Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
USG


__ADS_3

Hari berlalu dengan sendirinya. Farid dan Ais sedang honeymoon. Tidak perlu jauh-jauh. Mereka hanya ingin mengeksplor Jogjakarta. Meskipun sering mereka kunjungi tapi mereka tak mau pergi jauh.


Duta yang tidak didampingi Farid merasa ada yang kurang dalam melewatinya. "Hadeh, gak ada kamu rasanya kok sepi bang" katanya. Istrinya menelpon. Mengatakan bahwa besok hari sabtu jadwal periksa kandungan. Ya, mereka baru bisa cek hari sabtu besok.


"Oke sayang" katanya menjawab pesan istrinya.


Sabtu pagi seperti biasa, Laras praktek hingga tengah hari. Waktu makan siang tiba. Nina disuruh untuk memesankan makanan lewat aplikasi.


"Nin, pesan buat 4 orang. Saya sama suami saya, kamu sama Rena"


"Siap dok" Dengan lihai Nina memesan makanan itu. Tak lama Duta masuk ke ruangan istrinya karena pasiennya sudah habis. Makanan datang, Nina segera mengambilnya. Saat itu dia juga berpapasan dengan Dirga yang sedang shift pagi.


"Hai Nin" sapanya.


"Eh, hai juga dok"


"Mau makan siang?" tanya Dirga lagi. Nina mengangguk. "Oke, aku ikut"


"Eh tapi..." Dirga menarik tangan Nina untuk segera berjalan. "Dok, lepasin, gak enak dilihat yang lain"


"Biarin saja, emang salah gandeng temen sendiri" Mereka sudah sampai di ruangan Laras. "Ini dok pesanannya" Nina memberikan struk pembayaran dan makanan itu.


"Makan sini bareng-bareng" ucap Duta.


"Oh tidak usah A', kami kan juga ingin berduaan biar romantis" jawab Dirga nyengir. Nina hanya tersenyum sambil menggeram. "Dokteeeer"


Duta dan Laras tertawa dengan tingkah mereka. Akhirnya mereka pamit menuju ruangan Rena yang sedang kosong. "Dari dokter Laras" ucap Nina sambil menyodorkan makanan tadi.


"Eh ada dokter Dirga, berarti yang nemenin makan dokter aja ya, saya sudah janjian dengan pasangan saya di kantin. Hehehe"


"Ren, yang bener aja dooong" Rena menunjukkan isi chatnya. "Bye" ucapnya sambil berlalu di kantin.


Nina bingung jika berduaan dengan Dirga. "Kalau gak boleh makan bareng aku balik aja lah ke IGD" ucap Dirga sambil ingin berbalik.


"Masa aku makan sendirian A'. Temenin"


"Ya kamu seperti gak nyaman begitu" Nina menarik tangan Dirga dan mendudukkannya di kursi.


Masing-masing membuka menu santapannya. Makan tanpa mengobrol. "Kayaknya punya kamu enak, minta dong" ucap Dirga.


"Ambil lah"


"Suapin" Nina sampai terbatuk mendengar permintaan Dirga. Sengaja Dirga melakukan itu, dia tersenyum dan menyodorkan minum kepada Nina. "Ambil sendiri"


"Aaaa" Akhirnya Nina mengalah dan menyuapkan dengan tangannya makanan itu ke mulut Dirga. Senyum bahagia nampak di wajah Dirga. Wajah Nina menjadi merah padam. Dirga mendapat chat dari perawat yang mengatakan ada pasien kecelakaan.


"Makan sendiri gak papa kan, aku mau balik ke IGD. Ada pasien kecelakaan" Nina mengangguk. "Habisin dulu makannya, mulutmu ada nasi tertinggal tuh" balas Nina sambil mengambil nasi dari sudut bibir Dirga.

__ADS_1


"Eh maaf" katanya lagi. "Gak papa, aku sudah kenyang kok. Tak buang saja"


"Udah, biarin disitu. Nanti aku beresin. Sana balik ke IGD, kasihan pasiennya" Dirga mengangguk.


.


Laras dan Duta bertemu dokter Citra, ahli kandungan. Mereka dipersilahkan masuk oleh Lia asisten Citra. "Assalamualaikum Cicit" sapa Laras sambil tersenyum.


"Waalaikum bu Bupati dan pak Bupati. Hahha, jadi sudah telat berapa minggu?"


