Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Dokter Baru


__ADS_3

Senin pagi Laras dan Duta sudah kembali ke Magelang. Tante Meli dan Tante Rum juga. Kecuali mamah Aini. Lebih memilih menghabiskan 2 minggu kedepan bersama para cucunya.


Seperti biasa, Laras akan mempersiapkan segala keperluan Duta. Mulai dari baju dinas, isi tas, sepatu, hingga isi perut.


Laras membuatkan susu coklat hangat, menyiapkan nasi goreng kesukaan suaminya. Dan menunggu suaminya turun.


Duta mengecup kening istrinya, "Pagi si cantik nan bohay" goda Duta kepada Laras.


"Selamat pagi bupati kesayangan, hari ini kopinya libur dulu ya, minum susu dulu"


Duta menahan tawanya. "Seperti anak kecil saja harus minum susu, kan tiap malam sudah nyusu sama kamu"


Wajah Laras merona "Astaghfirullahal adzim, abang ih mulutnya gak difilter. Malu ada bi Mar" ucap Laras sambil mencubit perut Duta. Bi Mar hanya menahan senyumnya.


"Ya kan emang bener...."


"Stop, ayo sarapan. Ini senin, hari padat. Jangan kebanyakan debat" perintah Laras dijawabi anggukan oleh Duta yang masih cengar cengir.


Terkadang dia malu, jika hanya dirinya dan suaminya tak masalah Duta berkata seperti itu. Ini ada ART mereka di rumah itu. Inilah salah satu alasan Laras tak mau menggunakan ART, ajudan ataupun sopir.


Agar, jika dirinya dan suaminya mengobrol atau melakukan sesuatu lebih leluasa tanpa malu-malu lagi.


.


Laras diantar ke rumah sakit oleh sopir, ajudan, dan juga suaminya. Duta menyuruh pak Pri dan mas Budi turun terlebih dahulu. Laras mencium punggung tangan suaminya.


"Laras kerja dulu ya sayang" pamitnya kepada sang suami.


"Iya. Yang semangat kerjanya ya, cium dulu" Duta memanyunkan bibirnya untuk mendapatkan ciuman dari sang istri. Laras hanya tertawa dan segera menciumnya.


Laras turun dan mengucapkan salam "Assalamualaikum suamiku"


"Waalaikum salam" Lalu Laras berlalu dari hadapan suaminya menuju ruangannya, dia berjalan melewati IGD. Ada seseorang yang berjalan sejajar dengannya.


"Assalamualaikum. Permisi mbak, ruang HRD sebelah mana ya?" Laras menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Waalaikum salam, ruang HRD? Dari tangga ini naik ke lantai dua. Nanti disana ada resepsionisnya" jawab Laras memberi arahan.


"Oh, terima kasih. Kenalkan saya Adi, dokter baru disini" pemuda yang kira-kira umurnya sama dengan Laras menyodorkan tangannya.


Laras hanya tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Ada yang menyambut uluran tangan Adi, siapa lagi? Duta. Ternyata suami Laras belum benar-benar berangkat kerja.


"Duta, suaminya" kata Duta sama sekali tak ramah.


"Oh, maaf. Saya Adi, dokter baru disini. Saya kira masih single, ternyata sudah double"


"Orang mana?" tanya Duta sedikit sombong.


"Saya asli Banyumanik"


"Ooh, tolong lebih hormat dan jaga jarak terhadap istri bupati ya. Permisi" Duta merangkul pundak Laras dan berjalan beriringan dengan suaminya.

__ADS_1


Wajah Duta sudah benar-benar ditekuk. Cemberut. Adi mengangkat bahunya, "pesona istri orang memang lebih menggoda. Hahaha" Lalu dia naik untuk bertemu HRD rumah sakit.


Laras sudah sampai di ruangannya. "Sudah donhmg cemburunya, dia cuma tanya ruangan HRD lho"


"Mana ada! Dia ngajak kamu kenalan gitu kok, gak bisa dibiarin, awas aja berani deketin kamu!"


"Eeeh, kok gitu? Sudah ih, berangkat sayang, kamu sudah telat apel lho"


"Biarin! udah gak mood kerja abang" Laras mencubit pipinya gemas.


"Baby boy ku, jangan begini dong, ingat kata pak Gubernur" Seketika Duta mengubah ekspresinya.


