
Duta menyampaikan kepada Farid konsep pernikahan yang diinginkan oleh Laras. Duta juga menghubungi Bayu untuk membantunya bertemu dengan Rama. Entah harus bagaimana lagi Duta menjelaskan kepada Rama tentang kecelakaan itu.
Duta juga mengeluarkan barang yang ada hubungannya dengan Dini dari kamarnya. Dia tidak ingin Laras salah paham nantinya. Dengan cepat Duta mengambil satu per satu barang itu dan membawanya turun.
"Kayaknya sudah semua, hah alhamdulillah" ucap Duta saat berhasil mengumpulkan barang-barang yang berhubungan dengan Dini.
Dia berjongkok dan memegang foto Dini. "Semoga kamu mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT Din, kamu pernah menempati relung hati ku, tapi semua telah terganti seiring dengan kepergianmu. Doakan kami, agar rumah tangga kami senantiasa dilimpahi kebahagiaan. Terima kasih pernah menghadirkan rasa itu untuk ku Dini Saraswati"
Tak terasa air mata Duta sudah berkumpul di pelupuk matanya. Dia segera menghapusnya dan bergegas turun. Dia menuju halaman belakang. Disana sedang ada Agus dan keluarga kecilnya.
"Om, itu apaan?" tanya Kinan.
"Oh, ini barang yang mau om bakar. Kenapa?"
"Kenapa dibakar?"
"Nanti kalau gak dibakar tante dokter bisa marah" ucap Duta sambil tersenyum dan membelai rambut Kinan.
Duta mulai membakar satu per satu barang itu. Yuna mendekatinya.
"Kenapa dibakar dek?" tanya Yuna.
"Biar Laras gak salah paham nantinya Kak, kemarin foto Dini yang di dompet lupa aku keluarkan, dia langsung marah kak, apalagi ini" jawab Duta
"Harusnya gak perlu nunggu Laras datang di kehidupan kamu. Harusnya sudah dari dulu kamu buang barang-barang Dini. Sekarang sudah benar ikhlas dibakar?"
"Hehehehe, ikhlas lahir batin. Demi keutuhan rumah tangga nantinya"
"Gayamu" ejek Yuna dan berlalu pergi meninggalkan Duta.
Setelah semua dibakar Duta menghampiri kakaknya.
"Mas, aku galau" ucap Duta.
"Galau kenapa?" tanya Agus.
"Hmm, nanti kalau setelah nikah aku pengennya tinggal di rumah sendiri. Tapi, aku kasihan mamah nanti sendirian"
Agus menyimak curahan hati Duta.
"Ngomong saja ke mamah keinginan kamu itu. Mas rasa mamah akan ngerti. Dan memang sebenarnya kita itu lebih baik kalau rumah-rumah sendiri dek"
"Gimana ngomongnya mas? Duta takut nanti mamah kesepian lagi. Duta takut mamah depresi lagi"
"Mas juga bingung e dek, piye ya? Atau gini, 3 bulan mamah biar ikut mas ke Jakarta lalu 3 bulan berikutnya ikut kamu?"
"Emang mamah nya mau mas?"
Agus nyengir dan mengangkat bahunya. Membuat Duta tepok jidat.
"Rundingkan dulu dengan mamah. Tanya juga Larasnya gimana. Nanti mas bantu ngomong deh ke mamah. Nanti kalau sudah jadi suami banyak-banyak ngalah sama istri dek, apapun kata istri iyakan aja. Jangan cari pusing. Pokonya ngalaaaah aja" Agus memberi nasihat kepada Duta.
"Iya, mas balik ke Jakarta nya nanti aja setelah aku sama Laras selesai resepsi"
"Iya"
__ADS_1
.
Ais dan Farid menuju percetakan undangan. Mereka sedang melihat-lihat desain undangan itu dan memilih beberapa yang cocok dengan konsep yang diinginkan Laras.
"Coba difoto terus kirim ke Laras dan pak Duta" perintah Ais kepada Farid.
"Siap nyonyaaaah"
"Haahhahaha, maaf-maaf. Mas, tolong difoto contoh undangan ini dan dikirimkan ke Laras dan Pak Duta. Mereka maunya yang mana. Bisa?"
"Nah, gitu kan enak didengernya. Biasakan nyebut nama kalau bicara sama orang"
"Iya-iya mas Farid" ucap Ais sambil tersenyum.
Farid dan Ais mengirimkan foto contoh undangan itu kepada Laras dan Duta. Mereka sedang menunggu balasan.
klunting klunting
Mereka segera meraih ponsel mereka dan membaca pesan yang masuk.
"Laras minta yang ini" kata Ais
"Pak Duta ikut pilihan mbak Laras katanya" kata Farid.
