
Dirga menghadap ke HRD setelah dipersilahkan masuk oleh resepsionis disana. HRD yang diketahui namanya adalah Subiyakto itu menyambut Dirga dengan senyuman.
"Dokter Dirga ya? Mari masuk. Silahkan duduk" Ucap HRD itu.
"Iya pak, saya Dirga. Terima kasih. Dengan bapak Subiyakto ya?"
"Iya saya sendiri. HRD disini. Panggil pak To saja dokter, seperti yang lain. Ada dokumen yang harus anda tangani dokter. Terkait dengan kontrak. Silahkan dibaca dulu" ucap pak To sambil menyerahkan dokumen itu kepada Dirga.
Dirga membaca kontrak kerja itu dan tersenyum. "Saya setuju pak" ucapnya.
"Silahkan ditandatangani dokter" Dirga menandatangi kontrak itu dan memberikannya kembali kepada pak To.
Pak to mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Dirga. "Selamat bergabung di rumah sakit ini. Semoga dokter bisa menjadi dokter kebanggaan rumah sakit ini. Dan semoga betah"
"Terima kasih pak To, semoga saya bisa betah disini. Hehehe"
"Sama-sama dokter. Mulai hari ini sudah bisa langsung masuk kerja. Nanti jadwalnya tanya dengan KaRu IGD ya dok, pak Bekti namanya. Mari saya antarkan ke IGD"
"Tidak merepotkan pak?"
"Tidak, nanti saya takut dokter nyasar dan tidak balik kesini lagi. Hahaha"
"Hahaha. Mari pak"
Akhirnya Dirga dibawa berkeliling oleh pak To, menyusuri semua sudut rumah sakit. "Ini IGD rumah sakit kita, mari masuk. Kita kenalan dengan semuanya. Nanti selesai shift jangan pulang dulu, saya mau memperkenalkan dengan yang lain"
"Iya pak"
Pak To memperkenalkan Dirga kepada semua orang yang ada di IGD. Pak Bekti langsung memberikannya jadwal jaga hingga akhir bulan ini. Dirga senang karena teman sejawat disana sangat ramah. Kecuali Arjun. Acuh.
Ooo si dia yang dimaksud sama Aa'? P**antes teteh nolak dia. Potongan kayak begini mah bukan tipe teteh banget atuh.
"Apa lihat-lihat?!" tanya Arjun yang merasa diperhatikan oleh Dirga.
"Oh, tidak apa-apa kakak sen"
"Apaan itu kakak sen?" tanya Arjun
"Kakak senior maksudnya. Hehehe. Kakak Sen sudah disini berapa lama?"
"Sudah 6 tahun" jawab Arjun kasar.
Pasien kecelakaan baru saja datang. Arjun malas-malasan.
"Heh anak baru, sana tangani semuanya" perintah Arjun kepada Dirga.
Lhah cuma aku doang yang suruh menangani? Dia ngapain?
"Sana cepet! malah bengong!"
"Oh siap kakak, santai saja disini sambil main hp. Serahkan semuanya sama saya" sindirnya terhadap Arjun.
"Kau menyindirku??!"
"Eh, tidak. Mana berani saya sama senior disini. Saya mah apa atuh" Dirga meninggalkan Arjun dan segera manangani pasien-pasien kecelakaan itu.
Cukup sibuk jika harus dikerjakan sendiri. Hingga Ais lewat di depan IGD dan melihat kesibukan itu. Dia melihat Arjun hanya duduk bersantai sambil bermain ponsel.
"Memang kelewatan itu anak. Hmm, biarkan saja lah, toh sudah ada yang menangani. Tapi kenapa ada 2 dokter saat ini? Apakah anak magang? Tapi kok aku tidak dapat? Entahlah" gumam Ais dan berlalu menuju ruangannya.
Laras sampai kehausan karena begitu banyaknya pasien. Yang diawal Nina bilang 35 bertambah 10 pasien lagi. Laras sampai harus pilih-pilih mendengarkan cerita mereka agar tak kehabisan waktu. Hingga adzan dzuhur terdengar masih sisa 5 pasien yang setia menunggu Laras. Dia ijin kepada pasien itu untuk sholat terlebih dahulu.
__ADS_1
Ais yang tahu Laras sudah mulai bekerja lagi setelah cuti menghampiri ruangannya, tapi masih ada 5 pasien lagi. Alhasil dia harus menunggu di ruangan tersembunyi itu.
Tak lama Laras kembali dan segera menyelesaikan pasiennya dengan cepat. Sampai bunyi ponsel pun tak ia hiraukan. Waktu menunjukkan pukul 2 tepat. Pasien sudah selesai. Ais keluar dari ruangan itu. Nina dan Laras sedang beristirahat.
"Hai haiiii bu Bupati kita. Apa kabar? Gimana honeymoon nya?" sapa Ais.
"Kakak sejak kapan disitu? Sudah makan belum?" tanya Laras sambil membuka pesan dari suaminya.
"Belum. Order online gih Ras, Nin, bajumu kenopo?" tanya Ais yang melihat noda coklat di baju seragam Nina.
