
Dirga tersenyum bahagia. "Hah, lega rasanya" katanya. Nina menggigit kukunya dan tersenyum malu.
"Astaga dragoooooon, senyum kamu nih mengandung gula apa gimana siiih. Manis bangeeeett" ucap Dirga menyandarkan kepalanya pada setir mobil.
"Mulai gombal!" jawab Nina keluar galaknya. Nina bukan tipe cewek yang mudah digombali.
Dirga tertawa lepas. "Kok gombal sih? Kamu waktu ketemu sama Aa' marah-marah aja manis, apalagi waktu senyum begini, makin manis. Hatiku klepek-klepek sama kamu yank. Alaaaaah, manggil yank ke kamu aja jantung Aa' rasanya mau meledak"
Nina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Aa'...... udah siiiih, jangan gombalin aku teruuuuus. Malu tau"
"Hahaha, gemes Aa' sama kamu yank. Muter-muter lagi ya?"
"Pulang sih A', udah malam. Hemat bensin, besok kan mau ke Semarang" ucap Nina menstabilkan perasaannya.
Dirga mulai menghidupkan kembali mobilnya. "Tapi besok ke gereja dulu ya, berdoa dulu semoga ketemu camernya dipermudah"
"Ya sudah terserah kamu saja" Dirga melajukan mobilnya mengantar Nina kembali ke kontrakannya. Nina menceritakan tentang keluarganya.
"Aku ini anak kedua dari 2 bersaudara. Kakak ku laki-laki, juga perawat di RS x. Kami tinggal sama ibu. Bapak sudah lama meninggal. Ibu kerjanya sebagai pedagang baju di pasar x. Hidup kami ya sederhana begitu. Kadang kurang, tapi kami bersyukur masih bisa makan. Aku juga berasal dari keluarga kurang mampu A', jadi kalaupun kita nanti menikah dan hidup susah gak usah khawatir. Rejeki bisa dicari. Tapi tidak dengan kesetiaan"
Dirga takjub dan bangga kepada Nina. Ternyata masih ada cewek yang tidak memandang materi di era milenial ini. Sungguh langka. "Doakan Aa' besok ketemu camer langsung mendapatkan restu. Nabung, terus nikahin kamu deh"
Nina tersenyum mendengar ucapan Dirga. "Aamiin, nabung bareng, gak usah mewah-mewahan. Cukup pemberkatan, makan bareng sama keluarga itu udah lebih dari cukup" Dirga mengusap rambut Nina lembut.
Tak salah dia jatuh cinta dengan gadis disampingnya saat ini. Penuh dengan kesederhanaan. Tidak pernah mengeluh tentang kurangnya materi. Malah yang ada seorang gadis yang pekerja keras.
"Makasih ya"
"Sama-sama. Yaaaah, udah nyampai aja sih. Padahal masih pengen sama kamu"
"Ih, Aa' mulai lagi deh. Besok kan ketemu. Buruan gih pulang. Sudah malam, pulangnya hati-hati. Gak usah ngebut-ngebut"
"Iya, masuk gih, Aa' pengen lihat kamu masuk. Bobonya mimpiin Aa' yaaa" ucap Dirga nyengir. Nina malah tertawa mendengar permintaan Dirga. "Iya. Aku turun ya. Selamat malaaaam"
"Malam sayang" Nina turun dari mobil dan melambaikan tangan kepada Dirga lalu masuk ke dalam rumah kontrakannya itu.
.
Pagi menjelang, Dirga tersenyum bahagia menyambut pagi ini. Dia turun dan melihat budhenya sedang menyiapkan sarapan. "Budheee, nanti Dirga habis dari gereja langsung ke Semarang yaaa" sambil memeluk budhenya dari belakang.
"Ngapain ke Semarang?"
"Ketemu camer" Mamah Aini menghentikan aktifitasnya dan menoleh kepada Dirga. "Maksudnya?"
"Hihihi, iya budheee, Dirga mau bertemu dengan orang tua Nina. Budhe doakan yaaa, semoga lancar, dapat restu"
"Iya budhe doakan. Sarapan dulu. Seneng budhe dengarnya. Kenapa gak dari dulu aja sih Ga, hahaha"
__ADS_1
"Ya jodoh mana bisa ditebak budheeee"
"Duduk sarapan. Budhe siapkan bekal buat ketemu camer mu. Bilang dari budhe"
"Siap komandan" Dirga makan dengan lahap. Setelahnya dia menjemput Nina dan berangkat ke gereja bersama. Selesai beribadah, Dirga dan Nina langsung menuju Semarang.
Nina melihat rantangan di dasbor mobil. "Ini apaan A'?"
"Hmm? Oh, ini dari budhe. Disuruh ngasihkan ibu"
"Ooo, kamu sudah sarapan?"
"Sudah, kamu?"
"Sudah"
Nina menghidupkan bluetooth di ponselnya dan menyambungkan dengan radio mobil. Dia memutar lagu kesukaannya. Cukup untuk memecah keheningan dalam mobil itu.
"Tuhan kucinta dia, kumau bersamanya, kuingin habiskan nafas ini berdua dengannya. Jangan rubah takdirku, satukanlah hatiku dengan hatinya bersama sampai akhir" Dirga tersenyum dan meraih tangan Nina. Mengecupnya berulang-ulang.
"Nanti kira-kira ibu tanya apa Nin?" tanya Dirga mulai khawatir. Nina tampak berpikir.
"Nama yang pasti"
"Ya ampun yank, kamu ih. Aa' serius. Yang ditanya ibu apa aja nanti?"
