Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Papah dan Dini


__ADS_3

Farid melotot mendengar kata-kata Ais barusan. Dia melepaskan pelukan Ais dan berbalik.


"Apa tadi?" tanyanya.


"Apa?" Ais balik bertanya.


"Aku denger tadi kamu bilang ayo kita nikah. Kamu serius bilang begitu?"


Ais mengangguk malu. "Iya serius lah mas. Aku gak mau menyia-nyiakan orang yang tulus mencintaiku. Sudah cukup aku menjadi cewek bodoh. Kalau dulu aku punya alasan untuk menolak lamaranmu karena usia, dendam dan karir, sekarang aku sudah mendapatkan semuanya.


Aku sudah cukup matang untuk membina rumah tangga. Kamu adalah kamu, bukan mbak Gita. Dan karir juga sudah aku dapatkan. Tidak ada lagi alasan untuk ku menolakmu. Soal rasa biarkan itu hadir dengan sendirinya. Karena mungkiiiin, saat ini benih rasa itu sudah mulai tumbuh dihati ku" terangnya.


Farid menatap dalam bola mata Ais. Mencari kejujuran dari setiap penuturan yang terucap dari mulutnya. Sama sekali tidak ada kebohongan. Hanya ada ketulusan dan kejujuran yang nampak pada bola mata itu.


Farid menarik tangan Ais dan membawanya ke dalam pelukannya. Ais menyambut pelukan itu. Farid mengeratkan pelukannya. Penantian yang tak sia-sia.


"Mas akan melamarmu dan memintamu kepada keluargamu Ais. Terima kasih sudah mau menerima kehadiranku. Aku akan selalu menebar benih cinta di hatimu. Hanya kamu, hanya kamu yang mampu menggetarkan jiwaku. Hanya kamu yang mampu mengisi kekosongan di hati ku. Terima kasih Aisyah Wibisana"


"Sama-sama mas Farid Baihaqi. Jadikan aku milikmu, jadikan aku istrimu, jadikan aku bagian dari suka dan dukamu. Mari saling belajar menerima dan mencintai satu sama lain" balas Ais.


"Tunggu mas setelah pernikahan pak Duta dan mbak Laras. Mas akan memenuhi janji untuk memintamu kepada keluargamu. Mau kan?"


"Iya, aku akan menunggumu mas. Aku juga tahu kita sedang disibukkan dengan pernikahan orang penting, orang nomor satu di kabupaten kita. Mau pelukan terus? Tadi aja minta peluk gak boleh"


Farid segera melepas pelukannya. Dia mencium kening Ais sekilas. "Tadi kan mas kira kamu cuma butuh sandaran gara-gara si dokter edan tadi"


"Makanya, jangan kebawa cemburu dong"


"Gimana gak cemburu, dia bilang bibir kamu manis! Ngebayangin aja mas gak sanggup apalagi kalau itu sampai terjadi"


"Arjun itu cuma berani omongan doang mas, dia gak bakalan berani"


"Jangan nantang laki-laki Ais, mereka punya naluri dan berhasrat. Bisa saja kelepasan. Ah sudah lah, mas gak mau ngebayangin itu lagi" ucap Farid dengan muka cemberut lagi.


"Ih, cemberut lagi. Sudah dong, jangan cemburu lagi"


"Iya-iya"


"Ayo pulang, katanya mau ke percetakan undangan?"


"Iya, ayo. Sekalian kita bikin undangan buat kita" ucap Farid semangat.


"Ayo" sahut Ais tak kalah semangat.


Ais dan Farid menuju parkiran. "Mau pakai mobil siapa mas?" tanya Ais.


"Mobil mas aja, mobil kamu biar disini. Besok mas antar jemput kamu" jawab Farid.

__ADS_1


"Ya sudah ayo" Ais dan Farid masuk ke dalam mobil Farid. Mereka segera menuju percetakan.


.


Laras melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia melirik ke samping dan melihat Duta sudah terlelap. Laras tersenyum melihatnya.


"Capek banget sih bang? Hmm, makin ganteng kalau lagi tidur" gumam Laras.


Laras sudah sampai di pemakaman x. Tapi dia enggan untuk membangunkan Duta. Dia meraih ponselnya dan memotret Duta yang sedang terlelap. Lalu dengan cepat dia mengunggah di akun IG nya dengan caption, Kesayangan ku. Dan menandai akun Duta.


Laras menunggu Duta bangun sambil senyam senyum melihat komentar para netizen. Duta bangun dari tidurnya dan melihat sekitar.


"Lhoh yank, kok gak bangunin abang sih?" ucap Duta sambil mengucek matanya.


