Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Tutup Mulut (Season 2)


__ADS_3

Duta dan anak-anaknya tiba di rumah selepas maghrib. Duta sengaja menonaktifkan ponselnya karena ia menghindari telpon dari Laras.


Dirinya benar-benar takut kalau sampai istrinya marah dengan kejadian siang tadi. Mobil sudah terparkir rapi di garasi. Sebelum turun, Duta sudah memperingatkan para anaknya untuk tak buka mulut tentang permen karet itu.


"Dengar ya nak, kalau kalian tidak ingin papah dicemplungin ke empang lele sama mamah, kalian harus tutup mulut tentang rambut Adel yang kusut itu. Paham?"


Semua mengangguk. Entah paham atau tidak. Ya, namanya juga anak-anak. Duta turun dengan perasaan was-was.


Laras sudah menunggu mereka di ruang tamu. Mereka mengucapkan salam dan dijawab oleh Laras. "Darimana? Kenapa jam segini baru sampai rumah? Kenapa ponsel papah mati?" cerocos Laras tak sabar.


Duta menelan salivanya. "Tenang dulu dong sayang. Disambut dulu kek, suaminya pulang. Papah cuma dari kantor meubel. Gak kemana-mana lagi kok. Ponsel papah lowbate, lupa ngecargher. Ya kan anak-anak"


Semua A squad menutup mulut mereka dan mengangguk. Membuat Duta semakin takut. Tutup mulutnya bukan begitu naaaak. Haduh Dutaaaa. Bodoh banget sih kamu. Mereka mana mudeeeeng. Habislah kamu kali ini" Batin Duta dengan menelan salivanya sangat susah.


"Kenapa pada tutup mulut?" tanya Laras. "Eee, ini, mulut mereka bau karena belum gosok gigi"


Laras merasa ada yang aneh dengan semua anaknya. "Mossssooookkk? Coba sini mamah cium"


A squad membuka mulut mereka. "Gak kok, gak bau. Sekarang kasih tahu mamah, kenapa pada tutup mulut? Yang jawab dapat coklat putihnya 2"


Aylin mengangkat tangannya. Sebelum Aylin menjawab, Duta segera berlari ke kamarnya. "Papah kenapa sih?" tanya Laras bingung melihat tingkah suaminya.


"Kami disuruh tutup mulut sama papah mah, karena kalau kami buka mulut, mamah akan nyemplungin papah ke empang lele. Begitu kata papah" terang Aylin.


Laras membagikan coklat putih itu sesuai janjinya. Dia tertawa mendengar penuturan Aylin. "Hahaha, kenapa juga papah harus diceburin ke empang? Memang papah salah apa?"


Mereka kembali tutup mulut. "Oke, yang mau jawab mamah tambah lagi coklatnya" Archee mengangkat tangannya.


"Rambut Adel kena permen karet mah!" serunya. Membuat Laras sedikit terperangah. "Coba nak sini mamah lihat"


Laras memperhatikan dengan seksama rambut itu. Masih ada noda permen karet yang menempel pada rambut Adel. "Siapa yang melakukan ini sama adiknya?" Laras masih mencoba bersikap wajar.


Adel menjawab. "Mereka semua mah" Laras mengambil lagi coklat putih itu. "Hukuman buat para kakak karena ngerjain adiknya. Coklatnya mamah simpan sampai kalian minta maaf sama Adel dan rambut Adel bisa benar-benar bersih dari permen karet itu" tegas Laras.

__ADS_1


Membuat semua kecewa. Archee meminta maaf kepada Adel terlebih dahulu. "Dek, Abang mibta maaf ya, gak lagi-lagi deh ngerjain kamu. Gimana kalau kita gundul saja rambutmu? Biar benar-benar bersih"


"Huaaaaa, lihat tuh mah bang Archee mau gundulin rambut Adel" Laras menghela nafasnya dan berteriak. "Papaaaaaaaaaaahhh"


Membuat semua anaknya takut dan masuk ke kamar masing-masing. "Yah, gagal deh kita dapat coklat" ucap Amaris sedih.


Adel memberikan coklatnya pada kakak-kakaknya itu. "Buat kalian semua, bagi sama bang Archee, Adel gak mau kalian gak bisa makan ini"


Amaris dan Aylin tersenyum dan memeluk adiknya. "Makasih ya dek, yok kita makan sama-sama di kamar bang Archee" kata Amaris.


Mereka mengangguk dan menuju kamar Archee.


Sedang di kamar papah dan mamahnya sedang terjadi huru hara disana. Laras tak henti-hentinya mengomeli Duta akibat kelalaiannya.


Duta hanya bisa tertunduk pasrah. Dia mencoba menenangkan istrinya. "Sudah dong sayang, jangan marah lagi. Kan abang sudah usaha bersihkan rambut Adel. 5 jam lho yank, sampai pegel pundak Abang"


Laras bersidekap dan memasang muka ganas. Siap menerkam mangsanya. "Abang ini dititipin sehari aja, kayak begini. Apalagi kalau Laras titipkan sebulan!"


Laras menghela nafasnya. "Untung saja itu tadi gak beneran digundul sama kakak-kakaknya. Coba kalau beneran digundul? Gantian Abang yang tak gundulin semua. Satu lagi, jangan ngajarin anak-anak bohong"


"Iya, Abang takut kalau kamu marah. Disuruh tutup mulut malah pada buka mulut. Dasar A squad!" Duta menyalahkan anak-anaknya.


Laras mencubit perut Duta. "Bukan mereka yang salah paaaah, papah yang salah"


"Aaaaaaaaaa, sakiiiiittt maahhh, aduuuuhhh. A squaaaad tolongin papah naaaakkk" Duta berteriak kesakitan dan meminta tolong kepada anak-anaknya.


Aylin seperti mendengar teriakan papahnya dari lantai atas. "Kayaknya papah minta tolong deh"


Semua sibuk dengan bagian coklat mereka. "Salah dengar kali kak, gak mungkin mamah tega nyeburin papah ke empang lele. Kalau kena patil kan mamah sendiri yang susah" jelas Amaris.


"Biarkan saja, yang penting kita makan coklat ini dulu" Kata Adel.


Mereka mengangguk setuju.

__ADS_1


Duta membalas perbuatan Laras. "Abang bilang sakit yank!" Duta memiting tangan Laras ke belakang.


dengan sigap membalik tubuh Laras dan menindihnya. "Abang kan sudah minta maaf. Jangan marah seperti itu. Kamu nyeremin"


Laras tak bisa bergerak. Kuncian suaminya benar-benar kuat. "Abang sih, nyebelin banget"


Cup Duta mengecup bibir istrinya. "Bibir ini daritadi ngomel gak berhenti-berhenti. Gak capek apa?"


Cup lagi, Duta mengecup bibir istrinya. Laras hanya tersenyum. "Makanya, jangan suka bikin istri naik darah"


"Gak, Abang gak suka buat kamu naik darah. Abang kan sukanya membuat kamu naik ranjang"


Laras memukul pelan dada suaminya. "Dasar mesum!"


"Biarin mesum. Toh kamu senang" Duta mengecup lagi bibir istrinya, dan mulai turun menjejaki leher Laras.


Ceklek. Duta dan Laras menoleh ke arah pintu. A squad berteriak. "Papaaaaahhh, jangan jadi vampir!"


Laras dan Duta tertawa. "Gagal maning gagal maning" ucap Duta.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2