
Duta menghampiri Laras. Istrinya sedang berada di kamar mandi. Laras mengguyur dirinya dibawah shower. Mendinginkan hatinya yang terasa perih. Rak memperdulikan sekitar, hingga Duta masuk pun ia tak tahu.
Duta sudah melepas semua pakaiannya dan menyusul istrinya. Memeluknya dari belakang, sehingga membuat Laras terlonjak kaget.
"Eh" kata Laras menoleh. "Abang?" Duta hanya diam sambil menikmati guyuran air shower itu dan menikmati curuk istrinya.
"Abang ngapain?"
"Mandi sama kamu" jawabnya singkat. Tangan Duta menggerayangi tubuh istrinya membuat Laras kegelian.
"Hihihihi, abang ih. Geli tau!" Duta hanya tersenyum dan terus melancarkan aksinya.
"Abang seneng godain kamu, abang mau menghukum kamu"
Laras berbalik. "Menghukum Laras? Memang Laras salah apa?"
"Masih tanya salah apa? Salah kamu adalah membohongi abang"
"Bohong apa sih?" tanya Laras masih tak mengerti.
Duta menangkup wajah Laras yang masih di bawah guyuran shower. "Jangan bohong sama abang, kamu nangis karena ucapan mamah kan?"
Laras hanya diam. "Maafin mamah ya sayang. Maafin ucapan mamah yang membuat hati kamu sakit. Kita usaha sama-sama ya?"
Laras mengangguk dan tersenyum "Laras gak papa kok bang, bukan mamah juga yang salah. Mamah kan selama ini jauh dari cucu-cucunya, gak salah kalau mamah minta cucu dari kita"
"Iya abang tahu, tapi tetap saja kan? Sakit kan? Udah gak usah dijawab. Karena kamu bakalan bilang tidak. Ayo, terima hukumanmu"
Laras tersenyum, dia berjinjit dan mengecup bibir Duta. Duta tersenyum jahil. "Pinter ya sekarang godain abang duluan"
Membuat pipi Laras merona. "Siapa yang godain sih, gak kok. Laras kan cuma....." ucapan Laras terpotong, Duta membungkamnya dengan ciuman lembut. Saling *****. Saling menjelajahi rongga mulut itu.
Masih di bawah guyuran shower, Duta membimbing Laras untuk bercinta. Gelora cinta mereka semakin membara. Saling bertaut, saling membalas, saling membutuhkan.
Duta menggendong Laras dan mendudukkannya di nakas dekat wastafel. "Adik udah bangun" ucapnya berbisik di telinga Laras.
"Kamu siap?" tanya Duta kepada istrinya. Laras hanya mengangguk dan Duta mulai menyatukan tubuh mereka. Inti bertemu inti. Berharap tumbuh benih dari kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu.
Cukup lama mereka menghabiskan waktu itu di kamar mandi, hingga benar-benar membersihkan diri. "Enak kan hukuman yang abang beri?"
"Hahaha, abang kali yang merasa enak"
"Ooo, jadi kamu merasa kurang enak? Mau dihukum lagi?" tanya Duta dengan membuka handuknya lagi dan berjalan mendekati istrinya.
"Hahahah, ampun sayang, sudah cukup. Badan Laras remuk redam sayang, sudah ya, nanti lagi"
Duta tersenyum menang. "Yes, nanti malam abang dapat jatah lagi. Hahai"
"Ih abang, mesum banget sih otaknya. Tiap hari ituuuuu melulu yang dibahas" jawab laras sambil malu-malu.
__ADS_1
Laras menyiapkan baju untuk suaminya dan dirinya. Lalu memakai pakaian dan saling lempar senyum "Makasih sudah buat Laras tersenyum lagi"
"Sudah tugas abang membuat kamu selalu tersenyum"
.
Mamah Aini mendapat banyak teguran dari adik-adiknya dan juga anaknya. Beliau merenubgi ucapannya kembali. "Astaghfirullah, kenapa tega sekali mulutku ini berkata seperti itu. Padahal, dulu aku yang menginginkannya menjadi menantuku. Apakah pantas untukku menyakiti hatinya? Setelah dia mau mendampingi putraku?"
Duta dan Laras keluar dari kamar mereka membawa kado titipan dari Farid. Zafran yang sedang digendong mamah Aini tiba-tiba menangis. Mungkin minta menyusu. Yuna mengambilnya dan membawanya kembali ke kamar.
"Kamu temani kak Yuna, sekalian kasihkan kado titipan bang Farid. Abang mau bicara sebentar sama mamah"
Laras menggeleng. "Jangan marahi mamah"
Duta tersenyum "Abang tidak akan memarahi mamah sayang, abang hanya menegur"
"Pokoknya jangan" pinta Laras sambil memelas. Duta mengalah. "Ya sudah, abang gak akan bahas masalah itu di depan mamah"
Laras ikut bergabung dengan semua yang ada di ruang keluarga itu. Takut jika suaminya tak bisa menepati janjinya.
