
"Huuu, malu tuuuuhhh" ucap para istri trio mobat mabit melihat Arjun dan keluarganya undur diri.
"Ehm, sekarang lanjut ke keluarga pak Bupati. Silahkan" Abi mempersilahkan keluarga Duta untuk menyampaikan maksud dan tujuannya datang.
Agus yang merupakan wali bagi Duta menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum semua, perkenalkan saya Agus Wicaksana, kakak dari Duta Wicaksana. Saya mewakili keluarga saya, sebelumnya mengucapkan terima kasih karena sudah disambut dengan hangat oleh keluarga dari mbak Ayu Larasati.
Sedikit cerita, jadi adik saya ini pernah kehilangan mantan tunangannya. Dulunya dia buta, tapi dia mendapatkan donor mata yaitu adik mbak Laras. Mungkin mulai dari sini jalan jodoh mereka ditakdirkan. Setelah itu dia susah sekali membuka hati terhadap perempuan. Dipaksa seperti apapun dan dengan cara apapun dia pasti akan bisa menolaknya. Tapi saat bertemu dengan mbak Laras ini langsung cocok. Begitu kan dek?" tanya Agus kepada Duta.
Duta tersenyum malu. Membuat Laras yang melihatnya gemas ingin mencubit.
"Jadi niatan kami kemari adalah ingin melamar mbak dokter Ayu Larasati untuk diperistri oleh adik saya Duta Wicaksana. Semoga mendapatkan jawaban yang membahagiakan ya Dut. Tapi sepertinya memang sudah diterima, karena kita semua tahu acara tv x semalam. Mbak Laras minta segera dihalalkan, hahahaha. Saya kembalikab lagi kepada keluarga mbak Laras, sumonggo" imbuh Agus.
"Waalaikum salam, terima kasih pak Agus dan keluarga sudah datang kemari melanjutkan pertemuan keluarga yang dulu ya bu Aini. Tapi sekarang lengkap personilnya. Saya langsung tanyakan saja kepada anak saya, yang awalnya kekeh nolak. Ya nduk? Pak Duta tidak ingin mengutarakan isi hatinya terlebih dahulu?" Abi bertanya kepada Duta dan menggoda Laras. Duta mengangguk dan Laras hanya tersenyum malu.
"Ay, maksud saya Ayu Larasati, hari ini saya dan rombongan keluarga saya datang ingin menanyakan hasil istikharoh kamu terhadap niatan saya yang ingin memperistri kamu. Ayu Larasati, maukah kamu menjadi istri ku? Melengkapi hidupku? Menua bersama? Dan menjadi jodoh dunia akhiratku?" Duta bertanya sambil menatap Laras. Jantungnya berdegup cepat.
"Silahkan dijawab sayang, utarakan isi hati kamu kepada Duta dan keluarganya. Abi dan umi menerima apapun keputusanmu" ucap Abi lagi.
"Bismillahirrahmanirrahim, hari ini saya akan mengumumkan hasil istikharoh saya selama seminggu ini. Semoga ini yang diharapkan oleh semuanya. Saya, Ayu Larasati dengan mantap menerima bang Duta Wicaksana sebagai calon suami dan calon imam bagi saya. Insyaallah saya mau menjadi jodoh dunia akhirat bagi kamu bang Duta wicaksana"
"Alhamdulillaaaaaah" ucap semuanya bersyukur atas jawaban Laras.
Duta meminta tolong mamah nya untuk menyematkan cincin di jari Laras. Dan Abi memakaikan cincin di jari manis Duta.
"Alhamdulillah, sudah dijawab oleh anak saya. Kita lanjutkan dengan jamuan makan dan rembugan penentuan tanggal ya semua" ucap Abi.
"Nggiiiiiih" ucap semua kompak.
Abi, Agus, Duta, dan Papah Ais sedang berembug penentuan tanggal dan yang lain makan menikmati jamuan yabg tersedia.
Ais duduk di teras sambil melamun sedih. Farid mencoba mendekatinya.
"Kenapa sedih? Harusnya bahagia dong adeknya mau nikah?" ucap Farid yang sekarang duduk disebelahnya.
Ari yang berada di samping pintu ikut nimbrung dalam percakapan Ais dan Farid.
"Dia itu lagi sedih karena si dokter gila tadi melamar Laras. Dia kan cinta dalam hati sama si Arjun, Rid" terang Ari.
Gantian sekarang Faridnya yang diam. Ari baru sadar jika Farid masih mencintai adiknya. Dia menepuk bahu Farid dan berlalu. Ari merasa bersalah sudah bicara seperti itu sama Farid.
"Mau diambilkan makanan?" tanya Farid mencoba menstabilkan perasaannya.
Ais menggeleng.
__ADS_1
"Butuh teman cerita?" tanya Farid lagi
"Boleh pinjam bahu sebentar gak mas?" tanya Ais
Ingin rasanya Farid lari. Dia enggan memberikan bahu nya karena Ais meminjam bahu nya hanya untuk sandaran sesaat melupakan kesedihannya karena pria lain. Dia diam, tak menjawab. Ais yang merasa diacuhkan akhirnya pergi.
