Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Assalamualaikum A Squad


__ADS_3

Duta dan Laras menangis haru menyambut keempat bayi-bayi mungil itu. Suara tangisan mereka bagai obat atas kerinduan mereka. Suara tangisan mereka bagai obat atas segala kesusahan saat menjalani kehamilan itu.


"Bayi pertama berat dua ribu lima ratus gram, bayi kedua berat dua ribu tujuh ratus gram, bayi ketiga berat dua ribu tiga ratus gram, bayi keempat dua ribu seratus gram" ucap dokter spesialis anak itu.


Citra mengangguk mengerti. "Pak, Bu, bayinya akan kami baea ke ruang anak ya, dua bayi harus diinkubator karena beratnya yang kurang. Yang bisa menyebabkan hipotermia alias kedinginan pada bayi" jelas dokter Yulis spesialis anak itu.


Duta mengangguk. "Tapi sebelum dibawa. Saya ingin mengadzani putra putri saya dulu. Bisa kan dok?" tanya Duta.


"Silahkan pak, kami beri waktu untuk bapak. Dahulukan yang harus masuk inkubator ya pak"


Duta mengangguk dan segera mengambil wudhu. Selesai berwudhu dia mengadzani putra mereka terlebih dahulu karena harus segera masuk inkubator. "Assalamualaikum Archee Putra Wicaksana"


Lalu mengambil bayi ketiga dan mengadzaninya juga "Assalamualaikum Aylin Ayu Wicaksana"


Setelahnya dua bayi itu dibawa ke ruang anak. Duta melanjutkan tugasnya. "Assalamualaikum Amaris Ayu Wicaksana dan Adelia Ayu Wicaksana"


Setelahnya mereka juga fibawa menyusul dua saudara mereka ke ruang anak. Citra mendengar Duta menyebut nama bayi-bayi itu. Semuanya berawalan huruf A.


"Assalamualaikum A squad, gitu ya pak nanti manggilnya. Sampai mamahnya juga ikut gabung. Kan sama-sama A. Hehehe" Citra bercanda sambil masih menjahit perut Laras.


"Iya dok, A squad" jawab Duta mendekati istrinya.


"Kapan abang siapkan nama itu?" tanyanya lirih.


"Tadi pas kamu dimasukkan ruang operasi. Semua awalan A, Archee, Aylin, Amaris, dan Adelia. Semua artinya bulan purnama sayang. Karena malam ini memang bulan purnama" jelas Duta kepada Laras.


"Wah, bagus namanya pak Duta. Habis ini aku program bayi kembar ah, semoga dikasih Allah. Aamiin" ucap Citra


"Aamiin" ucap semuanya.


.


Laras sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Hal yang pertama dia lakukan adalah memerah ASI nya yang sudah keluar beberapa hari sebelum program SC itu.


Alhamdulillah Laras diberi kemudahan untuk bisa mengASIhi bayi-bayinya. ASI nya sangat berlimpah. Hingga mendapatkan enam botol ASI penuh.


Duta segera membawanya ke ruang bayi agar bisa disusukan untuk bayi-bayi mereka. Senang hatinya melihat bayi-bayi itu disusukan dengan menggunakan sendok. Meskipun belum bisa dari mamahnya langsung.


.


Subuh menjelang, Duta pergi ke masjid saat Abi, Umi, dan Mamahnya kembali ke kamar Laras. Saat Duta kembali ke kamar dilihatnya umi sedang menyuapi Laras. "Dut, suapin istri kamu" perintah mamah Aini.

__ADS_1


"Iya mah" Duta menggantikan posisi umi. Menyuapi istrinya dengan sangat telaten. Umi mandi terlebih dahulu, lalu Abi, dan yang terakhir mamah Aini.


"Jam besuk bayi tuh mi, bi, mah. Kalau mau lihat masuknya satu-satu kata mbak perawatnya" jelas Duta yang baru saja memberikan ASI perah ke ruang bayi.


Mereka langsung beranjak dan menuju ruang bayi. "Makasih ya sayang" ucap Duta sambil menahan air matanya. Suaranya bergetar.


"Sama-sama sayang. Laras ingin lihat mereka"


"Kamu belum boleh banyak bergerak. Sabar ya. Abang udah fotoin mereka satu per satu kok. Ini lihatlah" Duta membuka galeri fotonya.


