Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Renata Lazuardi (Bonus 2)


__ADS_3

Arjun kembali ke ruangannya dan membawa susu coklat untuk Rena. Dia meletakkan di hadapan Rena. Membuta Rena bingung.


"Apa nih?" tanya Rena.


Arjun hanya diam tak menanggapi pertanyaan Rena. Sudah tahu itu susu coklat, masih aja nanya. Batinnya. "Mana pasien untuk saya?"


Rena mengurungkan niatnya untuk bertanya apa maksud Arjun memberinya minuman itu. Dia memberikan rekam medis pasien dan mulai memanggil satu per satu pasien itu hingga pasien habis.


Arjun menyandarkan kepalanya ke tembok. Kepalanya pusing karena kurang tidur. Dia mencoba memejamkan mata sebentar.


"Dok, ini apa?" tanya Rena masih mempermasalahkan susu coklat itu. Arjun membuka matanya. "Apa?" tanya Arjun. Rena mengangkat susu coklat itu.


"Susu coklat. Masa gak tahu?" jawab Arjun. Membuat Rena memutar bola matanya malas.


"Bukan ituuuu, maksudnya ngasih ini apa?" Arjun membetulkan posisi duduknya dan merapikan barang-barangnya.


"Ya buat kamu minum lah" kata Arjun lagi.


Rena melihat-lihat minuman itu. Dia takut jika Arjun mengerjainya. Arjun melihatnya heran. "Kenapa sih?"


"Takut aja kalau diisi racun" kata Rena pedas membuat Arjun kesal.


Arjun berdiri dari tempat duduknya dan mengambil lagi susu coklat itu. "Racun di dalam susu menang susunya, kamu tuh memang bermulut pedas ya. Nyesel saya baik sama kamu" Arjun keluar meninggalkan Rena dan membuang susu itu ke tempat sampah.


Rena jadi tak enak hati terhadap Arjun. Menyangka Arjun yang tidak-tidak.


.


Malam itu Arjun mengikuti keinginan orang tuanya bertemu dengan seorang gadis yang akan dijodohkan dengannya. Anak salah satu kolega bisnis papah Arjun, pak Priyadi.


Mereka bercengkrama hangat. Hingga sang gadis dibawa keluar bersama mamahnya.


"Ini anak kami, Renata Lazuardi. Satu rumah sakot dengan anak pak Pri. Ya kan Rena?"


Rena membelalakkan matanya tak percaya. "Dokter Arjun?" pekiknya. "Jadi dokter Arjun yang mau dijodohlan dengan Rena pah, mah?"


Berbeda dengan Rena, Arjun tampak.lebih santai. Bagaimana tidak santai. Dia sudah mengetahui sebelumnya.


Flash Back On


Arjun mendapatkan pesan dari papahnya yang mengatakan nanti malam harus mengosongkan jadwalnya.


Papah : Arjun, kosongkan jadwalmu malam ini. Papah dan mamah ingin mengenalkan kamu dengan anak dari kolega bisnis papah. Dia seorang perawat. Satu rumah sakit dengan kamu. Namanya Renata Lazuardi, anak dari om Ardi dan tante Sulis.


Arjun seperti pernah mendengar nama itu. Dia menuju bagian kepegawaian dan kearsipan. Menanyakan perawat atas nama Renata Lazuardi.

__ADS_1


"Iya dokter, benar, ada. Rena biasa dia di panggil. Sekarang dia ditugaskan di poli bedah" ucap orang itu.


"Maksud ibu, Rena asisten saya itu Renata Lazuardi?" tanyanya memastikan.


"Iya dokter, kalau tidak percaya ini silahkan lihat biodatanya sendiri" Arjun membaca biodata Rena. Dan dirinya tersenyum.


"Oke, terima kasih ya bu" Arjun segera kembali ke poli untuk bersiap menggantikan Ais.


Flash Back Off


"Wah, ternyata kalian sudah saling kenal ya? Biar makin akrab, Ren, ajak mas Arjun ke taman" perintah mamah Rena.


Arjun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan lebih dulu dari Rena. Arjun menuju ayunan yang ada di taman rumah Rena.


Rena ikut duduk di ayunan sebelahnya. Bingung harus memulai percakapan dari mana.


"Dokter" panggil Rena. "Kita sedang tidak di rumah sakit, panggil nama saja Ren" jawab Arjun.


"Kok kamu santai banget sih kita mau dijodohkan?" tanya Rena. Arjun tertawa.


