
Farid sudah berada di rumah Duta. Dia menurunkan kain dan batik tadi. Dia dibantu oleh para asisten rumah tangga Duta.
"Assalamualaikum" Farid memberikan salam saat masuk rumah Duta setelah berhasil menurunkan barang bawaannya.
"Waalaikum salam, Rid. Sudah dapat semua?" tanya mamah Aini yang menyambut kedatangannya.
"Alhamdulillah sudah semua mah. Rebes pokoknya. Tinggal besok pak Duta sama mbak Laras fitting, foto prewed, dan nyari cincin"
"Farid memang selalu bisa diandalkan ya mah?" ucap Agus yang datang dari belakang.
"Ah, kamu ini Gus, jangan memuji ku terus. Nanti akunya melambung tinggi malah lupa deh. Hahahaha"
"Ya tapi memang kenyataannya seperti itu Rid" tambah Agus.
"Sudah ah, pak Duta mana?"
"Ada di ruang kerjanya mungkin. Mau dipanggilkan?"
"Gak usah repot-repot. Biar saya saja yang kesana"
"Hahahaha, monggo-monggo" ucap Agus.
"Eh Rid, mau mamah ta'arufkan dengan kakaknya Laras tidak? Dokter Ais?" tanya mamah Aini.
"Mau mah! sangat mau! Mamah tahu saja Farid ngincer yang itu. Hahahahah"
"Dasar! Denger yang bagus aja girang dia" ucap Agus.
"Hahahaha, biar Gus, daripada yang dikelonin kertas sama laptop melulu" timpal mamah Aini.
Farid bergegas naik ke ruag kerja Duta. Setelah mengetuk pintu dan mendapat persetujuan masuk, ia segera masuk.
"Assalamualaikum pak Duta"
"Waalaikum salam bang, duduk, gimana? Sudah beres?" tanya Duta.
"Alhamdulillah sampun pak, tinggal besok bapak fitting, prewed, dan nyari cincin. Besok jadwal bapak saya alihkan sebagian ke pak wakil dan pak sekda. Biar bapak bisa lebih fokus" ucap Farid sambil duduk.
"Oke makasih ya bang, sekarang bantu saya ngelist daftar tamu undangan"
"Siap pak, oh ya pak tadi saya pilih undangan sesuai keinginan mbak Laras, lalu untuk WO nya kita pakai yang biasanya. Biayanya...."
"Saya percaya sama abang, atur saja semuanya. Ini cek kosong, nanti silahkan diisi berapa biayanya. Kita mulai sekarang ya ngelist nya. Banyak soalnya. Nanti dibantu sama mas Agus. Oh ya, undangannya bisa kan jadi hari selasa?"
"Sedang diusahakan sama mereka pak, saya sama Ais juga buat undangan digital pak, yang jauh pakai itu saja. Hehehe"
"Good idea" jawab Duta cepat.
Mereka mulai mendata nama-nama tamu undangan untuk acara pernikahan mereka. Agus baru saja bergabung dan memberikan list daftar tamu juga.
"Bang, yang 1000 untuk keluarga Laras ya. Kain nya 200 kasihkan keluarga Laras. Yang 300 tinggal disini. Daftar nama nya sudah ada di list yang ini"
Tak terasa maghrib pun menjelang. Mereka menyelesaikan daftar nama itu tepat saat iqomah.
"Alhamdulillah, tinggal di print saja, sholat dulu bang. Terus makan malam sama kami"
"Ya pak, terima kasih"
Duta dan semua anggota keluarga melaksanakan sholat berjamaah dilanjutkan dengan makan malam.
Setelah itu Farid segera mencetak daftar nama undangan itu dan membantu Duta memeriksa laporan sebentar.
__ADS_1
"Pak, mau cuti berapa minggu?" tanya Farid.
"Seminggu saja bang, tidak enak sama yang lain nanti kalau saya cuti lama-lama. Hehehehe"
"Siap pak, ini yang jauh-jauh yang mau diundang siapa saja pak? Biar nanti saya yang sebar undangannya"
"Nanti saya listkan dan kirim ke WA abang. Bang, laporan yang dari dinperkim suruh revisi ya, sudah saya tandai mana yang harus direvisi"
"Nggih pak. Oke terakhir selesaaaaaiiii" ucap Farid senang.
Duta melihat ekspresi Farid. "Senang ya bisa jalan berdua sama Ais?"
