
Ais sudah mengalami kontraksi palsu sejak seminggu yang lalu. Saat ini, dia sudah dalam masa cuti. Farid dan Ais menantikan kelahiran buah cinta mereka.
Menurut perkiraan Citra, hari perkiraan lahir buah hati Ais dan Farid akan maju sekitar 1 mingguan, karena melihat Ais yang sudah merasakan kontraksi palsu itu, dan kepala janinnya sudah sangat turun.
Kadang, jika Ais berjalan terasa sakit dan ada yang mengganjal. Karena memang kepala janinnya sudah turun banyak.
"Yank, kamu yakin mau lahiran normal?" tanya Farid sambil mengelus-elus perut istrinya itu. Ais mengangguk mantap. "Yakin masku sayang, kenapa sih?"
"Mas gak tega lihat kamu kesakitan" Ais hanya tersenyum.
"Namanya perjuangan jadi seorang ibu ya begitu mas, kamu hanya perlu berdo'a semoga nanti proses lahiran anak kita lancar, ibu dan dan bayinya selamat. Jangan pikirin macem-macem" kata Ais.
"Bangun dulu, mas mau ngomong sama dedek" Ais segera bangun dari pangkuan suaminya.
"Sayangnya ayah, sebentar lagi kita bertemu nak. Ayah sudah gak sabar bertemu kamu. Oh ya, nanti jangan buat bunda sakit ya nak. Langsung brojol gitu aja" ucap Farid sambil mencium perut Ais dan mendapatkan tendangan dari janin itu.
Ais mendengar kata 'langsung brojol' sontak tertawa keras. "Ya Allah si ayah, langsung brojol. Kamu kira dia apaan yah? Ada prosesnya sayang. Bukan main asal brojol"
"Ya kan bisa aja gitu gak usah buat kamu kesakitan. Langsung aja gituuuuuhhh"
"Ayaaaaahhh, proses persalinan itu ya begitu, pintunya dibuka satu per satu. Perlahan. Tahu gak kesakitan saat melahirkan itu juga dapat pahala lho. Memang kamu gak mau istri kamu ini dapat pahala bertubi-tubi dari Allah?"
"Ya tetap saja yank, gak tega melihat kamu kesakitan" Ais geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya.
"Ambuh lah mas, sak karepmu. Pokoke aku tetep pengen lahiran normal. Emoh nek di SC (Tau ah mas, terserah kamu. Pokoknya aku tetap pengen lahiran normal. Gak mau kalau di SC)"
Farid pasrah dengan keputusan istrinya. Dia mendengar cerita dari mas Budi saat proses kelahiran anaknya, istrinya sampai nangis dan menjerit-jerit menahan sakitnya kontraksi itu.
Tiga hari berlalu, Ais merasakan nyeri hebat di pinggang menjalar ke perut bagian bawah. Dia menarik nafasnya dalam-dalam. Melihat menitan jam. Dia masih mengatur nafasnya.
Ais duduk di tepi ranjang, beranjak ingin ke toilet. Setelah nyeri itu mereda barulah dia masuk toilet. Dia melihat sudah ada lendir darah yang keluar. Segera Ais mengeluarkan dua buah tas jinjing yang sudah ia beri tulisan 'Baby' dan 'Bunda' yang menandakan keperluan ada di tas itu masing-masing.
Dia segera menghampiri mertuanya yang sedang mengaji hadist itu. "Bu, sepertinya Ais sudah mau lahiran. Sudah keluar lendir darahnya dan banyak" tuturnya santai kepada bu Farida.
Bu Farida segera menghentikan aktivitasnya dan mulai panik. "Piye? Ibu telpon Farid saiki yo? Tas mu endi nduk? Haduuuhh (Gimana? Ibu telpon Farid sekarang ya? Tas mu mana nduk? Haduuuhh)"
"Nanti saja bu, kalau kontraksinya sudah sering. Ais mau makan dulu. Lapar"
"Ibu temani yuk. Mau ibu suapkan?" Ais menggeleng. "Ais masih bisa sendiri kok bu"
Bu Farida memberitahu besannya jika Ais akan segera lahiran. Mamah Rina gembira menyambut kabar itu. "Pah, Ais udah kontraksi dan ngeluarin lendir darah tuh. Kita susulin ke rumah bu Farida yuk"
__ADS_1
"Beneran mah?" sahut Amira dan papah Wibi.
"Iya, Mir, kasih tahu Ari, adiknya mau lahiran. Mamah dan papah berangkat ke rumah Farid dulu ya sayang. Kamu di rumah sendirian gak papa kan?"
