
Duta dan Laras melupakan sejenak tentang keinginan mereka memiliki anak lagi. Mereka menyerahkan semua kepada Allah, jika diberikan amanah lagi mereka siap, jikapun tidak mereka tak mempermasalahkannya.
Kehidupan mereka jalani seperti biasa. Melakukan aktivitas seperti biasanya. Duta sebagai tukang ternak lele dan tukang jual meubel, dan Laras sebagai ibu rumah tangga merangkap jabatan sebagai dokter.
Duta dan Laras mendidik anak-anak mereka dengan bekal ilmu dan agama. Karena dua hal itulah yang tak akan pernah habis.
Malam itu, Laras menerima sebuah surat yang diantarkan oleh bukan sembarang orang. Surat tersebut diantarkan oleh pak Gubernur yang menjabat kala itu.
Laras segera menelpon suaminya untuk segera pulang. "Assalamualaikum, pah, papah dimana?"
Waalaikum salam mah, papah masih di kantor, sebentar lagi pulang kok sayang
"Di rumah ada pak Gubernur, ingin bertemu dengan papah. Ada hal penting yang harus beliau sampaikan ke papah" terang Laras.
Pak Gubernur ada di rumah kita?
"Iya pah, papah pulang sekarang ya pah. Gak enak buat beliau menunggu"
Iya iya, papah pulang sekarang. Sampaikan kepada pak Gubernur papah sedang dalam perjalanan.
"Iya sayang, hati-hati ya pah. Assalamualaikum"
Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
Laras segera kembali ke ruang tamu dan menyampaikan kepada pak Gubernur bahwa suaminya akan segera datang. "Tunggu sebentar ya pak"
"Iya bu, saya tidak sedang buru-buru. Lagian, ini lebih penting bu. Surat cinta presiden merupakan amanah penting yang harus saya laksanakan. Staf kepresidenan langsung mengirimkan email ini ke saya. Dan setelahnya, saya ditelpon sendiri oleh pak presiden" Laras hanya tersenyum gusar. Pikirannya kemana-mana. Dia takut jika selama kepemimpinan suaminya, sang suami melakukan kesalahan yang tak terduga.
A squad baru saja kembali dari rumah eyangnya. Mereka melihat ada tamu. Mereka menyalami tamu itu. Membuat pak Gubernur takjub. Bagaimana tidak? Biasanya anak seumuran A squad pasti akan ricuh ketika ada orang asing di rumah mereka, tapi ini tidak.
"Si kembar 4 ya, siapa saja ini namanya? Bapak ingin tahu dong?" kata pak gubernur.
"Saya Archee, ini Aylin, Amaris, dan Adelia. Bapak siapa namanya?" jawab Archee.
__ADS_1
"Nama bapak, Ginanjar"
"Ohh, bapak mau ketemu papah?" tanya Archee lagi. Laras memang membiarkan anak mereka bercengkrama dengan pak Gubernur, mengajarkan mereka untuk bersosialisali dan belajar komunikasi.
"Iya, bapak membawa surat cinta dari pak presiden"
Para A squad saling toleh seakan tak mengerti maksud dari pak Gubernur. "Surat cinta itu seperti tanda kasih sayang kan mah?" tanya Adel. Laras mengangguk.
"Berarti pak presiden sayang dong sama papah. Kenapa gak pak presiden saja yang kesini? Malu yaaaa? Cieee papah ditaksir sama pak presiden" Laras mendelik mendengar Adel berkata begitu. Entah dari mana anaknya mendapatkan kata-kata itu.
"Heheheh, maafkan anak saya ya pak? Mereka kadang suka aneh-aneh kalau bicara" ungkap Laras menahan malu. Pak Gubernur malah tertawa.
"Namanya juga anak-anak bu, mereka masih polol. Iya Adel, papah kamu ditaksir sama pak presiden" jawab pak Gubernur. Duta datang, Laras membawa A squad ke ruang bermainnya.
Duta menyalami pak Gubernur, mereka berbasa-basi sebentar lalu pak Gubernur menjurus ke intinya. "Jadi, maksud kedatangan saya kemari adalah menyampaikan amanah dari pak presiden untuk jenengan, pak Duta"
Pak Gubernur menyodorkan surat itu. Duta menerimanya dan membacanya. "Ada reshufle kabinet pak, dan bapak terpilih menjadi kandidat untuk menjabat sebagai menteri pariwisata dan perekonomian kreatif. Saya ditelpon sendiri oleh pak Presiden untuk segera menyampaikannya"
"Terima kasih pak Gubernur sudah meluangkan waktu untuk datang ke rumah saya menyampaikan surat yang begitu membuat perasaan saya tak karuan pak, senang ada bimbang juga iya" pak Gubernur tersenyum.
"Saya paham pak, jenengan tidak mau maju jadi gubernur tapi malah terpiluh menjadi kandidat menteri. Hahahaha, saya ikut senang pak, karena pilihan pak Presiden pasti bukan orang sembarangan. Mereka yang mendapatkan surat cinta seperti bapak insyaallah orang yang amanah"
"Aamiin aamiin aamiin, insyaallah. Semoga jalannya dimudahkan Allah, pak. Karena saya sudah berjanji untuk mencurahkan waktu saya hanya untuk keluarga" pak Gubernur mengangguk.
"Ya sudah pak, karena amanahnya sudah jenengan terima sendiri, saya pamit undur diri. Tak enak ini sudah malam"
Duta mengangguk. Pak Gubernur bangkit dari duduknya, Duta mengantarkannya hingga depan pintu. Mereka bersalaman dan pak Gubernur meninggalkan kediaman Duta.
Laras membiarkan anak-anaknya bermain dan ia menemui suaminya. Ia membaca surat itu dan mereka sama-sama terdiam. Laras membuka suaranya. "Laras ikhlas, kita pindah ke Jakarta. Mamah sudah ada temannya, jangan risaukan abi dan umi, mereka bisa berkunjung untuk menjenguk cucu mereka"
Duta melihat dalam netra istrinya. "Lalu pekerjaanmu? Bisnis kita?"
"Laras bisa resign seperti yang lalu, fokus kepada anak-anak kita sayang. Bisnis kita seperti saat abang menjabat sebagai bupati, kita percayakan sama tante Rum untuk urusan lele, dan Samsudin untuk urusan meubel" Laras menggenggam tangan suaminya. "Kodrat Laras sebagai istri dari abang adalah memprioritaskan abang setelah Allah, baru orang tua Laras. Laras ikuti kemanapun abang pergi. Bukan sembarang orang kan yang dapat surat cinta presiden?"
__ADS_1
Duta tersenyum dan memeluk istrinya. "Terima kasih sayang. Mamah memang mengirimkan abang bidadari untuk menjaga dan mendampingi abang. Abang 3 hari lagi harus bertemu RI 1, gak papa kan kalian abang tinggal?"
Laras memukul pelan dada suaminya. "Gombal! Umi yang mengirimkan malaikat pelindung bagi Laras. Ya gak papa, nanti Laras persiapkam semua keperluan abang"
A squad turun dari tempat bermainnya melihat papah dan mamahnya sedang berpelukan.
"Papah! Mamah!" teriak mereka kompak. Laras dan Duta segera melepas pelukan itu, karena mereka tahu akan bagaimana nantinya.
"Hish! Papaaaah, jangan peluk-peluk mamah dooong" Archee mulai merunyak. Duta memutar bola matanya malas. "Ini mamah kita semua bang Archee" Duta membalas ucapan Archee.
"Mamahnya papah itu eyang Aini pah, ini mamahnya kitaaa" Amaris menunjuk dirnya dan para saudaranya.
"Mbuh lah nduk, sekarepmu, pek o pek o mamahmu kuwi (Gak tahu lah nak, terserahmu, ambil ambil mamahmu itu)" Mereka mendusel di tengah duduk antara Laras dan Duta.
Aylin tak dapat tempat duduk. "Pindah sana paaah"
"Allahu akbaaar, kalian iniii, posesif banget sih sama mamah kalian?"
Laras hanya tertawa melihat tingkah anak mereka yang selalu cemburu ketika papahnya mendekatinya. "Makanyaaaa, jadi orang juga jangan posesif abis! Nurun kan ke anak-anak? Rasakan lah!" Duta hanya geleng kepala menanggapinya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1