
Rumah tangga Dirga dan Nina sedang dalam keadaan tak baik-baik saja. Sudah hampir dua tahun lebih mereka menikah tapi tak kunjung mendapatkan momongan. Meskipun mamah Meli ataupun ibu dari Nina tak mempermasalahkan kehadiran cucu, tapi entah mengapa ada saja yang memicu emosi mereka masing-masing.
Bukan hanya itu saja, kadang kondisi keuangan mereka terombang-ambing. Mencukupi kebutuhan ini itu. Beruntungnya mereka tak punya hutang.
Sore itu entah apa lagi yang memicu kemarahan Nina, hingga ia berteriak dan menangis. "Aku capek! Aku jenuh sama keadaan ini!" ucapnya.
"Kamu pikir kamu doang yang capek? Kamu pikir aku gak capek? Banting tulang sana sini demi keluarga kita! Tapi apa?? Pernah kamu menghargai itu semua?? Kamu hanya mengeluh dan mengeluh!" bantah Dirga tak kalah pedas.
"Terus kamu maunya apa?? Cerai??" Dirga tak habis pikir dengan Nina. Bisa-bisanya istrinya berkata seperti itu.
Dirga mengambil tas dan kunci mobil. Meninggalkan Nina dan segala keributan tadi untuk pergi bekerja. Pamit kepada Nina pun tak dilakukannya.
Nina hanya bisa menangis setelah Dirga pergi. Tak lama mamah Meli datang dan melihat Nina menangis.
"Nina sayang! Kamu kenapa?" tanya mamah Meli. Nina segera menghapus air matanya dan menyalami mertuanya.
"Nina gak papa kok mah, sebentar Nina tinggal ke dalam dulu" Nina berlalu ke dalam rumahnya lalu membasuh wajahnya. Nina membuatkan minum untuk mertuanya.
Tak lama dia kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi teh hangat itu. "Silahkan diminum mah, mamah sudah makan? Mamah tadi kesini naik apa?" cerocosnya kepada mamah Meli.
"Terima kasih sayang, mamah sudah makan, mamah kesini naik ojek online, nih mamah baeakan dari resto buat kalian. Dimakan ya? Dirga kerja?"
Nina menerima makanan dari mertuanya. "Iya mah, Aa' jaga"
Mamah Meli bergeser agar lebih dekat kepada Nina. Lalu meraih dan menggenggam tangannya.
"Kalian ada masalah?" tanya mamah Meli hati-hati. Nina gelagapan.
"Ti-tidak mah" jawabnya berbohong. Mamah Meli tersenyum mendengar jawaban Nina yang berbeda dengan raut wajahnya.
"Sayang, dengarkan mamah. Kamu sedang tidak baik-baik saja kan? Berbagilah cerita ke mamah, jika mamah bisa menjadi penengah untuk kalian akan mamah lakukan nak. Coba ceritakan ke mamah"
Nina menghela nafasnya. "Mah, Nina dan Aa' sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Hampir setiap kami bertemu selalu ribut"
"Apa masalahnya?" tanya mamah Meli.
"Maaf mah, Nina merasa hubungan kami ini sangat menjenuhkan. Nina jenuh dengan semuanya. Aa' selalu kerja sana sini tanpa ada waktu untuk Nina, Nina juga kepikiran, sampai saat ini belum juga hamil. Nina takut Aa' akan meninggalkan Nina.
Kondisi keuangan kami juga terkadang surut. Membuat Nina kadang kesal. Uang gaji hanya cukup untuk makan dan keperluan rumah tangga. Bahkan untuk usaha patungan klinik pun sampai saat ini belum terlaksana. Nina capek mah, kapan keadaan membaik??" Nina kembali terisak saat berhasil mengungkapkan uneg-unegnya kepada mamah Meli.
__ADS_1
Mamah Meli memeluk menantunya. "Menangislah nak, keluarkan semua yang kamu pendam" Cukup lama Nina menangis dalam pelukan mertuanya. Setelah dirasa tenang, mamah Meli mencoba melepaskan pelukan itu.
"Mamah hanya bisa memberi nasihat. Orang namanya rumah tangga seperti itu sayang. Kadang berada di fase bahagia kadang ada di fase kalut. Membangun rumah tangga butuh kesabaran, butuh pengorbanan, butuh saling memiliki dan melengkapi. Hidup kita itu bagaikan roda yang terus berputar. Kadang kita ada di atas, kadang juga akan dibawah.
Semua yang kamu khawatirkan adalah tentang rejeki. Rejeki tentang keuangan, rejeki tentang momongan, dan rejeki tentang usaha. Apa kamu lupa? Kita punya Tuhan yang sudah menggariskan semua untuk kita? Tuhan akan mengatur semuanya dengan cara yang tak kita duga sayang. Mencintai adalah hal yang mudah, yang sulit adalah mempertahankannya nak. Tanyakan lagi pada diri kalian berdua, apa tujuan kalian menikah? Lalu bagaimana selanjutnya? Cukupkah sampai disini atau harus terus bertahan?
