Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Tertangkap


__ADS_3

Duta menelpon Kapolres Magelang. "Assalamualaikum Ndan, gimana kabarnya?"


Waalaikum salam bapak, alhamdulillah saya sehat pak. Bapak dan ibu bagaimana?


"Alhamdulillah kami juga sehat, ini, saya mau minta bantuan sama jenengan. Bisa merapat ke rumah saya sekarang?"


Siap! Segera pak


"Saya tunggu ya. Assalamualaikum"


Waalaikum salam


Panggilan berakhir. Raut wajah tegang tampak pada semua yang ada disana. Seseorang datang. Duta sampai bingung dengan kehadirannya. Rama diantar oleh Dirga.


"Assalamualaikum, pindah gak bilang-bilang" katanya.


"Waalaikum salam, eh Ram, iya kemarin habis nikah langsung pindah kesini. Ga, si Arjun hari ini jaga apa?"


"Kayaknya sih malam A', kenapa?" jawab Dirga.


"Oh gak papa. Duduk" Duta mempersilahkan mereka duduk.


"Ada apa Ram, kok malam-malam datang kemari? Pasti penting banget kan?"


"Hehehe, tahu aja kamu. Aku ada sedikit informasi mengenai foto adekku. Sepertinya, masih sepertinya ya, ini kerjaan Bumi"


Deg


Dirga, Laras dan Duta kompak mengulang nama itu. "Bumi?"


"Maksud mas Rama dokter Bumi Diwangga bukan, mas?" Laras memastikan sesuatu.


Rama mengangguk. "Mbak Laras kenal sama Bumi mbak?"


"Itu teman kami, Bumi dulu satu kelompok dengan kami" jelas Dirga sekarang.


"Abang kenal Bumi?" Laras bertanya kepada Duta. Dijawabi anggukan oleh Duta. "Jadi Bumi yang kamu maksud itu adalah Bumi Diwangga?"


Laras mengangguk. "Ada hubungan apa Bumi dan almarhumah teh Dini, A'?" tanya Dirga


"Dia itu mantannya Dini" jawab Duta. Mereka hanya mengangguk paham.


"Dulu aku dipengaruhi oleh dia untuk membencimu. Dia menghasutku. Aku yang saat itu benar-benar kehilangan Dini, benar-benar kehilangan akal dan malah termakan hasutannya. Maafkan aku ya Dut" jelas Rama. Duta tersenyum dan mengangguk.


Farid menyela percakapan itu. "Maaf, menyela. Sekalian saya bongkar ya pak. Jadi yang memasukkan foto mbak Dini ke dalam tas bapak adalah mas Budi. Mungkin dia disuruh oleh pak Bumi"


"Bisa jadi mas, Bumi ini anak dari pak Syaiful, saingan kamu dulu. Kan sekarang bapaknya dirawat di rumah sakit jiwa, tapi bukan di Indonesia, melainkan di Malay. Mungkin nih ya, dia mau melihatmu hancur karena masih tidak terima dengan kondisi orang tuanya" jelas Rama mengaitkan informasi yang ada satu per satu. Duta merenung.

__ADS_1


"Panggil mas Budi kesini" ucapnya kemudian. Farid mengangguk dan segera menghubungi ponselnya. Sayang ponselnya tidak aktif. Brata yang masih disana diberi perintah oleh Duta.


"Tidak aktif pak, mungkin mas Budi sedang bersembunyi. Karena sudah 2 hari ijin karena sakit"


"Mas Brata, kerahkan anak-anak. Cari keberadaan mas Budi. Saya tunggu hingga besok" Perintah Duta kepada Brata.


"Sendiko dawuh pak" Brata lalu pamit dan mengumpulkan kawan-kawannya mencari keberadaan Budi.


Tak lama Kapolres datang. "Assalamualaikum bapak"


"Waalaikum salam. Silahkan duduk pak Agung. Maaf ya menyita waktu jenengan malam-malam"


"Tidak apa-apa pak, kebetulan pas saya bisa. Saya sudah mendengar laporan dari anak buah saya, bahwa bapak sedang diteror"


"Iya Ndan, saya ingin jenengan menangkap tersangkanya. Bang Farid, tolong tunjukkan barang bukti yang ada" Farid menunjukkan isi chatnya kepada pak Kapolres.


"Saya akan mengirimkan anak buah saya untuk menangkap pelaku pak" Duta mengangguk.


"Pak, saya minta bantuannya untuk menemukan mas Budi. Karena beliau juga terlibat dalam aksi ini" imbuh Farid.


"Maksudnya ada 2 orang tersangka dalam 1 kasus gitu mas Farid?"


