Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Akal Licik


__ADS_3

Bumi dan pasangannya mendaftar ke KPU di hari ke lima pendaftaran. Seperti Duta dan pasangannya, proses pendaftaran itu memakan waktu.


Mereka menjadi pasangan kedua yang mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati dan bakal calon wakil bupati dalam pilkada nanti.


Seperti biasa, para wartawan yang sudah berada disana msncari bahan berita. "Pak Bumi, apa strategi bapak dan pak Arif agar bisa menang pilkada nanti?"


"Yang pasti merebut hati para warga terlebih dahulu" jawab Bumi sambil tersenyum.


"Apakah bapak siap menjadi Bupati untuk periode selanjutnya pak?" tanya salah seorang wartawan lagi.


Bumi tersenyum kecut. "Tentu siap! Kalau tidak siap untuk apa kami disini, mendaftar kesini"


"Lalu bagaimana jika anda kalah pak? Apakah bapak siap menerima kekalahan?"


Pak Arif menyela saat Bumi akan menjawab. "Ee, begini teman-teman media. Kita itu harus menyiapkan segala sesuatu sebelum memutuskan untuk mendaftar. Dan itu artinya kami sudah siap menerima kemenangan ataupun kekalahan. Begitu ya?"


Para pengawal Bumi langsung menggiring Bumi dan Arif masuk ke dalam mobil.


Dirga melihat saat Bumi diwawancarai tadi, "Ya ampun Bum, berubah sekali kamu. Aku seperti tak mengenalmu. Sikap angkuh dan sombongmu terlihat sekali. Hhmm, semoga kamu tidak berakhir seperti orang tuamu Bum"


Tak hanya Dirga, Duta juga melihat berita itu, hingga ia tersenyum kecut. "Kalau dulu kita bersaing untuk memperebutkan hati yang sama, dan sekarang kita harus kembali bersaing untuk mendapatkan jabatan"


"Bapak takut dengan saingan bapak?" tanya Farid saat berada di ruangan Duta.


"Hahahah, menang kalah sudah biasa bang, yang saya takutkan dia menggunakan akal liciknya. Dulu saat putus dengan Dini, dia mencoba merebutnya kembali dengan cara yang sungguh menjijikkan, dia menjebak saya seolah-olah saya sedang selingkuh dengan perempuan lain.


Kemarin dia meneror saya dengan foto Dini. Lalu, besok pilkada apa lagi? Saya hanya takut jika dia mencelakai bukan saya, tapi orang-orang tersayang saya. Eh, gimana kasus tabrakan kemarin?"


Farid menggeleng. "Polisi masih menyelidiki kasus itu pak, mereka curiga bahwa plat nomor yang ada pada motor itu adalah plat nomor palsu. Karena mereka mencari data kepemilikan motor itu dan hasilnya nihil"


Duta mencerna kata-kata Farid. Berarti ini memang sengaja dilakukan untuk mencelakai pengendara mobil. Pikir Duta. *Mu*ngkinkah?


"Astaghfirullahal adzim" ucap Duta. Farid bingung. "Kenapa pak?"


"Oh, gak papa, biaya perbaikannya bagaimana?"


"Ditanggung asuransi pak, tapi masih dalam proses juga"


Duta mengangguk. "Suruh polisi terus menyelidiki kasus ini bang, sepertinya memang direncanakan"


"Nggih pak, sendiko dawuh. Oh ya pak, ada pertemuan dengan partai koalisi besok jum'at"


Duta mengangguk. "Atur jadwal bang, usahakan jam 9 malam saya sudah di rumah. Kalau tidak, habis lah kita kena semprot sana sini"

__ADS_1


"Siap pak, saya sudah bernegosiasi dengan partai bahwa pertemuan dilakukan setelah maghrib, jadi nanti molor-molornya jam 7 dimulai"


Duta kembali mengangguk. "Oke makasih bang. Oh ya, nanti makan siang saya ke rumah sakit sebentar. Mau menemani istri USG"


"Nggih pak"


.


Bumi dan Arif yang dalam satu mobil mengobrol tentang pencalonannya. "Pokoknya kita harus menang ya pak" ucap Bumi ambisius.