Mamah akan bicara dengan Dirga. Mamah harap kalian bisa bertahan dari badai ini sayang. Mamah menginginkan kebahagiaan untuk kalian. Sudah jangan menangis. Kamu tidak ke kafe?" tanya mamah Meli.
"Nanti sebentar lagi mah"
Nina menghapus air matanya. Benar yang dikatakan mamah Meli. Yang sekarang ini dia dan Dirga khawatirkan adalah tentang rejeki. Nina mulai berpikir lagi. Dia ingat betul bagaimana pesan ibunya. Rejeki sudah ada yang mengatur, dan rejeki tak akan pernah tertukar.
Mungkin saat ini, masa-masa ini adalah masa tersulitnya bersama Dirga. Tapi ia juga yakin seperti mertuanya bilang, roda kehidupan tak selamanya dibawah. Jadi dia meyakinkan hatinya kembali.
"Hey, jangan melamun. Bersiaplah, mamah akan menemanimu di kafe"
"Mamah gak capek?" tanya Nina.
"Mamah pengen lihat kamu nyanyi. Sudah lama mamah gak lihat kamu nyanyi. Yuk siap-siap" kata mamah Meli. Nina mengangguk dan segera bersiap untuk manggung di kafe.
.
Coba tanyakan lagi pada hatimu, apakah sebaiknya kita putus atau terus? Kita sedang mempertahankan hubungan, atau hanya sekedar menunda perpisahan
"Ga, luangkan waktu untuk istrimu. Intenskan hubungan kalian. Mamah tahu kalian sedang berjuang demi rupiah, tapi jika kamu terlalu mengejarnya dia malah akan semakin menjauh. Biarkan rejeki mengalir apa adanya nak, jangan terlalu memaksakan. Tuhan sudah mengatur porsi masing-masing dari kita Ga"
Dirga merenungi kata-kata mamahnya. Cerita apa saja dia ke mamah?
Nina pamit kepada manager kafe. Mamah Meli dijemput oleh supir mamah Aini. Sedangkan Nina pulang bersama Dirga. Di dalam mobil hanya tercipta keheningan. Sampai tiba di rumahpun mereka tak saling bersuara.
Dirga sudah tak tahan dengan keadaan itu. Dilihatnya Nina sedang menghangatkan makaman sambil melamun. Dia memeluk istrinya dari belakang. Nina terperanjat kaget.
"Aa' bikin kaget saja!" katanya sambil mencoba melepaskan pelukan itu.
"Jangan dilepaskan. Biar seperti ini. Sebentar saja"
Nina membiarkan pelukan itu. Mereka saling diam. Tapi hati mereka sama-sama berdesri. "Jangan minta cerai dari Aa'. Aa' gak sanggup kalau harus kehilangan kamu. Maaf kalau Aa' kurang perhatian terhadapmu. Aa' akan berusaha supaya keuangan kita membaik sayang. Maaf membuatmu jenuh dengan keadaan ini"
Air mata Nina lolos tanpa seleksi. Jatuh begitu saja membasahi pipi kenyalnya. "Nina juga minta maaf A', maaf jika Nina kurang sabar dengan keadaan ini"
__ADS_1
Dirga mengeratkan pelukannya. "Aa' yang salah. Aa' sebagai kepala rumah tangga belum bisa membahagiakanmu. Kurangilah stress mu. Mari kita bersama pertahankan rumah tangga kita"
Nina mengangguk dan mengukir senyum di bibirnya.
.
Dua bulan setelah pertengkaran mereka mereda Nina merasa sangat pusing. Dari subuh dia sudah merasa badannya meriang dan ingin muntah.
Dirga memeriksa keadaan istrinya. Melihat kalender yang selalu Nina lingkari saat datang bulan.
"Kamu sudah menstruasi?" tanya Dirga meyakinkan sambil menghitung lamanya waktu di kalender itu.
"Belum A', harusnya minggu kemarin. Tapi sampai saat ini tak kunjung datang mens"
Dirga mengambil kunci mobil. "Tunggu disini sampai Aa' kembali. Aa' akan ke apotek sebentar"
Nina mengangguk. Dia kembali terpejam. Tak lama Dirga kembali membawa testpack. Nina heran dengan yang dibawa Dirga. Bukannya obat malah testpack.
"Ayo pakai" kata Dirga. "Kamu sudah telat mens 6 minggu sayang. Semoga garisnya dua"
Nina harap-harap cemas, tapi dia mencoba meyakinkan dirinya. "Aa'!" teriaknya dari dalam toilet. Dirga segera membuka kamar mandi itu.
"Kenapa sayang??" Nina memeluknya. "Tuhan menitipkannya untuk kita A', aku hamil!"
"Oh syukurlah, terima kasih Tuhaaan, engkau memberi anugrah paling indah untuk kami. Jagalah calon bayi kita sayang"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1