
"Abang kenapa?" tanya Laras sambil merebut ponsel milik suaminya.
"Gak papa, tolong kembalikan ponsel abang Ay, abang lagi main game. Nanti bisa kalah" sahut Duta.
"Katanya capek? Kalau capek tidur sayang, bukan main hp"
Duta diam dan bersidekap. "Abang cemburu" ucapnya
"Cemburu?"
"Iya"
"Sama siapa?"
"Ck, kamu gak peka banget sih?"
"Sayang, kamu cemburu sama Dirga?"
"Iya"
"Ya Allah, aku sama Dirga gak ada apa-apa"
"Lalu, kenapa dia kecewa saat mengetahui kamu sudah menikah? Apa hubungan kalian? Kenapa kalian bisa kenal? Sejak kapan kalian kenal? Sudah berapa lama?"
"Hahaha, satu-satu dong tanyanya. Laras bingung mau jawabnya abaaaang" Laras gemas dan mencubit pipi suaminya.
"Intinya, abang pengen kamu cerita tentang Dirga" ucapnya dengan nada kesal dan wajah cemberut.
"Iya, Laras akan cerita tentang Dirga. Tapi sebelumnya, Laras mau abang tersenyum dulu. Kan kita janji kalau ada apa-apa bakalan diselesaikan dengan hati dan kepala yang dingin. Kita juga berjanji tidak akan menutup-nutupi apapun. Semua akan saling diungkapkan, harus saling terbuka. Abang ingat?"
Duta mengangguk. "Ayo sekarang kasih senyum manis paripurnanya dulu buat aku" ucap Laras menggoda suaminya.
Duta langsung tersenyum dan memeluk istrinya. Mengecup keningnya. "Maafin abang yang kayak anak kecil ya sayang. Abang sampai membiarkan kamu pakai uang kamu sendiri untuk beli makanan"
"Iya, nanti tinggal kasih bon nya aja. Hahaha"
"Gitu yaaa, gak mau rugi"
"Iya lah, aku kan tanggung jawabnya abang"
"Iya, ayo sekarang mulai dulu ceritanya"
"Makan dulu dong bang, Laras beneran laper. Mau makan jadi gak selera lihat abang begitu. Ayoooo"
"Janji ya nanti habis makan cerita"
__ADS_1
"Iya janji. Ayo makan. Laper ini" Laras menunjuk perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi. Akhirnya Duta turun dati ranjang dan mendekati makanan itu.
"Aaa" Laras menyuapi Duta dengan tangannya. Duta tersenyum dan menerima suapan itu.
"Mau disuapi abang?" tanya Duta kepada Laras. Laras mengangguk semangat.
Duta meletakkan sendoknya dan mulai menyuapi istrinya dengan tangan. Lebih nikmat. Hhhmm, malah jadi lapar. Hahaha
Mereka menikmati makanan itu dengan sangat nikmat. Setelah selesai makan, mereka menonton tv di ranjang sambil duduk berpelukan.
"Ayo sekarang cerita" kata Duta mengingatkan lagi janji Laras.
"Mau dimulai darimana ceritanya?"
"Dimulai dariii, kapan kamu kenal Dirga"
"Oke, Dirga, aku ketemu sama dia 5 tahun yang lalu. Saat aku magang dokter jiwa di RS x. Dia waktu itu juga sama sepertiku. Dokter magang. Selain dia ada juga Okta dokter obgyn, Diana dokter paru, dan Bumi dokter penyakit dalam. Karena kami sama, yaitu dokter magang, kami selalu berkumpul saat selesai shift. Entah itu untuk membicarakan pekerjaan atau hanya sekedar bertemu.
Makin lama makin akrab. Sehari saja tidak muncul pasti kami akan saling mencari. Aku tidak tahu kapan rasa itu muncul dalam hati Dirga. Yang pasti, aku merasa semakin hari dia semakin perhatian sama aku. Yang lain bilang kalau Dirga itu jatuh cinta sama aku. Tapi itu adalah hal yang mustahil. Kami beda agama"
"Wait, kalau gak beda agama apa kamu akan membalas cintanya?" tanya Duta menyela cerita Laras.
"Mau jawaban jujur?"
"Iya" jawab Duta.
"Kok maybe sih yank?"
"Hahaha. Mau dilanjut gak nih? Tapi abang beneran siap nanti dengar cerita aku?"
