Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Terungkap


__ADS_3

Siang itu Laras dibawa ke ruang operasi. Citra melakukan curetage terhadap Laras. Duta pamit sebentar kepada umi dan abi untuk ke masjid rumah sakit. Saat di toilet, tangis Duta pecah. Hatinya sakit. Bagai dihantam benda keras berulang-ulang.


Dia bersujud pada sang Maha Kuasa. Minta diberi kekuatan saat nanti berhadapan dengan istrinya. Ia tak mau terlihat lemah, tapi ia juga tak tahan untuk tak merasakan sakit ini.


.


Farid dan kepolisian repot kesana kemari mencari pengendara motor itu. Farid sangat yakin bahwa itu adalah motor yang sama. Plat motor itu dilacak oleh kepolisian dan dapat.


2 intel ditugaskan melakukan penelusuran. Mereka meluncur ke alamat pemilik motor. Dan saat mengintai rumah itu, mereka mendapati motor itu terparkir di depan rumah.


2 intel itu menghubungi anggotanya untuk melakukan penyergapan. Saat rumah itu disergap sang pemilik rumah sedang tidur. "Angkat tangan!" kata salah satu intel itu sambil menodongkan senjata. Sedangkan yang satu dengan cepat memborgol tangan pelaku ke belakang.


"Apa salah saya pak?" tanya pemilik rumah itu. "Silahkan berikan kesaksian anda di kantor. Anda diduga terlibat kasus penyerempetan istri bupati dan yang menyebabkan kecelakaan ajudan bupati"


Pemilik rumah itu baru sadar jika dia lupa memasukkan motor itu ke tempat persembunyiannya kembali. Sekarang dia tertangkap, dan dia hanya bisa pasrah.


.


Laras sudah selesai di curetage, dia segera dipindahkan ke ruangan perawatan. Ruangan yang dulu dipakai oleh Yuna. Dia masih setengah sadar dan meracau mencari suaminya.


Duta segera menghapus air matanya dan mendekat pada istrinya. "Abang disini sayang, abang tak kemana-mana. Apa yang kamu rasakan saat ini? Mengantuk?" tanya Duta. Laras mengangguk pelan. "Tidurlah, abang akan menemanimu" Laras pun memejamkan matanya kembali.


Umi kembali dari kantin dengan membawakan makanan untuk Duta. "Makan dulu sayang, dari pagi kamu belum ada makan kan?" tanya umi.


"Nanti saja mi, Duta tidak lapar"


Abi menyentuh pundak Duta. "Makanlah, jangan sampai kamu juga jatuh sakit. Dia membutuhkanmu. Jadilah kuat dan jangan tunjukkan rasa sakitmu terhadapnya" Duta memeluk Abi dan menangis kembali.


Abi dan Umi juga ikut menitikkan air mata. "Duta gak sanggup melihatnya kesakitan bi, hiks, hatinya pasti remuk, coba saja tadi aku terus berjalan sejajar dengannya, pasti tidak akan terjadi hal ini"


Abi menenangkan menantunya. "Tenanglah Duta, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kalian harus saling menguatkan. Jangan malah saling menyalahkan. Kamu sebagai suami harus lebih kuat, Abi mohon, selalu jaga putri Abi"


Farid datang dengan tergesa-gesa. "Assalamualaikum, pak, umi, abi, pelaku sudah tertangkap. Dia digelandang ke polres" Duta langsung berdiri dengan tangan menggenggam kuat. "Duta, kuasai dirimu. Jangan sampai terbawa bisikan setan. Selesaikan dengan cara yang bijaksana" nasihat abi kepada Duta.


Duta mengangguk dan mencium tangan kedua mertuanya. "Titip Laras sebentar bi, mi" Duta bersama Farid langsung menuju polres.

__ADS_1


.


Teman-teman Duta, Amira dan Ari, dan rekan-rekan Laras datang menjenguknya. Mamah Aini juga sudah sampai di Magelang dan ikut menguatkan menantunya.


Seperti biasa trio mobat mabit menjadi pelawak dimanapun mereka berada. Mereka menceritakan kisah-kisah lucu mereka hingga membuat Laras sedikit tertawa.


"Mbak Laras, mumpung gak ada Duta nih, mbak Laras tahu tidak diantara kami siapa yang paling konyol?" ucap Wisnu dan dijawabi gelengan kepala oleh Laras.


