
Duta mendengar pembicaraan antara Dirga dan Laras. Benar dugaannya, bahwa Bumi adalah dalang dari semuanya. Dirga baru saja akan meninggalkan ruangan Laras. Saat di depan pintu Duta memandang mereka dengan tatapan tajam.
Mereka takut, jika obrolan mereka itu didengar oleh Duta. Dia masuk kembali ke kamar Laras. Satu tangannya masih menenteng tas dan tangan lainnya dimasukkan ke saku celana.
"Ada yang kalian sembunyikan?" tanya Duta menyelidik. Mereka berdua saling lirik. Lalu keduanya mengangguk. Mereka tak berani berbohong kepada Duta.
"Jelaskan" imbuhnya singkat. "Ini motor yang menyerempet teteh?" Tanya Dirga dan Duta mengangguk.
"Ini motor Bumi A', aku yakin banget. Ini motor dia pakai 5 tahun di Bandung" yakin Dirga.
Duta meraih ponselnya yang ada di saku celana, menghubungi seseorang. "Assalamualaikum Ndan" katanya.
Waalaikum salam, bapak
"Maaf mengganggu pagi-pagi, saya ingin bertanya STNK dan BPKB kendaraan yang menabrak saya atas nama siapa ya?"
Sebentar pak, saya carikan dulu barang buktinya. Kapolres segera menelpon anak buahnya dan menyuruh mereka membawa STNK dan BPKB tersangka. Bapak masih disana?
"Ya, bagaimana Ndan?" tanya Duta tak sabar.
STNK dan BPKB atas nama Wahyudi, nama tersangka
"Anda yakin Ndan? Karena ada kesaksian yang mengatakan bahwa motor itu bukanlah milik pelaku"
Kami masih mendalaminya pak, karena tersangka tak mau buka suara sama sekali. Saya akan minta data ke Samsat, mungkin STNK dan BPKB ini sudah dibalik nama.
"Hmm, bilang saja saya yang nyuruh Ndan, saya yakin pelaku itu bukanlah pelaku utamanya. Dia hanya orang suruhan. Oh ya, misal saya tahu pemilik motor itu qaktu dulunya, apakah jenengan bisa menangkapnya?"
Jika tidak ada saksi dan bukti kami tidak bisa menahannya pak. Mohon maaf
"Baiklah, selidiki kasus ini terus sampai tuntas!"
Siap! 86!
"Ya sudah, terima kasih atas waktunya, selamat bertugas kembali, assalamualaikum"
Sama-sama bapak, Waalaikum salam pak
Sambungan telepon berakhir. "Kalian dengar sendiri kan? Susah membuat tersangka mengaku. Kalian masih kekeh ingin menemui Bumi? Dia bukan sahabat yang dulu kalian kenal. Dia sudah menjadi orang lain. Orang pendendam, orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. Serahkan semuanya pada polisi.
Batalkan niat kalian untuk menemui itu orang. Terutama kamu Ay, perhatikan kesehatanmu, perhatikan kesehatan mentalmu. Kita baru saja kehilangan calon bayi kita, dan abang gak sanggup jika kamu harus celaka lagi karena abang. Jujur, abang kecewa dengan kalian yang dengan sengaja sembunyi-sembunyi di belakang abang merencanakan sesuatu"
Laras menangis mendengar perkataan Duta. Sungguh niatnya hanya ingin menyadarkan Bumi, tapi belun sampai hal itu terjadi dirinya sudah ketahuan dan dimarahi oleh suaminya.
Duta menghela nafasnya kasar, Duta menyuruh Dirga untuk keluar. Dia mendekat ke Laras dan memeluk istrinya. "Maafin abang, sudah terlalu keras memarahimu"
Laras menggeleng dalam dekapan itu. "Bukan abang yang salah, maafin Laras selalu merepotkan abang. Maafin Laras yang hampir saja jadi orang yang ceroboh"
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis. Istirahat ya sayang, pikirkan kesehatan kamu. Jangan pikirkan yang lain dulu. Abang sayang kamu Ay. Abang gak ingin kehilangan lagi. Rasanya menyakitkan sayang"
Laras mengangguk. Dia melepaskan pelukan itu dan membersihkan sisa air mata dan ingusnya. Duta mencium kening Laras kembali, mencium bibirnya sekilas. "I love you sayang, abang berangkat kerja dulu ya. Mungkin sebentar lagi mamah datang. Di depan ada mas Brata dan mas Fajar. kalau butuh apa-apa hubungi mereka"
Laras mengangguk dan menyalami tangan suaminya. "Hati-hati ya sayang, pulang cepat ya. Jangan lupa sholat dan makan siang" Duta mengangguk dan tersenyum. Mamah Aini datang bersama umi dan abi.
