Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Hari H


__ADS_3

"Ay, gimana hasilnya?" Duta semakin tak sabar dengan jawaban istrinya. Laras duduk dengan wajah datar. Duta yang melihatnya langsung memeluk istrinya.


"Ya sudah, jangan dipikirkan. Kita coba lagi nanti" ucapnya menenangkan dan mengecup kening Laras.


"Alhamdulillah garisnya dua sayang, Laras positif" ucap Laras sambil berlinang air mata di dekapan Duta.


"A-apa tadi? Kamu bilang positif?" tanya Duta tak kalah senang. "Iya bang, Laras positif hamil. Besok kita periksa ke dokter kandungan ya" ulang Laras memperjelas ucapannya.


Duta melihat hasil tespack itu. Garis dua yang dia nantikan akhirnya terwujud. Dia memeluk lagi istrinya. "Terima kasih sudah memberi hadiah manis untuk abang pagi ini"


"Sama-sama. Ayo sholat, bisa kelewatan nanti shubuhnya bang" Duta menghujani Laras dengan ciuman. "Ayo sholat" ajaknya.


.


Farid sudah mengambil cuti. Ais juga sudah ambil cuti dari rumah sakit. Hari berlalu mendekati hari pernikahan mereka. Semakin berdebar rasanya.


"Assalamualaikum mas" sapa Ais saat melakukan video call dengan Farid.


"Waalaikum salam, mas kangen" jawab Farid.


"Masih pagi nih, jangan menggombal. Kamu lagi apa? Sudah sarapan?"


"Bukan menggombal. Mas beneran kangen sama kamu Is, memang kamu gak kangen apa sama calon bojomu sendiri?" jawab Farid kesal.


Ais tertawa melihat wajah Farid. "Ya kangen lah. Sabar, tinggal besok. Ini sudah persiapan mau siraman sayang. Nanti sore pengajian. Kamu belum siap-siap?"


"Hmm, rasanya pengen cepat akad, saksi bilang sah! Serumah sama kamu. Haduuuuh rasanya lama banget siiiih"


Ais semakin tertawa melihat Farid yang kelimpungan tidak bisa bertemu dengan dirinya. Tiba-tiba Ari datang dari luar masuk ke kamar Ais.


"Dek, orang dari WO udah datang tuh. Buruan. Acara tinggal sejam lagi lho" kata Ari.


"Iya bentar, nih, temenmu gangguin aku terus. Ngomong sama mas Ari ya sayang. Aku mau siap-siap dulu"


"Iya deh. Hai calon kakak ipar. Bagi pengalaman dong"


"Pengalaman apaan?"


"Itu....." kata Farid malu-malu. "Ais masih disana gak?"


"Udah keluar, pengalaman apaan?"


"Jangan berlagak gak tahu deh Ri, pengalaman itu lho....Nganu"


"Nganu apaan?"


"Alah udah lah, aku juga mau siap-siap untuk siraman. Wes yo. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Ari tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Farid. Dia hanya tersenyum kecut. "Aku yo gak tahu rasanya malam pertama itu gimana Rid. Belum sempat melakukan itu. Ada saja alasannya menolakku. Duda ting-ting ya aku ini. Haha. Sabar Ri. Mau gimana lagi. Sudah jadi takdir" kata Ari menyemangati dirinya sendiri.


Prosesi siraman dan pengajian berlangsung lancar. Laras sengaja ijin 2 hari untuk menemani kakaknya itu. Duta menemani Farid. Dia mengingatkan Laras untuk tidak terlalu capek. Duta juga sudah memberitahu mertua dan mamahnya.

__ADS_1


Hari H tiba. Kedua mempelai sibuk dengan persiapan di masing-masing keluarga. Ais sudah dari subuh dirias secantik mungkin oleh perias itu. Akad akan dilakukan di gedung x pukul 7 pagi.


Farid dan rombongan sudah sampai di gedung x. Tak lama Ais dan rombongan juga sudah sampai disana. Pak Wibisana sebagai wali Ais akan menikahkan sendiri anak perempuannya itu.


Farid duduk berhadapan dengan pak Wibisana. Duta bertindak sebagai saksi, dan satu lagi dari pihak keluarga Ais. Penghulu seperti baisa, melakukan tugasnya dengan sangat lanyah.


Setelah pembacaan ayat suci al-qur'an selesai pak Wibisana menjabat tangan Farid. Entah Farid ini sedang grogi atau apa dia malah mengajak pak Wibisana gambreng. Sontak semua yang ada disana tertawa.


Hingga Ais yang masih disembunyikan di ruangan khusus mendengar gelar tawa dari orang-orang disana. "Kenapa pada ketawa sih Ras?"


"Hahaha, gimana gak pada ketawa, mas Farid disuruh jabat tangan sama papah malah ngajakin gambreng"


"Ha? Itu orang belum sarapan atau gimana sih? Saat genting kayak begini malah ngelawak"


"Sabar dong. Grogi kali kak. Kakak tuh disini tugasnya mendoakan mas Farid. Supaya ucapannya lancar. Kalau sampai gagal kakak mau batal nikah?"


"Astaghfirullah Laraaaas, jangan ngedoain begitu dong"


"Ya makanya jangan bawel. Berdoa"


Kembali ke Farid "Dijabat mas, bukan gambreng" kata penghulu menyaksikan kejadian menggelikan itu.


