Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Hiperemesis Gravidarum


__ADS_3

Hari-hari dilalui Laras. Berat, pasti. Tapi ia tak ingin mengeluh. Ia hanya ingin bersyukur. Terkadang dia bisa terlihat sangat bugar, tapi terkadang juga sangat lemah. Hingga ia harus bolak balik izin.


Selama seminggu ini Laras mengalami mual muntah yang terus menerus. Setiap ia makan, langsung muntah, bahkan, untuk minum air putih pun akan dimuntahkannya lagi.


Duta tak tega melihat istrinya selemah ini. Tapi ia juga tak ingin menampakkan kesedihannya di depan Laras. Dia mencoba tegar, meski tak tega melihat kondisi istrinya. Ia pun sering mewakilkan tugasnya kepada pak Sholeh ataupun pak sekda.


Ais datang bersama Amira menjenguk Laras. Ingin melihat kondisinya. Sudah seminggu Laras ijin. Ais benar-benar khawatir dengannya.


"Assalamualaikum" sapa Ais dan Amira yang diantarkan Duta masuk ke kamar mereka. Ya, Laras hanya bisa berbaring di tempat tidur. Bahkan untuk buang air kecil saja dia harus digendong suaminya. Untuk muntah, dia harus memakai baskom.


"Waalaikum salam" jawabnya lemah sambil terpejam. Jika membuka mata, dia akan kembali muntah.


"Astaghfirullah Ras, kamu sampai begini?" tanya Ais, Laras hanya mengangguk.


"Mbak Laras beneran gak papa mbak? Mbak Laras sudah lemas begini lho mbak. Dirawat di rumah sakit saja ya" bujuk Amira yang tak tega melihat keadaan Laras.


"Dia gak mau mbak, saya sudah coba bujuk, tapi dia tetap menolak. Kemarin saya telpon dokter Citra, setelah diperiksa juga beliau menyarankan untuk dirawat, tapi Laras tetap menolak" terang Duta kepada mereka berdua.


Ais sampai menitikkan air matanya, tak tega melihat perempuan yang sudah dianggap adik olehnya. "Ras, dengerin kakak" kata Ais sambil menyembunyikan kesedihannya.


"Kalau kamu tetap seperti ini, kasihan empat bayi kamu sayang. Dirawat saja ya?" Ais masih mencoba membujuk.


"Aku gak papa" katanya pelan dan tersenyum. Ais meraih telponnya dan menghubungi Citra.


"Halo Cit, bawa infus set deh, ini kondisinya makin parah dari cerita kamu. Buruan ya" kata Ais. Lalu menoleh pada pak Duta.


"Maaf ya pak, mendahului. Tapi Laras butuh cairan. Lihatlah, turgor kulitnya" Ais menekan kulit Laras dan menjadi cekung.


"Iya gak papa mbak Ais, kalau saya yang maksa pasti jadinya ribut" terang Duta.


Tak lama Citra datang dan langsung memeriksa keadaan Laras. Dengan dibantu Ais, sekarang Laras sudah diinfus di rumahnya.


"Bumil tuh gak boleh bandel, dengerin kata suami. Terpaksa deh aku infus disini. Kamunya tetap gak mau di rumah sakit" kata Citra mengomel.


"Pak, bisa kita bicara sebentar?" kata Citra. Duta mengangguk.


"Gimana keadaan istri saya dok?" tanya Duta.

__ADS_1


"Laras mengalami hiperemesis gravidarum. Yaitu suatu kondisi mual muntah berlebihan diakibatkan oleh terlalu tingginya kadar hormon saat kehamilan. Apalagi ini kehamilan quadruplet alias kembar empat"


Duta mengangguk. Persis seperti yang pernah ia baca di internet. "Bahaya gak sih dok?" tanya Duta lagi.


Citra mengangguk. "Karena berlebihan, ditakutkan asupan nutrisi untuk bayinya pun kurang. Tetap paksa Laras makan, sedikit tapi sering. Misal intervalnya 1,5 jam sekali minta untuk makan. Kalau muntah biarkan, kasih makan lagi. Karena hanya itu yang bisa kita berikan.


