
Arman menghampiri istrinya yabg sedang bermain ponsel. "Lagi ngapain sih?" Dengan cepat Gita menutup akun instagramnya.
Gita tersenyum. "Gak lagi ngapa-ngapain. Sudah selesai ngobrolnya? Kamu yakin bakal menang pilbup nanti? Aku kok was-was kalau kamu kalah"
"Aku bakalan menang kalau kamu mau bantu aku" Sita menautkan alisnya. "Bantu kamu? Caranya?"
Arman membisikkan sesuatu ke telinga Gita. "Gila kamu mas! Gak! Aku gak mau!"
Arman menjawab santai. "Gak papa kalau kamu nolak, tinggal ceraikan kamu saja. Kok susah"
Gita tak habis pikir dengan suaminya. Setiap kali dia menolak keinginan suaminya pasti ancamannya cerai.
"Gimana?"
"Mas, kamu sama aja jual harga diri aku tau gak!"
"Orang cuma butuh foto doang, gak ngapa-ngapain kok sayang. Mau ya?"
Gita menghela nafasnya. "Tambahin uang jajan aku, uang bulanan aku juga"
"Oke, aku tambahin 10 juta per bulan. Asal kamu mau melakukannya"
"Oke, deal"
"Oke, sekarang aku butuh suplemen yang bikin gairah aku kembali segar. Kamu tahu kan maksud aku?" Gita mengangguk. "Buka semua bajumu, dan menarilah"
Gita melakukan apa yang suaminya suruh. Entah pernikahan macam apa yang mereka ciptakan. Pernikahan yang diawali dengan perselingkuhan, bertahan hanya karena uang, dan mempergunakan istrinya hanya untuk kemenangan.
.
Pemilu semakin mendekati hari H, tinggal 3 hari lagi akan dilaksanakan pemilu di Magelang. Calon bupati petahana Duta Wicaksana yang menggandeng Muhammad Sholeh sebagai wakilnya. Dan Arman Gavindra serta Bagus Setya.
Malam itu Duta mendapatkan chat dari salah seorang anggota partai yang mengatakan bahwa dirinya harus segera datang ke hotel x karena ada rapat mendadak.
"Ay, abang ke hotel x sebentar ya, ada rapat mendadak" Entah Laras sudah ada firasat atau apa, yang jelas dia tak rela malam itu suaminya pergi.
"Sendirian?" tanya Laras.
"Gak, sama bang Farid. Sebentar lagi juga dia jemput abang. Kenapa sih?"
__ADS_1
"Laras ngerasa gak enak gitu. Laras takut sesuatu terjadi sama abang" Duta memeluk istrinya yang sedang menata bunga itu. "Abang gak akan kenapa-kenapa kok. Tenang saja"
Laras mengangguk. "Ya sudah, abang siap-siap dulu ya" katanya dan mencium bibir Laras sekilas.
"Iya" Duta segera bersiap memenuhi undangan itu.
Farid bersama para rombongan pengawal Duta sudah siap di depan rumah. Tak lama Duta keluar bersama Laras. "Abang berangkat ya, kalau ngantuk tidur saja dulu, jangan menunggu abang" Laras mengangguk dan mencium tangan Duta. Duta mengecup kening Laras dan tersenyum.
"Assalamualaikum" pamit Duta.
"Waalaikum salam, cepat pulang ya"
"Iya" Duta naik ke mobil. Farid pamit kepada Laras. "Hati-hati di jalan" imbuhnya. Lalu dia kembali ke dalam rumah.
"Astaghfirullaaaah, kenapa perasaanku tidak enak begini ya? Ya Allah lindungilah suamiku, jauhkan dari mara bahaya. Aamiin" Laras memilih untuk mengambil wudhu dan menenangkan diri dengan bermurotal.
.
Duta sudah tiba di hotel x. Farid mengikuti langkah Duta. "Pak, saya kok merasa aneh ya?"
"Aneh gimana bang?"
"Iya juga sih, kita khusnudzon aja bang. Mungkin karena mendadak jadi tidak ada persiapan" Duta masih mencoba berfikir positif.
Dua orang dengan memakai masker membekap Duta dan Farid, hingga mereka kehilangan kesadaran. Farid dikunci di salah satu ruangan. Sedangkan Duta dimasukkan ke dalam salah satu kamar.
