
Setelah Ais selesai dijahit dan bayinya sudah dipakaikan baju, mereka dipindahkan ke ruang nifas. Farid segera mengambil wudhu dan melantunkan kalimat-kalimat Allah di telinga anaknya.
Farid menangis bahagia menyambut kelahiran putra kecilnya. Wajahnya plek ketiplek dengan sang bunda. Hidungnya mancung, bibirnya tipis, dagunya agak lancip semua adalah milik Ais.
"Assalamualaikum Baihaqi Hilal Makarim, anak ayah Farid dan bunda Aisyah. Jadi anak sholeh ya nak. Terima kasih sudah hadir dalam dunia ayah dan bunda. Kamu adalah amanah yang harus kami jaga. Kita sama-sama belajar ya nak, kamu ajari ayah dan bunda menjadi orang tua dan kami akan mendidikmu membekalimu ilmu menjadi anak sholeh" ucapnya sambil menggendong Hilal.
"Siapa tadi namanya Rid?" tanya pak Wibi.
"Baihaqi Hilal Makarim pah"
"Alhamdulillah kalau kamu sudah punya nama untuknya. Hilal, sini digendong sama eyang kakung. Kamu temani Ais makan sana. Kamu juga belum makan kan dari siang"
Farid mengangguk. Bu Farida dan mamah Rina kembali dengan beberapa bungkus nasi. Farid membuka bungkusan itu dan mulai menyuapi istrinya.
"Makan yang banyak ya sayang, isi tenaga kamu. Biar ASI nya juga melimpah. Mas suapkan ya" Ais mengangguk.
"Kamu jadi cowok cengeng banget sih"
"Bukan cengeng, mas gak tega lihat kamu kesakitan begitu" Ais hanya tertawa. "Ya itu kan juga hasil perbuatanmu mas"
"Hahah, iya juga ya"
Tak lama Amira dan Ari datang. "Maaf telat, mas Ari nih kelamaan" ucap Amira saat sudah sampai di kamar Ais.
"Gak papa mbak"
Amira mendekati pak Wibi. "Mau gendong Hilal?" tanya pak Wibi. Amira mengangguk senang dan segera mengambil bayi mungil itu.
Teman-teman dan kerabat dari Ais dan Farid datang menjenguk. Membawakan banyak buah tangan. Saat rombongan pengawal datang, Laras dan Duta juga datang.
"Alhamdulillah, barakallah sudah lahir ya kak" kata Laras.
"Iya, tinggal kamu sama mbak Amira. Perut kamu gede banget Ras, taksiran beratnya gimana?" tanya Ais.
"Yang cowok kak, masih seribu tiga ratusan. Yang lain alhamdulillah sudah dua ribuan. Semoga gak bayi berat lahir rendah ya"
"Aamiin. Besok tujuh bulanan kan? Maaf ya gak bisa nemenin" kata Ais.
"Gak papa mbak" sahut Duta. "Mbak Ais itu perempuan paling beruntung punya suami bang Farid mbak"
"Kenapa bisa beruntung pak?" tanya Ais penasaran.
__ADS_1
"Mbak Ais kesakitan di rumah, dia nangis di kantor" ucap Duta tanpa rasa bersalah. Membuat para rombongan pengawal itu tertawa. Farid menutup wajahnya malu. Sangat malu.
"Bapaaaaaakkk, stop cerita memalukan itu...." ucap Farid.
"Kok memalukan sih? Itu bukan cerita memalukan kok bang. Malah menurut saya itu cerita romantis. Seorang suami sampai menitikkan air mata mendengar istrinya kesakitan saat akan melahirkan. Beuhhh, itu cerita teromantis. Drama korea kalahhhh, lewat tok" bangga Duta kepada Farid.
"Gak ada romantis-romantisnya itu paaaak" protes Farid.
"Abang, udah sih. Jangan diledekin melulu mas Faridnya. Sebentar lagi juga kamu akan mengalami hal yang dialami mas Farid. Jangan ngejek, bisa-bisa itu bakal menjadi cerita memalukan untuk kamu. Sang bupati menangis melihat istri kesakitan" Laras mencoba membela Farid.
