Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Ikhlas


__ADS_3

Sore itu Ais dan Laras menjenguk Amira yang sakit. Ari sampai ikut tak masuk kerja karena menjaga Amira.


"Kok kamu ikut-ikutan ijin sih mas?" tanya Amira yang melihat Ari sedang serius di depan laptopnya.


"Jagain kamu" jawabnya masih lurus dengan laptop.


"Akunya gak papa mas, panas aku sudah turun, pusing ku sudah hilang" ucap Amira sambil duduk di sebelah Ari. "Ngerjain apa sih?"


"Ini, laporan dari bagian marketing" jawab Ari sambil menoleh ke Amira. Wajah mereka hanya berjarak 5 sentimeter. Jantung Ari rasanya mau loncat dari tempatnya.


"Ehem ehem ehem. Kok aku batuk tiba-tiba ya?" kata Ais berpura-pura batuk. Karena saat itu pintu terbuka lebar maka pemandangan itu terpampang nyata.


Mereka berdua menoleh. "Salam kek dek, assalamualaikum gitu"


"Waalaikum salam" jawab Laras dan Ais kompak. Mereka cekikikan melihat wajah Ari dan Amira yang memerah karena malu.


"Eh, mbak Laras dan mbak Ais, tumben kesini. Mari masuk. Kok aku malah yang mempersilahkan ya? hehe"


Laras dan Ais masuk. "Gak papa mbak Amira, serasa yang punya rumah sendiri ya? Berarti disini betah dong" sahut Laras. Amira hanya tersenyum.


"Betah karena ada mas Ari ya?" goda Ais. "Apaan sih kamu dek, udah ah, aku mau kerja di kamar saja lah" Ari segera berlalu meninggalkan mereka bertiga.


"Mbak Laras dan mbak Ais ada apa kesini?"


"Jenguk kamu mbak Mira, kata mas Ari kamu lagi sakit. Mamah mana?" jawab Ais.


"Kemarin demam mbak, sekarang udah baikan kok. Mamah dan papah ke Medan semalam. Gak nanya pulangnya kapan" Ais dan Laras hanya ber ooo ria.


"Alhamdulillah kalau sudah baikan mbak Mira, kepikiran papahnya ya?" tanya Laras penasaran. Amira hanya mengangguk lesu. "Sabar ya mbak"


Amira mengangguk. "Mbak Mira, mas Ari gimana?" tanya Ais kepo.


"Gimana? Gimana maksudnya mbak Ais?"


"Ya maksudnya dia sering bertingkah aneh gak sih ke mbak Mira?"


Amira mengingat-ingat tingkah aneh Ari. "Mas Ari tuh suka banget curi-curi pandang ke aku" jawabnya malu.


"Fix!" kata Laras dan Ais kompak. "Mbak Mira punya pacar?" Amira menggeleng. "Mereka pada ngacir saat mereka tahu aku anak bupati mbak" jawabnya kepada Laras.


"Mbak Mira gak ada perasaan apa-apa gitu ke mas Ari?" tanya Ais yang berhasil membuat wajah Amira merah padam. "Kok nanya begitu mbak?"


"Sepertinya mas Ari lagi jatuh cinta sama kamu deh mbak. Cara natap dia ke kamu itu beda banget. Daleeeem banget, seperti menaruh harapan dan balasan" cerocos Ais.


Amira hanya tersenyum tak tahu harus menjawab apa. "Oh ya, ini kami bawakan makanan, cepet sembuh ya mbak Mira" kata Laras.


"Sudah sembuh kok mbak, mas Ari nya saja yang lebay. Beneran kok akunya gak papa. Makasih ya kue nya"

__ADS_1


"Kami gak bisa lama-lama mbak, kami pamit dulu ya"


"Mbak Mira, kalau memang ada rasa sama mas Ari, tolong diungkapkan. Dia sudah pernah gagal, tapi itu bukan kesalahannya kok mbak, mas Ari agak pemalu. Jadi kalau mbak Amira memang benar ada rasa ke mas Ari, tolong ungkapkan mbak. Apapun rasa itu. Agar mas Ari juga tak menaruh harap yang terlalu besar jika mbak memang tak ada rasa sekalipun" ucap Ais.


Amira mengangguk dan tersenyum "Iya mbak. Kalian pulangnya hati-hati ya" Amira memeluk dan cipika cipiki mereka.


"Iya, jaga kesehatan ya mbak, kami pamit, assalamualaikum" kata Laras.


"Waalaikum salam" Amira menutup kembali pintu rumah yang sedari tadi terbuka untuk membantu sirkulasi udara.


.


Duta pulang tepat sesuai janjinya, Laras menyambutnya dan langsung memeluknya. Dia bermanja-manja sebentar dengan Duta.


"Sudah pesan tiket bang?"


"Sudah sayang. Hmm, mungkin ini yang terbaik untuk om Kusman. Semua atas kehendak-Nya. Semoga mereka yang ditinggalkan diberi ketabahan. Aamiin"


"Aamiin. Besok berangkat jam berapa?"


