Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Semakin Sibuk


__ADS_3

Selesai mandi Duta melihat istrinya sedang bermurotal. Dia duduk di samping istrinya dan mendengarkannya. Setelah selesai bermurotal Laras mengalungkan tangannya ke lengan Duta. "Abang gak lapar?" tanyanya.


Duta menoleh memastikan telinganya gak salah dengar. "Kenapa? Kamu lapar? Pengen makan apa?"


"Mmm, pengen omelette sayur yang dulu pernah kita buat. Pakai saos sama mayonaise dan segelas es susu" ucap Laras sambil membayangkan makanan itu dihadapannya.


Duta segera turun dari ranjang hendak menuju dapur. "Tunggu disini abang buatkan" Laras mengangguk. Untuk mempercepat proses pembuatan omelette Duta membangunkan ART nya.


"Bi Sum, tolong sayurnya disiang lalu dicuci ya. Nanti biar saya yang masak"


"Iya pak, ibu lagi ngidam ya pak?"


"Iya bi, tapi saya kasihan dia muntah terus bi" curhat Duta kepada ART nya.


"Memang begitu pak diawal kehamilan. Nanti juga hilang sendiri. Gak usah khawatir pak. Yang penting, kalau ibu sudah ingin sesuatu langsung turuti pak. Jika tidak, suasana hatinya akan berubah sedih" Duta tersenyum kecut mendengarkan Bi Sum.


"Ih bapak malah ketawa, saya serius pak. Ini pak sayurnya"


"Ya sudah bi, bi Sum kembali tidur saja. Biar nanti saya yang masak" Bi Sum segera undur diri karena sudah selesai membantu Duta. Dengan cekatan Duta membuat omelette sesuai permintaan istrinya.


Laras sedang muntah lagi di kamar mandi. Duta yang mendapati ranjangnya kosong segera menyusul ke kamar mandi. Sungguh tak tega ia melihat istrinya dalam keadaan begitu.


Dia hanya memijat tengkuk istrinya. Setelah selesai mereka menikmati omelette itu. Laras makan dengan lahapnya. Mungkin karena ia benar-benar lapar dan butuh tenaga. Duta senang melihat istrinya lahap begitu.


Duta kembali menyentuh perut Laras dan berbicara dengan perut yang masih rata itu. "Anak papah, yang banyak ya makannya"


.


Duta semakin sibuk dengan pencalonannya nanti. Dia harus segera melengkapi persyaratan untuk maju pemilu nanti. KPU sudah membuka bagi calon yang mendaftar.


Tak hanya Duta, Farid juga semakin sibuk membantu Duta, mengatur jadwalnya kembali karena mereka akan lebih sering bertemu partai dan sering pulang terlambat.


"Mas, sudah rapi mau kemana? Ini kan minggu sayang, kamu mau ngajak aku jalan ya?"


Farid sibuk merapikan kemejanya di depan cermin. "Mas harus membantu pak Duta sayang. Mas disuruh membantu mempersiapkan berkas pengajuan bakal calon"


Ais yang tadinya sumringah kini menjadi bermuram durja. Dia tak membalas perkataan Farid.


Ais keluar kamar meninggalkan Farid dengan membanting pintu kamar. Farid yang melihatnya merasa bingung dan bersalah. Dia menghela nafas sambil menunduk. Dia segera menyusul istrinya.


"Sarapan yuk" ajak Farid kala melihat istrinya duduk di teras sendirian. Farid berjongkok di depan Ais lalu menggenggam tangannya.


"Maafin mas sayang, mas bisa apa?" tanyanya kepada Ais menatap lekat mata wanitanya supaya dia mengerti.


"Sudah lah. Percuma juga aku marah. Pasti nanti kamu bilang mas cuma bawahan. Wes mbuh" Farid merasa bersalah pada istrinya, waktu mereka sangat sedikit untuk bersama.


"Ikut yuk" ajak Farid.

__ADS_1


"Kemana?"


"Ke rumah bu Laras, memang kamu gak kangen sama adekmu itu?"


"Ya sudah, aku siap-siap dulu"


"Sarapan dulu dong sayang, cacing di perut mas udah pada dangdutan niiih"


Ais menahan tawanya. "Kamu cacingan mas? Waaah, perlu diperiksakan ke dokter nih"


"Hahaha, dokternya kamu ajahh" sahutnya manja.


"Hilih, ayo masuk. Ais siapkan makanan"


.