"Bu Laras! Anda memang pembela saya bu. Hehehe. Maaf ya pak, tapi bapak nanti juga merasakan apa yang saya rasakan. Jadi kita sama-sama bisa bercerita tentang hal memalukan itu" katanya sambil mengacungkan kedua jempolnya ke Laras
"Eh, nama anaknya siapa sih?" tanya Brata.
"Baihaqi Hilal Makarim. Imam baihaqi seperti bulan sabit yang mulia" ucap Farid dengan tersenyum.
"Intine anake mas Farid! Ngunu kan mas? (intinya anaknya mas Farid! Begitu kan mas?)" sahut Brata.
"Sak karepmu lah Brot (Terserah kamu lah Brat)"
Duta hanya tertawa menanggapinya. Satu per satu para tamu pun undur diri. Laras dan Amira masih disana bermain-main dengan Hilal.
"Dia anteng banget ya?" kata Laras.
"Iya mbak, wajah kak Ais banget"
"Ada kali mbak, bu, wajah saya disana. Kan saya yang keringetan waktu bikinnya. Bikin telinganya saja itu harus ngukir dulu lho bu, mbak, set set set, gitu" sambil memoeragakan gerakan tangan seperti gerakan ular.
"Kayak belut aja bang, sat set sat set" sahut Duta sambil menahan senyum.
"Gak ada wajah kamu disana mas, aku yang mengandung kok kamu yang minta wajahnya disana"
"Itu kan hasil kita berdua yank, masa gak ada mirip-miripnya ke mas sih. Antengnya kali ya" Farid masih tak mau kalah.
"Kamu anteng Rid? Sejak kapan? Pecicilan iya" sahut Ari.
"Please jangan lagi bongkar aib ku mas, cukup hari ini cerita memalukan untukku datang dari pak Duta. Jangan ditambahi lagi" Farid memelas kepada Ari.
"Memang dia pernah ngapain mas?" tanya Ais kepo.
"Lompat pager sekolah karena mau bolos pelajaran. Saat lompat celana dia ini ketat, sampai ada bunyi kreeek, ternyata celana dia robek. Jadi lah dia diketawakan sama cewek-cewek SMA depan yang waktu itu lagi olaharaga"
__ADS_1
"Astaghfirullah maaaaas, kelakuanmu ya" Ais mengelus dadanya. Wajah Farid sudah merah padam.
Semua sampai terpingkal-pingkal mendengarnya. "Hilal, ayah kamu tuh ya, cengeng, bandel" kata Ais.
.
Duta dan Laras menggelar acara tujuh bulanan di rumah mereka. Hanya pengajian sederhana yang dihadiri kerabat dan keluarga.
"Bang, besok kita ke mall ya, beli perlengkapan bayi"
Duta menggeleng. "Gak usah, besok abang suruh orang tokonya kesini. Kamu bisa pilih yang kamu perlukan sayang. Abang gak tega kalau lihat kamu jalan-jalan dengan perut sebesar itu"
"Kenapa? abang malu?"
"Bukan malu sayang, kasihan lihat kamu dengan perut sebesar itu harus milih ini itu"
"Laras gak papa kok"
"Gak, pokoknya kamu dirumah saja"
Laras sedikit kecewa. Padahal ia menginginkan jalan-jalan. Tapi apa mau dikata. Perintah suaminya tak ingin dibantahnya.
"Sudah, tiduran sini. Abang mau ngobrol sama mereka" Laras tidur miring dan Duta menghadap perutnya..
"Assalamualaikum anak-anak sholeh sholeha. Apa kabar sayangnya papah mamah? Sehat selalu di dalam ya. Jangan pada rebutan, makanannya dibagi juga ya ke abangnya. Biar dia beratnya juga sama seperti kalian bertiga. Hari ini mamah dan papah mengadakan acara tujuh bulanan untuk kalian sayang. Hanya pengajian biasa. Bertemu papah dan mamah sebentar lagi ya sayang"
Perut Laras bergerak. "Mereka merespon" ucap Duta senang. Laras ikut senang saat mereka semua aktif.
"Anak-anak pintar, sehat ya di dalam sana. Kerjasama terus sama mamah ya sayang" kini Laras juga ikut mengobrol dengan janin mereka.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Maaf ya baru up. Othor tadi baksos di daerah banjir dulu. Diusahakan up lagi nanti. Love you all 😘😘😘