Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Es Itu Meleleh


__ADS_3

"Maaf" ucap Ais sambil menoleh ke Farid. Beberapa saat mereka diam lagi.


"Untuk apa?" tanya Farid akhirnya buka suara.


"Untuk memintamu pura-pura tidak mengenalku"


"Apa sih Is, ha? Salah ku sama kamu itu apa? Sampai kamu sedingin ini? Dari awal kita bertemu dan kita dipertemukan lagi? Apa salahku? Tidak bisa kah kamu seperti orang normal lainnya?"


Ais diam tak menjawab. Tiba-tiba Farid menepikan mobilnya karena Ais sudah terisak. Farid jadi merasa bersalah karena terlalu keras dan terbawa emosi padanya. Farid memberikan tisue kepada Ais.


"Terima kasih" ucap Ais.


"Kenapa malah nangis?" tanya Farid lembut. Mode suaranya sudah kembali ke suara Farid semula.


"Gak papa"


Farid diam dan bersidekap menatap arah depan. Membiarkan Ais menangis sebentar. Hingga Ais menjadi tenang kembali.


"Kamu apa kabar mas?" tiba-tiba Ais bertanya lembut kepada Farid. Farid menoleh karena tak percaya dengan yang didengarnya. Dia dipanggil mas lagi oleh Ais.


"Alhamdulillah baik. Sekarang ngomong, kenapa sih kamu sedingin ini sama aku? Apa aku pernah ada salah sama kamu?"


"Memang aku kan cuek orangnya"


"Cuek kamu kelewat batas Ais, pasti ada alasan kuat kenapa kamu begini ke aku. Oke sekarang kita bahas yang saat ini dulu deh. Kenapa kamu dingin sama aku?"


"Aku benci semua tentang mbak Gita. Termasuk saudara-saudaranya. Dia seenaknya main selingkuh dibelakang mas Ari dengan teman mas Ari sendiri. Aku sedih melihat mas Ari yang begitu hancur karena mbak Gita. Mulai dari situ mengapa aku bersikap dingin kepada mu. Karena kamu juga sepupu dari mbak Gita.


Picik memang, tapi aku juga berpikir tidak mau sakit hati seperti mas Ari. Aku tidak siap jika harus sakit hati. Dan kalau alasanku menolakmu dulu kamu pasti masih ingat kan? Ditambah 1 lagi yang aku jelaskan. Usia ku saat itu masih 23 tahun, masih ingin mengejar karir dan tidak mau trauma seperti mas Ari" terang Ais setelah dirinya merasa tenang.


"Jangan menilai orang hari dari casing luarnya Is, itu tidak baik" sahut Farid setelah mendengarkan penjelasan Ais.


"Iya" jawab Ais pendek.


"Dan sekarang kamu bersikap dingin juga ingin mempertahankan alasanmu yang gak masuk akal ini?" tany Farid lagi.


"Kok gak masuk akal sih. Ya masuk akal lah. Aku sampai saat ini masih membenci mbak Gita"


"Ya kalau begitu bencinya sama Gita aja, aku gak ada urusannya sama dia. Aku ya aku, Farid Baihaqi. Bersikaplah sewajarnya kepadaku"


"Insyaallah"


"Apa kita bisa berteman?" tanya Farid. "Lebih dari teman pun aku mau" imbuhnya lagi sambil menyunggingkan senyum menoleh ke Ais.


Ais malah menjadi salah tingkah. "Apa sih?" tanya nya.


"Yang salah adalah Gita, bukan aku. Kami orang yang berbeda. Jadi tolong jangan perlakukan kami sama. Dan tidak baik juga mendendam seperti itu. Biar itu menjadi pelarajan hidup bagi Ari" terang Farid.


Ais mengangguk. "Berteman seperti orang normal lainnya. Tidak lebih. Karena kalau kamu memintaku untuk lebih aku tidak bisa. Aku mencintai orang lain"


Baaaaaaaarrrrrrr, belum juga aku menyatakannya Is, kamu sudah menolakku lagi 😭. Batin Farid dalam hati.

__ADS_1


"Pede banget, lebih itu maksudnya sahabat" balas Farid berusaha tegar.


Ais malah malu saat dijawab begitu oleh Farid. Dikiranya Farid masih mengharapkan Ais. Tapi pemikiran Ais salah. Farid kembali mengemudikan mobil hingga sampai depan rumah Ais.


"Sudah sampai" ucap Farid. Ais mengangguk. Ais segera mengambil barang-barangnya.


"Mau mampir?" tanya Ais. "Di rumah ada mas Ari tuh" imbuhnya lagi.


"Emang bertamu malam-malam gak papa?" tanya Farid.


"Gak papa orang kamu kan ketemunya mas Ari. Bukan aku"


"Gak usah deh, lain waktu saja. Sudah malam, takut mengganggu istirahat kalian. Salam buat Ari. Suruh cepet-cepet move on dari Gita. Gak semua perempuan begitu"


"Iya, sekali lagi makasih ya mas sudah sudi mengantarkan ku. Aku masuk dulu. Assalamualaikum" Ais turun dari mobil.