"Abang siap. Ayo lanjutkan"
"Makin lama memang aku merasa nyaman sama Dirga. Perhatiannya selalu bertambah untukku setiap hari. Aku merasa juga jatuh cinta dengannya. Suatu hari dia menyatakan perasaannya kepadaku. Dia memintaku untuk menjadi istrinya. Bukan pacarnya. Tapi aku sadar, kami ini beda agama.
"Abi akan marah besar jika tahu yang hendak memintaku adalah bukan seiman. Aku menolaknya. Aku tidak bisa karena bukan seiman denganku. Aku melupakan rasa itu. Dia kekeh mau menjadikan aku istrinya. Dia rela akan berpindah agama karena aku.
Aku akan menjadi orang yang egois jika aku menyetujui ide gilanya itu. Bagaimanapun juga dia memiliki keluarga yang akan menentangnya. Aku tetap menolaknya. Waktu itu masih kurang 1 tahun magang kami. Berat rasanya selama setahun itu. Harus menghindar untuk melupakan rasa itu. Dia tetap mengejarku.
Hingga magang kami tinggal hari itu, dia masih mengejarku. Dia akan memohon kepada keluarganya agar diperbolehkan pindah agama. Hingga sore itu, aku yang sudah dalam perjalanan pulang ke Magelang, diberi kabar oleh Bumi kalau papahnya Dirga terkena stroke. Dan itu karena Dirga ingin pindah agama dan menikahiku. Begitu ceritanya"
Duta diam. Lalu dia mengeratkan pelukannya kepada istrinya. "Apa rasa itu masih ada untuknya?"
Laras menoleh berhadapan wajah dengan suaminya. "Silahkan cari kebohongan dari mata aku bang, rasa itu telah lama hilang. Dan sekarang, hatiku dimiliki oleh kamu. Kamu pemilik hati ini. Masih ingat waktu abang tanya sama aku, kenapa gak pernah pacaran? dan jawabanku karena tidak sreg. Dirga juga termasuk yang tidak sreg abang. Karena tidak seiman"
"Kalau misal, Dirga dulu bertemunya sama kamu sudah seiman? Apa kamu mau menjadi istrinya?"
__ADS_1
"Maybe, kalau jodoh tak kan kemana. Nyatanya dia bukan jodoh aku. Jodoh aku ini lho, pak Bupati, yang sekarang menjadi Bupati kesayangan aku. Sudah, jangan berandai-andai yang jelas-jelas tidak akan terjadi"
Duta semakin mengeratkan pelukannya. Mencium kening istrinya. "Maafin abang ya, abang begini karena abang kira kamu tidak akan mau jujur ke abang"
"Laras ngerti, abang lagi cemburu. Aku diam karena memang tidak mau membuka buku usang itu lagi. Bagiku, Dirga hanya masa lalu. Sama seperti Dini. Dan sekarang dan masa depan adalah kita. Duta Wicaksana dan Ayu Larasati"
Duta tersenyum mendengar kata-kata Laras. "Jangan pernah tinggalkan abang demi lelaki lain"
"Insyaallah itu tidak akan pernah Laras lakukan bang, karena kamu hanya kamu dan tetap kamu, 1 selamanya, yang merajai hatiku, wahai Pak Bupati kesayangankuuuu"
"Aaah, meleleh abang. Romantis juga ya istri abang ini. Terima kasih sudah jujur sama abang. Abang percaya kok"
Mereka kembali beradu pandang. Laras melepaskan pelukan suaminya itu dan duduk di paha suaminya itu. Duta sampai kaget dengan posisi Laras.
*cup
cup
cup*
Laras menghujani bibir Duta dengan ciuman. "Jangan menggoda abang, atau kamu akan menyesal nanti"
"Siapa yang menggoda? Aku hanya memberikan bibir ini hukuman karena daritadi tidak mau tersenyum"
"Kamu memang ingin dimakan ya sepertinya" ucap Duta dengan seringaian liciknya.
"Katanya tadi capek?"
"Kan sudah abang bilang sayang, kalau untuk urusan menerkam dan memakanmu abang punya ekstra energi. Kamu yang mulai menggoda abang hingga membangunkan yang dibawah. Sekarang kamu harus bertanggung jawab sayang"
Duta membalik posisi istrinya. Mengunci pergerakan istrinya dan mulai kembali dengan aktivitas panas itu. Olahraga siang membakar kalori setelah makan maksudnya. 🤣🤣.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Hai hai. Maaf baru nyapa. Wkwkwk, please doooong votenya mbok yo dikencengin. Kan author juga pengen masuk 10 besar. Bisa yo? Bisa pasti. Makasiiiih. Tarik siiiiiiisss... Semongkooooo 😘😘😘