Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Rutinitas


__ADS_3

Duta dan Laras memenuhi janji mereka untuk datang ke rumah mamah Aini. Disana juga ada keluarga tante Rum. Mereka menyambut Dirga.


"Gimana kabar papahmu Ga?" tanya tante Rum.


"Begitu lah dhe Rum, hanya bisa mensyukuri bahwa papah masih diberi anugerah umur panjang hingga sekarang"


"Sabar, alhamdulillah kamu masih diberi kesempatan untuk bisa merawat orang tua kamu, dulu budhe tidak bisa merawat mbah putri sama mbah kakung" terang mamah Aini.


"Iya budheee, kabar teteh Yuki gimana dhe Rum?"


"Alhamdulillah, tetehmu baru hamil 2 bulan jalan 3 bulan"


"Waaaah, bener Rum? Semoga Laras cepet ketularan hamilnya deh" harap mamah Aini.


"Iya mbak, aamiin. Semoga mereka cepat diberi momongan. Lhah mereka kok gak datang-datang ya?"


"Lagi kerja keras kali dhe" ujar Dirga sambil cekikikan membayangkan Laras dan Duta.


"Jangan cekikikan tidak jelas. Dasar Dirga. Bayangin apa kamu barusan?" Duta mengagetkan yang ada disana.


"Astaga dragon A', bikin kaget saja. Salam kek apa kek"


"Assalamualaikum" ucap Laras dan Duta bersamaan.


"Waalaikum salam, hahahaha" jawab mereka bersamaan.


Laras menyalami tangan mamah Aini dan tante Rum. Begitu pula dengan Duta.


"Aa' sama teteh sih lama, ditunggu budhe daritadi juga. Bener dong aku jawabnya kerja keras. Kerja keras bagi-bagi oleh-oleh maksudnya" jawab Dirga sambil nyengir dan menaik turunkan alisnya.


Duta dan Laras hanya diam tak menggubris omongan Dirga. Sore berganti malam, Duta dan Laras segera pamit pulang, begitu juga dengan tante Rum yang sudah dijemput oleh menantunya.


.


Fajar menyingsing. Hari pertama bagi Laras dan Duta memulai aktivitas di rumah sendiri. Hari pertama mereka kembali masuk kerja. Laras bangun lebih awal dari biasanya. Dia segera mandi, mempersiapkan segala keperluan suaminya mulai dari baju hingga tas yang akan dibawa dan segera turun ke bawah melaksanakan tugas sebagai ibu rumah tangga.


Dia menghidupkan mesin cuci dan mulai menggiling pakaian kotor itu. Lalu menyalakan vacum cleaner robot itu untuk membersihkan lantai. Lalu dia melihat isi kulkas yang sudah diisi oleh ART mamahnya itu.


"Masak apa ya?" ucapnya bingung. Duta turun dan melihat istrinya sedang celingukan di depan kulkas.


"Kenapa Ay?" Laras menoleh. "Bingung mau masak apa"


"Sudah ada nasi?" tanya Duta kembali.


"Belum"


"Besok lagi masak nasinya dulu sayang, sini abang ajarin. Apa mau pakai ART aja?"


"Gak, Laras kepengen kayak umi bang, bisa semuanya sendiri"


Duta mengelus kepala istrinya itu. "Ya sudah kita belajar sama-sama ya. Ini akan menjadi rutinitas baru kita. Sekarang takar dulu berasnya pakai gelas itu, lalu cuci sampai bersih. Dan nanti kasih air 1 ruas jari sayang"


Duta menginstruksikan kepada istrinya. Laras melakukan arahan Duta. "Masukkan kedalam magic com dan pencet tombol cooking. Tinggal tunggu nasinya masak"


"Ooo gitu. Lauknya mau apa?"

__ADS_1


"Karena ini pagi hari, abang pengen yang simpel aja. Sayur sop sama tempe goreng"


Laras segera mengambil bahan untuk membuat sayur sop dan tempe goreng.


"Bumbunya cuma bawang putih sama merica kan yank?" tanya Laras meyakinkan.


"Nggih cintaaa"


"Oke"


Laras segera mengupas bawang putih dan menghaluskannya ditambah dengan garam dan merica. Lalu membagi bumbu itu menjadi 2. Memotong tempe dan sayuran lalu mencuci bersih. Dia merendam tempe pada bumbu itu dan mulai memasak sayur sop.


"Pinter juga istri abang. Tolong bikinkan abang kopi dulu" Laras tersenyum mendengar pujian suaminya.


"Nggih" Dengan cepat dia membuat kopi dan menyuguhkannya kepada suaminya. Mesin cuci berhenti berbunyi. Artinya sudah selesai mencuci dan mengeringkan.


