
"Oeeeekk, oeeeekkkk..... oeeeeekkkkk" seorang bayi mungil masih berlumuran darah, lahir dari rahim seorang Aisyah Wibisana. Tangisannya disambut rasa syukur oleh semuanya.
"Alhamdulillah ya Allaaaaah, bayinya lahir sempurna bu, tangisannya kuat, jenis kelaminnya perempuan. Disusui dulu bayinya ya" ucap dokter itu setelah membersihkan sisa darah dari tubuh bayi perempuan mungil itu.
Farid menitikkan air matanya. Keinginannya terkabul. Selama kehamilan Ais, dirinya sepakat dengan Ais untuk melarang Citra untuk memberitahukan jenis kelamin bayi mereka nantinya.
"Bayinya lahir pukul 21.45 ya bu, pak. Nanti setelah IMD, diadzani ya pak. Silahkan ambil wudhu dulu. Ari-arinya lahir lengkap ya, dan ini... ada sedikit robekan pada jalan lahir ibu, mungkin karena tadi bokongnya diangkat" terang dokter itu.
"Iya dok, jahit saja. Mas, tunggu disini dulu sampai selesai jahitnya, aku butuh penguat" kata Ais.
Farid menautkan alisnya bingung. "Penguat opo yank?"
Ais menyuruh Farid mendekatkan wajahnya ke wajah Ais. "Sini" kata Ais.
"Ooo, mas mudeng ini, minta kiss ya? hihihi, malu to yank, ada bu dokter sama bu bidan. Nek ini dokternya Citra yo wes tak lahap habis kamu" Farid memulai tingkah konyolnya kembali.
Dokter dan Bidan itu hanya tersenyum mendengarkan perkataan Farid. Dokter mulai membius Ais tanpa aba-aba. Sontak tangan Ais langsung meraih rambut Farid dan menjambaknya kuat.
"Aaaaaaaaa, Ya Allaaaahh, pedes ya Allahhhhh, yank, sakit yank. Huhuhuhu"
Ais tak menggubris Farid. Dia tetap menjambak Farid. Farid hanya bisa menahan rasa pedas di kulit kepalanya akibat rambutnya dijambak-jambak oleh istrinya. Tak lama kemudian jahitan pun selesai.
Ais melepaskan jambakan itu. "Makasih ya sayang atas penguatnya. Hehehe"
"Huhuhu, tega kamu yank. Mas mau ambil wudhu dulu buat mengadzani anak kita" Farid berlalu dan mengambil wudhu. Dia melantukan gema adzan yang merdu di telinga bayi perempuan itu.
"Assalamualaikum baby Humai. Aisyah Humaira Makarim" Farid tersenyum dan menghujani baby Humai dengan ciuman kasih sayang seorang Ayah.
Ais dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Hilal dan Habib datang bersama orang tua Ais. Mereka memaksa ikut, akhirnya oleh satpam penjaga rumah sakit diperbolehkan tapi hanya sebentar saja.
Mereka gemas melihat adik perempuan mereka. "Bun, adiknya namanya siapa?" tanya Habib penasaran.
Farid menggendong baby Humai dan duduk di sofa. Hilal dan Habib mengikuti langkah Ayah mereka. "Namanya Aisyah Humaira Makarim. Panggilnya dek Humai. Jadi, sekarang mas Hilal punya 2 adik, harus bisa jagain 2 adiknya ya sayang. Harus adil terhadap dua adiknya nanti. Dan mas Habib, sekarang sudah punya adik, jadi gak boleh cengeng lagi. Mengerti?" tutur Farid.
Mereka mengangguk. "Iya Yah" sahut keduanya.
__ADS_1
"Humai, kok cuma tidur terus sih? Ngomong dong deek" pinta Habib polos.
