
Arjun mengajak Rena berjalan-jalan di sebuah mall di Yogyakarta. Mereka ingin nonton tapi jam tayang film nya masih lama. Akhirnya mereka berjalan-jalan terlebih dahulu.
Arjun menggenggam tangan Rena erat, seperti tak mau terpisahkan. Maklum, mereka hanya bisa melakukan gandengan seperti ini saat tidak di rumah sakit.
"Yank, kamu gak pengen beli tas atau baju atau mungkin sepatu gitu?" kata Arjun menawarkan pada Rena.
Rena menoleh "Kamu mau ngebeliin aku sesuatu, mas?" tanyanya senang.
Arjun mengangguk sambil mengedarkan pandangannya ke sebuah toko. "Disana bagus-bagus kayaknya. Pembelinya rame tuh. Kamu mau kesana?"
Rena mengikuti arah telunjuk Arjun. Dia melihat brand yang tertera di toko itu. "Gak ah, mahal disana"
"Ih, gak papa. Mas yang bayar juga"
"Pemborosan sayang, yang murah saja"
"Gak papa, kan mas yang traktir belanjaannya. Ayo kesana"
Rena menyimpan senyumnya. Sebenarnya dia ingin ke toko itu. Tapi takut. Takut jika di cap matre.
"Ya sudah kalau kamu maksa, mas" Rena mengalah tapi dalam hati yes yes yes. Dasar Rena.
Arjun dan Rena menuju ke toko itu. Koleksi baru, paling laris, terfavorite ada semua disana.
Rena menahan dirinya agar tak kalap belanja. Dia melihat-lihat tas yang ada disana. Arjun mengikuti langkah Rena. Matanya tertuju pada tas berwarna navy dengan ukiran brand berwarna perak di tengahnya.
"Mas, tolong ambilkan yang itu" rengeknya kepada Arjun. Arjun melihat tas yang diinginkan calon istrinya dan hendak mengambilnya.
Di saat yang sama, seorang laki-laki juga mengambil barang yang sama. Duta. Istrinya menginginkan tas itu.
"Arjun?"
"Duta?" mereka saling sebut nama karena kaget. Laras mendekati Duta. "Arjun?" kata Laras.
Rena ingin kabur dari sana. Dia celingukan memikirkan cara untuk menghindari Laras dan Duta.
"Rena?" kata Laras dan Duta bersamaan.
"Hayoooooo.... kepergok ya kaliaaaannn. Kamu sama Arjun lagi ngapain??" ucap Laras menggoda Rena dan Arjun.
Duta ikut menggoda mereka. "Ya pasti kencan lah. Ngapain dua dua an kalau gak ada hubungan. Cieee Rena cieeee"
Wajah Rena merah padam karena digoda oleh Laras dan Duta. Arjun tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Dokter Laras sama pak Duta ngapain disini?" tanya Rena mencoba bersikap normal.
__ADS_1
"Kami? Ya seperti kalian. Kencan!" jawab Duta cepat.
"Ih, pak Duta. Kami gak kencan" ucap Rena masih saja mengelak.
"Kalian itu sudah kepergok. Mau ngaku sendiri apa dipaksa nih?" tanya Laras dengan senyum jahilnya.
"Eh, Dut, ini tasnya ambil saja" Arjun mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gak papa gak papa. Buat Rena saja, Laras bisa pilih yang lain. Iya kan sayang?" jawab Duta sambil merangkul Laras dan menaik turunkan alisnya.
"Iya buat Rena saja. Buat yang spesial tuh harus dikasih yang istimewa. Itu limited edition lho. Udaaaahh buat Rena saja"
Arjun menyerahkan tas itu kepada Rena. "Cieeee, akhirnya pepatah itu benar adanya. Benci jadi cinta. Ehm, ruang bedah jangan dinodai yaaa. wkwkwkw" ucap Duta masih setia menggoda mereka
Arjun geleng kepala mendengar perkataan Duta. "Otak ku gak semesum itu kali Dut. Statusnya kan belum halal"
"Ooooo, jadi bener nih kalian ada apa-apa. Ren.... kok cuma diam menahan senyum. Udah kepergok apalagi yang mau diumpetin?"
