
Laras keluar dari rumah sakit bersama Duta, mertua, dan orang tuanya. Farid dan Ais juga ikut. Sekalian menjemput pak Didit di rumah Duta.
Laras senang bisa kembali ke rumahnya, meskipun keadaannya sudah berbeda. Dia dan Duta sedang menata hati, mencoba mengikhlaskan yang telah terjadi, mungkin belum menjadi rezeki.
Pak Didit dan pak Harun yang saat itu sedang di teras bingung dengan kedatangan rombongan itu.
"Assalamualaikum" ucap mereka semua. "Waalaikum salam" jawab pak Didit dan pak Harun.
"Kok ramai sekali pak?" tanya pak Didit kepada Duta. "Iya pak, istri saya baru keluar dari rumah sakit. Keguguran calon bayi kami" terang Duta.
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un" ucap pak Didit dan pak Harun kompak. "Yang sabar bu Laras"
Laras tersenyum "Iya pak, terima kasih dukungannya"
"Ayo masuk" ajak Duta. Mereka semua masuk. Laras juga ikut mengobrol disana, dia tak mau hanya berdiam diri yang bisa membuatnya menangis lagi.
Sedang di mobil lain, Amira membuang wajahnya menghadap arah luar, tak bicara sepatah katapun terhadap Ari. Membuat Ari bingung harus bagaimana.
Tak lama mereka sampai dirumah, Amira langsung masuk ke kamarnya. Tidak keluar lagi setelah itu. Mamah dan Papah Ari bingung.
"Kalian ada masalah?" tanya mamah. Ari hanya menggeleng.
"Ri, Farid bilang malam ini papahnya Amira mau menjemputnya dan dibawa ke Pati lagi. Kamu gak papa?" kini papah pun bertanya.
Ari menggeleng lagi. "Kamu ini keras kepala Ri, sudah tahu suka, kenapa malah terus mengalah dengan keadaan. Cukup yang dulu kamu jadikan pelajaran, jangan malah menyerah dengan keadaan. Kejar cinta kamu" kata papah.
Ari hanya diam saja. "Suruh Amira makan. Sudah tahu dia mau pulang, malah dibikin begitu. Tanggung jawab sana" hardik mamah.
Ari msngambilkan makanan untuk Amira, mengetuk pintu kamarnya. "Mira, makan dulu, sebelum papah kamu datang" tak ada sahutan. "Aku masuk ya" Ari masuk dan dilihatnya Amira sedang tidur. Ari meletakkan nampan itu dan duduk di tepi ranjang Amira.
"Andai kamu tahu, aku pun ingin menahanmu disini. Di rumah ini, menjadikanmu milikku, tapi aku hanya pecundang, aku takut akan kegagalan" kata Ari.
Amira membuka matanya. Mengubah posisi berbaring ke posisi duduk. "Pria bodoh! Terus saja sakiti hatimu sendiri. Mau sampai kapan seperti ini?"
Ari tersenyum kecut. "Carilah pria cerdas, jangan jatuh hati sama pria bodoh ini"
Ais, Farid, dan Duta datang bersama pak Didit dan pak Harun ke rumah keluarga Wibisana. Mereka disambut sendiri oleh pak Wibi dan istrinya. Amira sejak tadi sudah mengepak barangnya. Lalu dia dipanggil oleh Ais.
"Sstt, ngapain berduaan di kamar? Yang ketiga setan lhoh" ucap Ais sambil membuka pintu.
"Iya kamu setannya!" Ari segera keluar dan berkenalan dengan pak Didit.
"Mbak Ais, terima kasih sudah dipinjami kamar. Maaf kalau selama disini saya merepotkan"
"Ih mbak Mira apaan sih? Sedih banget ninggalin kamar ini? Atau ada yang lain yang bikin sedih?" Amira hanya tersenyum.
__ADS_1
"Kamu sama mas Ari gimana mbak?" Amira menggeleng. "Dia yang nyuruh saya pulang sama papah. Mungkin tidak ada rasa sama saya, karena dia menyuruh saya dan dirinya sendiri untuk sama-sama meyakinkan perasaan ini"
Sumpah mas Ariiii, pengen tak toyor kepalamu mas! Heran aku! Pake dengkul sih mikirnya. Hisssh. Geram Ais di dalam hati. Amira keluar dengan kopernya.
"Sudah siap?" tanya pak Didit. Amira mengangguk. "Ayo pah, nanti terlalu malam sampai Pati nya" Mereka berpamitan. Ari hanya bisa memandangi kepergian Amira dan papahnya itu. Mereka diantar oleh supir Duta ke Pati.
Di dalam perjalanan Amira yang duduk di kursi belakang bersama papahnya hanya diam sambil memandang ke arah luar jendela. Pak Didit heran dengan anaknya.
"Kamu kenapa nduk? Gak senang papah bebas? Atau masih kecewa dengan papah?" Ucap pak Didit sambil meraih tangan putrinya. Amira tersenyum dan mengalungkan tangannya ke lengan papahnya dan bersandar di bahu papahnya.
"Senang pah"
"Lalu kenapa dari tadi kamu hanya diam?"
"5 bulan lalu, aku ke Magelang bersama papah untuk menghadiri pernikahan pak Duta dan mbak Laras. Dan saat itu aku harus mengubur perasaanku dalam-dalam. Dan setelah itu saat ini, aku ke Magelang dan harus mengubur lagi perasaanku terhadap seseorang lagi"
"Siapa? Siapa yang berhasil membuatmu galau begini?"
"Dia seorang duda" pak Didit menautkan alisnya. "Duda? Berarti dia bukan duda sembarangan dong, sampai kamu benar-benar merasa kehilangan seperti ini, boleh papah tahu siapa?"
"Anaknya pak Wibi. Mas Ari pah"
"Lalu kenapa tidak kamu ungkapkan?"
"Sudah, tapi dia menyuruhku untuk memastikan perasaan ini. Mungkin dia pikir aku hanya kagun sesaat, tapi aku sungguh menggila tanpanya pah" pak Didit diam sebentar. Terlintas di pikirannya sebuah ide.
"Papah yakin ini akan berhasil?"
"100 persen yakin"
.
Hari berlalu, sudah 3 hari berlalu. Dan dirinya benar-benar merindu. Sabtu pagi Ari sengaja kerja dari rumah. Dia malas kemana-mana. Sebuah pesan singkat masuk.
Amira : malam ini aku dilamar oleh seseorang. Hatiku masih tertambat di kamu. Jika kamu menginginkan aku bersama orang lain, tolong datanglah ke Pati dan kembalikan hatiku padaku. Agar aku tak berharap terlalu dalam terhadapmu. Anggap aku sebagai sahabat yang meminta ditemani saat akan dilamar seseorang.
Dada Ari bagai ditembak oleh peluru panas. Sakit sekali. Dia bingung harus bagaimana. Gusar, menutup dan membuka laptop itu, membaca dokumen, tapi tetap. Pikirannya sedang tak fokus disana. Pikirannya masih tertuju pada pesan Amira.
Segera dia mengambil ranselnya dan membawa pakaian 1 stel. Dia berpamitan kepada papah dan mamahnya mau pergi ke Pati.
"Bawa calon mantu mamah pulang kesini" teriak mamahnya saat Ari akan masuk mobil. Ari tersenyum dan melambai. Dia meminta alamat rumah Amira kepada Farid.
Ari melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya gusar, gundah gulana. Dia hanya berhenti di pom bensin untuk buang air kecil dan isi bensin. Bahkan urusan perut pun tak dipedulikannya. Pikirannya hanya dipenuhi dengan Amira.
Perjalanan yang harusnya memakan waktu sekitar 3,5 hingga 4 jam itu hanya ia tempuh 3 jam saja. Entah bagaimana cara Ari menyetir, tapi dia tiba dengan selamat di alamat yang dituju.
__ADS_1
Pengawal pak Didit yang sudah diberitahu jika ada orang bernama Ari Wibisana langsung dipersilahkan masuk. Ari menunggu sang pemilik rumah muncul. Tak berapa lama, pak Didit turun dari atas.
"Mas Ari ya?" tanya pak Didit. Ari menyalami pak Didit dan mencium tangannya. Lalu pak Didit mempersilahkan duduk kembali.
"Diminum nak" Ari mengangguk dan meminumnya. Dia mencari keberadaan Amira, tapi tak kunjung muncul.
"Amira sedang mandi. Tunggu sebentar ya. Papah dengar nak Ari pengusaha, benar?" Ari mengangguk.
"Benar pak, Amira yang cerita ya pak?
"Panggil papah saja, iya, Amira yabg cerita ke papah. Di bidang apa nak?"
"Di bidang perhotelan pah"
"Waaah, hebat ya, masih muda sudah punya bisnis perhotelan"
"Itu milik orang tuan saya pah, saya hanya dititipi saja. Karena papah sudah tidak sanggup lagi jika harus berkutat dengan dokumen"
"Ya tetap saja hebat. Papah mau menawarkan kerjasama nih sama kamu. Berat sih, tapi banyak untungnya"
"Kerjasama? Banyak untungnya? tapi berat?"
"Iya, kamu mau?" Ari tampak bingung. Kerjasama apa yang dimaksud oleh pak Didit.
"Eh, sudah datang kamu mas?" sapa Amira yang turun dari lantai atas.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Hay guys, othor sedih nih, 3 episode othor yang minta hak, aku milikmu, dan malam pertama disuruh merevisi. Kenapa baru sekarang minta revisinya? Kenapa gak dari dulu pas othor nyerahin? Jengkel, membuat mood othor rusak. Astaghfirullah.
Bagi readers kesayangan othor, jika kalian menganggap karya othor terlalu gimana silahkan tulis di kolom komentar aja. Biar jadi bahan perbaikan buat othor. Othor gak mau su'udzon ada yang lapor atau gak, masalahnya, kalau harus revisi jalan ceritanya bisa gak nyambung. Paham ya sampai sini.
Kalau menurut kalian karya othor terlalu gimana silahkan leave, daripada othor kena teguran dari pihak MT. Merevisi sebagian besar jalan cerita itu susah lho geng. Bisa2 gak nyambung dengan bab selanjutnya.
__ADS_1
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Mau nulis jadi bener2 gak mood. Kasih semangat buat othor dong. Itulah kenapa othor minta komen yang giat, karena komen kalian itu bagai suntikan semangat buat othor. Komen kalian itu juga bisa jadi bahan cerita bagi othor pas otak lagi bener2 mampet. Maaf ya jadi curcol. Beneran deh, othor sweeediiiihh.
Happy reading all 😥😥