Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Spidol Permanent (Season 2)


__ADS_3

Acara arisan telah selesai. Yang mendapatkan arisan adalah Lila, mereka sepakat yang 50 persennya akan mereka berikan bahan makanan dan dibagikan kepada janda tua yang ada di wilayah mereka masing-masing dengan kisaran 10 orang.


Laras dibantu para ART nya membersihkan piring-piring kotor. A squad bermain di ruangan bermainnya bersama sang papah.


Duta sedang mengawasi para anak itu bermain ular tangga. Ya, dia sebagai jurinya. Giliran Amaris memainkan dadu setelah Adel selesai bermain.


Lemparan pertama Amaris mendapatkan dadu dengan angka 6. Membuat semuanya tegang, karena jika Amaris memainkan dadu dan mendapatkan dadu dengan angka 3 maka dia akan menjadi pemenang dalam permainan itu.


"Hahahaha, pada tegang ya?" Duta melihat wajah anak-anaknya yang harap-harap cemas.


"Diam dong pah, ayo cepetan Maris" kata Aylin.


"Hish, sabar dong kak!" Amaris menggelindingkan dadu, angka 4. "Yaaaahhh, malah turun ke bawah"


Semua tersenyum lega saat Amaris mendapatkan dadu dengan angka 4. Beda halnya dengan papahnya yang sudah mengantuk. Ia berharap Amaris yang memenangkan permainan itu dan dirinya bisa tidur seletah permainan berakhir.


Tapi tak semudah itu ferguso. Amaris malah turun ke angka yang lebih rendah. Giliran Aylin. Dia melempar dadu dan mendapatkan angka 6, bermain dan melempar lagi, mendapatkan angka 6 lagi. Hingga Archee dan Adel sebal menunggu giliran mereka main.


"Ini jangan-jangan dadunya angkanya 6 semua nih. Masa dari tadi Aylin dapat 6 dua kali sih?" Kata Archee.


Aylin tak terima dengan pernyataan Archee. Jelas-jelas ia menggunakan dadu yang sama. "Enak saja kalau nuduh. Ini kan dadu yang kita gunakan tadi. Mana ada aku main curang bang?"


Archee hendak menjawab. Tapi dilarang oleh Adel. Adel menempelkan jari telunjuknya di tengah bibir. "Sstt. Diam. Papah tidur"


Mereka semua menoleh ke arah papahnya yang sudah tidur dengan arah telentang dengan tangan menyilang di belakang kepala sebagai bantal.


Adel memiliki sebuah ide yang sungguh menyenangkan. Dia membisikkan sesuatu kepada semua saudaranya. Membuat semua tersenyum jahil.


"Let's go!" kata Amaris sambil berbisik.


"Kamu awasin abang ya? jangan sampai ketahuan sama mbah Mar ataupun mbah Sum" kata Archee. Mereka menuju ruang kerja papahnya yang sekarang pindah di lantai dua dekat dengan ruang bermain A squad.


Mereka mengendap bagai pencuri. Pasalnya. ruang itu memang tak diperuntukkan untuk A squad, karena semua dokumen dan berkas kerjasama bisnis dan pengelolaan usaha ada disana semua.


Mereka masuk dengan mulus. Segera mengambil yang menjadi tujuan mereka. Setelahnya mereka keluar dari ruangan itu. Lalu kembali mengendap ke ruang bermain.


Adel dan Aylin senang melihat saudaranya berhasil mengambil sesuatu dari ruang kerja papahnya.

__ADS_1


"Aku bagian kakinya" kata Adel.


"Aku wajahnya" kata Amaris


"Aku perut papah" kata Archee


"Oke, aku bagian tangannya" kata Aylin. Mereka mulai melalukan tugas masing-masing. Ya, mencorat-coret tubuh papahnya.


Sementara di bawah, semua sudah bersih. Laras segera naik dan menyusul anak-anak dan suaminya di ruang bermain.


"Mereka tenang sekali tak ada yang rewel. Tidur atau memang suami aku yang pintar jaga anak-anak sampai pada diam begitu?"


Laras mulai menaiki anak tangga yang ada di rumahnya. Sedikit mengangkat dasternya agar langkahnya lebih leluasa untuk melangkah.


ceklek.


Pintu terbuka. Anak-anak menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah pintu. Mata Laras ingin sekali lepas dari tempatnya. Bagaimana tidak? Dia melihat tubuh suaminya penuh dengan coretan.


"Astaghfirullahal adzim naaaakkk, kalian apakan papah kalian hingga seperti pemain ketoprak begitu??" Laras menghampiri suaminya dan membangunkannya. A squad hanya nyengir kuda dan menyembunyikan barang bukti.


"Wkwkwkwkwk, Pah, bangun! Lihat mukamu, tanganmu, perutmu, kakimu" kata Laras menggoyangkan bahu Duta tak bisa berhenti ngakak.


"Hish! Bangun dulu! Tubuh kamu penuh coretan sama pen dan spidol!"


Duta melepaskan pelukan itu dan duduk. Melihat sekujur tubuhnya yang sudah tak terlihat warna kulitnya. "Allahu akbar naaaak, papah kalian apakan ini?" Duta segera melihat ke cermin.


Terdapat tompel besar di sebelah pipi kirinya, dan kumis kirun di tengah antara hidung dan bibir.


"Astaghfirullahal adzim" Duta segera berlari ke kamar mandi dan membersihkan semuanya.


Laras menyuruh anak-anak mereka untuk merapikan mainan karena sudah waktunya untuk tidur siang.


Duta kembali dengan berlari. "Siapa yang menggambar muka papah?" A squad menunjuk Amaris. "Coba lihat nak, spidol apa yang kamu pakai?"


Amaris memberikan kepada papahnya dengan wajah tak berdosa. Duta dan Laras membacanya. SPIDOL PERMANENT. Laras tak bisa berhenti tertawa lagi.


"Yank, piye iki ngresikine? (Yank, gimana ini membersihkannya?)" Duta menampakkan wajah melas dan sedihnya.

__ADS_1


Laras tertawa dan menggeleng. "Gak tahu pah, aduh, perut mamah sakit. Suamiku sekarang ounya tompel dan kumis kirun. Hahahaha"


"Ih kamu mah malah tertawa terus!" Duta krsal dengan istrinya.


"Coba pakai alkohol pah. Tanya bibi, ada tuh. Nanti mamah bantu. Mamah tidurkan anak-anak dulu"


Laras mrmbawa anak-anaknya pada kamar mereka masing-masing. Mereka sudah tidur sendiri-sendiri. Laras menemani mereka satu per satu hingga tidur dan menyusul suaminya.


Dia mencari ke dapur tak ada. Mungkin di kamar pikirnya. Dia kembali menahan tawa karena mengingat kejadian tadi.


"Pah"


"Hmm, apa??" kata Duta masih kesal.


Laras duduk sejajar dengan suaminya dan mengambil kapas dan menuangkan sedikit alkohol padanya. "Sabar, namanya juga anak-anak. Kan itu salah kamu sendiri sayang. Kenapa tidur? Aku kan minta tolong buat jagain mereka"


Duta berdecak. "Mereka gak kira-kira kok kalau ngerjain orang. Udah lah tadi malu gara-gara Archee cerita tentang kissmark sama mereka semua. Sekarang Maris gambar pakai spidol permanen"


Laras tak kuat lagi menahan tawanya. Membyat Duta semakin kesal. "Kamu memang ingin dihukum sama abang ya? Daritadi menertawakan abang terus? Hmm?"


Duta mendorong tubuh istrinya hingga terjatuh ke ranjang. "Kunci pintu dulu, nanti ketahuan lagi sama anak-anak"


Duta mengunci pintu kamar mereka dan melakukan hukuman terhadap istrinya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Hahaha, untung masih bisa dibersihkan ya pak Dut, coba kalau itu permanen selamanya? 😂😂


__ADS_2