Hilal berdecak. "Mana bisa Humai ngomong sekarang dek? Humai nanti ngomongnya kalau sudah besar kayak kita"
"Ih, mas Hilal, jangan panggil Habib dengan dek lagi dong. Habib sudah jadi mas juga lho kayak mas Hilal"
"Iya, bawel ih kayak Ayah"
Semuanya tertawa mendengar dan menyaksikan perdebatan itu. "Sudah kan lihat adeknya? Yuk pulang, nanti dimarahi pak satpamnya lho" Pak Wibi membujuk cucunya untuk pulang.
Habib merajuk. Dia tak mau pulang. "Mas Habib, jangan begini dong, sekarangas Habib sama mas Hilal pulang sama opa dan oma dulu. Besok kan Humai pulang ke rumah kita, nah, besok bobok bareng. Oke?" Farid membujuk anaknya. Akhirnya Habib mau menuruti keinginan ayahnya.
.
Pagi hari, setelah dokter melakukan visit terhadap ibu dan bayinya, Ais diperbolehkan pulang bersama Humai. Para penjenguk pun batal untuk menjenguknya di rumah sakit.
Farid membantu istrinya untuk berjalan. Humai digendong oleh bu Farida. Di rumah, Pak Wibi dam istrinya, serta para cucu, Amira dan Ari, Duta dan Laras, Mamah Aini, Abi dan Umi, Nina, mamah Meli berkumpul untuk menyambut kedatangam baby Humai.
Tak lama, yang dinanti pun datang. Sholawat dilantunkan oleh semuanya menyambut baby Humai.
Laras tersenyum "Iya ya? Hehehe, semoga bulan ini gol ya bang proposalnya? Laras takut mau ngecek"
Duta semangat membahasnya. "Memang sudah telat?" Laras mengangguk. "Berapa lama?" tanya Duta lagi.
"Baru 2 hari. Nanti saja ngeceknya kalau sudaj seminggu"
"Hish! Nanti pulang langsung beli Ay. Abang gak sabar"
Laras berdecak. "Nanti kalau gak garis dua gimana? Laras takut buat abang kecewa"
Duta tersenyum "Abang ikhlas atas keputusan Allah. Nanti pulang kita beli testpack"
Laras mengangguk setuju. Ariemancing Farid berbagi cerita. "Rid, gimana kemarin nungguin Ais lahiran?"
"Alaaaahhh, maaaas, pedes rambutku mas. Dijambak bolak balik sama Ais. Katanya buat penguat dia"
__ADS_1
Semua tertawa. "Ingat pengorbanan istri baaaang" sindir Duta. "Iya pak, ingat saya. Tapi mbok ya kasih aba-aba dulu"
"Memang kak Ais langsung main jambak mas?" tanya Laras.
Ais berdecak. "Bayangin kamu kontraksi suruh ngomong. Fokus gak?"
"Mana aku tahu? Aku kan gak merasakan kontraksi kakaaaak" Laras menggeram kepada Ais.
"Iya, dia kan program dek" timpal Amira. "Akupun, nanti kalau hamil dan lahiran lagi juga mau ngejambak mas Ari ah, biar puas"
"Puas apa yank?" tanya Ari
"Puas olehku melampiaskan kekesalanku kepadamu gara-gara rekan bisnismu itu"
Semua tertawa. "Tenang pemirsaaah, mas sudah putus kontrak dengan orang itu. Nomornya sudah mas blokir"
"Ganti nomor mas Ari, kalau cuma diblokir dia bisa pakai nomor lain" kata Laras.
"Setuju!" sahut semua. "Iya, nanti aku ganti nomor" jawab Ari agar semua puas.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Bentar lagi mau tamat yaaaah. Jangan tanya othor kenapa upnya lama? Dikit? Bayangi gaes, othor harus memutar otak untuk 2 karya yang masih on goinnngggggg. So please,.kasih othor semangat ajah, jangan tanya upnya dikit kenapa. Oke readers? 😘😘😘
__ADS_1