jogja. Laras yang tahu jalanannya tidak menuju bioskop protes pada suaminya.
"Sayang, ini bener jalanannya kesini? Bukannya ini arah Jogja?" tanya Laras. Duta hanya membalas dengan senyuman dan mengangguk.
"Kita sekalian jalan-jalan. Abang mau ngajak mantan pacar abang yang sekarang sudah sah jadi istri abang kencan lagi"
Laras menoleh dan protes lagi. "Kita gak pernah pacaran. Langsung ta'aruf"
"Oo salah deh, mmm apa ya istilahnya? Mantan gebetan"
"Hahaha. Apaan sih gak jelas deh"
Tiba di Jogja mereka melihat daftar putar film itu. Mereka memilih genre komedi. Duta membeli tiket, dia memilih menonton siang nanti. Sambil menunggu jam tayang film itu, Duta mengajak istrinya berjalan-jalan mengelilingi mall.
"Ayo jalan dulu?"
"Kemana?" tanya Laras penasaran.
"Jalan-jalan santai"
Laras menurut perkataan Duta. Mereka bergandengan tangan saling menempel satu sama lain. Tak memperdulikan pandangan orang, seakan mereka bilang dunia ini milik kami berdua, kalian itu ngontrak. Wkwkw
Laras mulai paham Duta ingin mengajaknya kemana. "Kita mau shopping?" tanya Laras dengan senyum mengembang.
Duta mengangguk dan mencium kening istrinya. "Abang belum membelikanmu apa-apa lagi selain dari honeymoon kita. Pilihlah apa yang kamu suka, apapun"
"Aaaa, so sweet banget sih suamikuuu. Beneran Laras boleh pilih apapun?"
"Iya"
"Yes, ada tas yang pengen Laras beli. Ayo sayang" Laras segera menarik tangan Duta ke sebuah toko yang menjual segala macam keperluan wanita. Mulai dari baju, tas, sepatu, parfum, hijab. Ada semua disana.
Laras segera menghampiri tas itu dan dapat. Duta berkeliling melihat sepatu dan hatinya tertarik dengan sepatu warna coklat dengan hak 3cm itu. Dia mengambilnya dan menghampiri Laras. "Duduk sini yank" suruhnya.
Laras menuruti perintah suaminya sambil menunggu tasnya selesai dibungkus. Duta berjongkok di depan Laras dan melepaskan alas kaki yang sedang dipakai Laras menggantinya dengan sepatu coklat tadi.
Laras bak diperlakukan sebagai ratu. Dilayani dan dimanja oleh suaminya. Romantis sekali. Pemandangan itu tak disia-siakan Laras. Dengan cepat dia memvideo suaminya sedang memakaikan sepatu untuknya, lalu mengunggahnya di sosmed miliknya. Menandai dengan caption Melted Aku Yank.
"Pas" ucap Duta selesai memakaikan sepatu itu.
Laras melihatnya dan coba berdiri. Nyaman sekali dipakai olehnya. "Suka gak?" tanya Duta lagi. Laras mengangguk senang dan memeluk suaminya.
"Terima kasih sayaaaang"
"Sama-sama. Mau dipakai sekalian?"
"Jangan, besok senin Laras pakai buat kerja sama tasnya sekalian. Hehehe"
__ADS_1
Duta mengangguk dan menyuruh pelayan toko untuk membungkusnya. Setelah mendapatkan barang tujuannya, mereka sholat dzuhur terlebih dahulu. Karena sudah masuk waktunya dan mereka akan segera nonton film.
Selesai sholat mereka kembali ke bioskop. "Duduk sini dulu, abang mau beli makanan"
"Eeeh, biar Laras saja. Abang duduk saja disini"
"Gak usah, kamu duduk saja. Pokoknya hari ini abang yang akan melayanimu. Jangan membantah" Laras mengalah dan mengangguk, membiarkan suaminya membeli camilan.
Lalu mereka masuk ke dalam bioskop dan duduk di tempat mereka. Film segera diputar. Mereka mengikuti alur ceritanya. Karena genre yang dipilih adalah komedi, membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Sesekali Duta menyuapi istrinya dengan camilan itu. Sampai akhirnya film itu selesai.