"Oke, pesan yang ini aja kalau begitu"
"Oke, Mas, pesan undangan yang ini sebanyak 6000 undangan ya. Nama mempelai wanitanya dr. Ayu Larasati, Sp. Kj. Yang laki-laki Duta Wicaksana, S. E"
"Ooo, untuk pak Bupati pak Farid? Saya kira untuk jenengan!" sahut pembuat undangan itu.
"Lhah kan kesininya sama mbak cantik, tak kira ya ini calonnya pak Farid. Hahahaha. Maaf-maaf"
"Gak papa mas"
Ais dan Farid sama-sama tersipu malu.
"Gini aja mas, mending ditulis aja, takut salah nantinya. Mau diambil kapan?" kata pembuat undangan itu sambil memberikan secarik kertas.
Farid menerima kertas itu dan menuliskan yang perlu ditulis. "Selasa saya ambil. Setidaknya jadi separuh dulu gak papa mas. Uangnya saya transfer lunas sekalian nanti pas ngambil. Daftar nama undangan nanti saya WA ke nomor jenengan"
"Okeh siap. Bakalan sibuk ini. Hahaha. Magelang mantu ini. Kirimkan dulu foto pak Bupati sama calonnya. Biar nanti saya selipkan di belakang sini"
"Mereka belum foto prewed. Foto berdua aja cuma satu tok piye?"
"Yang foto pelantikan pak Bupati, yang calonnya kan dokter, kalau ada yang pakai jas dokter"
"Sek yo, aku iseh duwe fotone opo ora. Is, mintakan foto mbak Laras dong yang pake jas dokter"
"Gak usah, aku tadi sudah ambil foto sebelum lamaran. Aku kirim ya mas" ucap Ais kepada Farid. Farid mengangguk.
Setelah rembugan panjang akhirnya, pesan undangan selesai. Tinggal ke WO.
"Kamu capek gak Is?" tanya Farid sambil melajukan mobilnya menuju tempat WO.
"Gak, tapi lapar iya. Hehehehe" jawab Ais sambil nyengir. Membuat Farid gemas dan mencubit pipinya. Membuat si empunya mengaduh.
__ADS_1
"Gemesin banget sih kamu. Ya sudah kita cari makan dulu"
"Jangan makan, cemilan aja sih mas. Berhenti swalayan itu sebentar"
"Oke" Farid menepikan mobilnya di sebuah swalayan. Ais segera turun dan membeli camilan. Tak lama dia keluar sambil menenteng 1 kresek besar.
"Busyet, ini semua kamu sanggup ngabisinnya Is?" tanya Farid saat Ais sudah duduk disampingnya.
"Bisa. Nih aku belikan kopi biar gak ngantuk"
"Oow, perhatian sekaliiii. Makasih"
"Sama-sama. Minum dulu gih. Awas masih pan...as"
Farid melepeh-lepehkan kopi nya dan meniup lidahnya yang terkena panas. Ais reflek mengambil tisue dan membersihkan mulut dan baju Farid yang terkena kopi. Seketika tubuh Farid bergetar.
"Udah dibilang, awas panas. Kamu kayak anak kecil aja sih mas gak sabaran banget. Jadi melepuh kan lidahnya. Sini dibersihkan dulu!" runyak Ais sambil membersihkan tumpahan kopi.
Farid hanya diam tak berkutik. Ya Allaaaaah, tubuh ku pengen ambruk kalau begini. Haduuuuh.
"Mas, mas.... haloooooo" ucap Ais sambil melambaikan tangannya didepan muka Farid.
"Eh, iya Is"
"Malah bengong, minum pelan-pelan. Nih minum air mineral dulu, biar lidahnya gak kepanasan" Ais menyodorkan air mineral kepada Farid dan Farid segera meminumnya. Farid segera melajukan mobilnya.
"Minta Is, kayaknya enak banget" Farid melirik Ais yang sibuk mengunyah snack sambil fokus menyetir.
"Buka mulut" kata Ais sambil menyodorkan makanan ke Farid.
Farid menerima suapan itu. "Kamu bisa-bisa membuatku baper Is karena sikap mu yang seperti ini"
"Hahahah, makanya jangan baper! Biasa aja sih mas. Memang sekarang kan kita lagi mencoba pendekatan. Kamunya kan lagi nyetir sih mas, bahaya aja kalau kamu makan sendiri"
"Kalau begitu kesempatan gak boleh dilewatin dong. Aaa lagi"
"Hahaha, dasar! Nyuri kesempatan dalam kesempitan"
"Hehehehehe"
Farid menuju tempat WO yang biasa ditunjuk untuk acara-acara kabupaten.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1