Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Bertemu Partai


__ADS_3

Hari berlalu seperti biasanya. Laras mulai mengalami morning sickness. Setiap pukul 4 pagi perutnya selalu bergejolak ingin muntah. Dia harus terbangun dan memuntahkan isi perutnya.


"Masih pengen muntah yank?" tanya Duta yang membantunya memijit tengkuk lehernya.


"Hoeeeek..... hoeeekkkk.... hah..haaah" Laras memuntahkan isi perutnya lalu mencuci mulutnya. Dia mengangguk tanda sudah selesai muntah. Duta memapahnya kembali ke ranjang. Laras duduk bersandar di ranjang.


"Abang buatkan teh hangat dulu ya. Sayang, anak papah, sehat terus di dalam sana ya, bekerja sama dengan mamah ya, serap semua makanan yang dimakan oleh mamah dikit saja yang dimuntahkan ya. Bikin mamah sehat ya sayang. We love you" ucap Duta sambil mencium perut Laras.


Laras tersenyum dan membelai rambut suaminya. "Dia gak nyusahin mamah kok pah, dia anak yang baik" katanya sambil menangkup wajah Duta dan mencium keningnya.


"Abang buatkan teh dulu, tunggu disini ya" Duta keluar kamar dan turun ke dapur membuatkan teh. Setelah teh itu jadi segera dia kembali ke kamar dan memberikannya ke Laras.


Laras meneguk perlahan teh itu. "Nanti malam abang ada pertemuan dengan partai Ay, kamu gak papa abang tinggal sendiri?"


Laras tersenyum "Gak papa bang, bukan sendiri, ada debay di dalam perut Laras saat ini. Dia akan menemani mamahnya kemana-mana" Duta mengecup kening istrinya. Beruntung dia mendapatkan seorang perempuan yang mengerti akan dirinya.


"Terima kasih ya Ay, anak papah, jagain mamah ya. Maaf nanti papah pulangnya terlambat. Nanti kalau kamu ngantuk jangan tunggu abang. Langsung tidur saja ya sayang" Laras mengangguk sambil menyeruput tehnya.


.


Duta menyelesaikan pekerjaannya hingga lembur. Karena dia harus menghadiri rapat pleno partai pengusungnya. Selesai isya' dia bersama rombongannya sudah berada di gedung partai x. Dia disambut oleh kolega-koleganya.


Duta berjabat tangan dengan semua yang ia temui. Rapat baru dimulai pukul 8 malam. Membahas tentang pilkada yang akan berlangsung sebentar lagi.


Para petinggi partai sudah hadir semua dalam rapat pleno itu. Rapat dimulai dan dipimpin sendiri oleh ketua partai x. Rangkaian acara rapat segera dimulai. Mulai dari pembukaan, sambutan-sambutan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mars partai, hingga doa. Rapat kali ini membahas tentang perekrutan anggota partai dan juga pilkada mendatang.


Menentukan bakal pasangan calon bupati dan wakilnya. Partai x tidak ingin mengusung calon selain Duta, karena kinerja Duta memang sangat memukau. Tapi jika Duta menolak untuk maju maka tugas mereka juga akan bertambah harus memilah dan memilih bakal calon yang standarnya harus setara dengan Duta. Dan menurut mereka itu agak susah.


"Pembahasan yang pertama adalah tentang perekrutan calon anggota partai, seperti kita ketahui bahwa di partai kita banyak yang harus digantikan posisinya karena umur dan juga ada yang pindah ke lain hati" jelas ketua partai itu membuat sedikit gelar tawa di ruangan itu.


"Tolong segera dishare syarat perekrutan. Jangan karena posisi kita dalam partai banyak yang kosong asal terima ini itu saja ya. Saya tidak mau. Persyaratan harus tetap dipenuhi. Lalu yang kedua adalah tentang pilkada nanti. Kita hingga saat ini belum menemukan calon yang cocok untuk menggantikan pak Duta. Karena kinerja beliau yang luar biasa membuat kami agak kesulitan menentukan kriteria yang setidaknya sebanding dengan beliau.

__ADS_1


Jadi pak Duta, kami menyerahkan semuanya kepada anda. Apakah anda akan maju lagi periode ini? Jika iya, kami sudah menyiapkan pasangan untuk anda. Pak Sholeh dari partai x" ucap ketua partai itu yang bernama Surya.


Semua menanti tegang jawaban Duta. Hening seketika tercipta disana. "Bismillahirrahmanirrahim, setelah saya berdiskusi dengan keluarga saya, keluarga besar saya, teman-teman dekat saya, insyaallah saya ingin maju pilkada lagi" jawab Duta dengan mantap.


