Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Lem BiRu (Season 2)


__ADS_3

Farid mendapatkan picingan mata tajam dari istrinya. Bu Farida hanya menahan tawa melihat tingkah anaknya. Makin tua makin jadi, pikir bu Farida. Saat masuk ke dapur dia melihat kucing dengan lahapnya makan nasi dari tempat magic com tadi.


"Fariiiiiiiiiiidddd" Bu Farida tak kuasa lagi untuk tak berteriak. Semua berlari ke dapur. Laras mengarahkan para krucil kembali dan menyuruh mereka ke teras.


Karena hari semakin terik maka mainnya pindah ke teras. "Oke, semua dengarkan mamah. Bang Archee jadi pimpinan kelompok, bang Hilal jadi wakilnya, sekarang tugas bang Archee adalah mengawasi mereka semua untuk tidak rebutan mainan, main disini dulu ya semuanya. Mamah lihat ke dalam dulu"


Tak lama mamah Meli datang membawakan pesanan Farid. Gantian mamah Meli yang disandera oleh para krucil tak boleh pulang. Sedang di dapur para wanita sudah membacakan jampi-jampi andalan mereka.


"Ini kenapa kucing sampai makan nasi begini? Kamu pasti lupa kunci pintu belakang kan? Kamu ini gimana sih Rid, belum sehari lho kami pergi, sudah ada saja yang terjadi. Wes gini saja, ini nasi buat ngloloh barongsainya tadi" Bu Farida memulai omelannya.


"Haiyo jangan to bu, masa bekas kucing buat ngloloh kami berdua? Hehehe, maaf ya ibuku sayang. Sedekah sama kucing bu"


Bu Farida pasrah. Ais mencari-cari dimana magic com itu disembunyikan dan ketemu. Magic com itu disembunyikan di bawah ranjangnya dan dibungkus kain jarik tadi.


Ais membukanya dan mengelus dadanya. "Ayaaaaaaaahhhhh, pengen tak kremus kamu Yah, bu, lihat bu, sampai patah begini bentuknya coba bu. Barongsai macam apa kalian ini. Hadeeeehhhh"


Laras mencubit perut Duta keras-keras. "Aduh yank, sakit yank, ini idenya bang Farid, bukan abang. Abang hanya ikut-ikutan saja tadi. Beneran deh, Awawawaw, sayang sakit yank" sambil meringis kesakitan dan mencoba menepis tangan Laras.


Farid mendelik mendengar ucapan Duta yang malah menyalahkan dirinya. Semakin membuat dirinya tak berkutik di depan ibunya dan istrinya. Ih, bapak mah malah nyalahin saya, kan tadi yang minta barongsai anaknya. Nasibmu Rid Rid selalu apes.


"Sudah dong sayang, jangan marah ya bu, ya istriku yang cantik? Itu di lem biru saja. Gak usah dibuat susah. Mas tadi sudah membersihkan rumah lhooo"


"Lem biru? Emang bisa bang?" tanya Duta yang masih saja kudet tentang singkatan.


"Maksud saya, lempar beli yang baru pak"


"Terus ini lauk gak ada nasinya piye Rid? Kamu ki memang kok, gak bisa dipercaya kalau dititipin anak. Dulu Hilal bisa keluar sampai teras karena kamunya ketiduran. Sekarang magic com kamu rusakin. Besok apa lagi kalau dititipin anak? Bisa-bisa rumah roboh tinggal pondasi tok Rid" Bu Farida benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan anaknya.


Farid dan Duta hanya menggaruk tengkuk mereka yang tak gatal. "Ras, anak-anak sama siapa?" tanya Ais.


"Mamah Meli. Tenang saja. Memang mereka ini perlu disuruh ikut kelas penitipan anak kok kak, hadeh capek deeeeh" terang Laras.


"Is, masak nasi pakai dandang Is. Kita makan bersama. Ibu makin lapar lihat kelakuan mereka. Makin tua makin jadi" Bu Farida hanya geleng kepala melihat semua yang terjadi.