"6 mingguan lah"


"Langsung lihat saja ya, aku belum maksi soalnya. Heheh"


"Oke" Laras naik ke bed, lalu dipasangkan selimut dan bajunya sedikit disingkapkan ke atas. Lia mulai mengoleskan gel dingin itu. Citra mulai memainkan stiknya. Duta memperhatikan dengan seksama.


"Ooow, satu kantong kehamilan ya pak Bupati, sudah mau masuk minggu ke 7 nih" Duta takjub dengan apa yang dilihatnya, meskipun itu baru kantong kehamilan. Tapi hatinya sungguh bahagia. Citra lalu mencetak hasil USG itu. Laras dipersilahkan duduk kembali.


"Aaah, selamaaat, bakal nambah lagi ponakan aku dari rumah sakit ini. Pak, puasa dulu ya, heheehe. Sampai umur kehamilan 16 minggu. Bisa kan?" tanya Citra.


"Insyaallah dok, kontrol lagi kapan ya?" balas Duta.


"Nanti pas 16 minggu kita cek lagi. Ini tak resepin vitamin sama penguat ya Ras. Biar pun gak ada keluhan buat jaga-jaga saja. Diminum lho yo. Pak, diawasi ya pak kalau minum obat. Dia kadang malas mau meminumnya" pesan Citra panjang kepada pasutri itu.


"Iya ih, Cicit bawel"


"Oke gak papa, sebentar ya nunggu buku KIAnya dulu. Nanti setiap kontrol dibawa" Lia menanyakan beberapa hal kepada Laras lalu selesai mengisi buku pink itu.


"Makasih ya Cit"


"Sama-sama. Jagain ponakan aku ya. Sehat-sehat selalu bumilkuuu. Eh Ais belum balik ya?"


"Belum kenapa?"


"Bukuku dipinjam sama dia"


"Buku apa?"


"Buku tentang the position, isinya tentang posisi bercinta begitu siiiih. Hehehe"


"Ha?" Laras dan Duta melotot tak percaya. "Dasar kak Ais, bisa ya dia pinjam buku begituan. Haha. Nanti aku sampaikan lah ke dia"


"Eeeh, jangan. Mereka lagi bikinin ponakan buat aku. Hehehe. Biar jadi dulu. Nanti aku ambil kalau dia sudah masuk"


"Yawes lah, kami permisi dulu ya Cit. Makasih yaaa"


"Terima kasih dokter, kami permisi dulu" pamit Duta mengatupkan tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Ya pak, sama-sama. Monggo" Laras dan Citra berpelukan dan pamit dari ruangannya. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


.


Laras dan Duta pulang dengan senyum mengembang di bibirnya. Mereka berpapasan dengan Arjun yang entah dari mana.


"Assalamualaikum Arjun" sapa Laras.


"Waalaikum salam"


"Dari mana?" tanya Laras lagi.


"Menghadap HRD. Permisi" ucap Arjun sambil berlalu meninggalkan mereka.


"Itu orang pengen banget abang tampol sayang. Biar sombongnya jatuh. Gak tahu sopan santun memang" ucap Duta emosi.


"Sudah ah, jangan emosi. Gak bagus buat kesehatan. Tapi dia menghadap HRD buat apa ya?" Mereka sama-sama mengangkat bahu.


"Bukan urusan kita. Yok ke rumah Abi. Mereka nungguin kita lho" Duta menggandeng istrinya kembali.


"Iya, ambil tas dulu" Mereka kembali ke ruangan Laras dan mengambil tas. "Nin, saya pulang ya. Nanti tolong mejanya diberesi".


"Siap dok" Lalu mereka berlalu dari hadapan Nina menuju parkiran. Lalu menuju rumah abi.


Laras dan Duta tiba di rumah abi. Mereka disambut dengan gembira oleh umi. Seperti biasa, umi akan memeluk Duta terlebih dahulu. Mereka menunjukkan hasil USG nya. Umi dan abi terharu.


"Alhamdulillah. Sekarang sudah jadi calon ibu, ada nyawa lain di dalam rahim kamu. Makan harus dijaga. Ucapan juga. Kalau ada masalah segera diselesaikan. Bisa kan?" kata Abi kepada Laras dan Duta.


"Insyaallah bi, doakan kami selalu rukun" jawab Duta.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Sumbangin dong poinnya biar othor makin sumangat.

__ADS_1


__ADS_2