Duta berpamitan dan berangkat kerja. "Sudah lebih baik mantu mamah?" tanya mamah Aini dengan senyum penuh. Laras mengangguk. "Gak usah sedih-sedih lagi. Dokter sudah visit belum?"
"Belum mah. Mungkin sebentar lagi Citra datang"
.
Jakarta
Pagi ini pak Didit dinyatakan bebas. Kasus yang menjeratnya memang tidak pernah dilakukan olehnya. KPK mengupas tuntas kasus ini.
Dia bersama pengacaranya langsung terbang ke Jogja. Ingin membawa Amira kembali ke Pati. Hatinya sungguh senang. Dia menghubungi Duta tapi tidak diangkat.
"Pak Harun, terima kasih atas bantuannya. Saya sungguh beruntung memiliki pengacara seperti bapak"
"Sama-sama pak Didit, saya hanya melakukan tugas saya pak. Karena saya tahu jenengan tidak melakukan itu. Lain kali hati-hati pak. Tapi jenengan masih dalam pengawasan KPK lho"
"Iya pak, terima kasih sudah diingatkan"
Berita kebebasan pak Didit menyebar di media. Amira yang saat itu masih menunggu Ari sangat bahagia, saat Ari datang reflek dia memeluk Ari. "Papah bebas mas" ucapnya sambil menangis haru. "Eh maaf" Dia lalu melepaskan pelukan itu.
Amira mengangguk.
.
Kapolres meminta data dari Samsat tentang STNK dan BPKB itu, tapi tidak ada keterangan balik nama untuk motor itu.
Dia melaporkan segera ke Duta, dan Duta agak kecewa. Sekali lagi, Bumi bebas dan menang agas terornya.
"Dia bebas lagi dari jeratan hukum. Jika waktu pertama karena Laras memaafkan mas Budi, padahal waktu itu bisa saja langsung kujebloskan. Yang kedua dan ketiga karena tak ada saksi dan bukti" curhatnya kepada Farid.
"Sabar pak, Allah tidak tidur. Keadilan akan berpihak pada yang benar. Yang paling penting saat ini adalah bu Laras. Oh ya pak, besok pengumuman dari KPU. Jika ketiganya lolos semua, maka bapak akan bersaing dengan yang seumuran" sahut Farid
"3 bang?" Farid mengangguk. "Arman dan pak Bagus. Arman ini teman saya. Saya tahu dia itu bukan orang yang ambisius. Tapi tidak tahu kalau sudah masuk politik"
"Beri saya profil mereka berdua. Mungkin mereka bisa menjadi kawan untuk kita"
Farid mengangguk.
.
Ais, Rena, Nina, dan Dirga menjenguk Laras kembali. Kali ini mereka membawakan banyak makanan untuk Laras.
__ADS_1
"Assalamualaikum" sapa Ais diambang pintu. "Waalaikum salam. Ngapain disitu ayo masuk"
Mereka tersenyum. "Nih kita bawakan makanan buanyak. Eh Ras, maaf ya mertua dan orang tuaku belum jenguk. Mereka sedang tidak enak badan" kata Ais.
"Iya gak papa kak, kayak aku sakit apa gitu sampai harus ditengokin ramai-ramai. Bawa apaan nih?"
"Nasi megono, buatan mbak Amira. Tadi pagi dia nyuruh mas Ari subuh buta ke rumah buat nganterin ini. Makan yuk. Pas jamnya nih"
"Sikat, mumpung belum ditelpong sama mbak Nung nih dok. Jujur ya, enakan di poli Berangkat pagi terus, haaaah, pengen balik ke poli lagi" ucap Rena.
"Enak di bangsal" sahut Nina.
"Iya bagimu, kan ada si Aa' dokter" balas Rena. Dirga hanya tersenyum.
"Udah siiih, ayo makan" mereka menikmati masakan Amira. Citra datang.
"Waaah, enak nih. Sisain dooong" pintanya.
"Oke siap" jawab Ais
"Nasi megono nih, beli dimana?"
"Bukan beli, dimasakin sama calon kakak ipar aku"
"Kakak ipar? Siapa?"
"Orang Pati asli, kamu gak kenal. Buruan visit. Setelah itu makan" Citra mengangguk. Dia melakukan pemeriksaan kepada Laras.
"Nanti sore udah boleh pulang kok, hasilnya normal semua. Aku resepin obatnya ya"
"Iya, makan dulu gih" kata Laras. Akhirnya Citra ikut bergabung makan siang dengan mereka. Umi, Abi, dan Mamah Aini baru saja kembali dari masjid.
"Ramenya" kata umi. "Umi, abi, mah, makan sekalian. Dimasakin mbak Amira" Mereka mengangguk
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1