"Bang, tolong nanti dilihat tempenya ya. Laras mau lihat cucian dulu" Duta mengangguk sambil menyesap kopinya.


Waktu menunjukkan pukul 6 lewat 10, dengan cepat Laras menjemur pakaian itu, Duta membantu membalik tempe goreng itu. Laras kembali dan mengangkat sayur sop itu. Tak lama tempe pun matang.


Laras menyajikan makanan di atas meja makan. Mengisi air di gelas. Mengisi piring suaminya dan juga dirinya.


"Ayo sarapan bang" Duta tersenyum dan meraih tangannya lalu mengecupnya. "Terima kasih"


Lalu mereka sarapan dengan tenang dan penuh nikmat.


"Kamu nanti pulang jam berapa?" tanya Duta sambil memakai sepatunya.


"Jam 4" ucapnya sambil meletakkan piring bersih itu pada tempatnya.


"Nanti tunggu abang dulu di sana. Abang jam 5 baru pulang"


"Iya"


"Iya, Laras ambil tas dulu" Laras segera kembali ke atas dan mengambil tasnya. Duta sedang memanasi mobil. Segera dia menyusul suaminya, tak lupa mengunci pintu rumah. Mereka siap untuk bekerja kembali. Menjalani rutinitas mereka setelah cuti.


Laras mencium tangan suaminya. Duta mengecup kening dan bibir Laras. "Semangat kerjanya ya bang, Laras kerja dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam, kamu juga semangat ya sayangku. Nanti pulangnya abang jemput"


"Iya" Laras turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit. Dia bertemu dengan Dirga yang sedang turun dari mobil.


"Teteh!" ucapnya sambil melambaikan tangan kepada Laras.


Laras berhenti dan menunggu Dirga yang sedang berlari ke arahnya sambil tersenyum Karena berlari Dirga menabrak seseorang hingga menumpahkan minuman yang dibawa perempuan tadi ke bajunya.


"Astagaaaa, baju ku!" ucap perempuan itu.


"Eh, sorry teh, gak sengaja. Maaf yah?" Dirga meninggalkan perempuan itu dan menuju ke arah Laras.


Laras yang tahu siapa yang Dirga tabrak hanya cekikikan. "Bakalan badmood dia nanti" gumamnya.


"Teh, ruang HRD dimana? Aku disuruh menghadap dulu sebelum tugas" tanya Dirga kepada Laras.


"Dilantai 3 gedung ini. Nanti tanya sama resepsionis disana. Kamu memang masih ceroboh ya, lihat tuh. Kasihan tahu bajunya sampai kotor begitu"

__ADS_1


Dirga menoleh kepada perempuan tadi. "Hehehe, buru-buru soalnya. Ya sudah teh, aku menghadap HRD dulu. Ruangan teteh sebelah mana?"


"Di ujung sana"


"Okeh, nanti kalau alu selesai kerja mampir kesana"


"Ngapain?" tanya Laras heran.


"Disuruh Aa' nemenin teteh biar gak digangguin sama si kampret katanya"


"Hahaha, memang kamu tahu siapa si kampret"


"Tahu dong, dokter umum juga kan kayak aku?"


"Iya, ya sudah. Buruan sana ke HRD dulu"


"Siap teh"


"Manggil biasa aja bisa gak sih? Nama aja kayak biasanya"


"Gak bisa teh, gak sopan. Bisa dijewer beneran aku sama keluarga yang lain kalau manggil teteh pakai nama"


"Yowes lah sak karepmu. Daaah"


Laras meninggalkan Dirga berjalan menuju ruangannya. Nina sudah berada di ruangan Laras dengan muka ditekuk.


"Pagiiii" sapa Laras.


"Aaaaa, bu Bupati. Selamat pagi jugaaa"


"Kenapa sih mukanya ditekuk begitu?"


"Nih dok lihat, ada cowok kurang ajar nabrak aku sampai minuman aku tumpah ke baju. Habis gitu cuma bilang maaf lagi. Sebel aku"


"Hahahah, sabar. Saya baru masuk niiih, kasih senyum dooong. Pasien berapa?"


"Jangan kaget ya, 35 pasien"


"Hah? Banyak bangeeeet. Huhuhu. Ya sudah lah. Seperti biasa. Sok kabeh Nin"


"Hahahaha" mereka tertawa bersama.


Mereka memulai hari dengan rutinitas yang baru dan yang biasa mereka jalani.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Ayo doooong kencengin vote nyaaaaa. Author udah up lhoooo. Kasih apresiasi buat author dong. Komen yang banyak sama like yang buanyak. Boleh ya boleh ya 😂😂😂. Happy reading all 😘😘😘


__ADS_2