Ari hanya geleng kepala melihat keduanya. Ari mendekati Farid. "Kenapa gak coba ngungkapin lagi sama Ais? Jangan dipendam, mau kucoba bantu?"
Farid tersenyum kecut. "Mau bantu dengan cara apa? Dia itu menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk ku"
"Berkorbanlah sedikit untuknya, temani dia saat sedih, dan jadilah teman untuknya. Selipkan perhatian mu untuknya. Jangan lupa, ge er in terus dia sampai meleleh. Aku akan mengompori dia untuk membuka hatinya untukmu" Ari menepuk bahu Farid lagi dan menyemangatinya. Farid tersenyum kepada sahabatnya itu.
Ais masuk ke kamar Laras. Dia merebahkan dirinya di ranjang Laras.
Laras yang sedang makan bersama Duta melihatnya masuk dengan muka sedih. Laras hendak berdiri, tapi dicegah oleh Duta.
"Ais kenapa sih?" tanya Duta.
"Dia sedih karena Arjun. Dia tuh cinta sama Arjun bang. Tapi cuma dalam hati"
Duta tersenyum kecut. "Cowok bentukan begitu disukai Ais? Menang bang Farid kemana-mana Ay"
"Ya namanya juga perasaan mana bisa dipaksa bang?"
Laras mengangguk menuruti omongan Duta. Setelah acara makan itu selesai, dilanjutkan dengan mengumumkan tanggal pernikahan Duta dan Laras.
"Jadi untuk tanggal siraman dan pengajiannya tanggal 10. Itu sekalian dengan malam midodareni ya. Tanggal 11 hari pernikahannya. Begitu ya nak Duta dan keluarga?" ucap papah Ais kepada semuanya.
"Nggiiiiih" ucap semuanya.
Duta dan keluarga pamit. Keluarga Ais juga pamit. Saat hendak masuk mobil tangan Ais dipegang oleh Farid. Ais menoleh.
"Pulang bareng mas, kamu ditunjuk jadi panitia pernikahan pak Duta dan mbak Laras. Sekarang kita cari kain buat seragamnya dulu" terang Farid.
"Harus sekarang? Aku lagi gak mood" jawab Ais.
"Harus"
Ais melihat papah dan mamahnya. Mereka mengangguk. Akhirnya Ais mengikuti Farid ke mobilnya. Ais melihat ibu Farid dan menyalaminya.
"Kamu apa kabar Ais?" tanya ibu Farida.
"Alhamdulillah baik bu"
"Kamu duduk depan ya, nanti ibu turun dirumah kok tidak ikut cari kainnya. Ibu capek, hehehehe" pinta bu Farida.
__ADS_1
Ais mengangguk dan masuk ke mobil. Farid melajukan mobilnya menuju rumah untuk mengantarkan mamah nya pulang. Farid tidak banyak bicara saat di dalam mobil. Tapi justru ibunya.
"Ais, sekarang sedang dekat dengan siapa?" tanya ibu Farida.
"Hmm? Oh, Ais sedang tidak dekat dengan siapa-siapa kok bu. Memang kenapa?"
"Oh, sama seperti Farid. Dia juga sendiri. Semenjak 7 tahun terakhir ini dia selalu sendiri"
"Buuuuu, sudah laaah. Nanti Farid bawakan mantu buat ibu. Tidak usah seperti ini" protes Farid.
Ais berfikir. 7 tahun lalu? setelah aku menolaknya? Jangan-jangan dia masih menyimpan rasa itu.
"Ais gak pengen jadi mantu ibu? Kan kalian sama-sama single, coba membina hubungan yang lebih hangat, bisa Ais?"
"Mmm? Ais bingung harus jawab apa bu. Hehehehe"
"Tinggal jawab saja, iya bu Ais akan mencoba membina hubungan yang baik dan lebih dari pertemanan dengan mas Farid. Gitu kok susah sih sayaaaang"
"Ibuuuu, udah dong bu. Sudah sampai, Ibu masuk sendiri bisa kan?" tanya Farid.
"Biar aku aja yang ngantar ibu mas" Ais keluar dari mobil dan menemani ibu Farida sampai depan pintu rumah.
"Ais, cobalah menerima kehadiran Farid. Ibu sangat tahu dia masih mengharapkan mu. Ibu mohon kepada kamu sayang. Cobalah belajar menerima kehadiran dia"
Ais tersenyum dan memeluk ibu Farida. Entah mengapa Ais melakukan itu. Tapi saat dipeluk ibu Farida dirinya merasa tentram.
"Ais gak bisa memberi jawaban itu sekarang bu, tapi Ais akan mencobanya"
"Terima kasih Ais"
.
.
.
Like
Komen
Vote
Tip
Nanti lagi yaaa, author mau me time sama keluarga. Hehheheh. happy reading semuaaaa
__ADS_1