"Nih, minum kamu ketinggalan. Abang berangkat dulu. Pakai masker! Kalau dia godain kamu telpon abang"


"Nggih bojoku, sudah sana berangkat" Duta mengecup kening istrinya dan melambai.


"Daaah, assalamualaikum"


"Waalaikum salam" jawab Laras ikut melambai.


Dila baru datang dan berpapasan dengan Duta. "Tumben dok, dianterin sampai ruangan"


"Iya Dil, dia lagi cemburu"


"Sama?"


"Dokter baru, siapa tadi namanya? Ah, lupa. Hampir saja ngambek gak mau berangkat kerja. Eh, tolong mintakan masker dong, gak boleh senyam senyum sama laki-laki lain" cerocos Laras membuat Dila menahan senyumnya.


.


Sedang diruangannya, Duta bersidekap dan menekuk wajahnya, Farid menjadi bertanya-tanya, bapak kenapa ya?"


"Ehem, bapak ada masalah?" tanya Farid sangat hati-hati. Duta mengangguk lalu meletakkan kepalanya pada meja kerjanya.


"Saya cemburu bang, ah, itu laki-laki pengen saya cekiiiiiiik!" ucap Duta geram. Farid menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Laki-lakinya siapa pak? Kok berani godain ibu? Saya harus waspada dong nanti kalau Ais juga ikutan digoain" Pikiran Farid menjadi kemana-mana.


"Gak tahu, dia dokter baru di rumah sakit, orang Banyumanik. Berani dia ngajak kenalan istri orang. Heran saya"


"Waduh, kita harus waspada pak, sekarang musimnya pebinor" kata Farid antusias. Duta menautkan alisnya.


"Pebinor? Apa itu bang?" tanya Duta yang tak tahu menahu tentang singkatab seperti itu.


"Pebinor itu perebut bini orang pak, pasangannya pelakor" Duta mengangguk tanda mengerti.


"Lalu strategi apa yang harus kita lakuin bang?"


Mereka sama-sama berpikir. Tak menemukan ide apapun. "Blank pak" kata Farid.


"Perketat pengawalan mereka, suruh mas budi melaporkan setiap kejadian disana. Saya tak akan memberikan kesempatan sedikitpun bagi laki-laki itu, enak saja dia" kata Duta sambil memicingkan matanya.

__ADS_1


"Nggih pak"


Hmm, entah ada apa dengan dua lelaki ini. Posesifnya kebangetan.


.


Seperti biasa, jika ada orang baru akan langsung diperkenalkan, Adi langsung ditempatkan di IGD dan berkenalan dengan orang-orang yang ada di ruangan itu.


Adi sangat penasaran dengan Laras, dia mencari profil bupati Magelang, dan sedikit mendapatkan informasi.


"Oo, jadi namanya Laras. Dokter spesialis kejiwaan. Cantik, anggun, tapi sayang, bojone bupati" kata Adi sambil tersenyum kecut.


.


Sore itu Duta menjemput Laras di ruangannya, dia dipersilahkan oleh Dila masuk kareba sudah tidak ada pasien. Dia melihat istrinya menggunakan masker. Itu artinya, Laras menuruti perintahnya.


"Assalamualaikum si cantik nan bohay, pulang yuk" ucap Duta bersemangat.


"Waalaikum salam, ayo"


"Tadi siang makan sama siapa?" tanya Duta menyelidik. Laras tahu arah pembicaraan ini kemana. Pasti suaminya masih cemburu.


"Sama Dila di ruangan ini, terus kak Ais ikut gabung karena baru selesai operasi. Kenapa? Gak percaya sama istri sendiri?" tanyanya sambil membereskan barang-barangnya


"Bukan gak percaya, abang kan cuma tanya"


"Iya, tanya. Memastikan jawaban Laras sama apa tidak dengan jawaban mas Budi. Gitu kan maksud abang?"


Duta nyengir menampilkan deretan giginya. "Sudah, ayo pulang" Duta menahannya agar tak keluar pintu. Mengalungkan tangannya pada pinggang Laras.


"Buka maskernya" perintah Duta. Laras membukanya, dan tersenyum. Duta menciun bibirnya sekilas.


"Hadiah untuk kamu karena nurut sama abang" Laras memeluk suaminya.


"Sudah ya, jangan cemburi-cemburu lagi. Abang itu cinta pertama Laras, dan akan Laras jadikan juga untuk cinta terakhir Laras, semoga sampai ke surga bersama-sama"


"Makasih sayang" ucap Duta.


"Sama-sama"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2