Semua mengucap syukur, "Alhamdulillah jika anda setuju maju, karena meringankan beban kami untuk memilih calon jika anda mundur. Untuk visi dan misi kita lanjutkan saja yang sudah ada, ditambah dengan beberapa hal"


"Baik pak, saya setuju" sahut Duta


"Selanjutnya kita akan melakukan pertemuan dengan partai x yang mengusung pak Sholeh sebagai calon wakil bupati mendampingi pak Duta. Kita harus segera menyusun strategi untuk pemilu nanti. Karena lawan kita juga sama mudanya dengan pak Duta"


Duta mengernyitkan dahinya karena belum mengetahui siapa lawannya nanti.


"Jika saya boleh tahu, siapakah lawan saya pak?" tanya Duta.


"Dokter Bumi Diwangga, anak dari pak Syaiful Mujab. Dia diusung oleh partai ayahnya. Sepertinya akan menjadi saingan yang sama kuatnya. Kita harus bisa mendapatkan kepercayaan dari partai-partai besar lainnya" jelas pak Surya.


"Tapi kita juga tidak bisa meremehkan partai-partai kecil pak. Kita juga harus memperoleh suara dari mereka" sahut yang lain.


"Ya saya setuju, kita juga harus mendapatkan suara dari partai-partai kecil. Jadi kita harus mendekati secara intensif partai-partai itu" sahut Surya.


"Siap pak, secepatnya" jawab Duta.


Rapat berlangsung sekitar 2 jam lebih. Selesai rapat mereka tidak langsung pulang. Mereka bertegur sapa dan sedikit banyak ngobrol ngalor ngidul tentang pemilu nanti.


Ada yang mengganjal di hati Duta setelah dia tahu lawannya. Pasalnya sebelumnya dia sudah bermain curang untuk menghancurkannya dengan istrinya. Apalagi sekarang, yang jelas-jelas dia adalah lawannya dalan pilkada nanti.


"Ada apa pak Duta?" tanya sekjen partai itu.


"Oh, tidak ada apa-apa pak Angga. Hanya sedikit memikirkan lawan saya saja. Semoga tidak seperti yang saya pikirkan"


"Memang bapak mengenal baik lawannya sehingga bisa berpikir jauh?" Duta mengangguk. Pak Angga menenangkan Duta.

__ADS_1


"Tenang saja pak, kita harus tetap bermain bersih. Jika mereka ingin main kotor terserah mereka. Kita harus fokus untuk kemenangan dengan cara yang bersih juga"


"Terima kasih supportnya pak Angga. Saya permisi dulu. Tidak enak meninggalkan istri terlalu lama pak"


"Hahah, manten anyar yo ngene iki. Adoh ora iso ( Hahah, pengantin baru ya begini. Jauh tidak bisa) pasti pengennya nempel melulu. Ya sudah pak. Saya juga sudah di tunggu istri di mobil, mari sama-sama ke mobil"


Duta dan pak Angga berjalan menuju mobil masing-masing dan segera berpisah. Duta kembali ke rumahnya.


Segera Duta menuju kamarnya ketika sampai di rumah. Dilihatnya ranjang itu kosong. "Kemana dia?" Duta mendengar gemericik air dari kamar mandi. Lalu ia mendekatinya dan membukanya. Istrinya sedang muntah.


Laras segera membersihkan mulutnya ketika melihat Duta menghampirinya. "Muntah lagi Ay?" tanyanya sendu.


"Abang sudah pulang? Sudah makan belum? Mau Laras buatkan kopi dan siapkan makan?" tanyanya sambil mencium tangan suaminya.


"Baru saja tiba sayang, nanti makan gampang, abang bisa ambil sendiri. Kamu muntah-muntah lagi? Kan biasanya gak papa yank kalau malam"


Laras mengangguk dan berjalan keluar kamar mandi. Duta memapah istrinya yang lemas. Mendudukkannya di ranjang lagi. "Maafkan abang ya, kamu harus menderita begini karena abang"


Laras memeluk suaminya. "Bukan salah abang, itu karena hormon kehamilan sayang. Nanti juga akan hilang sendiri. Sudah malam, gak usah mandi saja, daripada sakit"


"Abang gerah sayang, mandi saja lah. Kamu tiduran aja ya. Sebentar" Duta meninggalkan istrinya dan menuju kamar mandi.


.


.


.


Like


Komen

__ADS_1


Vote


Tip


__ADS_2