Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Teror (2)


__ADS_3

Farid mengerahkan tim nya untuk melakukan penelusuran tentang foto Dini. Cukup memakan waktu. Hingga dia baru mendapatkan seluruh laporan dari tim nya pada hari ketiga pelenusuran.


"Mas, merapat ke pendopo" titah Farid kepada salah satu anggota tim nya. Tak lama semuanya berkumpul.


"Laporan sudah saya terima, saya ingin kita melakukan penelusuran mendalam. Sebenarnya dia di pihak siapa. Kita tidak mau jika ada musuh dalam selimut. Kerahkan anggota kepolisian untuk melacak keberadaannya, bilang mandat dari bapak. Lacak semua yang berhubungan dengan orang itu. Saya yakin dia bukan dalang sebenarnya. Tapi hanya kaki tangan saja"


"Siap!" ucap semua kompak.


"Bubar" perintah Farid. Lalu semuanya bubar menjalankan misi lainnya.


.


Ais menunggu dijemput oleh Farid. Semakin mendekati hari H Farid semakin posesif terhadap dirinya. Saat itu dia tengah sendirian di ruangannya. Seorang mengetuk pintu ruangan Ais.


"Siapa?" gumamnya. Dia membuka pintu ruangan itu. Seorang laki-laki dengan membawa sebuah paket.


"Benar dokter Ais?"


"Iya saya sendiri" jawab Ais


"Ada paket untuk dokter"


"Dari?"


"Maaf tidak diketahui nama pengirimnya dokter. Saya hanya disuruh mengantarkan kesini. Mohon ditandatangani disini dok" Ais segera menandatangani bukti serah terima paket itu. Lalu kurir itu pamit.


Ais duduk kembali di kursinya. Dia membolak balik paket itu. "Berat, apa isinya ya? Dari siapa lagi? Bikin kepo aja ih" Tak lama pintu ruangannya diketuk lagi.


"Assalamualaikum calon bojo. Maaf ya agak lama" sapa Farid dengan senyum mengembang.


"Waalaikum salam. Darimana sih kok lama banget?"


"Tadi mas harus mengkoordinir anak-anak dulu yank. Pak Duta dan bu Laras diteror. Apaan nih?" tanya Farid melihat paketan di depan matanya.


"Tau nih, ada yang ngantar paket tapi gak ada pengirimnya" Farid teringat dengan cerita Duta. Lalu dengan secepat kilat dia membuka paketan itu. Isinya kentang dengan tulisan-tulisan jahat. Bertuliskan ujaran kebencian. Ais sampai melotot tak percaya.


"Apa ini?!" tanya Ais. Farid diam dan mengepalkan tangannya. Dia tak ingin membuat Ais takut.


"Yuk mas antar pulang, sudah malam"


"Tapi mas, apa ini? Siapa yang mengirim ini? Kenapa ada tulisan begitu? Aku takut" rengek Ais dengan beberapa pertanyaannya.


"Mas juga gak tahu sayang. Mas harus cari tahu siapa yang melakukan ini. Sayang, dengarkan kata mas, jangan terima apapun jika itu tidak ada nama pengirimnya. Mas gak mau kamu kenapa-napa. Sepertinya kamu sedang diteror sayang. Sama seperti bu Laras. Mungkinkah ini orang yang sama?"


Ais diam mendengarkan kata-kata Farid. Takut jelas tergambar di raut wajah Ais saat ini. "Aku harus gimana mas?"

__ADS_1


"Tenang sayang, mas akan cari tahu siapa yang melakukan ini. 2 hari lagi mas harus berangkat ke Jakarta. Kamu jaga diri baik-baik ya. Nanti mas minta tolong sama temen mas di kantor untuk antar jemput kamu pulang deh" Ais mengangguk.


Sementara dirumah Duta, Laras kembali mendapatkan paket. Tapi kali ini paket yang besar. Duta yang baru pulang melihat istrinya berbicara dengan pengawalnya heran.


"Sore pak" sapa pengawal itu.


"Sore, ada apa mas?"


"Ini ada paket lagi untuk ibu. Tapi tidak ada pengirimnya lagi. Setelah saya buka isinya boneka yang besar dan sudah diodel-odel" Duta mengangguk. Lalu Laras menyalami suaminya.


"Masuk yuk, Laras sudah masak kesukaan abang" Duta mengangguk. Saat melewati pintu dia melihat boneka yang dimaksud oleh pengawal tadi.


Sebuah boneka teddy bear. Matanya seperti dicongkel dan diberi pewarna merah seperti darah. Bagian perutnya juga diodel-odel sehingga kapuk yang ada didalamnya keluar semua. Ada tulisan, aku benci kalian. Duta menyembunyikan wajah cemasnya. Dia menjawab omongan istrinya dan tersenyum.


