
Kesibukan tampak di dapur rumah mungil itu. Seorang anak laki-laki bermain sendirian. Sang ibu sedang sibuk meracik bahan untuk membuat tumpeng.
"Sayang, aa' pergi kerja dulu. Jaga rumah dan Yohan baik-baik ya. Nanti mamah kesini kok untuk bantuin kamu bikin tumpeng. Kita rayakan kecil-kecilan anniversary kita tak apa kan?" Tanya Dirga kepada Nina.
Nina berbalik dan tersenyum "Gak papa lah Ayah, memang Bunda gak suka party besar-besaran. Pulang tepat waktu ya" Mencuci tangan dan menghampiri suaminya.
"Iya, Aa' usahakan. Happy anniversary sayang. Maaf kalau Aa' belum bisa membuat kamu bahagia. Memanjakanmu dengan materi"
Nina memeluk suaminya. "Happy anniversary juga A', aku udah bahagia dengan sikap baik kamu ke aku. Bahagia bersama kamu dan Yohan. Aku tak perlu dimanjakan dengan materi. Hanya cukupkan kebutuhan kita saja sudah membuat senang hatiku dan kepalaku tidak pusing"
Dirga tersenyum dan mengecup kening Nina. "Makasih selalu menjadi wanita yang sederhana. Aa' kerja dulu. Anak Ayah, salim dulu dong, Ayah mau berangkat kerja nih"
Yohan menghentikan bermainnya dan menghambur ke ayahnya. "Mau es klim" Dirga tersenyum.
"Oke, nanti ayah pulang bawakan hadiah untukmu nak, rasa coklat atau strawberry?"
"Lasa nanas Ayah, yang sepelti di tv kemalin"
"Siap bos!" Dirga memberi hormat kepada Yohan. Dan Yohan membalasnya. Seorang anak yang patriotismenya sudah terlihat sejak kecil.
"Salim dulu sama Ayah" Nina menyalami Dirga memberi contoh kepada Yohan. Dan selanjutnya Yohan mengikutinya.
Dirga pergi berlalu meninggalkan rumah. "Oke, kita buat sedikit kejutan ya sayang" ucapnya saat meninggalkan rumah.
Mobil sudah tak terlihat lagi dari pandangan Nina. Dia segera masuk dan mengunci pintu. Itulah kebiasaan Nina saat ditinggal kerja oleh suaminya.
Kehidupan mereka jauh dari kata mewah. Cukup adalah kata yang tepat menggambarkan kehidupan mereka. Nina tak pernah menuntun apapun ke Dirga. Dia sudah lebih paham dan bisa mengatur keuangan.
Belajar dari pengalaman yang lalu, saat usia mereka baru seumur jagung. Dan dia benar-benar mensyukuri dari kejadian yang lalu.
Waktu berlalu hingga tak terasa sudah siang. Mamah Meli datang untuk membantu menantunya membuat tumpeng. Ternyata mamah Meli tak datang sendirian. Dia bersama tante Rum dan mamah Aini dan A squad.
"Yohan mana?" tanya mamah Aini. "Ada dikamar budhe, main sendirian dia"
"Oke, budhe ajak ke rumah Ais ya, disana ada Shanum, Hilal, dan Habib, ini si kembar juga mau kesana. Biar kalian masaknya lebih leluasa"
"Gal merepotkan budhe?" tanya Nina takut anaknya merepotkan.
"Gak lah, disana banyak temannya, ya?" Nina mengangguk dan segera mempersiapkan keperluan Yohan.
Tak lama Nina dan Yohan sudah keluar. "Kakakkk" seru Yohan.
"Hai Yohaaaaaannn" seru A squad. "Yuk berangkat eyang, aku tak sabar ingin bermain dengan semuanya" pinta Amaris.
"Oke let's go!" Mamah Aini memboyong Yohan beserta dengan A squad untuk bermain bersama Shanum, Hilal, dan Habib.
Para perempuan yang masih tersisa kembalinberkutat di dapur. Nina yang sudah menghaluskan bumbu langsung menyerahkannya pada mamah mertuanya. Sudah pas atau belum, karena ini pertama kalinya Nina membuat tumpeng.
__ADS_1
"Kunyitnya tambahin dikit nduk"
"Iya mah"
Tante Rum mengecek nasi yang sudah dimasak Nina. "Nin, airnya tambahin dikit biar gak terlalu keras nasinya"
"Nggih budhe"
Mereka berkutat dengan masakan yang namanya tumpeng. Sungguh melelahkan. Banyak yang harus dibuat seperti kering tempe teri, telur dadar, suwiran ayam, perkedel, mie goreng dan tumpengnya itu sendiri.
Tante Rum mengerjakan jajanan yang akan dibuat, yaitu martabak sayur, kroket, sosis solo, dan es campur. Mamah Meli dan Nina mengerjakan tumpeng dan lauk pauknya.
Waktu semakin mendekati malam. Semua persiapan telah siap. Rumah juga sudah didekorasi cantik dan ciamik oleh Nina.