Amira mengangguk. "Iya mah gak papa. Amira kasih tahu mas Ari dulu"
"Ya sudah, papah ganti baju dulu" papah Wibi langsung naik ke kamarnya berganti baju.
Mamah Rina masih membayangkan sebentar lagi dirinya akan dipanggil eyang atau mbah oleh seorang malaikat kecil. "Mamah gak siap-siap?" tanya Amira.
"Eh iya, mamah ganti baju dulu ya sayang"
"Iya mah" Amira memberi tahu Ari jika Ais akan segera melahirkan.
"Pulang cepat ya mas, mau nemenin adek lahiran" pintanya.
Iya sayang, mas usahakan.
.
Kontraksi Ais semakin intens. Bulir-bulir keringat semakin membanjiri wajahnya. Bu Farida tak tahan untuk tak mengabari Farid.
"Pulang nak, istrimu sudah akan melahirkan. Dia sedang kesakitan. Ibu tidak tega melihatnya" ucap bu Farida lewat sambungan telpon.
"Pak, saya izin pulang cepat ya pak" ucapnya bergetar. Duta heran. "Ada apa bang?"
"Ais pak, huhuhu, Ais...."
"Kenapa dengan mbak Ais?" tanya Duta ikut panik.
"Huhuhu, Ais mau melahirkan pak, huhuhu"
"Ya Allah, bang Fariiid, istri mau lahiran kok malah nangis. Sana pulang. Temenin" perintah Duta.
"Huhuhu, saya gak tega pak lihat dia kesakitan"
"Ya Allah, abang. Bang Farid ini laki-laki seorang calon ayah, harus tegar dan kuat. Pulang bang, mbak Ais pasti butuh abang banget. Biar nanti saya pulang sama pak Pri"
Farid mengangguk. Lalu segera undur diri dari kantor. Dia bergegas ke rumah. Setelah sampai di rumah, dilihatnya istrinya sedang dielus-elus bagian punggungnya. Dia menyimpan tangisnya. Semoga pertahanannya kuat.
"Assalamualaikum, sayang, mana yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang ya?" Farid panik sampai tak menyalami mertua dan orang tuanya.
__ADS_1
"Salaman dulu sama papah mamah mas, ibu juga. Ais gak kenapa-napa kok. Tenang saja" Farid menyalami semuanya. "Gak kenapa-napa gimana? Kamu kesakitan begitu kok"
"Tenang Rid, istri kamu ini kuat kok. Ganti baju dulu, lalu kita berangkat ke rumah sakit" ucap mamah Rina menenangkan mantunya.
"Iya mah" Farid bergegas mandi dan berganti baju, mengusap air matanya dan bergegas membawa istrinya ke rumah sakit.
Saat diperiksa oleh bidan jaga IGD, Ais sudah dalam fase aktif, pembukaannya sudah 4cm. "Sepertinya bakalan cepet nih dokter Ais. Serviks nya lunak banget. Dokter Citra sudah menunggu di ruang bersalin. Langsung saya pindahkan kesana saja"
Ais langsung dimasukkan di ruabg bersalin. Ia ditemani sang mamah dan suaminya. Saat dia bisa bersantai maka dia akan bersantai. Saat kontraksi, bukan hanya dia yang ikut mwrasakan ngilunya. Farid ikut-ikutan.
"Andai sakitmu bisa dipindah yank. Mas mau merasakannya"
"Dek, ayah kamu nih payah. Masak cengeng sih"
Farid tertawa saat istrinya masih bisa bercanda. Pembukaan berlangsung cepat. Setelah merasakan sakit hampir empat jam, pembukaan Ais lengkap. Ketuban pecah saat akan melahirkan kepala.
"Oke, Is, tarik nafas panjang lalu dorong kuat disini" Ais menarik nafas panjang dan mengejan. Kepala bayi berhasil keluar, tinggal melahirkan bahu dan badan.
"Oeeeeekkk.... oekkkkk.... oekkkkk"
Farid melihat kepala anaknya sudah keluar, dia menangis haru. "Huhuhu, anak ayah, huhuhu"
Setelah bayi itu lahir sempurna segera diletakkan diatas dada Ais. "Selamat ya baby boy. Persis kayak kamu Is, tapi versi cowok. Hehe"
"Alhamdulillah" ucap Ais. Bayi itu pun langsung mencari asupan nutrisi pertamanya.
"ASI kamu sudah keluar yank?" tanya Farid. Ais mengangguk. Mereka bahagia atas kelahiran baby boy itu.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Yeeee, Ais udah punya baby. Tinggal si kembar sama Amira, eh Dirga dan Nina belum ding. Pelakor? Kasih gak ya? 🤔🤔🤔ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