Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Segitu Gampangnya


__ADS_3

Budi segera dihadapkan kepada Duta. Ingin memaki lelaki yang ada dihadapannya sekarang. Tapi Duta juga mengingat bagaimana Budi dari dahulu sangat bisa diandalkan. Duta hanya diam menyimpan amarahnya. Budi pun ikut diam.


Setelah berpikir lama akhirnya Duta buka suara. "Mas Budi mau dipindahkan kemana?" tanya Duta. Budi yang sedari tadi menunduk sekarang dengan wajah memelas menatap mata Duta.


"Tolong maafkan saya pak, jangan pindahkan saya kemana-mana pak. Saya mohon pak. Tolong pak maafkan saya" jawab Budi dengan menangis.


"Saya kecewa mas, saya pikir mas Budi orang yang bisa dipercaya. Tapi, kenapa mas? Kenapa kepercayaan saya dirusak begitu saja?"


"Tolong pak, saya mohon ampun. Saya mengaku salah pak. Tolong maafkan saya pak, bu" mohon Budi dengan setengah berlutut.


"Mas Budi jangan begini. Silahkan kembali ke tempat duduk. Mas tahu siapa yang terluka dalam hal ini? Istri saya, mas menebar benih kecurigaan dalam hati istri saya. Dan yang paling terluka adalah saya mas, orang yang benar-benar mempercayai anda. Apakah saya ada salah hingga mas Budi berbuat khianat kepada saya?" tanya Duta dengan penuh emosi. Laras mengusap punggung lelakinya.


"Istighfar bang, jangan menuruti bisikan setan. Sabar sayang" ucap Laras kepada suaminya.


"Lihat mas, orang yang sudah anda lukai masih membela anda. Saya disuruh sabar menghadapi anda. Apa salah kami sama mas Budi???"


Budi hanya bisa diam. Bibirnya kelu tak bisa berbicara. Ya dia memang salah, dia telah berkhianat terhadap Duta.


"Siapa dalang dibalik kejadian ini mas? Tolong jawab dengan jujur"


"Mohon maafkan saya pak"


"Jawab mas, saya ingin jawaban bukan permohonan maaf"


Budi diam. "Oke kalau mas Budi masih enggan untuk bicara. Mas Farid, siapkan surat pemindahan mas Budi"


"Ampun pak, saya mohon maaf. Jangan pisahkan saya dengan keluarga saya pak. Anak saya sedang butuh saya disampingnya pak. Anak saya sedang sakit pak. Dia sakit thalasemia mayor. Dia sedang butuh biaya yang banyak. Butuh dukungan mental. Tolong pak, jangan pisahkan saya"


Duta melirik kepada Farid. Seakan tahu isi pikiran Duta, Farid mengangguk. "Jadi kenapa mas Budi berkhianat? Siapa yang ada dibalik kejadian ini? Apa yang ditawarkan mas?"


Budi menangis. "Saya.... saya terpaksa melakukan itu pak, hiks huhu, saya butuh dana banyak untuk transfusi darah anak saya pak. Pak Bumi yang memerintah saya pak. Dia menawarkan uang kepada saya"


"Astaghfirullah maaaas, tega sekali mas mengobati anak mas dengan uang haram? Apa mas tidak takut? Kenapa tidak pinjam atau minta ke saya mas?"

__ADS_1


"Saya tidak enak dengan bapak, selama ini bapak sudah membantu saya. Hutang saya ke bapak sudah banyak. Saya malu pak"


Duta kembali hening. Dia ingin sekali menghukum Budi. Tapi dia ingat, seorang anak yang sedang berjuang melawan sakitnya butuh kehadirannya.


"Lalu mas ingin hukuman seperti apa dati saya?" Kini Duta menawarkan kepada Budi hukuman yang pantas untuk seorang pengkhianat.


Laras menengahi pembicaraan yang sedang terjadi. "Abang, tugas kita bukan menghukum. Tugas kita adalah mencari tahu kebenaran. Urusan hukum menghukum biar Allah yang tentukan. Pak Budi, semoga anak bapak lekas sembuh. Meskipun saya tahu kemungkinannya kecil, tapi lakukanlah yang saat ini bisa bapak lakukan.


