Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Paslon


__ADS_3

Minggu pun berlalu, KPU mengadakan konferensi pers terkait pemilu mendatang. Ketua Komisi Pemilihan Umum Magelang, Subandrio, mengumumkan bahwa mulai hari ini sudah bisa mendaftar menjadi paslon alias pasangan calon bupati dan wakil bupati. Batas waktu pendaftaran akhir adalah satu minggu ke depan.


Duta yang sudah mempersiapkan semuanya dari awal siang itu bersama calon wakil bupati, pak Sholeh dari partai x datang ke KPU untuk mendaftar paslon dan menyerahkan berkas persyaratan.


Duta dan pak Sholeh adalah pasangan pertama yang mendaftar. Cukup lama dan memakan waktu proses pendaftaran itu. Hingga Duta dan pak Sholeh baru keluar gedung KPU pukul 4 sore hari.


Wartawan segera berkumpul saat Duta dan pak Sholeh keluar. Mereka mencecar berbagai pertanyaan tentang pilkada. Duta dan pak Sholeh hanya menjawab singkat.


"Bagaimana strategi anda berdua agar menang pilkada nanti pak?" tanya salah seorang wartawan.


"Gak ada strategi khusus mas, serahkan semua sama Allah, menang kalah tak masalah. Yang penting maju saja dulu. Karena hanya ini yang bisa kami berikan untuk kota kami, begitu kan pak Sholeh?"


"Betul yang dikatakan pak Duta, kami tak memiliki strategi khusus. Baru saja mendaftar, belum tentu kami berdua lolos. Doakan saja yang terbaik lah" jawab Pak Sholeh.


Farid menyela para wartawan itu, karena jika mereka terus dilayani maka pertanyaan itu tak akan habis.


Berita pendaftaran bakal calon sudah tersiar di semua media. Laras hanya bisa mendoakan suaminya bisa lolos. Semoga papah kamu tetap bisa menepati janjinya untuk selalu memperhatikan kita nak. Doakan papah ya sayang. Batinnya sambil tersenyum dan mengelus perutnya.


Dirga dan Nina yang saat itu sedang makan siang bersama juga melihat wawancara di tv itu.


"Semoga pak Duta lolos dan menang lagi ya A'. Meskipun aku bukan warga Magelang asli, tapi kepemimpinan pak Duta nyata hasilnya. Seneng lihat hasil kerjanya. Semoga paslon kita yang satu ini jadi bupati dan wakil bupati untuk 5 tahun ke depan"


"Aamiin, gak nyangka Aa' mau jadi bupati. Aa' sewaktu kecil tuh ya bukan orang yang pandai bicara. Dia anaknya kuper. Inget banget deh aku. Kita juga paslon"


"Kita?" tanya Nina mengerutkan alisnya.


"Iya, paslon pengantin, hehehe"


Nina tersipu malu mendengar ucapan Dirga. "Aa' ih"


"Gak usah malu sih yank, tunggu Aa' ya. Modalnya sudah mendekati cukup kok"


"Ya gimana gak mendekati cukup, kamu kerja bagai kuda. Jangan terlalu memforsir tenaga kamu A', aku gak mau lihat kamu jatuh sakit"


"Iya sayang, kan Aa' cuma jaga disini, di klinik x, sama gantiin kamu nyanyi pas gak bisa"


"Bentar lagi rollingan, kira-kira aku dapat mana ya?"


"IGD, biar bisa pandang-pandangan. Hahay"


"Aa' ih, suka banget godain aku"


"Ya gak papa dong. Eh, yank, dokter Arjun lolos PPDS lhoh"


"Ha? Yakin A'? Berarti bentar lagi dia hengkang dong dari sini"

__ADS_1


"Mungkin, dia ambil bagian bedah"


"Wow, amazing bangeeet. Si otak dedel bisa masuk jurusan bedah? Yakin itu gak pakai nyogok?"


"Udah sih jangan pikiran buruk tentang orang. Pamali. Malam minggu jalan yuk, muter-muter aja kayak kemarin"


"Pake motor aku aja, kan kalau pake motor lebih irit"


"Oke" Begitulah mereka. Mereka sedang mengumpulkan recehan untuk pernikahan. Saling menerima kekurangan, dan saling melengkapi.


