Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Sampai Lupa


__ADS_3

Laras kembali memakai maskernya dan berjalan bergandengan dengan suaminya. "Kita ke resto waktu kencan pertama kita dulu ya. Sudah lama kita gak kencan" Ajak Duta kepada Laras.


"Iya, terserah abang. Laras ikut saja"


Mereka langsung masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan rumah sakit. Resto dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Resto yang mereka kunjungi pertama kali kala masih pendekatan.


Resto yang mereka kunjungi saat sedang marahan. Duta sedang mempersiapkan kejutan untuk istrinya, hari ini, adalah hari spesial untuk istrinya, hari ulang tahun istrinya.


Sengaja Duta tak mengucapkannya pagi tadi, karena ingin memberikan kejutan untuk istrinya. "Ay, hari ini hari apa sih?"


"Senin abang, masa iya lupa sih?"


"Hehehe, karena cemburu abang sampai lupa hari"


"Dasar!" Laras mencubit perut Duta. Tak lama mereka sampai di resto itu. Laras masih tak curiga, semua berjalan sesuai dengan rencana Duta.


Mereka duduk di kursi yang dulu pernah mereka duduki. Mengenang yang lalu dan sama-sama tersenyum. "Makin manis aja sih kamu Ay, makin klepek-klepek abang sama kamu"


"Hahaha, udah sih bang jangan ngegombal terus"


Ais-Farid, Amira-Ari, Umi-Abi datang dengan membawa kue ulang tahun, puding, dan juga donut. "Barakallahu fii umrik, Larasss" ucap mereka kompak.


Laras sampai kaget dengan kehadiran mereka. "Masyaallah, eh, iya ya hari ini aku milad? Kok sampai lupa sih?"


"Barakallahu fii umrik, sayang. Semoga Allah mensegerakan yang menjadi hajat kamu. Tetap menjadi istri sholeha. Aamiin"


"Aamiin, makasih sayang" ucap Laras tersenyum. Duta mengecup bibirnya sekilas. Membuat semua mata terbelalak. Wajah Laras yang memerah tak bisa disembunyikan lagi.


"Abang!" ucapnya sambil malu-malu.


"Gak usah malu-malu gitu mbak Laras, kita semua sudah dewasa kok. Hahahaha" celetuk Amira.


"Barakallahu fii umrik anak abi dan umi, hari spesial untuk dia sendiri malah lupa" ucap Abi dan umi memberi pelukan dan kecupan di kening Laras.


"Hehehe, beneran gak ingat Laras bi, mi, ooooh, pantesan abang tanya hari ini hari apa. Abang ih"


"Apa? Abang juga ingin ngasih surprise ke kamu. Kan kamu dulu ngasih surprise ke abang"


"Iya ya, sampai ada yang pulang dianterin segala. Trus akhirnya halal"


"Ah, bu Laras bisa saja. Jadi malu saya bu" jawab Farid yang merasa sedang disindir oleh Laras.


"Hahaha, merasa banget kamu mas? Laras kan gak nyindir kamu" sahut Ais.

__ADS_1


"Ah kamu yank, kan memang malam itu kamu tak antar pulang. Jangan-jangan kamu lupa moment itu lagi?"


"Iya lupa, apanya yang mau diinget, orang kamu bentak aku kok. Sumpah galak banget" Ais geleng kepala mengingat kejadian itu.


"Iya kah?" tanya Ari. "Seorang Farid bisa ngamuk? Kamu apain dek?"


"Iya, sampai...." Farid membekap mulut Ais. "Weees, gak sah dibahas.... (Sudaaaah, gak usah dibahas) Yok pesen. Pak bos yang bayar, hehehe"


"Silahkan pesan apapun" Duta mempersilahkan semuanya memesan. Laras tersenyum senang kepada Duta.


"Makasih ya abang" kata Laras.


"Sama-sama sayang, minta kado apa dari abang?" Laras menggeleng. "Abang kado dari Allah untuk Laras. Cukup selalu memperhatikan Laras saja, membuat Laras bahagia"


Duta meraih tangan Laras dan mengecupnya. "Abang cuma mampu ngasih ini" Duta memberi kode kepada Farid untuk membawa kadonya.


Farid segera mengambilnya di mobil. Sebuah bucket uang, dengan kisaran 10 juta. Kotak perhiasan, dan tas bermerk.


Laras memeluk suaminya haru. "Laras gak butuh itu semua, Laras hanya butuh kamu. Tapi kalau kamu maksa ya Laras terima. Hahaha"


"Itu semua belum cukup untuk membayar air mata yang selalu tumpah dari mata kamu sayang. Abang sayang sama kamu. Maafin abang kalau belum bisa sepenuhnya membahagiakanmu"


"Selalu abang perhatikan dan limpahi kasih sayang udah cukup untuk Laras bahagia bang"


"Duuuuh, romantis beyuuuut" celetuk Amira. Semua tertawa. Tak lama makanan mereka datang dan mereka mulai menyantapnya.


.


Duta yang baru saja gosok gigi tersenyum melihat istrinya, seakan tak percaya jika hari ini hari istimewanya.


"Kenapa sih ngelihatin kalender melulu? Mending ngelihatin abang dan adik abang" Laras tertawa saat suaminya berkata seperti itu.


"Yakin cuma minta dilihat?" godanya.


"Kalau mau lebih silahkan! Abang akan dengan senang hati memberikannya kepadamu, sayangkuuuu" ucap Duta kegirangan.


"Hahaha, abang ini. Selaluuuuu itu yang dibahas"


"Biarin, sini!" Duta merentangkan tangannya menyuruh Laras berada di dekapannya. Dengan senang hati Laras memeluk pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Duta menjadikannya guling. Memeluknya sangat erat. Hingga Laras engap.


"Abang, engap!" protes istrinya.


"Abang gemes sama kamu. Dokter yang tadi siapa namanya?" Laras menggeleng.

__ADS_1


"Gak tahu, udah gak usah bahas itu. Nanti panas sendiri"


"Awas aja kalau dia berani godain kamu, abang suruh putusin tuh kontrak kerjanya"


"Eh, kok gitu? Jangan begitu dong sayang. Udah ah, Laras malas bahas itu. Bahas yang lain saja"


Duta diam mencari topik pembahasan. "Menurutmu program bayi tabung gimana?" Laras diam mendengar pertanyaan itu.


"Abang sudah tidak sabar ingin segera punya anak ya?" kini Laras menjawab pertanyaan Duta dengan pertanyaan lagi.


"Iya"


"Laras inginnya yang alami bang, sesuai kehendak Allah. Bisakah kita tunggu sebentar lagi?" Duta mengangguk.


"Abang hanya tidak ingin kamu mendengar ucapan-ucapan seperti yang mamah lontarkan kemarin. Hati abang rasanya perih kalau melihat kamu nangis. Apalagi kalau itu disebabkan oleh orang-orang terdekat kita, atau gara-gara abang. Perih, Ay"


"Doakan tidak ada yang berkata seperti itu lagi. Laras juga sudah rindu dengan kehadiran seorang malaikat kecil di tengah-tengah kita"


"Kita usaha lagi yuk, adik abang sudah kangen beraaat" Kata Duta yang sudah siap untuk mengunci pergerakan Laras.


"Kangen berat? Hahaha, seperti satu tahun tidak bertemu ya bang? Padahal tiap hari tuh"


Duta tersenyum sambil menghujani wajah istrinya. "Tetap saja, kamu itu bikin kangen, tiap ketemu hawanya pengen nerkam kamu terus" jawabnya.


"Hahaha, beri Laras hadiah teristimewa dalam rahim ini bang" Mata mereka saling bertemu. Saling tersenyum. Duta mulai mencium lembut bibir istrinya, semakin lama dan semakin menjelajahi rongga mulut. Saling bertaut.


Turun ke bawah menikmati curuk leher, meninggalkan jejak kepemilikan di setiap jengkalnya. Semakin turun semakin membara. Hingga terjadi lagi penyatuan cinta diantara keduanya. Desahan demi desahan lolos dari keduanya. Saling membutuhkan, saling berhasrat, dan saling mendamba.


Semoga harapan itu segera menjadi nyata. Menambah kebahagiaan yang tercipta. Duta mengakhirinya, mengecup kening istrinya.


"Makasih sayang" kata Duta setiap habis bercinta.


"Sama-sama sayang" Laras kembali memeluk suaminya, dan tertidur dalam kenyamanan yang sangat amat.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2