Nina mengantuk. Dia menguap dan tidur. Dirga tersenyum melihat Nina yang terlelap. Dia mengusap rambut Nina. Mobil sudah memasuki Ungaran, Dirga membangunkan Nina, karena dia tak tahu rumah Nina.
"Sayang, bangun. Kita udah sampai Ungaran nih. Terus kemana?" Nina mengucek matanya dan melihat tol Ungaran sudah dilewati mereka.
"Nanti keluar tol A', turun ke bawah sana" Nina memberi arahan kepada Dirga. Setelah sekitar 15 menit mereka sudah sampai di rumah Nina. Rumah Nina sederhana. Seperti rumah Dirga. Terparkir sebuah mobil sedan tua berwarna hitam disana.
Ada pohon rambutan yang membuat teduh dari sinar mentari. Dirga memarkirkan mobilnya dan turun bersama Nina membawa rantangan yang dibawakan budhenya pagi tadi.
"Iboooooooookk" teriak Nina sambil masuk ke dalam rumah karena pintunya sedang terbuka. Dirga hanya diam di luar pintu rumah.
"Apaaaa? Senengane kok gembar gembor (sukanya.kok teriak-teriak). Pekak telinga ibu kalau kamu begitu"
"Hehehe, mas Wahyu kemana? Kok ibu gak ke pasar?"
"Shift pagi dia. Lha katamu kamu mau pulang, ya ibu tutup dulu sehari. Kangen sama anak perempuan ibu ini" kata ibu Sri sambil mencuci beras.
"Mmm, buk, di depan ada tamu. Laki-laki. Keluar dulu yuk, kenalan" ucap Nina hati-hati. Bu Sri menoleh sebentar dan mengernyitkan dahinya lalu menyunggingkan senyum.
"Suruh duduk dan tunggu ibu dulu. Masak nasi dulu. Buatkan minum" Nina mengangguk lalu membuatkan minum. Tak lama kembali ke ruang tamu. Dilihatnya Driga masih berdiri di luar. Heran kenapa tidak masuk. "Ngapain disitu A'? Ayo masuk. Tunggu sebentar, ibu lagi masak nasi"
Dirga hanya mengangguk dan mengatur nafasnya kembali. "Kamu grogi ya A'? Udah sih tenang aja"
__ADS_1
Dirga hanya tersenyum tipis. Tak lama bu Sri keluar dengan tersenyum dan menyapa Dirga. "Eee, ada tamu. Siapa ini?" tanya bu Sri sembari duduk di sebelah Nina.
Dirga meraih tangan bu Sri lalu mencium punggung tangannya. Bu Sri sungguh tersanjung, pasalnya baru kali ini Nina berani memperkenalkan seorang laki-laki kepada ibunya. Mantan-mantannya yang dulu hanya sebatas pacar yang tak pernah ia tunjukkan kepada keluarganya.
"Saya Dirga bu" jawab Dirga singkat dan tersenyum. Bu Sri melirik ke Nina. "Siapanya Nina?" Mereka berdua gelagapan harus menjawab apa.
"Sebagai laki-laki yang hendak meminang anak ibu" akhirnya Dirga menjawab pertanyaan bu Sri. Senyum mengembang di wajah bu Sri. "Pulang bawa calon mantu nih ceritanya?" canda bu Sri menggoda Nina.
"Ih iboook, apaan sih"
"Nak Dirga orang mana? Tapi maaf sebelumnya kami ini non muslim"
"Saya orang Bandung bu, saya di Magelang kerja. Iya saya juga non muslim kok bu"
"Oh, syukur kalau seiman. Kerja sebagai apa?"
"Dokter"
"Serumah sakit dengan Nina?"
"Iya" jawab Dirga singkat. "Orang tua masih lengkap nak?"
"Masih bu, hanya saja, papah sakit stroke dan masih dalam masa pengobatan. Saya dari keluarga kurang mampu bu, gaji saya sebagian ditabung dan sebagian untuk biaya pengobatan papah saya. Tapi jika ibu merestui kami, saya akan membahagiakan Nina bu" Ibu Sri mengangguk mendengar jawaban Dirga.
"Ibu serahkan semuanya sama Nina, kalau Nina menerima kamu ya itu artinya ibu juga menerima kamu. Ibu tidak terlalu ambil pusing soal duniawi, sudah ada yang mengatur semuanya. Kamu tahu? Baru kali ini Nina mengenalkan laki-laki kepada ibu. Itu artinya Nina memang menuju arah serius sama kamu. Ibu merestui kalian. Tapi tolong jaga kepercayaan ibu, kalian sudah sama-sama dewasa, jauh dari orang tua. Tolong, jangan melewati batas sebelum kalian sah sebagai suami istri. Paham kan?"
Dirga lega mendengar jawaban bu Sri. Ternyata, memang benar yang dikatakan Nina. Tidak semua orang gila harta. Dan semudah itu mendapatkan restu. "Iya bu, saya juga tahu batasannya. Saya tidak ingin menodai Nina sebelum kami menjadi pasangan"
Bu Sri tersenyum dan melihat di meja ada rantangan. "Ini apa Nin?"
"Oh, ini masakan dari bu Aini, budhenya Aa' Dirga. Bu, Aa' ini masih sepupunya pak Bupati. Suami dokter Laras" bu Sri mengingat nama yang disebutkan Nina dan mengangguk.
"Oalaaaah, masih sepupu atasan kamu to" obrolan mengalir dengan hangatnya. Bercerita tentang apapun tentang kedua keluarga.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1