
Subuh berkumandang. Semua bersiap untuk bersujud pada yang maha kuasa. Selesai sholat baik Duta maupun Laras bersiap untuk menyelesaikan berkas nikah.
Masih ada waktu buat mengobrol sebentar sebelum menjemput Laras.
"Mah, Duta mau minta pendapat mamah"
"Tentang apa?"
"Nanti setelah nikah, kalau Duta dan Laras pengen pindah ke rumah sendiri boleh gak mah?" tanya Duta hati-hati.
Mamah Aini menautkan alisnya dan tersenyum.
"Ya boleh lah. Memang sebaiknya begitu nak"
"Lalu mamah nanti gimana?"
"Dirga anaknya tante Meli mau tinggal disini. Dia dapat kerjaan tetap disini. Gak usah khawatirkan mamah. Cukup tengok mamah setiap hari saja"
Duta tersenyum dan memeluk mamahnya. "Makasih ya mah, mamah pengertian banget sih"
"Mamah Aini gitu lhoh. Udah sana berangkat jemput Laras. Biar cepet beres"
"Iya, Duta berangkat ya mah. Assalamualaikum" Duta mencium tangan dan kening mamahnya.
.
Laras sudah selesai sarapan dan menunggu Duta. Tak lama deru mobil terdengar. Laras segera berpamitan dengan membawa sebuah kardus dan langsung masuk mobil Duta. Duta hanya turun untuk berpamitan kepada calon mertuanya.
"Abang sudah sarapan?" tanya Laras.
"Sudah, kita langsung ke KUA ya yank. Bang Farid sudah disana kok nunggu kita"
"Nanti lewat rumah sakit kan? Berhenti di samping gerbang ya bang. Kak Ais tak suruh nyebar undangan" ucap Laras.
"Oke, si dokter gila kamu undang?"
"Iya, abang gak keberatan kan?"
"Gak, malahan bagus. Biar dia sadar, yang dia ganggu itu udah jadi milik orang" ucap Duta sedikit menaikkan intonasinya.
"Hahahaha, iya"
Tak lama mereka sampai di depan rumah sakit. Laras segera turun. Ais sudah menunggunya. Dia memberikan kardus itu untuk Ais.
"Tolong ya kak"
"Siap bu Bupati. Hahaha. Sudah sana berangkat. Salam buat calon imamku ya" ucap Ais malu-malu.
Laras bingung dengan ucapan Ais. Dan dia baru sadar yang dimaksud adalah Farid.
"Ooo, jadi sekarang targetnya bukan si Arjun lagi? Sekarang mas Farid? Cieee. Iya. Nanti aku salamin. Pergi dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam. Hati-hati" Laras kembali ke mobil. Dan Ais kembali masuk ke rumah sakit.
Ais segera menyebar undangan Laras. Tak terkecuali, Arjun pun mendapatkan undangan itu.
"Bilang sama Laras, aku gak sudi datang!" pesan Arjun kepada Ais.
"Oke" jawab Ais singkat. "Oh ya lupa, bentar lagi kamu juga akan menerima undangan dari ku" Ais melenggang pergi meninggalkan Arjun. Puas dia membalas penghinaan yang Arjun lakukan padanya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama untuk menyebar undangan itu. Karena Ais dibantu Rena dan Nina.
.
Farid tersenyum melihat mobil Duta datang. Dia menyambut Duta dan Laras dengan senyum sumringah.
"Assalamualaikum bang" ucap Duta menjabat tangan Farid.
"Waalaikum salam pak, mbak Laras. Mari masuk. Sudah ditunggu pak kepala di dalam"
Duta dan Laras mengangguk dan masuk mengikuti Farid. Mereka mulai melengkapi berkas dan menandatangani beberapa file. Setelah itu Laras dan Duta menunggu petugas dari puskesmas datang untuk vaksin capeng (calon pengantin). Kalau orang awam mah harua ke puskesmasnya ya gaes. Ini yang datang petugasnya. Joss.
Waktu berlalu begitu cepat. Duta dan Laras memenuhi janjinya untuk bertemu dengan trio mobat mabit. Mereka berpisah dengan Farid dan menuju rumah Wisnu. Tempat dilaksanakannya arisan kelompok.
Setelah mereka sampai mereka langsung masuk ke rumah Wisnu. Duta melihat mobil Rama ada disana.
Semoga engkau memudahkan jalan hamba untuk berbaikan dengan Rama ya Allah
"Bang.."
"Iya" Duta tersenyum dan meraih tangan Laras. Menggandengnya masuk ke rumah Wisnu.
"Assalamualaikum" ucap Laras dan Duta bersamaan.