"Hahahah, bapak tahu saja. Berkat bapak saya bisa dekat lagi dengan dia. Mamah juga mau menta'arufkan saya dengan Ais"
"Cieee yang lagi kasmaran" ejek Duta.
"Memang saya doang pak yang kasmaran? Bapak juga kan? Ibarat saya lagi bersemi, bapak sudah berbunga-bunga"
"Hahahahah, iya ya. Alhamdulillah kalau semua bisa bahagia karena saya dan Laras"
"Saya pamit dulu ya pak, saya harus kembali ke percetakan biar selasa bisa selesai semua" Farid meminta ijin undur diri.
"Oke, hati-hati bang bawa mobilnya. Rabu dan Kamis abang cuti saja dari kantor, tolong diuruskan segala keperluan saya dan Laras"
"Nggih pak, sendiko dawuh. Pamit ya pak, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
.
Duta menyelonjorkan kaki nya diranjang hendak memejamkan mata selesai sholat isya'. Ponselnya berdering. Dia tersenyum dan segera menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum Ay"
"Niatnya sih mau tidur, ada bidadari lagi gangguin abang, ya gak jadi tidur"
Bidadari? Siapa? tanya Laras diseberang telpon.
"Pengen tahu banget? Alihkan ke video call" perintah Duta kepada Laras.
Laras mengalihkan panggilan suara ke panggilan video.
"Hai sayang" ucap Duta.
"Mana bidadarinya?"
"Kamu ini ketularan trio mobat mabit? Disapa ya dibalas dulu dong sapaannya"
"Hehehe, iya. Hai abang ku sayang"
"Alaaaaahhh, meleleh abang. Hahahah"
"Hish, mulai deh godain aku nya. Mana bidadarinya?" Laras mulai kesal dengan Duta.
"Godain calon istri sendiri ya gak masalah. Yang masalah itu godain punya orang lain"
"Awas ya berani godain yang lain!"
"Hahahaha, ampun sayaaaang, abang takuuut"
"Abang ih jawab dulu mana bidadarinya?"
__ADS_1
"Lha ini to, dia lagi video call an sama abang" jawab Duta enteng.
"Iiiiih, tuh kan. Abang ngerjain aku ya?"
"Gak sayang, abang seriuuuus. Serius ngerjain kamuuuuu. Hahahaha"
"Bahagia banget sih" ucap Laras
"Iya lah, ada apa telpon malam-malam? Kamu belum tidur?"
"Gak papa, pengen denger suara abang aja tadinya. Kayak ada yang kuraaaang gitu rasanya"
"Cieeeeee, kangen ya sama abaaaaaang. Hayo ngaku hayooooo?"
"Ih, abang kali yang kangen sama aku"
"Iya abang kangen sama kamu. Pengen cepet-cepet halalin kamu. Pengen cepet-cepet makan kamu" ucap Duta nyerocos.
"Makan? Memang aku apaan dimakan? Iya sih aku kangen sama abang"
"Hahahahah, akhirnya ngaku juga kamu Ay, kamu pengen honeymoon dimana sayang?"
"Belum juga akad, udah ngomongin honeymoon aja"
"Ya kan direncanakan dulu sayaaaaaang. Kamu sudah makan belum siiih? Kok kayaknya lemot begini"
"Hahahahaha, sudah. Aku ikut abang aja maunya kemana. Yang penting abang seneng"
"Haduuuuuuuh, abang nih kayak melayang di awan Ay"
"Hahahahaha, lebay abang ih. Sudah ayo tidur. Ketemu besok lagi ya abang sayang"
"Iya, kamu juga cepat istirahat. Assalamualaikum bidadari kuuuu"
"Waalaikum salam Bupati kesayangan kuuu"
"Aaaaaaa. Makin meleleh abang dengernya"
"Sudah ah, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Panggilan video berakhir. Duta dan Laras tersenyum. Mereka memejamkan mata untuk mengistirahatkan hari.
Mau bagaimana pun kita menolak jodoh, jika waktunya sudah harus datang dalam hidup kita dia akan datang dengan sendirinya. Mau sekeras apapun kita memaksakan kehendak kita, kalau memang bukan jodoh kita dia akan terlepas dengan sendirinya. Masalahnya adalah, memang kita tahu dia adalah jodoh kita?
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Maaf baru up, mood author lagi nge swing. Hahaha. Mau cari bisa balikin mood dulu.
__ADS_1
Seluruh pembaca karya author diundang di acara nikahannya pak Bupati Duta dan mbak dokter Ayu Larasati. Monggo dataaaang. 😘😘😘