
Dirga melakukan kebaktian di gereja x. Dia hampir saja terlambat karena baru selesai shift malam. Karena terburu-buru dia sampai menabrak pintu gereja yang sangat besar itu. Membuat bahunya nyeri sekali. Dia duduk di sembarang tempat karena sudah akan dimulai acaranya.
Nina juga berada di gereja yang sama dengan Dirga. Dia menoleh ke sebelah saat ada yang duduk di sebelahnya. Dia sedikit kaget.
"Dia lagi" gumam Nina pelan.
Dirga menoleh ke arah Nina. "Eh teteh lagi. Disini juga?" tanya Dirga tapi diacuhkan oleh Nina. Sombong amat ni cewek. Disapa baik-baik senyum kek apa kek. Masa bodoh lah sama dia.
Mereka mengikuti kebaktian itu dengan khidmat. Tidak mengobrol sampai acara selesai. Nina masih berdoa disaat yang lain sudah meninggalkan gereja. Dirga hanya memperhatikan dan menemaninya. Hingga doa Nina selesai Dirga ternyata masih menemaninya.
"Sudah selesai?" tanya Dirga kepada Nina yang selesai berdoa.
"Ngapain masih disini sih dok? Nungguin saya?" tanya Nina balik.
"Iya, eh, kita nih serumah sakit tapi gak saling kenal. Kenalan yuk. Siapa tahu bisa jadi teman"
Nina menautkan alisnya dan tersenyum kecut. "Teman? Antara perempuan dan laki-laki? Haha"
"Lhah kok tertawa sih teh? Memang apa salahnya?"
"Antara perempuan dan laki-laki itu tidak ada yang namanya pertemanan. Yang ada lebih"
"Duuuhh ge er nya selangit ya. Urang teh tulus mau berteman dengan teteh"
"Yakin tulus? Sama dokter Laras juga jadinya lebih kan?" Dirga bungkam tak menjawab Nina.
"Kenapa diam? Bener yang saya ucapkan?"
"Kenapa malah bawa teh Laras. Saya kan ingin berteman sama kamu. Siapa sih nama kamu?"
"Kepo, sana pulang"
Dirga menghela nafasnya. Lalu berjalan meninggalkan Nina. Nina segera keluar dari gereja. Saat di depan pintu gereja dia melihat mantan kekasihnya bersama dengan kekasih barunya.
Sial, kenapa harus bertemu disini sih?
Nina melihat mereka bermesraan membuat hatinya panas. Dia melewati pasangan itu. Tapi ketahuan oleh si cowoknya.
"Nina" panggil mantan Nina.
"Ya?" Nina menoleh ke sumber suara. Ada tatapan sinis dari perempuan yang berada di samping mantannya itu.
"Sama siapa?"
"Sama pacar"
"Mana?" tanya mantan Nina kepo. Ingin tahu seperti apa orang yang mampu menggantikan posisinya.
"Aa' Dirga!" Nina memanggil Dirga dengan sebutan baru. Membuat Dirga mencari sumber suara. Nina mendekati Dirga dan berbicara dengan gumaman. "Tolongin saya, please"
"Tolongin apa?" Dirga ikut-ikutan bergumam.
"Pura-pura jadi pacar saya. Please. Sekali ini saja"
"Balasannya?" Nina memutar bola matanya malas. "Jadi teman"
"Oke" Dirga meraih tangan Nina dan berjalan menuju ke arah mantan Nina.
__ADS_1
"Kenalkan ini Dirga, pacar aku. Dokter di rumah sakit yang sama tempat aku kerja. A' kenalkan ini Aldi, mantan gak penting" Mereka berjabat tangan saling memperkenalkan diri.
"Sudah kan? Permisi duluan ya, kami masih ada urusan" ucap Nina dan meninggalkan Aldi bersama pacarnya. Dia ikut masuk ke dalam mobil Dirga.
Itu pacar Nina? Dokter? Salah aku mutusin kamu Nin. Ternyata kamu lebih bahagia bisa mendapatkan yang lebih dari aku. Gumam Aldi dalam hati.
"Kenapa? Nyesel mutusin Nina?" tanya Rosa pacar Aldi.
"Eh, gak lah sayang. Syukur kalau dia sudah punya pacar. Itu artinya kamu tidak perlu takut lagi" Rosa hanya diam tak menjawab.
Di dalam mobil Dirga mengulurkan tangannya kepada Nina. "Saya Dirga"
"Nina" sahutnya tak membalas uluran tangan Dirga.
"Dijabat dong tangannya, sudah ditolongin juga. Masa iya begini cara berterima kasihnya?"
Nina mengalah dan menjabat tangan Dirga. "Yang tadi mantan kamu?"