Saya sudah menginjeksikan lewat infusan obat untuk muntahnya. Efeknya akan tidur, tapi jika waktunya makan, bangunkan saja, pak. Kira-kira Nina atau Dirga bisa gak ya mengawasi infusan itu dan menginjeksikan obat yang saya berikan? Mungkin dia gak mau dirawat di rumah sakit karena baunya. Soalnya kemarin waktu muntah di rumah sakit katanya baunya gak enak"


Duta mengangguk paham. "Saya coba minta bantuan dulu ke mereka" Citra mengangguk. Saat sedang menghubungi Dirga, Ais keluar dari kamar.


"Mau kemana?" tanya Citra.


"Beliin air kelapa muda. Dia minta itu" kata Ais.


"Mbak Ais disini saja. Biar saya yang belikan mbak. Tolong bujuk dia makan saja mbak" Duta segera meraih kuncinya dan berlalu meninggalkan mereka semua.


"Untung dia punya suami siaga, gak tega lihat Laras terbaring lemah begitu aku, Is"


Ais memijat dahinya. "Bandel gak mau dirawat pula"


"Mungkin dia gak kuat nyium bau rumah sakit. Kemarin dia cerita begitu soalnya" Ais mengangguk.


"Mbak Laras minta makan sama ikan lele katanya dek, mereka sudah masak belum ya? Mbak tanyakan dulu deh" Citra dan Ais mengangguk. Mereka kembali ke kamar Laras.


Amira kembali ke kamar dengan nasi dan lele hangat serta brokoli dan wortel rebus. "Mbak suapin ya" kata Amira.


Laras menggeleng. "Nunggu abang saja. Mau disuapin abang" katanya masih lemah.


Mereka mengangguk. Tak lama Duta membawa gelas yang berisi air kelapa muda itu. "Pak, mbak Laras minta disuapi katanya"


Duta mengangguk dan segera mencuci tangannya. Dia duduk disebelah istrinya, membantu istrinya duduk bersandar pada sandaran ranjang itu, menyibakkan rambutnya dan mengikatnya. Lalu mulai menyuapinya.


Semua yang menyaksikan itu bagai menyaksikan film romantis. "Ah, meleleh akuu. Romantisnyaa, hikmah kehamilan dia ya guys" kata Citra. Duta dan Laras hanya tersenyum malu.


"Kita keluar yuk, gak enak jadi obat nyamuk" celetuk Amira.


"Kita juga nyamuknya kok mbak" sahut Ais dan mereka semua tertawa. Sedikit mengukir senyum tipis di bibir Laras.

__ADS_1


Amira, Ais dan Citra menunggu di ruang tamu. Tak lama Dirga dan Nina datang. "Ini nih, pengantin baru" kata Ais.


"Hehehe, A' Duta mana teh?" tanya Dirga


"Lagi nyuapin istrinya, duduk dulu kalian. Kalian bisa kan ngawasi infusan Laras?" tanya Citra. Dirga dan Nina duduk dan mengangguk.


"Jadi ada beberapa obat yang harus lewat injeksi juga ya. Nanti tak tulisi jamnya dan dosisnya. Oh ya, terus kalau kalian jaga barengan gimana?" tanya Citra lagi.


"Gampang, nanti saya tukar ke Rena atau yang lain dok. Jadi dokter Laras kena apa sih?" tanta Nina.


"Hiperemesis gravidarum" Mereka mengangguk. "Nanti juga aku ajari pak Duta deh kalau infusannya habis. Biar kalian kesininya kalau pas injeksi aja. Interval jam nya juga panjang kok" terang Citra.


Duta keluar dari kamar melihat Nina dan Dirga disana. "Ga, kamu mau berangkat atau pulang?" tanyanya.


"Pulang A' kenapa?"


"Nanti panenkan Aa' lele tiga kilo, bersihkan sekalian. Tetehmu mau makan cuma sama ini" terang Duta.


"Bagus itu, kalsium di lele itu tinggi kok pak, gak kalah sama tulang ayam" jelas Citra dijawabi anggukan oleh Duta.


"Muntah gak pak?" tanya Amira.


"Alhamdulillah gak mbak, mungkin efek obat yang disuntikkan dokter Citra. Padahal kemarin-kemarin gak bisa masuk sama sekali" terang Duta membuat semua lega mendengarnya.


"Ya sudah, kamu disini dulu sama dokter Citra, Aa' ke rumah budhe dulu ya?" Nina mengangguk.


Citra mulai menuliskan jam pada obat-obat itu. Dosisnya berapa kapan waktunya kepada Nina. Ais dan Amira ikut mendengarkan. Duta menemani istrinya di kamar.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2