"Waalaikum salam. Hmmm, gak papa Rid, janur kuning belum melengkung masih ada kemungkinan jadi jodohmu. Kejar teruuus pantang mundur" ucap Farid menyemangati dirinya sendiri.


.


Rama dan istrinya menonton siaran langsung yang ditayangkan tv x.


"Alhamdulillah Duta sudah mendapat pengganti Dini" ucap Shila istri Rama.


"Aku tetap tidak ikhlas dengan kebahagiannya. Enak saja dia masih hidup dengan banyak kebahagiaan. Pangkat, harta, dan sekarang, pengganti Dini. Sedangkan Dini kita, sudah diambil karena kecerobohannya" Sahut Rama tidak senang saat melihat acara di tv x.


"Mas...." ucapan Shila terpotong.


"Aku gak mau berdebat. Kafka udah tidur?" tanya Rama mengalihkan pembicaraan istrinya itu.


"Iya, aku mau ke kamarnya. Kamu gak mau ikut sekalian?"


"Nanti aja mas, aku mau beresin meja makan dulu" ucap Shila. Rama menuju kamar anaknya. Shila menatap punggung suaminya.


"Semoga Allah bisa meluluhkan hatimu mas, bukan Duta yang harus disalahkan atas kasus kematian Dini. Ini adalah takdir Ilahi. Ya Allah, berikanlah tempat yang terbaik untuk Dini, dan berikanlah hidayah kepada suami ku. Aamiin" Shila mematikan tv dan menuju meja makan untuk membersihkannya. Pembantunya sedang pulang kampung, jadi mau tidak mau dia harus mengerjakan semuanya sendirian.


.


Arjun juga tak ketinggalan melihat tayangan itu. Dia malah semakin geram dengan Duta dan Laras. Hatinya kembali mendidih.


"Sialan! Berani dia mencium Laras! Aku harus cepat menentukan langkah. Aku gak mau kalah dari bupati sok ganteng itu!" Dia beranjak ke kamar orang tuanya.


"Mah, pah, bisa bicara sebentar?" ucap Arjun yang sudah berdiri di ambang pintu kamar orang tuanya.


"Ada apa?" tanya mamahnya.


"Besok Arjun ingin melamar gadis pujaan Arjun. Tolong besok temani Arjun melamar gadis itu" pinta Arjun.


"Gadis yang mana?" tanya balik papahnya.


"Besok papah sama mamah tahu. Pokonya besok jam 9 pagi kita sudah harus berangkat" Arjun berbalik badan dan meninggalkan orang tua nya.

__ADS_1


.


Duta sangat bahagia malam ini, Laras secara terang-terangan meminta untuk segera dihalalkan. Apalagi tadi dia juga mendapatkan kejutan dari Laras dan sahabatnya.


"Makasih ya sayang, abang bahagia banget. Abang kira kamu benar-benar tidak mengetahui hari lahir abang" ucap Duta saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Sama-sama abang, tapi memang siiih, tadinya Laras gak tahu. Hehehe, maaf ya?" ucap Laras sambil mengusap lengan Duta.


Duta meraih tangannya dan menciumnya. "Ya Allah, bergetar hati abang. Besok bilang sama abi dan umi, abang dan rombongan keluarga abang datang untuk melamar kamu. Eh jawab dulu hasil istikharohmu"


"Katanya udah tahu, ngapain perlu dijawab?" elak Laras.


"Biar abang semakin yakin"


"Ya sudah iya. Bismillahirrahmanirrahim, saya Ayu Larasati menerima kamu Duta Wicaksana sebagai calon imam saya" ucap Laras dengan jelas membuat rona merah di kedua pipi mereka merebah.


"Alhamdulillah ya Allah, ah, Insyaallah abang akan menjadi imam yang baik untuk kamu dan keluarga kita nantinya sayang. Besok tunggu abang datang ya"


"Iya, tapi masalah catering gimana bang? Kan umi gak ada persiapan" tanya Laras khawatir.


"Kamu tenang saja. Abang sudah menyuruh bang Farid memboking resto langganan abang"


"Alhamdulillah kalau begitu. Ayo pulang. Nanti abi nyariin lagi"


"Sebentar, kamu tahu darimana parfum abang? Mengingat-ingat? Maksudnya gimana sih?"


Laras gelagapan kembali. Duta tahu jika Laras akan menghindari pertanyaannya lagi.


"Jawab Ay, kita cuma berdua. Gak ada orang lain. Kenapa mesti malu sih?" ucap Duta sambil melajukan mobilnya.


"Ih, gak perlu dibahas sih bang"


"Ya abang penasaran sayang, kamu mau abang gak bisa tidur gara-gara penasaran sama hal ini? Terus besok telat?"


"Ya jangan dong"


"Ya makanya dijawab dong"


"Mmm, Laras tahu parfum abang saat abang pakai baju abi. Parfumnya nempel disitu. Laras coba mengingat wangi nya eh ternyata betul. Hehehe"


"Aaah, so sweet. Gak nyangka abang, ingatan kamu bagus juga Ay. Hahahaha"


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2