Rena menutup wajahnya malu. "Dokteeeeer, saya maluuuuuu"
"Hahahaha, malu sama siapa? Kalau udah urusan cinta mah namanya malu udah mati. Bener gak bang?" kata Laras lagi.
"Betul sekali istriku. Kapan nih undangannya?" jawab Duta ceplas ceplos.
"Insyaallah kami datang. Piye Ren? Aku tutup mulut opo gak? (Insyaallah kami datang. Gimana Ren? Aku tutup mulut apa gak?)"
Rena memelas kepada Laras. "Hehehe, please ya dokter. Tutup mulut dulu. Sampai kami nyebar undangan"
"Siap, tapi ngomong-ngomong, sejak kapan dekat?" tanya Laras penasaran.
"Sekitar 2 bulanan ini lah. Awalnya dijodohkan" tutur Arjun.
"Ya gak papa, kami juga dulu lewatnya ta'aruf. Ya sudah, kami gak enak ganggu kencan kalian. Silahkan dilanjut belanjanya dan juga kencannya. Jangan lupa undangannya, akhirnya kamu ketemu jodoh kamu juga. Kalau gini sih rasa cemburu ku bisa berkurang. Hehehehe"
Laras geleng kepala mendengar ucapan suaminya. Masih saja posesif.
"Lancar sampai hari H ya, aku mau susulin anak-anak dulu sama nenek kakek dan juga eyangnya soalnya" Laras cipika cipiki kepada Rena dan berpamitan.
Setelah Laras dan Duta pergi, Rena dan Arjun melanjutkan perburuan mereka. "Masih mau diumpetin gak hubungan kita?" Pertanyaan yang menohok hati Rena.
"Maaf ya sayang, gak usah diumpetin lagi. Besok kan juga kita nyebar undangan. Heboh pasti, kamu besok gak jaga ya?" ucap Rena.
Arjun tersenyum dan mencium kening Rena. "Makasih ya sayang"
"Sama-sama"
__ADS_1
Mereka mengakhiri perburuan barang itu. Dengan menghasilkan satu buah tas dan satu buah long dress berwarna coklat susu.
Mereka menonton film yang mereka pilih. Film bergenre romantis. Banyak adegan panasnya. Membuat mereka juga hareudang.
"Harusnya tadi pilih yang komedi aja mas" protes Rena saat melihat adegan ranjang itu.
Arjun menahan tawanya. "Memang kenapa?"
"Kalau komedi kita bisa ketawa ketiwi lepas. Nah ini?" kata Rena.
"Kenapa? Kamu mau juga dicium kayak begitu?" Arjun menggoda Rena. Jika lampu bioskop iti menyala pastilah ketahuan jika wajah Rena sekarang merah padam.
"Ih apaan sih mas, bukan gitu maksudnyaaa"
"Udah ah, sebentar lagi udah mau habis filmnya" Arjun menggenggam tangan Rena dan mengecupnya. "Belajar dari film dulu ah, biar nanti pas waktunya action nya mantul. Hehe"
"Mas apaan sih. Gak jelas deh" Rena menahan malu karena ucapan Arjun.
Akhirnya film yang mereka tonton selesai. Para penonton satu per satu keluar dari ruangan itu. Masih menyisakan Rena dan Arjun disana. Arjun mencari sandalnya yang satu tak kunjung bertemu.
Ternyata sandal itu dibawa oleh Dirga dan Nina yang sudah ada di depan layar monitor. "Ooo bocah edan. Balikin sandalku" ucap Arjun.
"Eaaaa, kalian kepergok sama dua pasangan hari ini" Rena dan Arjun menoleh ke belakang. Ternyata Laras dan Duta ada di belakang mereka.
"Ya Allah, kalian ini memang ya" Arjun dan Rena sama-sama menahan malu.
"Ren, akhirnya benci jadi cinta ya? Ihiiiirr, ahayyyy, asoy geboy" ucap Nina semangat mencela Rena dan Arjun.
"Asyeeeemm ya kamu Nin, itu balikin sandalnya mas Arjun dulu!"
"Siapa tadi manggilnya? Mas Arjun? Aduh deeeekkk, romantisnyaaaa" ejek Nina lagi. Duta dan Laras tertawa dengan tingkah mereka. Seperti anak ABG yang baru merasakan cinta monyet.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1