Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Jalan Yuk (Bonus 3)


__ADS_3

Seminggu setelah pertemuan kedua keluarga itu, Arjun melakukan pendekatan kepada Rena. Dia malas jika harus menolak perjodohan itu. Makanya, saat ini dia coba membuka hatinya untuk Rena.


Saat di rumah sakit mereka akan sangat profesional menyembunyikan perasaan mereka. Hanya curi-curi pandang dan saling lempar senyum saat di ruangan.


Rena masih malu jika ketahuan dia menjalin hubungan dengan dokter yang pernah ribut dengan dirinya. Tapi, mau sampai kapan mereka menyembunyikan kenyataan itu pada semua orang?


Hari minggu itu, Rena sengaja bangun agak siang. Dia sedang tidak sholat jadi bablas sampai pagi. Ponselnya berdering berulang kali tapi tak ia pedulikan.


Baginya tidur adalah hobi utamanya, dan rebahan adalah hobi keduanya. Siapa yang begini? (Othor termasuk)


Dia meraih ponselnya karena sangat mengganggu tidurnya. "Halo, assalamualaikum" jawabnya malas masih dengan mata tertutup.


"Waalaikum salam, sudah bangun? Mas telpon sampai 20 kali lho"


Rena membuka matanya dan melihat siapa yang menelpon. Ternyata dokter Arjun. "Iya mas, ada apa?" tanyanya sambil menguap dan membuang belek yang ada di matanya. Pintu kamar Rena tiba-tiba saja terbuka dan Arjun berdiri di ambang pintu.


Rena langsung menarik selimutnya. Bekas iler, belek, bau mulut rambut acak-acakan semua masih ada pada dirinya. Arjun berjalan mendekati ranjang Rena dan mematikan panggilannya.


Arjun mencoba membuka paksa selimut Rena, tapi tak bisa. Rena terlalu kuat memegang selimut itu. "Ngapain sih malah ngumpet?"


"Malu" jawabnya masih di dalam selimut. Arjun tertawa. "Buka yank, mas pengen lihat wajah bangun tidur kamu"


"Moh, elek kok. Isin aku mas, metu soko kamarku kono! (Gak mau, jelek kok. Malu aku mas, keluar dari kamarku sana!)"


"Jalan yuk yank, mas bosan di rumah" Rena tak kunjung membuka selimutnya.


Arjun menggelitik Rena hingga selimut Rena terlepas. "Ya Allah" kata Arjun sambil tertawa.


Rena langsung masuk toilet tanpa membawa pakaian gantinya. Arjun menungguinya mandi sambil berkeliling menjelajahi kamar Rena.


Mamah Rena menghampiri Arjun. "Rena sudah bangun, nak?"


"Sudah mah, sekarang baru mandi" Mamah Rena mengangguk. "Nanti kalau sudah selesai buruan turun, kita sarapan bareng"


Arjun mengangguk dan tersenyum. Dia tertarik dengan salah satu sudut di kamar Rena. Tepatnya di belakang pintu. Disana tertata barang-barang pemberian Arjun dan foto dirinya bersama Rena.


"Ternyata disimpan semua barang-barang yang aku kasih. Sampai tisu bertuliskan pesan sayangku pun disimpan. Gak salah aku buka hati buat kamu. Kamu memang beneran tulus. Tapi kenapa kamu masih malu ngungkapin hubungan kita? Hmm, sabar saja lah Arjun" katanya pada diri sendiri.


Rena keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono dan rambut yabg digelung bersama handuk. Dia mengira bahwa Arjun sudah keluar, saat menutup pintu ia terjengkit kaget karena masih mandapati Arjun disana.


"Astaghfirullah, mas! Aku kira kamu sudah keluar" kata Rena. Arjun menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Meskipun Rena menggunakan handuk kimono tapi tetap saja, itu belum pantas untuk dilihatnya.

__ADS_1


"Niatnya mau keluar, ada yang menarik di sudut ini makanya mas lihat dulu. Buruan ganti baju, mas tunggu dibawah. Papah sama mamah udah nunggu buat sarapan"


"Iya, kamu ngapain sih tutup mata begitu. Memang apanya yang kelihatan dari tubuh aku?"