Pak Arif hanya menjawab singkat "Iya pak"


"Lakukan segalanya, jika itu bisa mengalahkan dan menjatuhkan Duta akan saya lakukan. Dia yang membuat ayah saya menjadi seperti itu. Daerah kita mana saja?"


"Bagian timur dan barat sebagian, dan selatan menjadi bagian kita seluruhnya"


"Oke, sebarkan amplop. Isi dengan nominal 30ribuan pak"


"Pak Bumi yakin akan melakukan hal ini? Tanpa sepengetahuan partai? Dan mengisi dengan nominal sebesar itu?" tanya pak Arif meyakinkan.


"Iya pak, saya yakin akan bisa menang" Pak Arif sebenarnya enggan melakukan hal ini, karena jika ketahuan melakukan money politic jabatannya dalam partai akan terancam. Pak Arif tahu, jika dulu, Duta tak pernah melakukan hal kotor ini. Duta mendapatkan kepercayaan dari masyarakat karena memang baik dan visi misinya sangat bagus. Terbukti hasilnya.


"Lawan kita bukanlah lawan yang mudah pak, Pak Duta adalah orang yang kuat. Bagaimana jika kita kalah? Kita sudah mengorbankan banyak untuk ini"


Pak Arif tetap tak yakin akal licik ini akan membawanya dan Bumi menuju kemenangan. Dia hanya menghela nafas berharap keberuntungan berpihak kepadanya.


.


Riana semakin membaik. Dia sudah tak dirawat lagi, tapi harus kontrol lagi setiap 2 minggu sekali dengan Laras.


"Assalamualaikum dokter cantik" sapanya dengan penuh senyuman diikuti mamahnya Riana.


"Waalaikum Riana sayaaang, apa kabar?"


"Saaaangaaaaat baik, alhamdulillah" jawab Riana semangat.


"Hmmm, begitu kah? Dokter senang mendengarnya"


"Iya dok, dia juga sudah mulai aktif lagi di kampus. Mengejar ketertinggalannya. Meski harus mengulang semester, tapi dia begitu semangat dok" terang mamah Riana.


"Jangan terlalu diforsir ya belajarnya. Kasihan tuh otaknya. Kalau lelah istirahat. Oke?"


"Siap bu Bupati! Dedek bayi apa kabar?" tanya Riana.

__ADS_1


"Baik, debay udah bisa nendang perut dokter lhooo"


"Iya kah?" tanya Riana antusias. Laras mengangguk. "Bisa ketemu sama si galak gak?"


Laras menautkan alisnya. "Maksudnya suster Dila?" Riana mengangguk. "Sebentar coba saya sambungkan bagian bangsal" Laras menelpon bangsal menyuruh Dila untuk datang.


Tak lama Dila masuk ke ruangan Laras. "Eh ada Riana, apa kabar?"


"Baik, kangeeeen"


"Kangen? Sama saya?" tanya Dila bingung karena Riana memeluknya


"Iya suster, aku bawa hadiah untuk suster" Riana mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkan kepada Dila. "Apa nih?"


"Buka aja" Dila segera membukanya. Matanya tak percaya dengan yang dilihatnya. Sebuah pin boneka stich yang dulu ingin dibelinya tapi selalu habis. Dia terharu dengan Riana.


"Makasih ya sayaaang"


"Sama-sama. Terima kasih karena sudah mau menjadi teman untuk aku dulu. Meskipun galak" kata Riana enteng. Mereka tertawa mendengar ucapan Riana.


Duta menemani istrinya untuk melakukan chek USG. "Hai ponakan budheee, nih papahmu mau lihat" kata Citra. Duta tersenyum senang, melihat calon anaknya. "Masih mual muntah gak sih Ras? Taksiran beratnya sih sesuai dengan umur kehamilannya, tapi aku juga kasihan kalau kamu muntah terus" imbuh Citra.


Laras turun dari bed dan duduk di kursi lagi. "Semalam gak tuh Cit, tapi harus melukin abang dulu baru ilang muntahnya"


"Nah ituu, obatnya sudah ketemu ya berarti. Melukin apa nyium keringatnya? Kalau melukin kan gak bisa setiap saat tuh"


"Nyium keringatnya" Citra mengangguk. "Besok pas pak Bupati lagi sibuk-sibuknya ambil baju nya lalu kamu hirup. Hehehe"


"Ide bagus dok" sahut Duta.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2