"Kasusnya teror semua pak, tapi yang satu ada kaitannya dengan politik lalu"


"Oke, saya akan kerahkan semuanya. Terakhir keberadaan mas Budi dimana mas Farid?"


"Oke, saya akan telusuri keberadaannya"


"Terima kasih Ndan, tadi juga saya kerahkan anak-anak untuk melacak keberadaan mas Budi" sahut Duta.


"Sama-sama pak, saya langsung permisi saja agar cepar selesai. Mari semuanya, saya pamit. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


.


Surat penangkapan untuk Arjun langsung dibuat oleh kepolisian setempat. Polisi mendatangi kediaman Arjun. Papah Arjun, pak Priyadi yang saat itu baru saja tiba dirumah heran rumahnya didatangi oleh polisi.


"Selamat malam pak polisi, ada apa ya?" sapa pak Priyadi.


"Selamat malam" jawab polisi itu sambil memberi hormat. "Kami kesini membawa surat penangkapan untuk saudara Arjun Priyadi. Apakah yang bersangkutan ada di rumah?" polisi itu memberikan surat penangkapan Arjun.


Pak Priyadi membacanya. "Teror? Teror terhadap siapa pak?"


"Terhadap ibu Bupati. Apakah yang bersangkutan ada di rumah?"


"Mari masuk pak, sepertinya dia sedang di rumah" Pak Priyadi mengajak polisi itu masuk dan mempersilahkan mereka duduk.

__ADS_1


Mamah Arjun yang saat itu tengah bersantai dengan putranya sampai kaget ada kedatangan polisi ke rumah mereka.


"Ada apa pah?" tanya Arjun. Tanpa basa basi, paoah Arjun langsung menampar anaknya itu.


"Papah!" teriak mamah Arjun.


"Siapa yang mengajarimu menjadi pecundang seperti ini ha?? Sampai kamu berani mengganggu istri orang! Sadar Arjun! Papah tidak habis pikir dengan sikap kamu"


"Sabar pak" polisi itu melerai pertikaian itu.


"Bawa dia pak, sel kan saja dia. Saya malu dengan tindakannya! Seperti orang tidak berpendidikan! Sadar Arjun! Kamu itu dokter! Kamu mau reputasi kamu rusak!? Ha?!" emosi pak Priyadi benar-benar sudah memuncak.


"Saudara Arjun, surat penangkapan anda atas kasus penebaran teror sudah terbit. Mari ikut kami ke polres untuk dimintai keterangan. Mohon kerjasamanya" kata polisi itu.


Arjun hanya bisa diam. Pasrah karena sudah tertangkap. Polisi segera membawanya ke polres untuk proses penyidikan.


Sementara Brata masih mencari keberadaan Budi berbekal dengan informasi yang di dapat dari tetangga Budi. Katanya anak Budi sedang sakit di rumah sakit. Brata dan kawanannya melakukan penelusuran ke rumah sakit dan dapat!


Budi yang saat itu berjalan di koridor kaget melihat ada Brata. Dia mencoba kabur. Lari ke penjuru lain dari sisi rumah sakit itu. Terjadilah aksi kejar-kejaran disana hingga membuat sebagian pasien takut.


Brata berhasil mengepung pergerakan Budi. "Mau kemana lagi mas? Sudah yok main kejar-kejarannya. Saya capek plus lapar. Mas Budi sudah tertangkap. Menyerah saja mas" ucap Brata sambil ngos-ngosan masih mengatur nafasnya.


Farid yang saat itu sudah diberitahu oleh salah satu temannya langsung meluncur ke rumah sakit. Dia tersenyum kecut. "Mau kabur kemana mas? Mau kesetrum kalau mau manjat dinding ini. Bapak sudah menunggu. Mas Brata, bawa saja"


"Rid, tolong saya Rid. Anak saya sedang sakit Rid"


Farid mengangkat bahunya. "Yang mas lakuin itu bikin bapak kecewa. Kenapa minta tolongnya ke saya? Nanti kalau mau minta tolong. Minta tolong sama bapak saja"


Budi dibawa dengan paksa oleh Brata dan Farid.


"Di depan sudah ada pihak kepolisian mas. Saya ada urusan lain" pamit Farid berpisah dengan Brata. Brata mengangguk dan membawa Budi bersama polisi ke rumah Duta


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Hhhmm, tidur nyenyak ya malam ini. Maafin othor yang selalu bikin pinisirin. Wkwkwkw. Happy reading all 😘😘. Sabar ya. Pokoknya sampai tgl 5 ajah. Habis itu insyaallah othor up 2x. hehehe

__ADS_1


Eh hari ini othor di vaksin lhooo. Vaksin Covid-19. Semoga bumi kita segera pulih ya. Ada nakes juga gak disini?


__ADS_2