Mamah Aini sudah ada di rumah Duta. Beliau kangen sekali dengan menantunya. Mereka nonton drakor bersama. Sedang Duta, dia mempersiapkan dan mencari berkas-berkas untuk pengajuan persyaratan bakal calon bupati.


Ais datang bersama Farid. Mereka dipersilahkan masuk oleh ART. "Assalamualaikum" ucap mereka.


"Waalaikum salam" jawab Mamah Aini dan Laras kompak.


"Eh, ada mamah juga disini. Ya sudah, mah, titip istri Farid sebentar ya, Farid mau ngeloni istri yang kedua" Sontak dirinya mendapatkan picingan tajam dari Ais.


Mamah Aini paham apa yang dimaksud dengan istri kedua oleh Farid, sedangkan Laras bingung. "Wkwkwkw, kamu ini, enakan mana? Ngeloni istri pertama apa yang kedua?"


"Di ruang kerjanya mas, lurus mentok, kamar paling belakang" Laras memberi arahan karena Farid memang belum pernah ke ruangan kerja Duta semenjak pindah rumah.


Farid mengangguk dan segera menuju ruangan itu. Ais ikut bergabung dengan Laras dan mamah Aini. Dia mencium tangan mamah Aini dan cipika cipiki dengannya dan juga Laras.


"Mah, istri kedua maksudnya siapa?" tanya Laras bingung.


"Lha itu, kertas sama laptop"


"Ealaaah, tak kira siapa maah. Mamah nii ada-ada saja" Sahut Ais dan mereka semua tertawa.


"Suami kalian itu ya begitu. Dulu masih perjaka sampai lupa waktu mereka. Apa lagi ini mau maju calon lagi. Mamah harap kalian bisa mengerti dengan keadaan ya. Kalau mereka semakin sibuk kalian juga harus semakin sabar. Jangan mencurigai mereka jika tidak memberi kabar, karena mereka sering lupa waktu. Apalagi kamu sayang, yang lagi hamil jadi pikiran dan emosinya harus stabil ya"


"Iya mah" jawab Laras cepat. "Biasanya kayak begitu berapa lama mah?"


"Selama masa pencalonan Ras"


Kira-kira aku siap gak ya perhatian abang akan berkurang padaku? Huh, kenapa sih Ras? Jangan egois. Dia bekerja juga demi kamu. Demi mereka semua. Yakin Ras, yakin!. Batinnya dalam hati


"Eh, kak, sudah ketemu Cicit belum? Dia nanyain bukunya tuh" katanya mengalihkan pembicaraan


"Alaaaah, kakak lupa. Besok lah kakak kembalikan"

__ADS_1


.


Pencalonan ini memang menyita waktu Duta, selain menjadi bupati sekarang perannya juga bertambah yaitu sebagai suami. Membuatnya makin sibuk.


Malam itu kembali Laras muntah lagi. Dia sampai harus mengganggu dokter Citra. Duta sampai bingung harus bagaimana.


"Apa kata dokter Citra?" tanya Duta setelah sambungan telpon itu berakhir.


"Katanya masih wajar bang, mungkin selain mengalami morning sickness Laras juga mengalami night sickness"


"Apa? Ada morning ada night juga ya?" Laras mengangguk. "Terus disuruh minum apa tadi?"


"Tolong obat Laras yang putih kecil itu bang" Duta mengambilkan obat yang dimaksud oleh Laras dan langsung meminumnya.


Laras terbaring lemas. "Abang malah jadi mikir lagi mau maju calon apa gak kalau lihat kondisimu seperti ini"


"Laras gak papa bang"


"Gak papa gimana, lemes begini kok"


"Daripada abang ngomel bikinin Laras es susu sama omelette seperti kemarin"


"Ya sudah, abang buatkan dulu ya"


Dengan cepat Duta membuatkan pesanan istrinya. Tak lama ia kembali ke kamar dan mendapati istrinya sedang tertidur. Bangunin gak ya?


Laras mencium aroma wangi dengan cepat dia membuka matanya. "Eh, bangun. Baru saja abang mau mrmbangunkanmu"


Laras dengan cepat meraih segelas es susu itu dan menegaknya habis. "Omelettenya buat abang saja, karena Laras hanya ingin mencium wanginya telur saat digoreng. Hehehe"


"Lhah, kok malah jadi abang yang makan? Kan kamu yang butuh asupan nutrisi sayang. Sedikit-sedikit ya, abang suapin"


"Gak bang, Laras cuma mau susunya dan cium wangi bau telurnya. Abang saja yang makan" Duta geleng kepala dan pasrah.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2