
Ari dan Amira keluar rumah keliling kompleks menggunakan sepeda bersama putri mereka, Shanum.
Shanum tergolong anak yang cepat tanggap. Di usianya yang masih tiga tahun, Shanum sudah bisa mengendarai sepeda kecilnya itu tanpa bantuan roda samping untuk membantu keseimbangannya.
"Ayo sayang, semangat!" ucap Ari menyemangati anaknya.
"Pipi cama mimi jangan ngebut-ngebut dong. Kaki Chan kan macih pendek"
"Hahaha, apa urusannya kaki pendek dan panjang sayang? Mimi tungguin deh" Amira tertawa mendengar alasan anaknya.
"Pipi duluan ya, Pipi kebelet pipis nih" Pamit Ari kepada mereka berdua.
"Iya pi, Shan biar sama mimi saja" Ari mengayuh sepedanya meninggalkan anak dan istrinya.
Ari langsung masuk ke toilet karena sudah tak tahan lagi. Selesai dia buabg air kecil niatnya ingin menyusul anak dan istrinya. Tapi matanya menemukan sosok yang tak asing baginya.
"Gita!" panggilnya dan gelagapan. "Mau apa kamu kesini?" tanyanya tak ramah.
"Mau ketemu sama kamu, sayang" jawab Gita sambil nyelonong menghampiri Ari dan memeluknya.
Amira dan Shanum baru saja tiba di rumah. Amira melihat pintu rumah terbuka separuh. "Pipi nih kebiasaan, pintunya gak ditutup lagi" ucap Amira berjalan mendahului Shanum. Saat di depan pintu matanya terbelalak.
Dia melihat Ari berpelukan dengan seorang perempuan. Amira langsung balik badan dan menutup mata Shanum.
"Shan, kamu masuk lewat samping ya. Pipi lagi ada tamu. Mimi mau nemenin pipi nemuin tamunya dulu"
Shanum mengangguk. Amira tersenyum karena anaknya menganut dengan ucapannya. "Anak pintar, masuk dulu ya?"
Shanum masuk lewat pintu samping yang langsung menuju ke dapur. Jadi dia tidak melihat tamu yang dimaksud oleh mimi nya.
Amira geram melihat mereka berdua. Dia menyingsingkan lengan bajunya lalu menjambak dengan sekuat tenaga rambut wanita yang sedang memeluk suaminya.
"Dasar murahan! Mau jadi sang penggoda kamu???!!" Amira sangat marah. Dia menjambak rambut Gita dan menyeretnya keluar rumah.
Ari sampai bergidik ngeri melihat kemarahan istrinya. "Aaaawww, sakkkiiiitttt!!" teriak Gita dan menyingkirkan tangan Amira dari rambutnya.
"Pergi kamu!"
"Kenapa? Kamu takut? Kamu takut aku menjadi sang penggoda bagi mas Ari ku?"
Amira tersenyum kecut. "Mas Ari mu? Hahaha, haduuuuhhh, kamu waktu di bui kebanyakan halu ya?? Lupa kamu sudah ditalak tiga sama suamiku?? Haram baginya menyentuhmu!"
"Ya kan setelah ini kamu diceraikan olehnya, dan aku bisa menikah lagi dengannya, hahahaha"
Ari menyalakan keran yang terhubung dengan selang lalu menyemprot Gita dengan air. Amira tertawa melihatnya.
"Biar sadar kamu Git! Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan istriku Amira! Apalagi hanya karena sang penggoda sepertimu! Mandi sekalian kamu!"
__ADS_1
"Mas! Cukup!" Gita gelagapan karena disiram dengan air.
"Pergi kamu! Tidak ada tempat untukmu di rumah ini dan di hatiku!" Ari mengusir Gita. Ari meraih tangan Amira untuk masuk ke dalam rumah.
"Lepasin mas!" kata Amira.
"Sayang...."
"Kerannya belum dimatiin!" Amira melepaskan genggaman tangan Ari dan mematikan keran. Lalu masuk ke rumah dengan kesal.
Ari langsung menutup pintu rumahnya. Tak peduli lagi dengan keadaan Gita yang basah kuyup.
"Sayang" panggil Ari saat Amira menuju kamar mereka tanpa menghiraukan panggilan Ari.
Amira berganti pakaian lalu menegak air yang ada di gelas sampai habis. "Yank" panggil Ari sambil menatapnya.
