
Resepsi telah berakhir. Para tamu undangan sudah pulang. Hanya tinggal keluarga dan teman dekat yang masih saling mengobrol.
Farid yang sejak tadi ikut menjamu tamu Duta sejenak melupakan Ais. Hingga dia menemukan Ais duduk di sebuah kursi sendirian. Sedangkan keluarganya sedang berbincang dengan keluarga yang lain.
Dia mendekati Ais dan mengagetkannya. "Hayoooo, ngalamun ya" ucap Farid dengan senyum lebar.
"Astaghfirullah mas, bikin kaget aja deh. Sibuk banget sih sampai nyapa aja gak bisa. Berasa dicuekin deh aku nya"
"Hahahah, hadoooh. Mas capek. Kan gak enak yank ada tamu yang mas kenal masa iya mas gak sapa" ucap Farid sambil duduk di samping Ais. Mereka diam tak tahu ingin berbicara apa.
"Kok diem?" tanya Ais.
"Ya kamu marah"
"Siapa yang marah sih? Gak kok, aku gak marah. Eh mas, itu kado dari sobat pak Duta mau dikemanakan?"
"Ya dibawa pulang ke rumah. Hahaha, kado yang istimiwir. Ikan lele tinggal di goreng, sudah ada sambal dan lalapannya. Beras tinggal masak pake magic com. Cobek ada. Alat makan lengkap. Penggorengan ada. Bahan yang masih sisa taruh di kulkas. Cuci mulutnya pisang. Singkongnya buat camilan. Ya ya ya. Emang pinter mereka"
"Hahahah, aku kira tuh apaan tadi waktu masuk dari sana. Geleng kepala aku lihatnya"
"Hahaha, aku saja sampai melotot yank. Ehm, besok minggu depan aku sama ibu ke rumah kamu ya. Mau menanyakan kamu sama orang tua kamu" ucap Farid sambil menatap Ais. Ais tersenyum dan melingkarkan tangannya di lengan Farid.
"Akhirnya ngomong juga kamu mas. Iya, aku sudah bilang sama papah kok"
"Hehehe, mas malu ngomongnya. Tapi kali ini jangan ditolak lagi yaaaa" ucap Farid memelas.
"Hahaha, kamu ini. Ya aku pikir-pikir dulu lah"
"Heee? Jangan dooong. Langsung terima ajaaaa"
"Ih maksa. Insyaallah. Berdoa yang kenceng"
"Ooo pasti itu. Mantan gebetan kamu itu gak datang? Kok aku lihat tidak ada batang upilnya"
"Jiahahaha, batang hidung bukan batang upil. Tahu tuh, katanya waktu ku kasih undangan sih suruh nyampaikan ke Laras dia tidak sudi datang"
"Hmm, sombong nyaaa. Biarkan saja lah. Biar tidak mengganggu. Hahaha"
Sementara di sudut lain terdengar gelak tawa dari Duta dan sahabatnya. Bagaimana tidak. Pasangan Kayla dan Wisnu sedang gencar memasukkan makanan ke dalam plastik.
"Sok kabeh Wis, bagi rata lho yo" ucap Bayu.
"Haiyo emoh, aku modal plastik dewe lho. Yo kanggo aku kabeh (Ya gak mau, aku modal plastik sendiri lho. Ya buat aku semua" sahut Wisnu.
"Dasar maruk" sahut Candra.
__ADS_1
"Pelit" timpal Rama.
Kayla kembali dan membagikan plastik berisi makanan itu kepada para istri. "Ini buat kalian. Kita udah ambil kok" kata Kayla.
"Yakin buat kita? Kamu sama mas Wisnu gak kurang?" Tanya Lila.
Kayla memperlihatkan hasil bungkusannya yang ternyata lebih banyak dari mereka. Alhasil mereka tepok jidat karena ulah Kayla dan suaminya.
"Gak popo kan mas Duta yo? Aku ora masak lho maaas, cukup lah kanggo sedino. Hahahaha (Gak papa kan mas Duta ya? Aku gak masak lho maaas, cukup lah untuk sehari. Hahahaha)"
"Gak papa mbak Kay, ambil sak puasmu. Bagi ke mereka juga" jawab Laras.