"Ini Archee, bayi laki-laki sekaligus abang dari mereka. Ini Aylin yang punya lesung pipit seperti abang. Yang ini Amaris yang paling gendut diantara lainnya, dan ini adik mereka, Adelia yang punya alis tebal seperti alismu"


Laras tersenyum melihat mereka satu per satu. "Assalamualaikum A squad! Tunggu mamah menjenguk kalian ya nak" ucapnya sambil menghapus air matanya.


"Hei, jangan menangis. Mamah harus kuat" Duta menghapus air mata Laras dan menangukup wajahnya, menciumnya bibirnya sekilas.


"Ih abang!" Laras kaget mendapatkan serangan itu.


"Itu suplemen buat kamu" Duta ingin mencium lagi tapi pintu kamar diketuk. Saat terbuka dilihatnya Nina dan Dirga tersenyum.


"Ngapain pagi-pagi ganggu orang pacaran? Sana lihat ponakan kalian" Duta mengusir mereka berdua. Laras melotot kepadanya.


"Dokter Laras, pak Bupati, selamat ya atas kelahiran putra putrinya. Semoga menjadi anak sholeh sholehah, bisa jadi kebanggaan keluarga. Aamiin. Ini ada sedikit kado dari kami untuk mereka" Nina meletakkan kadonya di nakas tempat tidur.


"Makasih ya Nin, Ga. Semoga Allah juga segera menitipkan amanah dalam rahim kamu" jawab Laras.


"Aamiin, makasih teh" sahut Nina dan Dirga bersamaan.


"Namanya siapa aja?" tanya Dirga penasaran.


"Archee, Aylin, Amaris, dan Adelia. Sebut mereka A squad" terang Duta.


"Yang cowok Archee?"


"Iya, dia abang bagi mereka"


"Lhoh kok abang? Kan lahirnya paling akhir?" tanya Nina penasaran.


"Iya, karena dia memberikan jalan lahir duluan kepada adik-adik mereka. Kata orang tua begitu, kalau yang terakhir lahir jadi anak pertamanya. Karena seorang kakak selalu mengalah untuk adik-adiknya" jelas Duta. Nina dan Dirga hanya ber oh ria.


"Kami langsung pamit ya, jaga pagi soalnya" ucap Nina.

__ADS_1


"Ya sudah, makasih ya adik-adik Aa'. Buruan pergiiii, Aa' mau lanjut pacaran" ucap Duta tak sabar.


"Abang ih!" Laras mencubit paha suaminya.


Nina dan Dirga segera ke IGD. Meninggalkan kamar itu. Perawat datang dan akan mengganti balut perban Laras.


Banyak banget sih mau pacaran sama istri sendiri. Duta hanya memaksa senyumnya saat Laras akan diganti balut oleh perawat itu.


Para bayi itu sedang dijemur di bawah sinar matahari langsung. Abi, Umi, dan mamah Aini mendekati cucu-cucunya. Mereka belum bisa membedakan ketiga cucu perempuan mereka.


Mereka melihat gelang yang sudab bertuliskan nama itu. Para bayi itu hanya menggeliat merasakan hangatnya sinar mentari.


"Adel nih mirip Laras banget" celetuk abi.


"Iya ya bi, lihat alisnya bi. Persis Laras" sahut umi.


"Kalau Aylin nih Duta banget. Lihat lesung pipitnya kelihatan" mamah Aini girang melihat mereka.


Tak lama mereka dimandikan dan dikembalikan ke box masing-masing. Abi hanya bisa melihat Archee dan Aylin dari kaca, karena mereka masih didalam inkubator.


Adelia dibawa oleh mamah Aini, sedangkan Amaris bersama umi. Mereka menimang cucu mereka.


Semua datang menjenguk Laras di rumah sakit. Mengucapkan atas kelahiran putra putri mereka. Mendoakan semoga lekas sembuh untuk Laras.


Seminggu Laras di rumah sakit. Berat badan Archee sangat cepat, dia sudah di angka dua ribu lima ratus gram. Dan Aylin berada di angka dua ribu enam ratus gram.


Sedangkan Amaris naik 2 ons, dan Adelia naik 3 ons. Laras diperbolehkan pulang oleh Citra. Dan anak-anak mereka juga diperbolehkan pulang oleh dokter Yulis.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2