Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Karma


__ADS_3

Pengumuman dari KPU tentang pemilu mendatang sudah keluar. Dari ketiga calon yang mendaftar, semuanya lolos. Seminggu lagi adalah jadwal tes kesehatan.


"Alhamdulillah, kita lolos pak" ucap Duta bahagia bersama pak Sholeh.


"Iya pak, almadulillah. Selanjutnya kita fokus terhadap tes kesehatan ya pak" Duta tersenyum bahagia dan mengangguk.


Para partai mulai membentuk tim sukses. Merancang visi, misi, dan program kerja. Berbeda dengan Duta dan pasangannya yang tak menghiraukan lawan mereka, Bumi sudah merencanakan akal busuknya.


Dia menyuruh beberapa orang untuk mencelakai Laras kembali. Masih ingat dengan ucapan Farid? Allah tidak tidur. Itu benar adanya. Jika yang lalu Bumi selalu berhasil membuat pertahanan Duta runtuh dengan mencelakai orang tersayangnya, kali ini pun begitu.


Sore menjelang maghrib, Sita istri Bumi, dan anaknya sedang bermain motor-motoran disekitaran kompleks rumah mereka.


Anak Bumi, Aira namanya, berusia sekitar 3 tahun. Selalu minta setiap hari berkeliling naik motor. Sita menuruti setiap kemauan anak perempuannya itu. Karena menurutnya, anaknya adalah segala-galanya.


"Aku adalah anak gembala selalu riang serta gembira, lalalalalalalala" Sita menyenandungkan lagu itu agar anaknya senang.


"Lagu lain mih, naik keleta api"


"Ketela api?" tanya Sita.


"Endaaak, keleta api lhooo yang tut tut tutt"


"Oooh, oke. Naik kereta api tut tut tut" Sita mulai menyenandungkan lagu yang diminta anaknya. Ada seorang anak kecil yang mengayuh sepeda sangat kencang, saat di belokan mengagetkan Sita dan membuatnya hilang kendali atas motornya.


Di depan, ada tumpukan pasir yang baru akan diangkut oleh pemiliknya. Sita yang tidak siap dengan keadaan itu akhirnya menerobos gundukan pasir itu dan jatuh miring ke kanan.


Membuat tangannya dan kakinya terjepit. Darah segar mengucur dari bagian kakinya, lukanya sangat lebar, karena ada ranting yang tak sengaja menggores dalam. Warga yang ada disana segera menolong Sita dan anaknya.


Salah satu dari mereka menelpon ambulance rumah sakit daerah. Sita dan anaknya langsung dilarikan ke rumah sakit. Sita mengalami kehilangan banyak darah dari kakinya itu. Anaknya mengalami luka di bagian kepala, darah juga mengucur dari sana.


Sita merasakan tangan kanannya tak bisa digerakkan. Dia terus mengerang kesakitan dan akhirnya kehilangan kesadaran.


Warga disana memberitahu satpam rumah Sita bahwa Sita dan anaknya mengalami kecelakaan. Satpam langsung melapor kepada majikannya yang saat itu sedang berdiskusi dengan tim suksesnya.


"Pak gawat!" kata satpam itu panik.


"Apa sih?! Saya ini lagi rapat sama orang penting!"


"Maaf pak, tapi ibu dan non Aira, mereka kecelakaan, jatuh dari motor. Ibu mengalami luka parah dan mereka dibawa ke rumah sakit daerah" tetang satpam itu kepada Bumi. Membuat tubuh Bumi lemas seperti kehilangan tenaga.


Tak terasa air matanya keluar tanpa sengaja, dia segera menghapusnya. Mengumpulkan kesadarannya. "Saya harus ke rumah sakit" katanya linglung. Mereka semua mengangguk.

__ADS_1


Bumi segera diantarkan oleh supirnya menuju rumah sakit daerah.


Sita sedang ditangano di IGD. Fia kehilangan banyak darah. Nina menanyakan stok golongan darah O rhesus negatif kepada PMI, namun kosong.


Mbak Pungki mengirim chat di grup rumah sakit.


Pungki : Siapapun tolong, ada pasien butuh gol. darah O rhesus negatif. Pasien kehilangan banyak darah.


Semua yang masuk grup pasti membaca pesan itu. Termasuk Laras.yang sedang mengobrol dengan suaminya di ruangan Laras.


"Abang golongan darahnya apa?"


"O, kenapa?"