"Duta mbak, waktu itu semesteran kalau jaman sekarang bilangnya. Nah lembar jawab si Duta nih kurang. Entah dia itu nulis berita atau ngarang novel sampai lembar jawaban saja kurang, nah dia itu punya kepekan mbak yang ditaruh di bawah lembar jawabannya itu. Dengan pedenya dia begini 'Bu, lembar jawaban saya kurang'


Guru kami memberikan lagi lembar jawaban itu ke Duta, saat guru itu mengambil lembar jawaban Duta yang sudah penuh guru kami bingung ada kertas dengan tulisan banyak 'Ini apa Duta?' tanya guru kami kan, Duta dengan polosnya malah bilang 'Alamak, saya lupa kepekan saya belum tak sembunyikan balik bu' Habis lah kami berempat waktu itu, belum juga nyontek udah ketahuan saja"


Mereka semua tertawa. "Jadi Bang Duta dulu tukang ngepek ya?"


"Wah jangan ditanya mbak Laras, dia itu paling jago diantara kami. Bisa-bisanya dia otu bawa buku pelajaran masuk dan ditaruh di laci" sahut Bayu.


"Astaghfirullah suamiku, hahahaha, gak nyangka bandel juga"


Mereka semua berhasil mengalihkan sebentar pikiran Laras karena kehilangan calon anaknya.


.


Akhirnya Duta bisa mengendalikan emosinya. "Siapa yang menyuruhmu?" kata Duta dengan wajah garang.


"Tak ada, aku hanya tak suka saja denganmu. Haha" jawab orang itu.


"Jika kamu tidak suka denganku, mengapa yang kamu celakai istri dan anakku?"


"Biar kamu merasa sakit" jawabnya enteng


Farid segera menengahi pembicaraan itu. "Pak, bu Laras butuh bapak, sebaiknya bapak kembali ke rumah sakit" ucapnya berbohong, mau tak mau Duta harus segera kembali ke rumah sakit.


Duta menyuruh kapolres untuk terus mendalami kasus ini, karena menurutnya bukan orang itu pelakunya.


.

__ADS_1


Hari berganti, Dirga yang baru datang dari Bandung menyempatkan diri menjenguk Laras terlebih dahulu.


"Teteh yang kuat ya" Laras mengangguk. "Iya, mamah kamu gimana Ga?"


"Mamah sama budhe Rum. Nanti mungkin budhe disana sebulan menemani mamah, rencananya aku mau bawa mamah kesini juga, tapi ijin dulu sama budhe Aini. Aku mau lihat dong, rekaman cctv itu, kok aku jadi kepo, siapa sih yang tega begini"


"Minta sama mas Brata, orangnya lagi jaga di depan" Dirga meminta rekaman itu untuk dikirimkan ke ponselnya. Dirga melihat dengan seksama. Dia sangat mengenali motor itu.


"Ras, eh, maksudku teh, ini, ini motor yang nyerempet kamu?" Duta yang baru keluar dari kamar mandi mendengar sedikit obrolan itu.


"Kenapa Ga? Orangnya sudah ditangkap di Polres kok, yank, hari ini ditemani mamah dulu ya. Abang ada rapat dengan para staff. Abang usahakan pulang cepat. Jangan sedih-sedih lagi ya" jawab Duta dan mengecup kening istrinya.


"Oh, syukurlah kalau orangnya sudah ditangkap" Ucap Dirga berbohong. Dia menunggu Duta pergi.


Duta pergi meninggalkan Dirga dan Laras. "Teh, ini motor Bumi, lihat ini. Ini motor dia dulu yang dibawa ke Bandung. Masa gak ingat sih?"


Laras melihat rekaman itu dan matanya terbelalak. "Ini, ini, ini memang motor Bumi, jadi dia yang udah nyelakain aku? Kata mas Farid, motor ini juga yang membuat mas Farid kecelakaan. Tapi abang bilang pelakunya tidak ia kenal. Astaghfirullaaaaaah" Dada Laras sakit, dia tak menyangka, sahabatnya yang melakukan itu. Terungkap sudah teka-teki selama ini


"Aku beneran gak tahu rekaman ini Ga, tolong jangan bilang apapun ke bang Duta. Aku akan menemuinya sendiri"


"Gak teh, dia terlalu berbahaya. Jangan menemuinya. Aku akan tetap diam kalau teteh berjanji tidak akan menemuinya"


"Temani aku menemuinya" pinta Laras kepada Dirga.


.


.


.


Like


Vote


Tip

__ADS_1


Komen


Nah loh, Bumi, siap-siap!


__ADS_2