"Gak tega banguninnya. Mau ke makam sekarang?" jawab Laras.


"Iya, yuk turun. Beli 2 keranjang bunga sama airnya yank"


"Kok dua?"


"Iya, makam papah sama Dini"


"Ooo"


Mereka turun dari mobil dan membeli 2 keranjang bunga dan air mawar. Duta menggandeng tangan Laras menuju makam papahnya.


"Pah, Duta datang. Duta datang bersama calon mantu papah. Namanya Ayu Larasati, dokter jiwa. Dia dokternya mamah lhoh pak. Seminggu lagi kami akan menikah pah. Ayo Ay, sapa papah Dodi. Ini papahnya abang"


"Assalamualaika papah Dodi. Saya Laras. Saya akan menjadi mantu papah. Mendampingi anak papah yang hebat ini. Restui kami ya pah" ucap Laras.


"Pah, papah tahu tidak? Mamah sekarang sudah tidak mengkonsumsi obat penenang lagi. Mamah sudah bisa lebih ikhlas atas kepergian papah, dan juga berkat calon mantu papah ini"


"Apaan sih bang, mamah sembuh karena niatan mamah sendiri. Laras hanya membantu"


"Papah beruntung punya calon mantu Laras pah, dia itu selalu mengerti Duta, tukang marah sih, tapi marahnya cepat hilangnya kok heheheh" Laras hanya tersenyum mendengar ocehan Duta.


"Doakan kami ya pah, semoga keluarga yang Duta bina bersama Laras sakinah mawaddah dan warohmah"


"Aamiin" sahut Laras.


"Ya sudah pah, Duta dan Laras pamit. Duta sayang sama papah. Duta kangen sama papah. I love you pah. Assalamualaika papah Dodi"


Duta dan Laras berdiri dan meninggalkan makam itu beralih ke makam Dini. Seperti sebelumnya, mereka membersihkan makam itu dan menaburkan bunga dan air mawar. Duta memimpin doa diikuti oleh Laras.


"Assalamualaika Dini, mas datang. Mas mau memperkenalkan seseorang sama kamu. Ini namanya Ayu Larasati. Dia yang mampu menggantikan posisi kamu di hati mas. Seminggu lagi kami akan menikah Din, doakan kami ya Din"


Laras mengelus punggung Duta. "Assalamualaika mbak Dini, saya Laras. Terima kasih ya mbak, selama ini mbak telah menjaga jodoh saya. Saya hanya bisa berjanji akan berusaha membahagiakannya mbak. Tolong doakan kami mbak"

__ADS_1


"Hanya dia Din, hanya dia yang mampu menggetarkan hati ku. Setelah kepergianmu. Semoga kamu tenang di alam kamu Din"


Laras hanya mampu diam. Dia merasakan cinta yang dulu pernah Duta hadirkan untuk Dini. Mereka berpamitan kepada Dini. Saat akan meninggalkan makam Dini, Duta dan Laras berpapasan dengan Rama.


"Rama?" ucap Duta.


Rama hanya diam mematung. Dia tak membalas sapaan Duta.


"Ram" ucap Duta lagi.


"Pergi kalian. Kalian tidak ada hak mengunjungi makam adik ku" ucap Rama datar.


Laras yang tadinya bingung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Dingin. Itu yang Laras tangkap pertama kali melihat Rama.


Pendendam batin Laras saat memandang Rama.


"Aku hanya mengunjungi Dini dan mengenalkan Laras padanya, kamu apa kabar Ram?" tanya Duta hangat.


"Kamu tidak dengar apa yang kukatakan?! Pergi! Kamu yang membuat adikku terbujur kaki seperti itu. Andai saja waktu bisa ku ulang, aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian"


"Ram, itu kecelakaan...." ucapan Duta terpotong oleh sahutan Rama


"Kecelakaan? Kenapa harus adikku yang mati? Kenapa bukan kamu yang terkubur tanah saat ini?!"


"Takdir tidak bisa disalahkan mas. Semua tentang kita sudah tercatat dengan jelas di buku lauful mafudz. Tolong jangan menyalahkan bang Duta seperti ini" Laras buka suara.


"Waaah, lihat! Kamu menambah pembela dipihak mu! Pergi"


Laras hendak menjawab tapi dicegah oleh Duta. "Kami pergi Ram, tolong restui kami"


Duta menggandeng Laras pergi meninggalkan makam Dini kembali ke mobil.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Udah 3x up ya gaes. Happy reading semua 😘😘. Besok lagi yaaa

__ADS_1


__ADS_2