__ADS_1


Farid mendekati istrinya. "Sini mas bantu" Ais menyerahkan beras yang akan dicuci. "Yang penting kan anak-anak senang yank" imbuhnya.


"Ya bener sih, tapi mbok ya ide kalian ini yang benar sedikit. Masa pakai magic com. Pakai yang lain kek. Misal gayung dua disatuin gitu atau panci ini sama tutupnya kan bisa. Ampun deh kalian ini"


Duta sibuk memencet ponselnya. Dia memesan magic com untuk mengganti magic com yang rusak.


"Sudah kak, jangan dimarahi terus. Nanti kalau nangis kita yang kerepotan. Bayi besar ini kalau nangis diemnya kalau cuma dikasih satu itu" kata Laras. Duta menoleh.


"Kalau begitu kami dimarahi tiap hari saja, biar dapat itu terus"


Farid berdecak. "Bapak enak, tiap hari bisa dapat. Nah saya? Kasihan kalau tiap hari dapat pak"


"Heheheh, iya juga ya bang. Mbak Ais kan lagi mblendung"


Obrolan mengalir begitu saja. Sampai tak terasa nasi yang mereka masak matang. Laras dan Ais menyiapkan semuanya. Mereka makan besar. Baru dua keluarga rasanya sudah ramai sekali apalagi kumpul semua?


Hukuman bagi Duta dan Farid adalah menyuapi semua krucil sampai mereka kenyang. Para istri makan dengan tenang. "Kapok saya main barongsai, hampir saja kita dicaplok barongsai kita pak" kata Farid.


"Hihihi, kalau saya dicaplok Laras sih mau-mau saja bang"


"Papah sama om ngomongin apa sih? Siapa yang mau dicaplok dan siapa yang mau nyaplok pah?" Tanya Adelia.


Duta keceplosan lagi. "Mamah mau nyaplok papah tadi" Sontak Adel berteriak.


"Mamah! Papah Adel jangan dicaplok dong, kasihan tahu"


Laras menelan makanannya. "Siapa yang bilang mamah mau nyaplok papah?" Adel menunjuk ke orangnya. Duta nyengir kuda. "Ampun ibu negara, gak lagi-lagi ngomong aneh-aneh sayang"


"Nanti malam gak ada jatah pah!"


"Jatah apa mah?" tanya Aylin.


"Jatah makan malam sayang" kata Laras. "Ha ha ha ha kasihan deh papah gak bisa makan malam" ejek Aylin.

__ADS_1


Duta tepok jidat mendengarnya. "Papah gak kuat kalau disuruh puasa mah"


"Ih, kalah sama Shan, Shan saja kuat puasa seharian. Iya kan tante Ais?" Shan ikut-ikutan mengejek Duta.


Farid menyenggol Duta. "Diem bae pak daripada makin berabe. Gegara barongsai malah runyam kemana-mana"


Seorang kurir datang. Membawa magic com pesanan Duta. 2 buah sekaligus. "Ini untuk mengganti yang rusak, yang satu buat kita main barongsai lagi nanti bang" tutur Duta.


"Siap pak, kita perlihatkan pada para ibu-ibu yang ngejampi-jampi kita tadi kalau kita berbakat jadi pemain barongsai" Mereka tos, sedangkan lainnya tepok jidat.


"Yang tadi di lem biru ya, kan sudah ada gantinya. Saksikan nanti pertunjukan kami" ucap Duta.


"Sekarepmuh" ucap semuanya. Para krucil tertawa seolah mereka mengerti tragedi yang terjadi.


Selesai makan mereka benar-benar melakukan pertunjukan itu. Para wanita dan krucil tertawa melihat dua barongsai gila yang sedang tampil.


"Gak bisa kalau aku suruh marah kalau begini cara mereka menunjukkan kasih sayangnya ke kita kak" ucap Laras di sela-sela tawanya.


"Sama Ras, ada-ada aja tingakh mereka buat kita tertawa. Hmmm, rasanya gak pengen anak-anak cepat gedenya. Pengen seperti ini terus. Lihat tingkah gila mereka" sahut Ais.


"Iya, sama. Aku pun juga gak rela waktu cepat berlalu"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2