"Lhoooo, yang punya sudah mempersilahkan. Ayo jupuk. Lumayan ora kesel masak. Wkwkwkw (lhoooo, yang punya sudah mempersilahkan. Ayo ambil. Lumayan gak capek masak. Wkwkwkwk"
Dan akhirnyaaa mereka semua juga ikut ambil.
Hari menjelang petang. Duta dan keluarga sudah kembali ke rumah mamah Aini. Mereka membersihkan diri dan segera melaksanakan sholat Maghrib. Kado dari sahabat Duta langsung dibawa ke rumah dan dieksekusi oleh ART Duta.
Mereka makan malam dengan nikmat dan penuh canda. Hingga isya menjelang semua kembali sholat dan segera beristirahat. Capek.
Pasangan yang baru saja halal ini kira-kira ngapain ya?. Hehehe.
Laras dan Duta kembali ke kamar Duta. Laras duduk di ranjang diikuti Duta.
"Sini" ucap Duta hendak memeluk istrinya.
"Eng enggak, siapa yang malu?" ucapnya sambil mendekat ke sang suami.
Duta memeluk Laras dan mencium keningnya. "Gimana rasanya dipeluk sama abang?"
"Hmm? Nyaman"
"Boleh kan abang minta hak abang malam ini?"
"Iya, sholat sunah dulu yuk sayang" ajak Laras dan diangguki oleh Duta.
Mereka melakukan sholat sunah 2 rakaat. Setelah selesai Laras bingung harus bagaimana. Akhirnya dia hanya berbaring di ranjang sambil menarik selimutnya.
Duta tertawa geli melihat istrinya itu malu-malu. Dia ikut masuk ke dalam selimut. Mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Laras. sekarang posisi mereka miring sambil barhadapan.
"Ay"
"I iya bang"
"Hahaha, jangan kaku begini dong sayang. Abang ini sekarang sudah menjadi suami kamu lho. Masa masih malu sih"
__ADS_1
"Abang iiih" ucap Laras sambil menutup wajahnya menggunakan tangannya.
Duta memaksa membuka tangan Laras. Dia memeluk istrinya lagi.
"Bang, kita mau bulan madu dimana?" tanya Laras
"Kamu maunya kemana?"
"Mana ya? Bandung?"
"Oke, lusa kita berangkat. Besok kita pindah rumah dulu. Abang boleh gak nih minta hak abang malam ini?" tanya Duta dengan suara yang berubah menjadi parau.
Laras mengangguk. "Boleh, abang berhak sepenuhnya atas diriku" ucap Laras sambil melihat wajah suaminya.
Duta mulai tersenyum dan mencium kening Laras. Menghujani wajah Laras dengan ciuman. Mel**at bibir istrinya itu. Laras diam tak membalas. Dia masih kaku. Pipinya merona.
Duta membiarkannya dia masih sibuk. Lama kelamaan Laras mulai membalas ciuman Duta. Kini Duta semakin liar. Laras hanya mengikuti permainan suaminya.
Duta berhenti sebentar dan menatap Laras. "Jangan ditahan sayang, keluarkan saja suaramu"
"Malu" Duta hanya tersenyum dan mulai lagi.
"Enak?" tanya Duta disela-sela kegiatannya. Laras hanya mengangguk. Duta tersenyum kembali mulai melancarkan aksinya. Pertama kalinya bagi Laras melihat semua tubuh suaminya. Dia membuang muka malu.
"Kenapa sayang? Dilihat aja. Nyesel nanti kalau gak dilihat lhoh"
"Abang apaan sih"
"Hahahah, kamu lucu"
Dia membuka dan membuang sembarangan selimut yang menutupi tubuh Laras. Duta malah diam.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Baru pemanasan ya gengs, Hahahah. Belum ke inti dan penutupannya. Mohon bijak membaca episode ini dan selanjutnya yaaaa. Karena penuh adegan seuhah. Wkwkwkwk Happy reading all 😘😘😘