Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Cincin Emas


__ADS_3

Laras dan Duta menuju toko perhiasan langganan mamahnya. Mereka langsung disambut sendiri oleh pemilik toko itu. Seorang keturunan China yang menjadi mualaf.


Pilihan di toko itu sangat beragam. Menyilaukan mata. Modelnya sangat beragam membuat Duta dan Laras malah menjadi bingung.


"Kamu mau yang mana yank?" tanya Duta sambil masih melihat-lihat model yang disediakan.


"Bingung aku, cik, bantuin milih mbok o. Saya bingung eeee, daritadi cacik bilang bagus semua" pinta Laras kepada pemilik toko itu.


"Nggih mbak, ya pancen apik kabeh. Kalau yang ini gimana?" Cacik itu menyodorkan sebuah cincin berwarna emas dengan permata besar ditengahnya.


Laras mencobanya, memang bagus, tapi entah kenapa hatinya gak sreg. Laras menggeleng.


"Coba yang itu cik" pinta Duta menunjuk satu pasang cincin yang cukup simpel. Berwarna emas dengan satu permata kecil di tengahnya.


Laras memakainya dan tersenyum bahagia. "Suka" jawab Laras seakan tahu pertanyaan yang akan Duta lontarkan.


Duta tersenyum. "Dia sukanya yang simpel cik ternyata hahaha"


"Hahaha, iya pak, daritadi disodorkan yang mewah milihnya yang simpel" jawab cacik itu.


"Ya sudah cik, pilih yang ini, diukir nama di dalamnya ya cik. Rabu bisa jadi kan?"


"Insyaallah saya usahakan buat bapak Bupati dan mbak dokter. Dicoba dulu untuk mengepaskan ukurannya"


Duta dan Laras sama-sama mencoba cincin itu dan mengepaskan ukurannya. Setelah urusan cincin selesai mereka segera pamit kepada pemilik toko.


"Kemana lagi bang?" tanya Laras.


"Ke makam ya. Besok kita sudah harus ngurus surat-surat KUA yank"


"Oke, sinikan kuncinya" Laras merebut kunci dari Duta dan duduk di kursi kemudi.


"Mau ditinggal pak?" tanya Laras menggoda Duta.


"Hahaha, jangan dong supir cantiknya abaaaang"


Duta duduk di kursi depan sebagai penumpang. "Makasih ya sayang"


"Makasih terus daritadi. Abang kalau capek tidur saja. Nanti kalau sudah sampai makam Laras bangunin"


"Iya. Ke makam x ya supir cantik"


"Hahahaha, nggih sendiko dawuh pak bupati kesayangaaan"


Duta dan Laras sama-sama tertawa lepas. Wajar, mereka sedang bahagia.


.


Arjun menunggu Ais. Tak lama Ais pun masuk ke ruangannya dan duduk diatas bed pasien karena kursinya diduduki oleh Arjun.


"Ada apa?" tanya Ais datar.


"Aku mau bertanya siapa wanita yang menginginkan cintaku" jawab Arjun dengan tatapan licik.


Ais melihat tatapan itu. Dia agak takut saat Arjun melihatnya seperti itu.


"Kenapa?" tanya Ais lagi.


"Bukankah kau yang menginginkan cintaku?"


"Jangan ngawur! Pergilah karena aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu" ucap Ais kesal.


"Kau tahu! Ini semua salahmu! Ini semua karena perasaan bodohmu itu!"

__ADS_1


"Hahahah, kau sudah tidak waras Arjun? Kau menyalahkan aku? Laras memang tak ada rasa padamu, kenapa aku yang menjadi kambing hitam atas sikapmu yang sombong dan arogan itu?"


"Ya! Aku menyalahkanmu! Laras pasti tahu kau mencintaiku, itu sebabnya dia menolak ku!"


"Inilah, inilah kenapa Laras tidak menyukaimu. Kau ini sudah tidak waras Arjun!"


"Ya, aku memang gila karena cinta Laras. Tapi karena mu aku kehilangannya"


"Sekarang apa maumu??" tanya Ais sudah muak dengan Arjun.


"Aku mau kau melupakan cinta bodohmu itu. Aku tidak mencintai mu! Sebelum itu aku ingin memberimu sedikit pelajaran, boleh lah mencicipi bibirmu sedikit" ucap Arjun sambil berdiri dari kursi dan mendekat ke Ais.


Ais menjadi ketakutan, dia berjalan menjauh dari bed tapi terpentok ke tembok. Arjun dengan seringaian liciknya mengunci tubuh Ais.


"Jangan gila Arjun! Kau mau kulaporkan kepada atasan atas kasus pelecehan?"


Bukannya takut dengan ancaman Ais, Arjun malah mengeratkan kunciannya. "Dasar perempuan bodoh. Kau kira aku takut? Kau lupa saham terbesar milik siapa ha?"