"Oh maaf pak, astaghfirullah. Ehm. Bismillah" Farid menjabat tangan pak Wibisana. Seketika suasana menjadi tegang kembali. Tangan Farid menjadi dingin. Dia mencoba untuk tetap tenang.


"Bismillahirrahmanirrahim, Farid Baihaqi, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan putri saya, Aisyah Wibisana binti Wibisana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 3 juta rupiah dibayar tuunai" ucap pak Wibisana.


Farid menarik nafas panjang dan mengucapkan ikrarnya. "Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Wibisana binti Wibisana dengan mas kawin tersebut dibayar tuuunaiii" Penghulu menoleh kepada para saksi.


"Alhamdulillah, barakallahu lakuma wabarokah alaikuma wajama'a bainahuma fii khoir. Tolong mempelai wanitanya dipersilahkan duduk berdampingan untuk menandatangani buku nikahnya" perintah penghulu itu.


Ari membawa adiknya bersama mamahnya keluar. Ais didudukkan bersanding dengan Farid. Senyum bahagia merekah dari kedua insan yang telah menjadi suami istri itu. Ais dipakaikan cincin kawin oleh Farid dan sebaliknya. Semua mengabadikan moment yang ada. Ais mencium tangan Farid. Farid membalas mengecup kening Ais.


Lalu mereka menandatangani buku nikah itu. Menandakan mereka sudah sah dan tercatat dalam dokumen negara sebagai pasangan suami istri.


Sesi foto dimulai. Semua berfoto dengan mempelai. Sebelum tamu undangan berdatangan. Duta duduk dengan istrinya. Mengambilkan makan untuknya dan mulai menyuapinya.


Nafsu makan Laras benar-benar meningkat. Duta semakin sayang dengan istrinya yang selalu ingin dimanja. Mereka menunda untuk periksa ke dokter karena acara Farid dan Ais.


Waktu resepsi tiba. Semua sudah siap menyambut tamu undangan yang ada. Bupati Pati yang kenal baik dengan Duta dan Farid juga datang dengan putri ketiganya. Ya, dia selalu menemani kemanapun ayahnya pergi, sebagai pendamping pengganti ibunya.


"Aduh" ucap Ari saat menabrak seorang perempuan.


"Eh" jawab perempuan itu.


"Maaf ya mbak, saya gak sengaja. Jadi kotor deh bajunya"


"Gak papa mas, warnanya hitam kok, jadi gak terlalu kelihatan" jawab wanita itu dengan senyum tulus.


Ari terpesona dengan senyum wanita itu. "Kenalkan nama saya Ari Wibisana, kakaknya mempelai wanita" Ari mengulurkan tangan kepada wanita itu.


"Saya Amira, anak bupati Pati. Saya permisi ke toilet dulu"

__ADS_1


"Oh silahkan, sekali lagi maaf ya"


"Iya gak papa mas" Amira berlalu ke toilet. Manis banget senyumnya, haduuuh. "Alah lupa minta nomor hapenya lagi" ucap Ari menepok jidat.


Para tamu undangan hadir memberi selamat kepada mempelai. Dirga datang sendiri karena Nina memilih datang bersama Rena. Dirga sampai disana terlebih dahulu. Ikut bergabung dengan keluarga Duta dan Laras.


"Kok sendirian? Nina mana Ga?" tanya Laras celingukan.


"Dia datang sama Rena teh, gak mau bareng. Takut disangka ada apa-apa" jelas Dirga.


"Lha kamu sama dia sebenarnya gimana sih?" tanya Duta kepo.


Dirga nyengir. "Cuma temen"


"Hahaha, pantas lah dia gak mau. Kamunya aja gak jelas begini kok. Jangan sampai diambil orang lagi" jelas Duta.


"Lhah, kan jelas A' temen"


"Itu kalau untuk perempuan gak jelas Dirga. Temen yang gimana dulu. Teman sehidup semati atau cuma temen sebatas temen. Gak lebih. Lha kamu ada perasaan sama dia gak? Jangan di php in anak orang"


"Heheheh, ada sih perasaan. Tapi takut ngungkapin. Takut kalau dia pergi menjauh"


"Halah, cowok kok cemen. Deketin aja dulu. Dekati dia dengan cara yang berbeda. Minta sama sang pencipta. Sebut dia dalam doa kamu. Dekati orang tuanya. Itu yang dulu Aa' lakuin buat naklukin hati tetehmu"


"Iya kah?" tanya Laras mengingat kejadian saat mereka pertama kali dipertemukan.


"Hahaha, teteh aja gak yakin tuh" Pandangan Dirga mengarah ke Nina dan Rena yang baru saja tiba. "Astagaaa, itu cewek kenapa makin hari makin cantik siiih"


Duta dan Laras menoleh lalu memanggil mereka berdua. Dirga menjadi salah tingkah.


"Baru datang?" tanya Laras.


"Iya dok, pak bupati" senyum Rena dan Nina kompak.


"Lhah ini dokter Dirga datang, katamu dia gak bisa datang Nin, makanya kamu bareng sama aku" Nina mencubit lengan Rena sambil melotot. "Sakit" ucap Rena kesal.


"Kami permisi dulu" ucap Nina cepat.


"Nin, nyanyi yok" Dirga meraih tangan Nina dan mengajaknya naik ke atas panggung.


.


.


.


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Tip


__ADS_2