"Oh ya? Waah, makin lapar abang. Siapkan air dulu untuk abang ya? Gerah mau mandi dulu"


"Nggih bang" Laras naik ke kamarnya dan menyiapkan air untuk Duta. Dia juga menyiapkan baju ganti untuk Duta.


"Paketannya makin mengerikan" kata Laras saat suaminya hendak masuk ke kamar mandi. "Nanti kita bicara lagi ya, jangan takut. Ada abang disisimu" Laras mengangguk.


Maghrib berkumandang, Laras sholat berjamaah dengan suaminya, setelahnya dia menyiapkan makanan untuk suaminya. "Sudah lama ya abang gak nyuapin kamu, sini abang suapin" Duta menyodorkan tangannya kepada Laras.


"Laras sudah makan bang, jangan disuruh makan terus. Bisa melar badanku" tapi Laras buka mulut juga menerima suapan suaminya.


"Biar tambah bohay, abang kan seneng kalau kamu makin berisi. Itu tandanya abang sukses bikin kamu bahagia"


"Gak akan" jawab Duta singkat.


Selesai makan Duta membawa Laras ke ruang tamu. Dia berbicara santai mengenai paket boneka tadi.


"Yang mengantar kurir?" tanya Duta melihat boneka itu.


"Kata pengawal abang, yang ngantar orang dari tokonya langsung, mungkin pegawai disana. Terus pengawal itu tanya ciri-ciri orangnya, dia lupa tapi ada cctv di tokonya. Nanti mau ditanyakan ke pemilik tokonya" jelas Laras. Duta meraih ponselnya dan menghubungi Farid kembali.


"Assalamualaikum. Bang merapat" setelah melakukan panggilan itu gantian ponsel Laras berdering. Private number tertera di layar ponselnya. Laras menunjukkan kepada suaminya. Duta mengambil ponsel Laras dan menerima panggilan itu.


Hallo sayang, sudah terima hadiah dariku? Kamu suka dengan hadiahku?


"Siapa ini?" tanya Laras


Kamu tidak mengenalku? Hahaha, sungguh lucu


"Tolong jawab pertanyaan saya, siapa ini? Kenapa kamu mengirimkan boneka rusak seperti itu untuk ku?"


Hahahah, aku mengirimkan itu sebagai hadiah untukmu kekasihku. Hmmm, besok kita sambung lagi ya. Daah sayang. tut.

__ADS_1


Panggilan telpon berakhir. Duta hanya bisa mengepalkan tangannya geram dengan pria yang baru saja menghubungi istrinya.


"Kamu kenal dengan suara tadi?" tanya Duta. Laras menggeleng. "Masalah ini harus segera selesai"


Tak lama Farid datang bersama Ais. Mereka dipersilahkan masuk. Ais dan Farid sampai tak percaya dengan yang dilihatnya. Ya boneka tadi. Ais juga menunjukkan paket yang diterimanya.


Farid memanggil salah satu pengawal itu. "Mas Brata, tadi sempat minta alamat tokonya tidak?" tanya Farid saat pengawal yang bernama Brata itu datang.


"Sempat mas, saya sudah menyuruh Rudi dan Dani untuk memeriksa cctv toko itu" Ponsel Brata berdering dari Dani.


"Halo assalamualaikum"


Waalaikum salam. Mas, saya sudah berhasil melacak orang yang mengirimkan paket untuk ibu. Data dari dukcapil sedang dalam proses


Farid mengambil alih panggilan itu. "Ini FaridBawa rekaman cctv itu ke rumah bapak sekarang. Data dari dukcapil suruh langsung kirimkan ke nomor saya mas"


Siap mas Farid. Panggilan segera berakhir. Mereka menunggu. Tak lama, ada pesan masuk ke ponsel Farid. Tangannya mengepal setelah tahu siapa yang melakukannya.


"Arjun sialan!" umpatnya. Duta, Laras dan Ais sampai kaget dengan ucapan Farid.


"Siapa tadi bang?" tanya Duta memastikan.


"Arjun pak, dokter sialan itu yang meneror ibu"


"Mas Farid yakin itu Arjun mas?" tanya Laras. Farid menunjukkan isi chat nya. "Apa ini ada hubungannya dengan Dini juga bang?"


"Sepertinya bukan Arjun yang melakukan jika itu berkaitan dengan Dini bu. Ada orang lain yang mencoba menghancurkan bapak. Dan sepertinya bapak akan kecewa mendengarnya" jelas Farid mengingat siapa yang didapatnya tadi sore.


"Siapa bang?"


"Lebih baik kita selesaikan satu per satu pak. Saya sarankan kita bekuk dulu Arjun pak" Duta mengangguk setuju. Lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Happy reading all 😘😘😘. Ayo-ayo sumbangan poin nya ditungguu


__ADS_2