"Iya, dia main tikung sama teman ku sendiri"
"Ooo, itu alasan kamu gak mau berteman antara pria dan wanita? Wkwkwkw"
Nina menoleh saat Dirga tertawa. "Lucu?"
"Ehm, gak. Jangan galak dong teh, akunya takut. Masih gak bisa move on dari dia?"
Nina diam tak menjawab. "Numpang sampai depan sana"
"Rumahmu dimana? Aku antar sekalian"
"Oh, aku kira orang Magelang asli. Terus disini ngekos?"
"Ngontrak. Sudah deh dok, jangan kebanyakan tanya. Ayo cepat jalan"
"Main suruh. Ogah. Yang bener dulu kalau ngomong. Galak bener sih" Dirga mulai kesal dengan nada bicara Nina.
Nina menghela nafas. Melihat mobil Aldi melintas meninggalkan gereja Nina hendak keluar dari mobil Dirga.
Terkunci. "Lhoh kok gak bisa dibuka? Bukain dok, saya mau turun"
"Duduk dan pakai seatbelt kamu dengan benar. Mana alamatnya?" tanya Dirga lagi.
"Gak usah dokter, saya bisa pulang sendiri" tolak Nina halus.
"Nah itu bisa ngomong halus. Begitu kan enak didengarnya. Kita ini sudah menjadi teman. Sewajarnya bersikap baik. Tidak perlu ngomong pakai urat. Bisa kan?"
Nina mengangguk. "Maaf kalau galak. Tapi memang saya begini orangnya. Apalagi kalau sama orang yang baru kenal"
"Hahaha, hati-hati kalau galak sama cowok. Jatuh cinta baru tahu rasa kamu. Mana alamatnya?"
"Jalan madukoro nomor 16. Memang dokter tahu jalanan Magelang?"
"Maps lah, kok susah" Dirga melajukan mobilnya dengan berbekal maps untuk mengantarkan Nina pulang. Di dalam perjalanan Dirga mengobrol dengan Nina.
"Teteh cerita apa saja sama kamu soal aku?"
Nina menoleh. "Mata dokter tuh yang bikin kami kepo. Memang saat ini masih mengharapkan dokter Laras?"
__ADS_1
"Hahahah, gak lah. Lagi berusaha menghilangkan rasa itu. Dan sepertinya akan segera hilang. Karena saat bertemu dengannya tidak seperti dulu. Biasa saja"
"Semoga dokter bisa menemukan yang lebih baik dan seiman dengan dokter"
"Aamiin. Gak usah nyari lah, kamu aja yang disebelah aku. Wkwkwkwk" Goda Dirga kepada Nina.
Nina mengepalkan tangannya dan mengangkatnya. "Nih kalau berani godain saya"
"Weits, jangan dong. Kayak preman saja kamu. Just kidding. Oke teman?"
Nina hanya tersenyum kecut saat Dirga talut dengannya.
Kenapa menawarkan pertemanan denganku? Ada maksud yang lain gak sih si dia? Jangan-jangan aku cuma dijadikan tumbalnya doang nih, supaya dia benar-benar dianggap sudah lupa dengan dokter Laras.
"Woy bengong. Sudah sampai Nina" Dirga menyebut nama Nina.
"Oh, terima kasih"
"Terima kasih apa dulu nih?"
"Terima kasih sudah mau membantu saya untuk tidak malu di depan Aldi. Terima kasih sudah mengantarkan saya pulang" ucap Nina sambil tersenyum kepada Dirga.
Dirga tak tahan dengan senyuman Nina yang mempunyai lesung pipit itu. "Astaga dragooon, senyum kamu manis amat sih. Bisa kepincut akuuuh. Hahahaha"
"Dokteeeeerr" ucap Nina geram
"Hahaha, biasa aja kali. Terima kasih sudah menjadi teman untuk ku. Bisa gak sih ngomong kamu gak formal ke aku? Kalau di rumah sakit silahkan panggil dokter dan sebut diri kamu saya. Tapi kalau di depan ku jangan formal. Gak enak. Masa teman bahasanya formal?"
"Permintaannya banyak banget. Iya"
"Nanti kalau butuh bantuan calling aku" Dirga meraih ponsel dari tangan Nina dan menuliskan nomornya.
Nina sampai kaget saat tangan Dirga mengambil ponselnya. Dirga mengembalikan ponsel Nina setelah dia menuliskan nomornya.
"Aku turun ya. Sekali lagi terima kasih"
"Gak ditawarin mampir nih?"
"Gak. Sana pulang, istirahat. Kamu baru selesai shift malam kan? Bau tahu"
"Hahahah, yang penting ganteng"
"Pede abeeeees" Nina segera turun dari mobi. Dirga melajukan mobilnya kembali ke rumah budhe nya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1