"Kok malah disini? sana sama kak Yuna" Laras menggeleng. Laras mau disini dulu.
"Ras, sini nak" kata mamah Aini. Membuat semuanya memasang wajah tegang. Suasana menjadi mencekam. Laras duduk di sebelah mamahnya.
"Mbak" kata tante Rum.
"Kalian kenapa sih? Aku mau ngomong sama mantuku kok, jangan pada tegang deeeh" jawab mamah Aini seakan tahu yang ada dipikiran mereka.
Mamah Aini meraih tangan Laras. "Maafin mamah ya, ucapan mamah membuat kamu tersinggung tadi. Mamah gak bermaksud kok sayang. Maafin mamah ya kalau agak maksa"
Laras mengangguk dan memeluk mamahnya. Air matanya kembali menetes. "Laras gak papa kok mah, maafin Laras sama bang Duta juga belum bisa memberikan cucu untuk mamah. Selalu do'akan kami ya mah, karena do'a orang tua adalah yang paling mujarab"
"Mamah selalu mendo'akan kalian nak, sekali lagi maafin mamah ya" Laras mengangguk dan melepaskan pelukan itu.
"Laras ngasihkan titipan kado dari kak Ais dulu ya"
"Iya" Laras bergegas ke kamar Yuna. Dilihatnya Zafran sedang menyusu pada bundanya. "Kak, ada titipan kado dari mas Farid dan kak Ais"
"Waah, malah ngrepotin. Sampaikan terima kasih untuk mereka ya" Laras tersenyum dan mendekat melihat Zafran. Kinan tengah Asyik bermain gadget.
"Kuat banget sih anak sholeh" ucap Laras senanng sambil membelai pipi Zafran. Yuna tersenyum.
"Dek, maklumin omongannya mamah ya, jangan dimasukin hati" Laras hanya tersenyum dan mengangguk.
"Laras maklum kok kak, mungkin mamah pengen deket sama cucu-cucunya. Makanya minta Laras cepet hamil. Rasanya melahirkan dan menyusui gimana kak? Pasti bahagia banget ya kak, do'akan Laras segera hamil ya kak"
"Pasti kakak selalu do'akan kalian. Mau gendong Zafran lagi gak? Dia udah berhenti nyusu nih, udah mau terlelap" Laras mengangguk senang.
"Kinan, hpnya sudah dong sayang. Dari tadi hp melulu" Yuna merebut gadget yang dipegang Kinan.
__ADS_1
"Bundaaaa, belum selesai mainnya"
"Nanti lagi, mandi dulu sana"
"Kinan, Zafran tante Laras bawa pulang boleh gak?"
"No! Ini adik Kinan tanteeee"
"Ya makanya, adiknya diajak main dong. Jangan main hp melulu"
Kinan memutar bola matanya malas. "Tanteee, Zafran tuh belum bisa diajak main. Berisik iya, nangiiiiis terus tiap hari"
"Hahaha, itu karena kamu gak mau ngajak ngobrol dia. Dia juga mau main sama kakaknya, sayang. Diajak ngobrol dong. Meskipun belum bisa jawab. Pasti dia tahu kalau itu Kinan yang ngajak ngobrol"
"Gitu ya?" Laras mengangguk. Kinan lebih mudah diajak bicara dan gampang mengerti.
"Okelah, nanti setiap hari Kinan ajak ngobrol Zafran" ucap Kinan sambil menoel pipi Zafran gemas.
Laras tersenyum menyaksikan adegan itu. "Zafran ganteng kayak ayah, nanti Zafran mau gak ya aku ajak main boneka-bonekaan tante?"
"Mmm, mungkin mau, tapi juga harus gantian ya nanti, Kinan juga harus mau kalau diajak main mobil-mobilan sama Zafran"
"Gampang itu" Laras merasa ada cairan hangat yang menembus gamisnya.
"Eh, Zafran ngompol. Gak pake diapers ya kak?"
"Iya, sengaja gak kakak pakein kalau pagi begini. Sini biar kakak gantiin"
"Aku aja kak, belajar dari sekarang"
"Ya sudah, terserah kamu"
"Apa aja nih yang disiapkan?"
"Air hangatnya di bawah box bayi, keringkan pake handuk. Popoknya ada di samping box bayi. Jangan dipakein bedak ya, kalau bajunya basah berarti ganti semuanya"
Laras melakukan instruksi Yuna. Agak bingung dan lama, tapi akhirnya berhasil. Dia tersenyum senang saat berhasil mengganti popok Zafran.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Adem punya mertua begini, tapi ada juga yang guengsi gak mau minta maap meskipun tahu salah. Hiks....