"Itu dok, tadi ada cowok nyebelin nabrak aku kena tumpahan susu coklat ke baju aku deh jadinya. Nyebelin memang. Cuma minta maaf doang dan langsung ditinggal pergi coba dooook, siapa yang gak dongkooool" cerocos Nina.
"Siapa sih? Pasien? Maklumin saja lah, mungkin dia sedang terburu-buru" sahut Ais.
"Bukan, dia bukan pasien" timpal Laras.
"Kok dokter tahu si dia bukan pasien?"
"Ya tahu lah, si dia yang kamu maksud tuh ya dokter baru disini. Pegawai BLUD. Sepupu bang Duta. Namanya Dirga"
"Ooo dia sepupu pak Bup. Harus minta ganti rugi nih kalau begini, huh" ucapnya kesal.
Laras hanya tertawa melihat ekspresi Nina begitu sebal.
"Sudah pesan makan belum sih?" tanya Ais.
"Belum lah, daritadi ngobrolin si dia. Mau makan apa?"
"Nasi padang, kamu apa Nin?" tanya Ais
"Sama"
"Rena ijin ya dok?" tanya Nina
"Iya, dia sakit. Jadi deh aku tadi sendirian. Untung pasien ku tidak sebanyak poli ini. Haha"
"Capek banget aku kaaaak"
"Capek pasien apa capek dikerjain sama pak Bup?"
"Kakaaaaakk, capek pasien lah. Kalau dikerjain gak boleh capek. Biar sama-sama dapat pahala"
"Cie yang sekarang sudah sah, ngomongnya pahala melulu ya Nin?"
"Hahaha, gak ikut-ikut. Nanti tidak dapat tip. Wkwkwkw"
Tak lama pesanan mereka pun datang. Mereka makan dengan lahap. Karena tenaga mereka terkuras melayani pasien. Nina dengan cekatan membereskan bungkus makanan itu dan membuangnya di sampah luar ruangan itu.
Gubrak. "Aduuuuh" ucap mereka yang saling bertabrakan.
"Sorry sorry" ucap Dirga.
"Si Dia lagi" gumam Nina. Ais dan Laras tertawa dengan kejadian barusan.
"Sekali lagi kalian tabrakan, jodoh!" ucap Laras asal. Membuat Nina dan Dirga melotot.
"Dokter apaan sih" jawab Nina kesal.
"Ngapain Ga?" tanya Laras.
"Melaksanakan mandat dari Aa' atuh teh. Eh, teh maaf ya tadi pagi nabrak dan baju teteh jadi kotor. Saya buru-buru soalnya" ucapnya kepada Nina
__ADS_1
"Oo tidak bisaaa, ganti rugi. Enak saja hanya minta maaf doang"
"Ganti rugi yang bagaimana?"
"Ganti rugi ajak kencan Ga, jomblo tuh. Jangan disia-siakan" Ledek Laras. Ais semakin tertawa melihat ekspresi Nina yang semakin melotot.
"Waaah, kebetulan sekali saya jomblo teh. Kenalkan nama saya Dirga" Dirga mengulurkan tangan sambil tersenyum kepada Nina.
"Gak tanya, ganti rugi uang loundry" jawab Nina.
Dirga segera mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang 50 ribuan 1 lembar. "Maaf ya teh"
"Maaf diterima, tapi lain kali begini lagi awas saja nanti" Nina mengambil uang itu dan berlalu membuang sampah. Laras dan Ais hanya tertawa dengan tingkah mereka.
"Kenalin nih, calonnya mas Farid. Yang kemarin jemput kita di Jogja" ucap Laras.
"Saya Dirga"
"Saya Ais, dokter bedah disini. Kamu jaga di IGD sama si Arjun tadi?" jawab Ais.
"Iya, kok teh Ais tahu? Gilaaaa, itu dokter seenaknya bangeeeet. Untung setelah ini shift kami beda"
"Hahah, tadi saya lewat IGD dan lihat kamu lagi dikerjain sama si Arjun, kalau dia minta tukar jadwal jangan mau. Dia memang begitu"
"Siap. Teteh pulang jam berapa?"
"Jam 4, kamu kalau mau pulang ya pulang saja. Aku disini banyak temannya. Kasihan mamah kalau sendirian. Buruan sana balik"
"Nanti kalau Aa' marah gimana? Kan aku disuruh jagain teteh dari si Arjun itu"
"Gak usah khawatir. Aku bisa menghadapinya. Bukankah shift kalian sudah selesai? Dia sudah pulang kan?"
"Mana urang tahu teh, dia sebelum jam pulang sudah hilang duluan"
"Pulang saja Ga" ucap Laras.
"Hmm, ya sudah kalau begitu. Tapi nanti bilang sama Aa' ya, kalau yang nyuruh pulang teteh"
"Iyaaaa. Udah sana pulang"
"Yang tadi namanya siapa?"
Ais dan Laras saling pandang dan tertawa. "Cari tahu sendiri" ucap Ais.
"Gak ah, takut. Galak orangnya. Aku balik ya. Daaah"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
happy reading all 😘😘😘
__ADS_1