"Penerbangan pertama, jam 7 pagi. Kita diantar bang Farid ke bandara" Laras mengangguk. "Ya sudah kita istirahat dulu"


"Laras siapkan keperluan untuk besok dulu sayang" Laras melepaskan pelukannya, dengan cepat Duta menarik tangannya. "Bobok sini, biar abang yang siapkan semuanya"


Laras hanya tersenyum dan kembali ke ranjang. Duta mempersiapkan segala keperluannya besok, setidaknya untuk 2 hari di Bandung.


.


Dirga hanya bisa menahan air matanya untuk tak tumpah. Dia harus terlihat kuat dan tegar untuk mamahnya. Sungguh, sebenarnya dia butuh bahu untuknya bersandar. Mereka kembali ke rumah setelah pemakaman itu usai.


Laras dan Duta baru saja tiba di Bandara. Mereka langsung menuju kediaman Dirga. Mamah Aini dan tante Rum menguatkan tante Meli dan Dirga.


"Mel, mbak tahu ini berat untuk mu dan Dirga. Mbak juga pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Kalian yang sabar, ikhlas, terima keadaan ini dengan legowo"


Tante Meli mengangguk. "Semoga aku bisa ikhlas melepas kepergian bang Kusman mbak, dia terlalu cepat meninggalkanku, hiks"


"Mel, dia sudah tidak kesakitan lagi, dia sudah tenang disana, doakan, dan terima keadaan nduk, agar hatimu lebih tabah" imbuh tante Rum.


"Iya mah, benar kata budhe Aini dan budhe Rum. Mamah harus kuat, papah sudah bahagia disana mah" Tante Meli hanya mengangguk. Matanya bengkak akibat menangis terus menerus.


Laras dan Duta tiba di rumah Dirga. Mereka juga memberi dukungan untuk tante Meli dan Dirga. "Tante sabar ya" ucao Duta memeluk tantenya.


Nina baru berangkat dari Jogja pukul 4 sore, tiba di Bandung hampir petang. Dia tak tahu arah. Dia menghubungi Dirga kembali.


"A', bisa jemput aku di bandara gak? Aku takut sendirian disini"


Iya tunggu Aa'

__ADS_1


"Iya"


Nina menunggu hampir 45 menit dan akhirnya Dirga muncul. "Maaf ya lama, jalanan macet sayang"


Dilihatnya mata itu, terlihat sisa setelah menangis, matanya sembab. "Papah sudah dimakamkan?" Dirga mengangguk. "Ke makam papah yuk, maaf datangnya telat" Dirga kembali mengangguk. Mereka menuju tempat pemakaman om Kusman.


Nina tak banyak bicara saat di perjalanan. Dia hanya melihat Dirga, pilu. "Yang tabah ya sayang, ikhlaskan papah"


Dirga masih lurus menatap jalanan. Nina meraih tangan Dirga dan menggenggamnya erat. "Harus kuat untuk mamah. Semangat pacar" kata Nina sambil tersenyum. Membuat Dirga juga menampilkan senyum tipisnya.


Mereka tiba dipemakaman papag Dirga. Nina memejamkan matanya sebentar dan berdoa. "Semoga papah tenang disana ya pah"


Dirga berjongkok. "Pah, ini Nina, calon mantu papah, papah nih terlalu cepat perginya. Hiks" Air mata Dirga tumpah begitu saja saat mengatakan itu. Sungguh menyakitkan ditinggalkan oleh orang tersayang.


Nina menenangkannya, lalu mereka kembali ke rumah Dirga. "Kamu katanya sama ibu, kok gak sama ibu?"


"Ibu gak bisa, besok siang aku harus sudah pulang ke Magelang. Kamu gak papa kan aku tinggal" Dirga mengangguk. "Gak papa, makasih sudah mau menemaniku"


"Sama-sama" Akhirnya jam 7 tepat Dirga baru sampai rumah. Mamahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya. Dia mengajak Nina masuk rumah.


"Mah, budhe, A', teh, ada Nina nih" bagi mamah Aini, Duta dan Laras sudah tak heran lagi dengan Nina.


"Eee, Nina. Mel, kamu tahu siapa dia?" tante Meli menggeleng. Nina menyalami semua yang ada disana kecuali Duta yang hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Mah, ini Nina" Nina tersenyum. "Siapanya kamu Ga?"


Dirga tersenyum malu, "Emm, calon mantu mamah" Tante Meli tersenyum lebar dan bahagia, lalu memeluk Nina.


"Siapa tadi Ga? Dulu sih ada yang bilang hanya teman, gak lebih" goda Laras.


"Ih, dokter Laras, malu tau"


"Hahaha" mereka semua tertawa melihat muka Nina yang merah padam.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Kok makin kesini makin dikit ya yang komen? Kurang greget kah?


__ADS_2