"Apa?!" jawab Amira ketus "Bisa ya kamu cuma diem nerima pelukan dia?? Jangan-jangan kamu tadi cuma alasan doang!"
"Gak sayang, mas gak alasan. Mas berani sumpah, mas beneran kebelet. Percaya dong sama mas. Dia tiba-tiba nyelonong masuk dan meluk mas. Mas nolak tapi dia kayak ulet gitu kok!"
"Mbuh!"
"Jangan marah dong sayang, mas gak akan tergoda sama wanita manapun. Hanya kamu yang mas cinta" kata Ari sambil menoel pipi istrinya. Membuat Amira tak tahan untuk tidak tersenyum.
"Apa sih??"
Ari mengecup kening Amira. "Mas gak akan tergoda kecuali sama kamu. Kamu itu sang penggoda bagi duda rasa perjaka ini Amira Salsabila"
"Iya tahu, pipinya Shanum, suaminya Amira Salsabila. Kalian itu segalanya buat mas sayang. Jangan ragukan cinta mas ya"
Amira mengangguk. "Besok lagi pintu itu ditutup mas, lihat kelalaian kamu. Sampai ada yang berani masuk begitu. Untung papab sama mamah gak tahu. Coba sampai tahu, makin gegerrrr"
"Pi, Mi" Shanum masuk ke kamar orang tuanya.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Ari sambil menggendong Shanum ke atas ranjang mereka.
"Chan kangen cama kembal, main kecana yuk. Ajak dek Hilal dan Habib juga" kata Shanum ingin bermain dengan teman dan sepupu sepantarannya.
"Oke, kita siap-siap ya. Mimi bantu ganti baju dulu. Terus kita cao ke rumah A squad"
"Yeeeee, aciiiiikkk" Shanum girang bukan main. "Pipi, telpon dek Hilal dan dek Habib dulu, nanti meleka ndak tahu lhoh"
"Siap tuan putri!" Ari langsung menelpon Ais agar ikut berkumpul ke rumah Duta dan Laras.
.
Para anak-anak itu bermain kejar-kejaran rumah-rumahan dan sebagainya. Sedangkan para orang tua sedang asyik menceritakan kejadian tadi.
__ADS_1
"Langsung kujambak saja iti rambut pirangnya kuseret dia sampai keluar rumah. Enak aja main peluk suami orang dan bilanh mas Ari miliknya" cerita Amira sambil menggebu-gebu.
"Gita emang gak punya malu memang!" Ais ikut-ikutan mendidih.
"Setelah itu, mas Ari ngidupin keran diguyangnya itu orang pakai air keran. Sampai basah"
"Waduuuhh, basah kuyup dong si Gita, mbak?" tanya Farid.
"Iyo lah Rid, sengaja aku siram dia. Biar sadar dari mimpi dia. Heran aku, punya cita-cita kok jadi sang penggoda"
"Untung kita ini laki-laki kuat iman" celetuk Duta.
"Awas saja kalau abang berani macem-macem!" sahut Laras.
"Tenang Ay, tresnoku wes kepatri ning atimu sayang (Tenanh Ay, cintaku sudah terpatri di hatimu sayang)"
"Cieeeee" ucap mereka kompak. Membuat Duta dan Laras tersenyum malu.
"Bang Farid, sebentar lagi jadi wakil kepala dinas. Selamat ya bang" ucap Duta.
"Waaaahh, selamat" ucap yang lainnya.
"Terima kasih pak, bapak yakin gak mau naik jadi gubernur pak? Direkomndasikan oleh pak gubernur sendiri lho pak" jawab Farid.
"Mas Farid, ojo dadi kompor. Wes cukup kejadian calonan bupati yang lalu" sahut Laras cepat.
"Tenang sayang, abang mau jadi pengusaha seperti sebelumnya saja. Abang ingin banyak waktu sama anak-anak kita dan juga kamu"
"Romantis banget sih kalian" cerocos Ais.
Laras tersenyum "Meskipun abang sudah tidak menjadi bupati di Magelang, abang akan selalu menjadi bupati di hati Laras dan A squad"
Duta mencium kening istrinya, membuat yang disana iri melihatnya. "Papah!" teriak Amaris.
"Jangan genit-genit cama mamah! Celang papaaaaaahhhh" Semua anak-anak mengejar Duta. Membuat semua tertawa.
"Untung Shanum gak seposesif mereka. Bisa gawat kalau sampai gak boleh nyentuh miminya" ucap Ari.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip