
Duta memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Supirnya yang lama ikut dengannya dan menyambutnya disana. Para ART pun ia boyong ikut dengannya. A squad masih tidur. Duta menggendong Amaris karena bobotnya paling berat diantara lainnya.
Laras menggendong Aylin. Archee digendong oleh bi Mar, dan Adel digendong oleh bi Sum. Sedangkan Pak To menurunkan barang yang mereka bawa dari rumah lama. Kamar A squad berada di lantai 2. Mereka ditidurkan di kamar masing-masing.
Para ART menyiapkan makan malam. Sedangkan Duta dan Laras segera menunaikan ibadah sholat maghrib. Lalu mereka membersihkan diri dan makan malam.
Selesai makan, Duta meminta tolong istrinya untuk mempersiapkan pakaiannya besok. "Sudah kamu siapkan pakaian untuk abang kan?"
Laras mengangguk sambil melepas penat bermanja di paha suaminya sambil menonton tv. "Sudah dong, Abang kalau lelah tidur saja. Laras mau menyiapkan keperluan anak-anak untuk besok sekolah"
Duta mengangguk. "Orang kamunya saja lagi manja begini kok. Nanti saja selesai isya', kamu gak capek apa? Hmmm?"
"Emang kenapa kalau Laras gak capek? Pasti mau minta jatah lagi kan?" Duta tertawa. "Kayak mbah dukun kamu! Mau abang pijitin!"
"Wes ora usah, nanti ujung-ujungnya grayang-grayangan kok. Malam ini absen dulu lah sayaaang, besok hari awal di rumah baru kita. Pasti sibuuuk"
Duta berdecak. "Beneran, Abang cuma mau pijitin istri sholehanya Abang doaaaang" Laras tersenyum. "Makasih pujiannyaaa"
"Ay, kamu senang gak abang jadi menteri?" tanya Duta sambil memainkan jemari Laras. "Pertanyaan aneh. Ya suka lah. Jangan tanya lebih suka mana Duta yang jadi petani lele atau jadi menteri? Dengar ya Abangku sayaaang, mau jadi apapun kamu, profesi apapun itu, yang penting halal, aku cinta sama kamu apa adanya. Bukan ada apanya. Paham?"
Duta tersenyum "Syukurlah rasa kamu itu gak berubah. Abang takut kalau kamu...." Laras menempelkan telunjuknya di tengah bibir Duta. "Jangan diteruskan! Doa yang baik-baik saja"
Duta tersenyum "Makasih ya sayang, sudah mau menemani abang dikala susah dan senang. Mau percaya dengan abang"
"Sama-sama. Adzan bang, yuk sholat" Mereka segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat isya'.
.
Pagi itu, A squad bangun lebih awal. Karena lalu lintas Jakarta selalu padat. Menyebabkan kemacetan. Laras dan Duta mengantarkan mereka sekolah terlebih dahulu. Lalu mereka bersama supir menuju istana negara.
Duta turun didampingi sang istri masuk ke dalam istana negara. Mereka yang akan dilantik juga sudah hadir dalam ruangan itu. Staff kepresidenan mulai mengatur keadaan.
Acara akan dimulai pukul 9 pagi. Hati Duta dag dig dug menantikan momen itu. Sama seperti saat pelantikan bupati, tapi yang ini lebih istimewa. Lebih membuatnya gugup.
Presiden memasuki tempat acara. MC mulai mengambil alih keadaan. "Upacara pelantikan menteri......" MC sudah mulai brrbicara.
Suasana hening, tegang, dan khidmat. Susunan acara dibacakan dan dilakukan satu per satu. Presiden memberikan pidato singkatnya dalam acara itu. Intinya adalah berpesan kepada mereka para calon menteri yang baru untuk selalu mengemban amanah dengan baik.
Tiba saatnya menyerahkan SK pelantikan. Prrsidrn didampinginoleh istrinya melakukan penyerahan SK pelantikan itu. Duta menerima SK itu. Dengan begitu, Duta resmi menjabat sebagai menteri pariwisata dan ekonomi kreatif.
__ADS_1
Acara berlangsung 2 jam. Selesai pelantikan, Duta langsung menuju kantornya. Sedangkan sang istri pulang bersama supirnya sekalian menjemput anak-anaknya.
.
15 tahun kemudian
"Maaaah, jas papah manaaaaaa?"
Laras yang sedang menyiapkan sarapan berdecak. "Sudah mamah siapkan di atas ranjang pah"
"Sini deh" Duta menyuruh istrinya masuk ke kamar.
Laras semakin kesal. Suaminya selalu begitu, sudah ia siapkan semua keperluan suaminya, tapi selalu mencari yang tidak ada. Akhirnya ia beranjak ke kamar.
ceklek
"Surpriseeeeee" A squad dan Duta memberi kejutan kepada Laras. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka. Laras tersenyum haru dan memeluk suaminya.
"Terima kasih semuaaa. Mamah gak ingat lho hari ini ulang tahun pernikahan kami. Kalian memang anak-anak paling perhatian dan penuh kasih sayang sama kami" Laras mencium kening dan pipi A squad satu per satu.
"Selamat ulang tahun pernikahan ya mamah dan papah sayang. Ini kado dari kami. Kami kumpulkan uang jajan kami biar bisa memberikan kalian ini" sahut Aylin. Laras menerima kado dari Aylin. Tiket hotel bintang 5 yang ada di Jakarta.
"Aaaaaa, jadi terharu deeeh" kata Adel. "Lebay kamu Del" balas Archee.
"Ih abang, mereka itu romantis. Belajar dari papah dan mamah biar bisa cepetan cari istri" kata Adel sambil berlalu dari kamar orang tuanya.
"Setuju, karena kalau bang Archee belum nikah, kami gak mau nikah. Abang mau kami jadi perawan tua?" sahut Amaris mengekor dibelakang Archee.
"Yeee, kalian. Mau nikah duluan ya silahkan. Abang rela kok. Abang rela kalian langkahi" jawab Archee.
Aylin geleng kepala. "Lulus dulu baru ngomongin nikaaaah, dasar kalian semua. Kalau kalian pada gak mau nikah biar aku dulu saja"
"Cieee bu dokter yang sudah dapat gandengan duluan. Kenalin dong sama temen dokter kamu" Archee menggoda Aylin.
"Ada, namanya Baihaqi Hilal Makarim, mau?" jawab Aylin enteng, membuat Archee menjitak kepalanya. "Yang cewek deeeek"
Orang tua mereka hanya tersenyum mendengar obrolan mereka. Ya, A squad sudah dewasa. Aylin sudah lulus sebagai dokter umum, Archee sudah lulus dari IPDN dan bekerja menjadi camat di salah satu kecamatan di Demak. Amaris menjadi guru SMA di salah satu sekolahan di Jakarta, dan Adel meneruskan jejak sang papah, menjadi pengusaha.
"Yang cewek sudah punya pacar semua. Yang belum hanya Hilal. Mau gak?" kata Aylin jahil. Archee berdecak dan meninggalkannya.
__ADS_1
Aylin tertawa puas menggoda Archee. "Memang di Demak gak ada cewek apa?" Archee tak menjawab.
"Hmmm, bakalan sepi lagi ini rumah. Mereka pasti setelah ini akan pulang ke kotanya masing-masing. Suami aku juga bentar lagi pensiun jadi menteri. Kita kembali ke Magelang ya?" bujuk Laras. Duta mengangguk.
"Tapi kasihan Aylin kalau kita tinggal" kata Laras lagi. "Kita boyong Aylin juga lah, biar dia cari kerja di Magelang saja"
"Begitu juga bagus. Hmmm, kangen sama tingkah konyol mereka yang selalu jahil sama kamu pah"
Duta mengangguk. "Papah juga kangen akan hal itu. Tenang, tunggu saatnya mereka memberikan cucu untuk kita. Atauuuu.... kita buat anak lagi saja mah"
Laras menahan tawanya. "Sudah menopause, kamu ini!" Mereka berdua tertawa. Archee datang lagi menghampiri mereka. "Ayo sarapaaan, perut kami sudah lapar"
"Iyaaa. Gak sabaran sekali sih kalian" Jawab Duta. Mereka melangkah bersama menuju ruang makan. Sarapan diisi dengan candaan dan gelar tawa dari anak-anak itu.
...---THE END---...
Like
Vote
Komen
Tip
Hmmm, alhamdulillaaaaah, kelar juga novel kedua othor. Terima kasih othor ucapkan untuk semua pembaca kesayangan othoooorrr. Terima kasih buanyak untuk kalian semuaaa. Terima kasih like, komen, vote dan tip yang diberikan kepada othor. Kalian adalah semangat bagi othorrr.
Kalian adalah inspirasi bagi othor. Othor hanya bisa membalasnya kebaikan kalian dengan hiburan dari novel othor. Othor hanya bisa mendoakan semoga kebahagiaan, kesehatan, dan keselamatan selalu tercurah untuk kita semuaaaa. Maaf kalau othor ada salah kata atau perkataan yang menyinggung. Sekali lagi, terima kasih banyak readers kesayangan othorrr.
Lop yu pul 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘.
Yang minta cerita tentang A squad tenang. Nanti. Nanti kalau karya ketiga othor "CINTA KARENA MANDAT (REVISI)" sudah selesai. Sementara, othor lanjutkan dulu yang ketiga.
Silahkan dibaca karya othor yang lain
"**TUNANGAN BAYARAN"
"LARASATI DAN PAK BUPATI"
"CINTA KARENA MANDAT (REVISI**)"
__ADS_1
Akhirul kalam, wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Salam sayang dari othor untuk kalian semua.