"Waalaikum salam" jawab semuanya.
Mereka memulai acara arisan itu. Sampai saat acara makan bersama. Duta mendekati Rama. Shila yang tahu dan bisa membaca situasi segera bergabung dengan Duta dan Rama.
"Ram, ada yang ingin aku sampaikan" Duta memulai percakapan.
"Hmm" jawab Rama.
Flashback On
"Mas, besok jadi lho ya temenin aku untuk ke arisan"
"Iya sayang, tapi minta jatah dulu dong malam ini" jawab Rama.
"Iya. Aku juga mau ngomong soal kamu dan mas Duta"
"Jangan merusak mood"
"Kamu tuh pengen Dini tenang disana gak sih?"
"Ya pasti lah. Pertanyaanmu itu lho"
"Kalau pengen, jangan bebani dia dengan dendam mu. Dia sudah tiada mas. Dan itu murni kecelakaan. Bukan salah mas Duta. Ayolaaah, buka hati kamu untuk memaafkannya. Toh mereka adalah korban"
"Mas sulit menerima kenyataan yank, kenapa harus Dini? Mas sangat sayang dengan adik mas"
"Aku tahu sayang, aku paham. Tapi takdir Dini hanya sampai waktu itu. Tidak ada satupun manusia yang mampu melawan kuasa-Nya"
Rama diam memikirkan perkataan Shila. "Gak tahu lah yank. Ayo tidur"
"Mas, kamu susah sekali sih diajak bicara. Kamu pengen apa aku turutin. Aku hanya minta satu dari kamu, maafin mas Duta! Biarkan Dini tenang! Apa aku harus pergi dulu baru kamu bisa mengerti diposisi mas Duta?" Shila mulai geram karena suaminya sangat alot diajak berdiskusi.
"Kamu ngomong apa sih? Jangan pernah tinggalkan mas. Mas gak suka kamu bicara seperti itu" balas Rama sambil memeluk istrinya.
"Aku hanya minta kamu untuk mengikhlaskan Dini mas. Dan terima permintaan maaf dari mas Duta. Hanya itu sayang. Aku mohoon" ucap Shila dengan sepenuh hati.
__ADS_1
"Insyaallah. Tapi aku gak tahu bisa seakrab dulu atau gak dengan dia"
Flashback Off
"Aku minta maaf" ucap Duta.
"Aku sudah memaafkanmu. Demi Dini. Biar dia tenang disana" jawab Rama datar.
"Maas" Shila menyela pembicaraan itu.
"Apa sih yank, aku sudah memaafkannya. Jangan memaksaku lebih. Aku tidak bisa akrab dengannya lagi. Sudah selesai kan? Ayo pulang" Rama berdiri dan hendak pergi.
"Terima kasih Ram" ucap Duta tersenyum
Rama pergi meninggalkan rumah Wisnu diikuti Shila dan anaknya.
"Mbak Laras, saya pamit dulu ya. Bye gengs"
"Iya mbak, hati-hati. Terima kasih sudah menjadi penengah untuk mereka" ucap Laras sambil memeluk Shila.
"Sama-sama" Shila juga memeluk sahabatnya satu persatu dan pamit pulang.
.
Duta dan Laras segera melajukan mobil tapi bukan kembali ke rumah. Duta ingin mengenalkan Laras kepada orang tua Dini dan melihat sebentar rumah yang akan mereka tempati.
Semua berjalan sesuai keinginan Duta. Orang tua Dini bahagia akhirnya Duta bisa melupakan Dini. Laras juga senang bisa mengenal orang tua Dini. Rumah yang akan mereka tempati nantinya memang terawat dari dulunya. Jadi nanti tinggal ditempati saja.
Duta mengantarkan Laras pulang.
"Besok sudah tidak boleh bertemu ya yank? Abang masih pengen ketemu sama kamu" ucap Duta dalam perjalanan.
"Hahahah, sabar dong abang. Kan bisa video call juga. Iya. Besok kita sudah dipingit. Aku juga sudah disuruh cuti dari rumah sakit. 2 minggu tok"
"Abang besok masih harus kerja. Tapi jumat sudah off sih. Kamu capek gak?"
"Gak, kan ada dopping semangat disamping aku" goda Laras.
"Cieee sekarang pandai ya merayu abang"
"Hahaha. Iya dong, biar gak dirayu sama yang lain" timpal Laras.
"Insyaallah, kamu satu dihatiku Ay"
Mereka saling lempar senyum.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Tanggal kondangan sudah mendekati. Ayo siapkan baju nya. Yang badannya melar bajunya juga dimelarin. Hahahaha. peace. Happy reading all. Next ep kondangan gaeees 😘😘😘😘