Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Klinik Bersama (THE END)


__ADS_3

Farid sudah menjadi wakil kepala dinas pekerjaan umum kabupaten Semarang. Mengharuskannya bolak balik Magelang Semarang. Ia tak bisa memboyong anak istrinya karena ibunya pasti akan kesepian.


Mau tak mau dia yang harus mengalah untuk tetap pulang ke rumah. Pengajuan izin klinik sudah rampung. Dirga ditunjuk sebagai pimpinan Klinik Bersama.


Nantinya klinik itu akan melayani pemeriksaan umum dan juga spesialisasi. Citra dan Laras ikut bergabung dalam kerjasama Klinik Bersama itu. Ais sebagai pemilik sekaligus dokter pelaksana juga ada disana.


Peresmian Klinik Bersama itu akan diadakan di akhir pekan ini. Hanya pengajian kecil-kecilan. Semoga membawa berkah untuk ke depannya.


Seperti biasa tante Meli dan tante Rum ditunjuk sebagai kepala urusan dapur. Hubungan tante Meli dan kakak-kakaknya pun sedang dalam proses membaik.


Hari yang dinanti pun tiba. Peresmian Klinik Bersama. Selesai dilakukan pengajian, Dirga sebagai pimpinan Klinik Bersama ditunjuk sebagai pemotong pita peresmian tanda jadi.


"Hari ini, saya berdiri disini didampingi pemilik Klinik Bersama akan meresmikan klinik ini. Semoga visi dan misi Klinik Bersama bisa kita wujudkan" Dirga menggunting pita itu dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari semuanya.


Tak menyangka, klinik patungan itu, meskipun Ais dan Farid lebih banyak iurannya, jadi juga. Dirga berhasil membuat usaha meskipun sahamnya di klinik itu hanya beberapa persen. Tapi ia cukup bangga.


"Acara selanjutnya adalah makan-makan. Silahkan para tamu undangan menikmati sajian yang ada. Ini semua dimasak oleh RuLi catering. Jika ada yang punya hajatan atau acara-acara penting bisa memesan, sekalian promosi hehehe" imbuh Dirga.


Para tamu yang ada menikmati makanan itu. Cita rasanya tak perlu diragukan lagi. Sangat enak.


"Kamu mau dibikinkan klinik psikiater sendiri gak mah?" tanya Duta sambil menyuapi Aylin dan Adel.


"Gak ah pah, enakan sama-sama begini. Lebih rame" sahut Laras sambil menyuapi Archee dan Amaris.


Duta mengangguk. "Ya sudah kalau begitu" Laras berpikir. "Bikinkan aku tempat penyewaan komik saja pah, mamah lebih suka itu daripada klinik"


Duta tersenyum "Siap ibu bupati!" katanya sambil memberi hormat.


"Mamah pah, bukan ibu bupati lagi. Kan papah sekarang bukan bupati lagi. Kan papah sekarang jadi petani lele" protes Adel.


"Iya-iya papah salah" jawab Duta. Laras tertawa mendengar anaknya protes terhadap papahnya.


"A squad, kalian setuju gak kalau papah jadi gubernur?" tanya Duta lagi. Semua anak-anak itu saling toleh.

__ADS_1


"Gubernur apaan pah?" tanya Amaris. "Gubernur itu yang memimpin provinsi, kakaknya bupati lah kalau kalian masih gak mudeng" jelas Duta.


"No!" jawab mereka kompak, membuat Duta dan Laras sampai tersentak kaget.


"Kenapa sayang? Kenapa papah gak boleh jadi gubernur?" tanya Laras.


"Papah itu lebih keren kalau jadi petani lele mah" jawab Archee.


"Keren?" tanya Laras dan Duta.


"Iya, keren, karena papah bisa nangkap lele. Archee aja belum bisa kok. Kalau papah jadi bupati lagi gak keren. Karena cuma bisa nulis doang. Archee sama semuanya juga bisa kalau itu. Betul kan adek-adek abang?"


"Betul betul betul" sahut yang lain. Laras tertawa mendengar penuturan Archee. Sepele sekali alasannya. Namanya juga anak-anak.


"Haaaaahhh, dasar kalian ini. Tapi papah memang lebih senang jadi petani lele sih. Karena banyak waktu buat kalian" Kata Duta sambil tersenyum dan mencium pipi Laras.


"Papah! Jangan cium-cium mamah dong! Itu mamah kami!" protes Aylin


"Dikit doang masa gak boleh sih nak?"


"Iya deh iya mamah kalian. Sungguh malang nasibku, ingin mencium istri sendiri pun tak mampu. Dasar pengganggu kecil!" gumamnya pelan sambil menyuapi anak-anaknya. Laras yang masih bisa mendengar gumaman Duta hanya menahan tawa.


"Makanya, dulu itu jangan terlalu posesif sama istri. Nurun kan ke anak-anaknya?"


Duta hanya memanyunkan bibirnya. Hilal dan Habib datang bersama Shanum mendekati mereka. "Papah, mamah, mau maem juga" kata Shanum.


"Shan mau makan? Mas Hilal dan dek Habib mau makan juga?" tanya Laras.


Mereka bertiga mengangguk. "Oke, mamah dan papah suapkan ya. Pah, ambilkan makanan lagi dong. Mereka mau makan nih"


"Malu mah, daritadi bolak balik ambil makanan melulu" protes Duta.


"Ih, si papah, ini anak-anak lho yang mau makan"

__ADS_1


"Kemana para orang tua mereka? Aku pun lapar"


"Udah deh pah, buruan. Nanti papah disuapin mamah deh. Buruan ambilin lagi" pinta Laras. Akhirnya Duta mengalah dan mengambilkan makanan itu.


Farid dan Ais sengaja menyuruh anak-anal itu makan bersama A squad dan minta disuapi oleh Laras dan Duta.


Duta kembali dengan makanan yang sangat banyak di piring itu. Hingga sebagian tamu undangan melihatnya heran.


"Pak Duta makannya buanyak juga ya, sampai penuh piringnya" bisik-bisik para tamu undangan itu sampai ke telinga Duta.


"Pak, bu... ini bukan untuk saya, tapi untuk anak-anak saya dan keponakan saya. Hehehe" Duta menjawab tatapan mereka.


.


Satu bulan berlalu, Klinik Bersama mulai merintis untuk perkembangannya. Mulai menjalin kerjasama dengan pihak asuransi kesehatan, ikut dalam berbagai acara relawan. Tujuannya adalah untuk mempromosikan Klinik Bersama itu.


Sebuah strategi pemasaran yang apik, Farid mempercayakan semuanya kepada Dirga sebagai pimpinan klinik. Semoga Klinik Bersama bisa terus berkembang dan maju.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Hmm, akhirnyaaaa, hampir dua bulan novel ini berakhir. Bonus chap? Mau banget? Season 2? Boleeeehhh, tapiiii, ada tapinya niiiihhh. Tunggu yang ketiga rilis dulu. Tulis komen yang buanyaaaaakkkk heheheh

__ADS_1


Nantikan novel ketiga saya, "Cinta Karena Mandat"


__ADS_2