"Lantas, kamu ingin aku bersikap bagaimana? Menolak? Aku sudah capek dikejar-kejar mamah sama papah suruh menikah terus. Mau tidak mau ya harus terima dengan perjodohan ini"


"Sejak kapan tahunya?"


"Tadi pagi, papah memberitahu lewat chat bahwa aku akan dijodohkan dengan seorang gadis bernama Renata Lazuardi, dan ternyata itu adalah kamu" terang Arjun. Rena diam tak menanggapi penjelasannya.


"Oooh, gak papa. Mulut kamu memang ada cabainya kali, makanya pedas. Hahaha, jangan marah, hanya bercanda"


"Salah sendiri dulu jadi orang sombong banget, ngata-ngatain orang seenaknya lagi" kesal Rena mengingat sikap rese Arjun yang dulu.


Arjun tersenyum kecut "Setiap orang bisa berubah Ren, jangan kamu samakan terus"


"Iya-iya maaf. Bisa gak kalau dokter tolak perjodohan ini?"


Arjun berdecak. "Panggil nama aja, kita sedang tidak bekerja. Sudah tahu kan namaku? Apa perlu kenalan lagi? Menolak? Kenapa harus ditolak?"


"Gak enak kalau manggil nama, kurang ajar nanti jadinya. Arjun, kan gak enak. Ya ditolak saja, kita itu tidak bakalan bisa akur. Percaya deh"


Arjun kembali tertawa. "Ya kalau menurut kamu panggil nama doang bisa jadi kurang ajar, tambahin embel-embel kek, mas, bang, atau yank mungkin? Bisa kok kita akur. Kalau gak bisa akur poli bedah bakalan direnovasi tiap hari"


Rena terkejut saat Arjun menyuruhnya memanggil dengan sebutan mas, bang, atau yank. Ini orang kenapa sih? Yank? Punya hubungan aja gak kok suruh panggil yank.


"Malah ngalamun. Kamu mau nolak perjodohan ini? Kalau aku sih gak akan nolak. Malas disuruh kenalan sana sini lagi. Mending aku terima, udah kenal orangnya, tinggal menumbuhkan rasa cinta" Kata Arjun sambil menatap Rena.


Rena mengalihkan wajahnya ke sembarang arah. "Ih apaan sih? Gombalannya basi"

__ADS_1


"Dih, siapa yang lagi ngegombal. Maaf ya Rena, aku bukan tipe lelaki yang suka menggombal" bela Arjun terhadap dirinya. Memang benar yang ia katakan, dia sedang serius terhadap Rena.


Mereka saling diam. Hingga mamah Rena menyuruh mereka masuk dan makan malam. Rena beranjak dari ayunan itu. Arjun pun. Mereka berjalan berdampingan. Tangan Arjun sangat dekat untuk menggapai tangan Rena.


Arjun memberanikan diri meraih tangan itu dan...berhasil. Rena terperanjat kaget. "Dokter lepaskan tangan saya" pintanya.


Arjun berjalan dan menggandeng tangan itu. "Ih, dokter"


"Panggil dengan sebutan yang bener dulu" jawab Arjun semakin mengeratkan genggamannya.


"Mas" Arjun berhenti mendadak membuat Rena menabrak tubuh Arjun. "Lepasin ih" pinta Rena lagi.


"Barusan panggil apa?" kata Arjun. "Lepasin dulu" pinta Rena.


"Jawab dulu. Kamu panggil aku apa tadi?" Rena mencoba melepaskan tangannya tapi sia-sia. "Ih, sakit mas Arjun"


Hati Arjun berdesir saat dipanggil seperti itu oleh Rena. Dia menepati janjinya untuk melepaskan tangan Rena.


Arjun tersenyum malu. Sungguh perasaan apa yang sedang menderanya. Senang bukan main.


"Jangan tolak perjodohan ini, terima saja, aku bukan Arjun yang dahulu" ucapnya sambil berjalan mensejajarkan langkahnya kepada Rena.


Rena hanya diam tak menanggapinya. "Ngarep banget!"


Arjun tertawa mendengar jawaban Rena. Tak menyangka cewek yang selalu membuatnya kesal bisa membuat hatinya berdesir begitu hebatnya.


Mungkinkah itu cinta? Mereka masuk ke dalam dan ikut makan malam dengan tenang.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Baca karya othor yang lain juga ya.


"Tunangan Bayaran"

__ADS_1


"Cinta Karena Mandat"


Happy reading all 😘😘😘


__ADS_2