"Rhesus?" Duta menggeleng. "Gak tahu, kenapa sih?"


"Ada pasien butuh golongan darah O rhesus negatif. Kalau abang jadi pendonor mau? Tapi kita cek rhesus abang dulu. Karena golongan darah O rhesus negatif hanya bisa menerima dari yang sama"


"Pasiennya siapa?" tanya Duta lagi.


"Gak tahu, yuk kita lihat ke IGD. Tapi abang mau gak? Kalau mau aku bilang dulu nih di grup"


"Iya mau, tapi kan kata kamu harus cek itu dulu apa tadi?"


Duta diantar ke laborat oleh Laras. Dia diperiksa golongan darah dan juga rhesusnya, diperiksa keadaan umumnya juga agar bisa menjadi pendonor.


"Hasilnya O rhesus negatif dokter" kata petugas lab itu.


"Oke, terima kasih ya, kami lihat siapa pasiennya dulu"


Duta dan Laras berjalan ke IGD, disana sudah ada Bumi menangis melihat kondisi istrinya. Kakinya masih ditangani untuk dijahit. Pembuluh darah venanya robek tak beraturan hingga sulit untuk mencari keberadaan vena itu.


Duta dan Laras menemui mbak Pungki. "Mana yang butuh di donor? Suamiku O rhesus negatif nih"


Mbak Pungki mengantarkan Duta dan Laras. Mata mereka sama-sama tak percaya melihat siapa yang menangis dan siapa yang sedang terbaring lemah.


"Sita, Bumi?" ucap Laras kaget. "Sita istri kamu Bum? Dia yang butuh donor darah?" Bumi mengangguk lemah.


Duta langsung berbalik meninggalkan ruangan IGD. Laras mengejar suaminya dan menariknya ke tempat yang agak sepi.


"Abang tunggu"

__ADS_1


"Jangan membujuk abang untuk mendonorkan darah abang bagi keluarganya! Abang tidak akan sudi memberikan setetes darah abang!"


"Sayang, dengarkan Laras dulu. Kita bicara dengan tenang oke?" Laras menggenggam tangan Duta.


"Laras tidak akan memaksakan abang, Laras tahu abang tidak akan mau memberikan darah abang kepadanya. Tapi coba kita pikir lagi dengan logika. Jika itu Laras yang terbaring dan butuh donor darah, dan waktu itu Bumi yang bisa mendonorkan, apa abang akan tetap menolak dan membiarkan Laras meninggal?" kata Laras tajam penuh penekanan.


"Jangan bilang seperti itu! Abang akan melindungimu, menjagamu"


"Nah, kan. Abang, coba abang tanya sama hati kecil abang. Apa abang rela melihat orang meninggal karena tak mendapatkan pertolongan padahal abang bisa menjadi penolong untuknya?"


"Tapi suaminya yang membuat kita kehilangan calon bayi kita, meneror kita" jawab Duta penuh kekesalan.


"Kita lupakan itu dulu. Laras ingin abang bertanya kepada hati kecil abang. Apa abang rela dan tega melihat orang meninggal karena tidak abang tolong"


"Arrrrgghhhh, jangan membuat abang menjadi merasa bersalah yank"


"Semua tergantung abang, dengar sayang, semua sudah menjadi kuasa Allah. Bumi mendapatkan karma dari perbuatannya. Istrinya sedang diambang hidup dan mati karena kehilangan banyak darah"


"Biar dia merasakan arti dari kehilangan. Dia pantas mendapatkan karma ini"


"Kenapa abang menjadi pendendam? Bang Duta yang Laras kenal adalah orang yang lebih mementingkan orang lain daripada egonya sendiri"


"Ya Allah, abang harus gimana??? Abang masih belum terima perbuatan dia, karena dia kita kehilangan calon anak kita Ay"


Laras tersenyum "Abang hanya perlu bertanya pada hati kecil abang. Lakukan atau akan menyesal selamanya"


Duta diam memikirkan kata-kata Laras. Dia menjadi bingung akan mendonorkan darahnya atau tidak. Bumi adalah orang dibalik kejadian yang mengganggu rumah tangga mereka. Tapi istrinya? Apakah istrinya tahu semua perbuatan Bumi?


"Bagaimana?" tanya Laras


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Happy reading all 😘😘😘. Sukurib tuh si Bumi kena karma. Tapi kasihan istrinya, kenapa gak Bumi aja sih yang kena?? wkwkwk


__ADS_2