Mereka melihat jam sudah masuk waktu ashar. Lalu mereka sholat terlebih dahulu. Selesai itu, Duta mengajak Laras ke sebuah kafe. Mereka daritadi belum makan siang. Duta memesan makanan. Laras tersenyum akan perlakuan suaminya. Biasanya dia yang akan melakukan hal itu, tapi hari ini, dia benar-benar dimanja oleh suaminya.
"Terima kasih ya sayang, hari ini sudah memanjakanku" ucapnya.
"Sama-sama, sudah kewajiban abang membuat kamu senang. Masih ada yang mau dibeli gak? Kalau iya nanti kita balik lagi"
"Sudah cukup, jangan boros. Keperluan Laras masih semua kok bang. Keperluan dapur dan rumah juga masih semua. Keperluan abang juga masih"
"Abang pengen nyenengin kamu, bahagiakan kamu. Alhamdulillah kalau kamu senang dan bahagia. Besok kalau ada waktu lagi kita kencan lagi ya"
"Iya, abang seneng?"
"Senang lah, jalan berdua sama istri membuat hatinya senang ya kan? Siapa tahu nanti abang dikasih jatah double atau bahkan tripple"
"Hahahaha, ada maksud terselubungnya toooooh? Hmmm" Laras menggelitik suaminya.
"Iya-iya, nanti tripple"
Duta kegirangan. "Yes!" ucapnya senang.
Makanan datang. Duta memesan steak daging. Sungguh menggiurkan.
"Mmm, sepertinya mereka ingin segera disantap" ucap Laras bersemangat. Duta sudah sibuk memotong-motongkan daging steak itu menjadi bagian kecil. Lalu menukarnya dengan milik Laras.
"Aaaaaa, so sweet banget sih sayaaaang. Makin melted nih akunya" ucap Laras sambil mengelus pipi Duta.
Duta tersenyum. "Makan dulu, jangan melted dulu. Abang belum mencicipi mu lho"
"Ahahaha, tetep ya itu melulu yang diingat"
"Iya dong"
Mereka makan saling melempar senyum, hingga mulut Laras belepotan, Duta dengan sigap mengelap sisa saus steak itu dengan jarinya lalu dihisapnya.
Laras semakin tersanjung oleh perlakuan Duta. "Sengaja dibelepotin ah, biar dilap terus sama abang" katanya.
"Coba saja lagi, tapi kali ini bukan pakai jari. Langsung pakai ini" Duta menunjuk bibirnya.
__ADS_1
"Gak jadi deh. Malu" ucap Laras sambil memanyunkan bibirnya. Duta hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu.
Selesai makan Duta mengajak Laras ke pantai. Cukup jauh, tapi memang tujuannya adalah ingin melihat keindahan matahari yang akan lengser dari singgasananya itu.
Duta menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat, lalu mereka duduk di pasir pantai. Menunggu matahari digantikan oleh sang rembulan.
Laras duduk dengan memeluk lengan suaminya itu. "Indah banget ya bang"
"Iya, eh yank, kamu tahu gak bedanya kamu sama matahari dan bulan?" tanya Duta. Laras mendongak melihat wajah suaminya lalu menautkan alis.
"Gak tahu, memang apa bang?"
"Kalau matahari selalu menyinari pagiku, bulan menyinari malamku, kalau kamu selalu menyinari hatiku siang dan malam. Acieciecie"
"Hahahahah, pinter gombal ya sekarang suami aku. Abang tahu gak kata yang bisa mendeskripsikan abang bagi Laras?"
Duta mencoba berpikir tapi tak menemukan jawabannya. Dia menggeleng. "Kamu itu segalanya buat aku sayang" jawab Laras kemuadian.
"Aaaaahh, istri abang juga pintar menggombal ternyata. Siapa yang ngajarin?"
"Abang. Hahaha"
"Andai kamu jadi buminya, abang rela jadi atmosfirnya" kata Duta mulai menggombal lagi.
"Kenapa mau jadi atmosfirnya?"
"Biar bisa melindungimu dari sakitnya serangan meteor dan komet"
"Ahahahha, abang ih. Sudah ah. Jangan gombal terus"
"Abang gak gombal sayang, abang beneran"
Tak terasa semburat jingga itu berganti menjadi gelap. Suara adzan terdengar, akhirnya mereka meninggalkan pantai bergegas sholat dan akan segera pulang.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Like
__ADS_1
Pagi-pagi udah ngegombal bae othor. 🤣🤣. Happy weekend guys. Happy reading semuaaa 😘😘😘