Gita dan Arman sudah menunggu kedatangan Duta. Dengan cepat pakaian Duta dilepas satu persatu oleh orang yang membekapnya tadi. Gita bertelanjang dada ikut berbaring di samping Duta yang sedang pingsan.
Arman menggunakan kameranya untuk mengambil foto itu. "Peluk dia dong sayang, agar lebih terlihat natural"
Gita hanya menuruti suaminya. Beberapa foto dirasa cukup. "Cepat pakai bajumu"
"Iya" jawab Gita dan memakai bajunya kembali. Lalu meninggalkan Duta seorang diri di kamar hotel itu.
Farid sadar dari pingsan. Dia melihat keadaan sekitar dan bingung. Dia mencoba mengingat kembali kejadian sebelumnya. "Bapak!" pekiknya.
Dia merogoh ponselnya dan mencoba membuka pintu, tapi sia-sia. Dia terkunci di dalam sana. Dia menelpon Brata. "Mas! Bapak dijebak! Segera sisir seluruh ruangan kamar hotel. Saya curiga ada yang sengaja melalukan hal ini. Dan tolong, saya terkunci di sebuah ruangan. Sepertinya gudang"
Brata dan pengawal lainnya melakukan penyisiran di hotel itu. Sebagian mengecek cctv, sebagian mencari Duta dan Farid. Cctv sengaja dimatikan beberapa saat oleh seseorang, hingga keberadaan Duta susah ditemukan.
__ADS_1
Duta sadar dari pingsan, melihat keadaannya. "Kenapa ini? Kenapa aku tak memakai baju?" Duta mengingat kejadian tadi dan langsung menghubungi Farid. "Halo bang, kita dijebak!"
Iya pak, sekarang bapak dimana?
"Di salah satu kamar hotel" Duta mematikan panggilannya, segera memakai bajunya kembali dan keluar dari kamar itu. Brata melihat Duta keluar. "Bapak! Bapak tidak apa-apa?"
Duta menggeleng. "Saya tidak apa-apa. Tapi saya tadi bangun dengan posisi sudah tak memakai baju. Cek semua cctv dan cek ruangan ini" Brata mengangguk dan segera menyisir kamar hotel itu. Brata menemukan sebuah ikat rambut berwarna merah maroon terjatuh di lantai.
"Pak saya menemukan ini. Kemungkinan ada seorang wanita juga yang ada disini" Duta mengusap wajahnya kasar, dia sangat yakin bahwa dirinya sengaja dijebak entah oleh siapa dengan modus perselingkuhan.
Salah seorang pengawal datang dan memberitahukan bahwa cctv mati sejak 10 menit sebelum kedatangan Duta dan Farid disana.
Farid menghampiri Duta. "Bagaimana ini pak?" tanyanya. "Saya juga bingung bang"
"Mas Brata, antarkan bapak pulang terlebih dahulu. Saya akan mengecek lagi cctv yang ada" Brata segera membawa Duta kembali ke rumahnya.
Tahu kekuatan media seberapa besar? Sangat besar, media begiti cepat menyampaikan informasi. Malam itu berita langsung tersebar ke seluruh Indonesia. Saat Duta tiba di rumahnya, gerbang rumahnya sudah dipenuhi olwh wartawan yang siap memburu berita.
Laras sampai jatuh pingsan melihat foto Duta dengan seorang perempuan. Saat sadar dirinya menangis. Duta menghampiri istrinya.
"Stop! Jangan sentuh aku bang!"
"Abang bisa jelaskan sayang, abang dijebak"
"Lalu apa ini? Kamu tidur dengan mbak Gita? Mantan istri mas Ari, yang sekarang menjadi iatri sah dari mas Arman. Ini yang kamu maksud rapat?" tangisnya pecah saat menerima gambar itu dari nomor tak dikenal. Saat yabg sama ketua partai datang bersama para petinggi ke kediaman Duta.
Duta menjelaskan bahwa dirinya dijebak. "Masalahnya adalah, kita tidak punya bukti pak Duta, cctv mati, foto itu asli. KPU memberi waktu kepada kita hingga 2 kali 24 jam. Jika kita tak bisa menunjukkan bukti itu, maka kita akan didiskualifikasi dari pemilu ini"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip