Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Pelantikan


__ADS_3

Para tamu sudah pulang, tinggal keluarga dan teman-teman yang masih ada di rumah Duta.


"Semuanya, terima kasih ya, sudah dibantu. Tanpa kalian mungkin gak ada jamuan makan malam"


"Santai Dut, sengaja kita bantuin kamu, lumayan, perut kenyang kantong aman. Hehehe" kata Wisnu


"Woooooo" sahut semuanya.


"Hahaha. Kalian ini tetap saja ya, kalau masih kurang ambil bawa pulang"


"Ah, jadi gak enak kita Dut, tapi kalau kamu maksa, ya kita bungkus, wkwkwkw" sahut Candra.


"Pokoknya, aku ngucapin terima kasih ya, besok aku pelantikan, doakan semuanya lancar"


"Aamiin" sahut semuanya.


"Ya sudah, pulang yuk, sudah malam. Kasihan anak-anak kita tinggal" ucap Shila dan semua mengangguk. Mereka berpamitan dengan Duta dan Laras selaku tuan rumah.


Setelah semua pulang, Laras dan Duta segera masuk ke kamarnya. Laras melepas hijabnya dan membersihkan wajahnya. Lalu dia berlalu ke toilet untuk menggosok gigi dan berbaring di samping Duta.


Duta meletakkan ponselnya dan membelai rambut Laras. "Besok abang dilantik ya Ay? Abang merasa ini seperti mimpi sayang"


Laras tersenyum "Gak sayang, abang gak mimpi. Ini kenyataan. Inilah balasan dari Allah, karena kemarin abang ikhlas dengan keputusan Allah. Alhamdulillah langsung diberi hadiah. Tetap jadi pemimpin yang amanah ya sayang"


"Iya, abang masih gak nyangka saja, padahal tadi siang abang mengingat waktu abang dilantik, eh besok mau dilantik lagi. Alhamdulillah"


Mereka saling diam dalam pelukan. Laras memejamkan matanya, tangan Duta mulai bergerilya membuka kancing baju Laras satu per satu.


"Abang, besok pelantikan lhoo, besok kalau telat gimana?" Duta tetap diam tak menjawab.


"Abang ih, besok Laras setelah subuh sudah harus rias kan?" Duta hanya tersenyum jahil.


Laras memegang tangan Duta yang sedang bermain-main di benda kenyal itu. "Sayang!"


"Abang pengen sayang" kini Duta menjawab. "Abang janji gak akan lama" Duta melirik jam sudah menunjukkan setengah 12 malam.


"Janji ya?"


"Hehehe, gak tahu juga ding. Siapa tahu adik abang minta lebih" jawab Duta asal.


"Ih, abang" Duta membungkam mulut Laras dengan ciuman lembut. Memulai dengan aktivitas yang memabukkan itu. Desahan lolos dari keduanya. Saling menikmati permainan, hingga lahar bening nan hangat itu menyembur ke dalam rahim Laras.


Duta menepati janjinya tidak akan lama-lama mengingat esok adalah hari penting mereka.


Duta mencium kening istrinya. "Makasih ya sayang" Laras mengangguk.


"Laras ngantuk"


"Tidurlah, abang akan memelukmu" Mereka terpejam bersama. Belum benar-benar tidur.


"Bang"


"Hem?"


"Abang janji ya, kalau nanti jadi Bupati jangan cuekin Laras lagi, jujur bang, yang Laras butuh itu perhatian dari abang, bukan materi melainkan waktu dan perhatian abang"

__ADS_1


"Insyaallah, nanti abang minta sama bang Farid untuk mengatur jadwal abang"


"Dan satu lagi. Jangan bawa-bawa pekerjaan ke rumah! Gak ada tapi-tapi. Pokoknya Laras ingin kalau abang di rumah ya istirahat, berduaan dengan Laras. Tanpa ada pekerjaan yang mengganggu. Bisa kan?"


Duta tersenyum "Insyaallah, kalau maunya kamu begitu"


"Makasih abang. Yok tidur"


"Abang gak ngantuk gara-gara kamu ajak ngobrol. Malah adik abang bangun lagi. Main sayang-sayangan lagi boleh kan?"


Laras memutar bola matanya malas. Suaminya selalu minta nambah tak cukup satu ronde. Terkadang Laras merasa tubuhnya remuk redam, tapu jika ia menolak ia takut akan dosa.


"Iya boleh"


"Yang ikhlas dong jawabnya" kata Duta sambil mencubit pipi Laras.


"Aw, sakit sayang. Iyaaaa boleeeeh. Nanti kalau nolak pasti dalil itu lagi yang keluar"


"Hahaha, abang selalu menang"


Mereka mengulangi kembali aktivitas membahagiakan itu. Ibadah yang mendapatkan banyak pahala. Berharap benih cinta akan segera tumbuh kembali di dalam sana.


.


Subuh menjelang, Laras segera membersihkan dirinya, dia membangunkan suaminya untuk segera mandi dan subuh bersama.


Laras mempersiapkan baju kebesaran untuk pelantikan suaminya. Memasangkan segala atribut yang ada. Setelah selesai dia mulai merias diri.


Hanya make up natural yang biasa ia pakai. Dia menggunakan kebaya senada dengan sang suami. Duta memandang istrinya tanpa berkedip.


"Makin cantik istri abang, aiiiihhh, senyumnyaaa" puji Duta. Laras tersenyum malu.


"Iya, sayang. Kiss dulu dong" Laras mengecup bibir Duta sekilas.


"Gak ada bekas gincu kan?"


"Makanya jangan minta kiss kalau takut ada bekas gincu"


"Hahaha, kan malu yank kalau di depan pak Gubernur ketahuan ada bekas gincu nempel di bibir abang. Bismillah, ridhoi pelantikan hari ini ya Allah"


"Aamiin"


Farid bersama pak Sholeh dan istrinya sudah menunggu mereka di bawah. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Yang perempuan tampak anggun yang laki-laki tampak gagah.


"Sempurna" puji istri pak Sholeh, bu Fatimah.


"Sudah siap bapak, ibu?" tanya Farid dengan senyum mengembang. Mereka mengangguk mantap.


"Bu Fat, kenalkan ini istri saya, Ayu Larasati" ucap Duta memperkenalkan istrinya.


Laras mencium tangan bu Fatimah hingga bu Fat terkesiap. "Jangan dicium bu" katanya.


"Tidak papa bu, ibu lebih berumur daripada saya. Sudah saya anggap seperti ibu saya sendiri, hehe"


Bu Fat hanya membalas senyum itu. "Karena sudah siap semua, dan kita diburu waktu, mari kita berangkat" ucap Farid dijawabi anggukan oleh semuanya.

__ADS_1


.


Kantor Gubernur Jawa Tengah


Hari ini, Duta Wicaksana dan Muhammad Sholeh akan dilantik secara resmi oleh Gubernur Jawa Tengah. Hanya mereka sendiri, karena yang lain sudah kemarin.


MC mulai mengambil alih acara. "Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati kota Magelang, Jum'at tanggal 5 Januari 2021 segera dimulai"


MC mulai membacakan susunan acara, hingga Duta dan Sholeh didampingi istri mereka resmi dilantik oleh pak Gubernur.


"Laksanakan amanah ini dengan sebaik-baiknya, fokus untuk kemajuan. Jangan pedulikan yang ingin menjatuhkan. Karena semakin tinggi pohon maka akan semakin besar pula badai yang menerpanya" pesan pak Gubernur kepada keduanya.


"Siap dilaksanakan pak" jawab mereka berdua sambil memberi hormat kepada pak Gubernur.


Acara pelantikan telah usai. Mereka melaksanakan sholat jum'at terlebih dahulu baru kembali ke Magelang.


.


Malam menjelang, Duta dan Laras mengistirahatkan dirinya. "Hmm, capek" kata Laras.


"Sini abang pijitin" Duta mulai mendekatkan tubuhnya ke kaki Laras.


"Stooooooppp, gak usah abang. Nanti pasti abang minta imbalaaaannnn. Aaaahhh, Laras ngantuk banget sayaaaaang"


"Wkwkwk, ge er kamu. Abang cuma mau pijitin aja kok. Gak lebih, gak minta imbalan"


"Gak usah ih, Laras udah tau akal bulus abang. Ayo tidur, Laras pengen dipeluk sama abang"


"Wkwkwkw, takut banget sih kamu, gak kok abang gak minta jatah malam ini, tapi kalau malam ini gak dikasih ya berarti besok rapel"


"Tuh kan, abaaaaang"


"Hahahaha" Duta mengecup kening Laras. "Tidurlah, abang akan pijit kaki kamu. Capek kan tadi pakai heels?"


Laras mengangguk. "Tidur! Sebelum abang berubah pikiran nih"


"Mau dipeluuuuuk" ucap Laras manja.


"Manjanyaaaa, gak bisa nih kalau malam ini absen, satu ronde ya yank?"


"Tuh kan, abang mulai lagi. Laras benar-benar capek abang. Besok saja ya?"


"Janji ya besok?"


"Iya. Sini peyuk duyuuuu" Duta merebahkan dirinya dan memeluk Laras. Memberinya kecupan selamat tidur.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2