Kembalikan saja uang dari Bumi, saya akan membayar tagihan rumah sakitnya pak. Segeralah kembali. Temui anak bapak. Kami sudah memaafkan bapak. Terima kasih sudah memberi masalah kepada kami. Saya bersyukur, karena dari masalah itu saya bisa lebih percaya dengan suami saya"


Semua orang yang ada disana kaget dengan ucapan Laras. "Yank, segampang itu?" tanya Duta.


"Allah maha pemaaf, kenapa kita yang hambanya harus mendendam bang? Pak Budi, segeralah kembali. Anak bapak saat ini sedang membutuhkan bapak" Laras tersenyum tulus kepada Budi. Membuat Budi semakin merasa bersalah. Ternyata orang yang ingin dia lukai dengan kenangan masa lalu begitu mudahnya memaafkannya.


"Saya sangat malu pak, bu. Terima kasih ibu mau memaafkan saya. Saya berjanji pak, saya tidak akan berkhianat lagi"


Duta hanya bisa diam. Benar yang dikatakan Laras. Dirinya ingin memberi pelajaran untuk Budi, tapi apa daya? Istrinya sudah memaafkannya dengan segampang itu.


.


Farid dan Ais satu mobil dengan Duta dan Laras. "Bu Laras, ibu yakin memaafkan orang begitu gampangnya?" tanya Farid.


"Yakin mas, bukan tugas kita menghukum"


"Hmm, dari dulu memang kamu gak berubah bu, ini nanti si Arjun jangan dilepaskan begitu saja ya bu. Kasih hukuman dulu buat dia kapok" kata Ais.


"Tenang saja kak, aku sudah mempersiapkan surat perjanjian yang sudah aku tulis. Yang menyatakan bahwa dia tidak akan mengganggu kita lagi. Jika dia berani mengganggu lagi, siap-siap aja dia akan tidur di bui"


"Tuh kan, jangan dicabut dulu dong Ras tuntutannya. Biarin dia seminggu di bui. Biar tahu rasa dulu. Enak aja main teror kita"


"Kak, kasihan nanti dokter lainnya harus double shift kalau dia dihukum. Ini cukup ampuh kok, udah deh, tenang saja"


"Haish, terserah kamu saja lah bu, berani itu orang neror kita lagi tak keluarin jurus taekwondo aku!" ucap Ais sambil menggebu-gebu. Membuat semuanya tertawa.

__ADS_1


Duta yang sedari tadi diam membuat Laras ingin tahu apa yang ada dalam pikirannya. "Abang kenapa?"


"Gak papa, kamu yakin mau membebaskan orang gila itu? Dia itu lebih cocok jadi pasieu Ay daripada jadi dokter. Kalau abang sih setuju sama mbak Ais. Beri pelajaran dahulu. biar dia kapok" jawab Duta agak kesal dengan tindakan yang akan diambil istrinya.


"Sangat yakin. Seperti yang diawal Laras bilang sayang, tugas kita hanya mencari kebenaran dan meluruskannya. Hukuman itu tidak harus dari kita. Biar Allah saja yang membalas. Oke sayang? Senyum dong" ucap Laras sambil mencubit pipi Duta.


"Ehm, jangan bikin iri yang belum halal dong. Berasa jadi nyamooook" ucap Ais dari kursi depan.


"Yaaank, jangan begitu ah, gak sopan" Farid mengingatkan.


"Gak papa bang, bener kata mbak Ais. Maaf ya mbak. Kan sebentar lagi kalian halal. Sabaaar"


"Iya pak, oya pak, apa perlu saya batalkan cuti saya?" Sontak Farid mendapatkan pelototan dari Ais. Duta dan Laras yang mengetahui hal itu tertawa.


"Gak usah bang, cuti saja. Saya tidak papa. Kasihan mbak Ais tuh, dia mintanya dikelonin mulu nanti habis nikah. Betul mbak?"


"Haahaha, betul pak. Bapak tahu saja. Begini ya rasanya bucin" ucapan Ais membuat semua kembali tertawa. Jika semudah ini memaafkan mungkin tidak ada kebencian.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Maaf ya kalau gak sesuai ekspektasi kalian hukumannya. Karena begitulah Laras. Hehehe. Next ep Ais dan Farid nikah. Kasih MP nya gak nih? Jawaban terbanyak menentukan episode berikutnya. Soooo, komen sing wuakiiiiiihhhh 😁

__ADS_1


__ADS_2