Dia menunggu kepulangan sang suami. Tapi tak kunjung datang juga. Para tamu pun belum ada yang menampakkan batang hidungnya.
.
Dirga mengatur rencananya dengan matang. Dia memasukkan para pasangan bersejarah itu ke dalam kardus besar. Duta dengan Laras, Farid dengan Ais, dan sang pengantin baru kita Arjun dengan Rena. Amira dan Ari tak bisa ikut karena harus bertolak ke Pati mengurus papahnya yang sakit. Shanum menolak ikut dan lebih memilih menginap di rumah Hilal dan Habib.
Dirga membawa keempat bungkusan kado super besar itu. Kok empat? Yang bungkusan terakhir siapa dong?
Dirga sedikit terlambat karena yang akan memberikan surprise tak datang tepat waktu. Tapi sebelumnya Dirga menyuruh mereka untuk mengabari Nina bahwa mereka tak bisa datang.
Nina ingin menelpon suaminya, tapi ada chat yang masuk ke ponselnya.
dr. Ais : Nina maaf ya aku gak bisa datang, ada operasi mendadak
Rena : Nin, aku telat ya, baru selesai mindah dan nata barang nih
Nina terduduk lesu. Kecewa melanda hatinya. Semua yang diundangnya tak bisa datang. Nina menghubungi suaminya. "Sayang, kamu dimana?"
"Bentar sayang, aku lagi di jalan pulang"
"Mereka maksud aku para tamu yang kita undang pada gak bisa datang"
"Lhoh, kok gak bisa datang sih, acara kita gimana dong?"
"Lha itu yang aku bingungkan. Sampai rumah dulu deh, baru ngobrol"
"Iya, ya sudah, tunggu ya. I love you istriku"
"I love you too sayang"
Panggilan telepon berakhir. Para krucil datang bersama mamah Aini. "Lhoh, belum dimulai ternyata"
Nina menyalami budhenya. "Belum budhe, mereka pada gak bisa datang lagi"
__ADS_1
"Waduh, kasihan. Sudahlah capek berkutat dengan urusan dapur, eh mereka yang diundang pada gak bisa datang. Emang dasar ya" kata mamah Aini berpura-pura marah.
Deru mobil memasuki jalanan rumah Rena. Dirga datang dan disambut Nina dengan kagetnya. 4 kotak kado besar ada di depan matanya.
"Sayang, ini apa?" tanya Nina kaget bercampur senang itu karena pada kotak itu diberi pita besar.
"Hadiah untukmu. Ayo bukalah" Nina segera membuka kotak-kotak itu. Kotak pertama yang ia buka adalah Duta dan Laras.
"Kejutaaaaannn. Happy anniversary ya" ucap Duta dan Laras bersamaan. Nina terharu akan kehadiran mereka. Lanjut ke kotak kedua dan ketiga.
"Ih, katanya gak bisa datang, taunya dalam kotak" A squad malah kegirangan melihat orang tua mereka dan ingin berada juga dalam box besar itu.
Lanjut ke kotak kedua, Nina sudah curiga, jangan-jangan Ais pikirnya. Dia membuka kotak itu dan mengucapkan sendiri "Kejutaaaaan" ucap Nina.
Ais cemberut. "Ih, kok udah ketahuan aja sih?"
"Hahaha, kaget ya?" goda Nina. Dia membuka kotak ketiga, pemandangan yang romantis. "Ehem ehem ehem" Arjun dan Rena sedang berciuman di dalam kotak itu. Mereka memang benar-benar dimabuk asmara.
Rena dan Arjun malah malu karena ketahuan. Lanjut untuk kotak ke empat. "Paling besar nih, apa ya isinya?"
Dirga menggenggam tangan istrinya. "Bukalah, semua ini hadiah untukmu" Nina dengan cepat membuka kotak otu dengan bantuan tangga. Dia pun sama berkata seperti tadi "Kejut........" Nina menutup mulutnya tak percaya.
Sebuah mobil nampak nyata di hadapannya. "Sayang...."
"Iya. Itu untukmu. Turunlah" Dirga menyuruh istrinya untuk turun. "Ini untukmu, terima kasih sudah menjadi wanita terhebat dalam hidupku. Balasan dari kesabaranmu. Maaf merahasiakan ini. Sebenarnya aku menabung dan bisa membeli ini, meskipun bekas tak apa kan?"
Nina tersenyum dan memeluk suaminya. "Terima kasih. mau bekas mau baru aku tak masalah. Bagiku, kamu itu hadiah paling istimewa yang Tuhan kirimkan dalam hidup ini. Terima kasih sayang" Dirga mencium kening istrinya.
"Ehem. lapar nih, makan yuk" Farid merusak suasana romantis yang terjadi.
"Iya, silahkan masuk semuanya. Silahkan nikmati hidangan yang ada. Untung tadi gak jadi aku bagikan ke tetangga" Mereka tertawa dan mulai menyantap yang ada.
Sejatinya, pasangan yang kita miliki adalah hadiah terindah yang kita miliki. itupun jika kita mau mensyukuri.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1