Farid diantarkan Rena menuju ruang Ais. Rena mengetuk pintu dan masuk diikuti Farid dibelakangnya.


"Dok....ter" ucapan Rena terpotong melihat Ais sedang dicengkeram oleh Arjun. Dan Arjun mencoba mencium Ais tapi Ais selalu bisa menghindar.


Bukan hanya Rena yang kaget. Farid pun demikian. "Ada apa nih?!" tanya Farid geram melihat Arjun sedang mengintimidasi Ais.


"Lepasin tangan kotormu dari calon istriku!" imbuh Farid.


Arjun menoleh dan tertawa. "Hahahaha, kau bilang apa? Calon istri? Waaah, sepertinya disini kau dihianati. Dia mencintaiku, menginginkan cintaku. Kau dengar?"


"Dia sudah tidak menginginkanmu lagi, tanyakan saja padanya" tantang Farid kepada Arjun.


"Tidak perlu, silahkan kau ambil dia. Bibirnya sangat manis" Arjun tersenyum licik membuat Farid tidak bisa mengontrol emosinya.


Bugh.


Ais menangis sesenggukan karena takut. Dengan cepat Farid melepas jaketnya dan menaruhnya di kepala Ais.


"Tutup pakai itu kalau mau nangis" kata Farid.


Rena menenangkan Ais yang menangis. Memberinya tisue dan minum.


"Dokteeeer, maaf saya tidak tahu jika dokter sudah kembali dari bangsal" ucap Rena sambil mengelus punggung Ais.


Ais mengelap air matanya dan menegak minuman yang diberikan Rena. "Saya gak papa kok Ren, kamu pulang saja Ren, jam kerja kan sudah habis. Biar saya yang bereskan saja"


Farid mengangguk menyuruh Rena pulang. "Pulang saja mbak, Ais biar saya temani"


"Baik pak, dok, saya pamit dulu. Assalamualaikum" Rena mengambil tasnya dan pergi meninggalkan ruangan Ais.


"Waalaikum salam"


Tinggal Farid dan Ais dalam ruangan itu. Ais masih sesenggukan dan berlindung di jaket Farid.


"Ayo pulang, aku antar" ucap Farid singkat.


"Dia tidak menciumku" kata Ais


"Mas gak tanya" ucap Farid datar.


Ais mendongak, dilihatnya Farid berdiri sambil menatapnya. Reflek Ais memeluk Farid.


"Jangan begini, kita belum halal" ucap Farid.


"Tapi kemarin kamu mencium keningku" jawab Ais sambil melepas pelukannya.

__ADS_1


Farid tersipu malu. Dia mencium kening Ais kemarin.


"Kamu diapain sama dia?" tanya Farid sambil berjongkok di depan Ais.


"Dia hendak mencium ku, tapi tidak bethasil, kamu dan Rena datang. Terima kasih sudah menolongku"


"Kenapa kamu berduaan di ruangan ini?"


"Dia ingin berbicara padaku, aku juga tidak tahu apa yang dia ingin bicarakan. Malah jadi begini"


"Apapun itu, kalian tidak boleh berduaan di ruangan. Mau dilaporkan kepada atasan?"


"Kita juga sedang berduaan. Dia anak pemilih saham disini. Percuma"


"Bantah terus kalau dikasih tahu. Kamu masih ada jam praktek atau sudah habis?"


"Sudah selesai. Aku cuci muka dulu. Tolong antarkan aku pulang"


Farid mengangguk. Ais segera mencuci mukanya. Setelah mencuci muka dia mengelap dengan tisue.


"Kamu marah sama aku mas?" tanya Ais sambil mengelap wajahnya.


Farid menghela nafasnya. "Lebih tepatnya cemburu! Besok lagi larang dia untuk masuk kesini, untung tadi aku inisiatif kesini. Kalau gak? Bukan hanya bibir kamu. Ah sudah lah, aku tidak mau membayangkannya"


Wajah Farid benar-benar kesal. Ais tersenyum melihatnya.


"Apanya yang lucu?"


"Kamu" jawab Ais.


"Sudah belum? Aku masih harus mengecek ke percetakan undangan"


"Maaf"


"Sudah ayo, aku tidak mau mengingat lagi hal itu" Farid berjalan terlebih dahulu meninggallan Ais. Dia hendak membuka pintu.


Grep


Ais memeluknya dari belakang.


"Lepas Is. Gak baik kayak begini"


"Kemarin kamu cium kening aku, sekarang aku peluk kamu kenapa gak boleh?" bantah Ais.


"Beda Is, aku cium kamu atas dasar perasaan ku. Kamu peluk aku hanya karena pelampiasan gara-gara si bajingan tadi"


"Kata siapa? Aku peluk kamu karena hati aku yang pengen. Ayo kita menikah"


Farid melotot mendengar kata-kata Ais.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Happy reading all 😘😘😘


__ADS_2