.


Ais sedang menemani suaminya makan. Sangat lahap. "Laper banget mas?" Farid hanya mengangguk.


"Iya"


"Mau nambah?"


"Gak usah, lihat lah baju mas setelah nikah sama kamu makin sempit. Ini yang salah kamu nih yank, nyuruh mas makaaaan terus, apalagi kalau kamu gak habis. Mas yang disuruh menghabiskan"


"Hahaha, kata ibu biar kamu makin cinta sama aku, makanya aku masakin tiap hari dan tak suruh makan terus"


"Sholat yuk"


"Ayo, habis sholat mau kemana lagi?"


"Wkwkwkw, salahmu sendiri toh. Coba waktu itu kamu datang tepat waktu pas acara 4 bulanan, bakalan puas kamu"


Farid menampilkan wajah sedihnya. Membuat Ais makin senang menggoda suaminya. "Buruan, keburu berubah pikiran lagi nih akunya"


Farid dengan cepat mengambil wudhu dan melaksanakan sholat. Selesai sholat Ais yang sudah berganti pakaian yang seksiiiih sekali itu senyam senyum menantikan suaminya.


"Aiiiihh, ayuneeee, tiap hari pake begini yank. Besok beli yang buanyak yo" ucap Farid senang.


"Iyooo, tinggal gesek atm mu sajaah" balas Ais.


"Eksekusi" Farid dengan semangat melahap makan malamnya. Sungguh menggiurkan.


"Berapa ronde nih?" tanya Farid


"Sak puasmu mas, itung-itung buka puasa"


"Siap! Wareg aku bengi iki (Kenyang aku malam ini)"


.

__ADS_1


Duta dari pulang tadi belum ada mandi. Istrinya sedang bermanja-manja dengannya. "Abang bau sayang"


"Enak bang, Laras gak mual"


"Begitu?"


"Iya, eh perut Laras berkedut. Mungkinkah debay mulai menendang bang?"


"Masa sih?"


"Coba abang ajak ngomong debay" Duta mengubah posisinya menghadap perut Laras yang sudah agak membuncit.


"Assalamualaikum anak papah, apa kabar di dalam sayang? Sehat terus di dalam ya. Doakan papah lolos jadi paslon ya nak" Dan benar perut Laras berkedut meskipun masih samar.


"Eh iya bener Ay, dek, mau dengar papah murotal gak? Papah bacain ayat kursi ya" Duta mulai membacakan ayat kursi dan direspon lagi oleh janin dalam perut Laras.


"Emang kalau udah 4 bulan dia bisa nendang gitu ya yank?" tanya Duta kepada Laras.


"Iya bang, bukunya Cicit bilang begitu. Kadang ada yang sampai 20 minggu baru kerasa"


"Terus kapan kita USG lagi?"


"Rabu besok, semoga abang lolos dan bisa maju pilkada lagi" Duta mencium kening istrinya. "Kamu serius pengen abang lolos? Bukannya malah bagus kalau abang gak lolos? Kan bisa fokus sama kamu dan debay sayang"


Laras mengangguk. "Konsekuensi bagi kita bang, belajar dari kemarin, kita perlu terus komunikasi. Laras tahu dalam hati kecil abang, abang masih ingin menjadi bupati. Terlihat dari mata abang. Laras gak mau jadi istri yang egois, yang memenggak hanya karena Laras ingin diperhatikan. Laras mendoakan yang terbaik untuk abang, karena tugas istri selain melayani adalah mendukung dan mendoakan"


Duta membawa Laras kembali ke dalam dekapannya. "Terima kasih Ay, tak salah jika kamu menjadi rebutan. Hati kamu benar-benar lembut dan tulus sayang"


"Sama-sama bang. Abang mandi gih, terus buatin Laras nasi goreng pakai kornet dan telur telur dadar. Laras lapar. Mau masak sendiri kok malas banget"


"Oke, tunggu disininya ratu ku. Abang mandi sebentar dan buatin yang kamu mau" Laras mengangguk dan tersenyum.


Segera setelah mandi Duta membuatkan pesanan Laras. Setelah jadi Laras makan dengan lahap. Membuat Dura senang


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2