"Leher kamu! Bahaya, turunkan itu handuknya biar nutupin leher kamu" Rena tertawa dan menuruti perintah Arjun. Sekarang Rena seperti menggunakan hijab dari handuk.


"Udah" kata Rena. Arjun membuka matanya. "Mas keluar dulu, pakai baju santai tapi jangan ngetat!"


Rena menautkan alisnya. "Kita mau kemana?"


"Jalan-jalan. Nonton atau kemana terserah. Hari ini mas pengen kencan sama kamu. Mas udah izin sama papah, pulangin kamu malam terakhir sampai jam 10 malam sudah harus di rumah"


"Ya sudah, aku siap-siap dulu" Arjun mengangguk dan pergi meninggalkan kamar Rena.


Rena segera bersiap. Dia bingung memilih baju, akhirnya dia memilih dress terusan selutut berwarna kuning bunga-bunga lengan pendek. Sungguh membuat warna kulitnya semakin cerah.


Dia hanya berdandan natural, karena jika terlalu menor Arjun akan marah. Ternyata Arjun posesif sekali.


Rena turun dan bergabung dengan yang lain untuk sarapan. Arjun tersihir oleh kecantikan Rena. Hingga ditawarkan ingin makan nasi goreng atau nasi uduk dia tak menjawab.


"Mas!" panggil Rena sambil menepuk pundaknya.


"Eh, iya" jawab Arjun kaget.


"Nasi goreng saja yank" ucapnya. Rena segera mengambilkan makanan untuk Arjun. Mereka makan dengan nikmat dan tenang.


Selesai sarapan, Arjun langsung berpamitan kepada orang tua Rena. "Mah, Pah, Arjun bawa Rena jalan-jalan ya" izin Arjun kepada mamah dan papah Rena.


"Naik mobil saja, jalan-jalan nanti kakinya pegel" jawab pak Lazuardi mencoba melucu.


"Iya pah, maksudnya liburan" jelas Arjun.


"Iya, hati-hati ya" Arjun mengangguk. Rena dan Arjun segera menuju mobil dan masuk. Arjun menyalakan mesin mobilnya dan memakai seatbelt.


Mereka pergi meninggalkan rumah. "Kita ke arah Jogja atau Semarang?"


"Ke Jogja saja mas, biar gak terlalu jauh" jawab Rena.


"Oke, kamu sudah belanja seserahan belum?"


Rena sibuk dengan ponselnya. "Hmm? Sudah sama mamah kemarin"

__ADS_1


Arjun meraih ponsel Rena. "Mas ada di samping kamu, jangan main hp terus sayang"


Rena tersenyum "Iya sayang, maaf. Itu tadi ngitungin panggilan kamu beneran 20 kali apa gak, kok cuma 19 di tulisannya"


"Ya kan yang ke 20 kamu angkat sayang"


"Oh iya ding, heheeh" Arjun mengembalikan ponsel Rena. Dia meraih tangan Rena dan menggenggamnya.


"Nyetir yang bener mas"


"Lha ini kan mas nyetir bener yank"


"Bener dari mana? Terus kalau mau mindah gigi mobil bisa dengan pegangan seperti ini?" Arjun hanya nyengir.


"Nanti kalau mau pindah gigi baru tak lepasin. Biarin mas puas megang tangan kamu. Kalau di rumah sakit kan gak bisa. Kita mau sampai kapan sih mau umpet-umpetan kayak gitu yank? Mas juga pengen kali kaya Dirga dan Nina dulu. Bisa tetap bercengkrama, ketawa ketiwi bareng, makan bareng"


"Sabar ya mas, nanti kalau undangan kita sudah nyebar gak akan ada yang aku umpet-umpetin lagi" jelas Rena. Arjun hanya menghela nafas kasar dan melepaskan genggamannya.


"Kamu marah sayang?" tanya Rena kepada Arjun.


"Gak" jawab Arjun singkat. Rena menangkuo kedua pipi Arjun dan mengecup pipi Arjun.


Cup. "Jangan marah lagi. Maaf kalau aku masih ngumpet-ngumpet tentang hubungan kita"


Arjun hanya diam tak menjawab pernyataan Arjun. "Mas??"


"Hmm??"


"Jangan marah dong, katanya ngajak jalan. Tapi kamunya ngambek" Kata Rena.


"Gak kok, mas gak marah. Ya sudah lah jangan dibahas lagi"


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2